Arsip Bulanan: Mei 2015

Memahami konsep keanekaragaman bentang alam (landscape heterogeneity)

Bentang alam atau ansekap merupakan sebuah gambaran bentuk permukaan bumi (mosaik) dengan berbagai fragmentasi habitat yang berbeda-beda, baik sifat dan kepentingannya secara ekologis.  Sebagai bagian dari ekosistem, berbagai ukuran, bentuk, dan distribusi fragmen dapat bervariasi secara substansial, dimana fragmentasi ini akan berinteraksi dan membuat umpan balik satu sama lain.

Sedangkan fragmentasi secara sederhana didedinisikan sebagai “disruption of continuity” baik pada dimensi spatial, temporal or functional. Bentuk muka bumi atau apapun yang tidak bersambungan lagi disebut sebagai daerah terfragmen. Pada konteks lansekap (bentang alam)term fragmentasi dimulai dari teori island biogeography, patch-matrix-corridor, hierarchical theory, habitat variegation hingga yang terkini umwelt-continuum model. Dari serangkain teori tersebut, terdapat perbedaan mendasar dalam asumsinya. Hanya saja teori umwelt-continuum model dikatakan lebih ekologis karena mempertimbangkan sudut pandang organisme dalam melihat “disruption of continuity”, sedangkan teori sebelumnya hanya interpretasi manusia.

Apa yang menyebabkan suatu lansekap terfragmen ?

Gangguan (disturbance) diduga sebagai penyebab fragmentasi, dimana intensitas dan distribusi gangguan yang bervariasi secara temporal dan spasial, akan menyebabkan berbagai perubahan wujud muka bumi yang tidak sama. Gangguan yang timbul bisa saja berbentuk kebakaran, letusan gunung berapi, banjir, penebangan hutan, pembukaan lahan pertanian, urbanisasi, bahkan pengambilan satu batang pohon di tengah hutan pun bisa dikategorikan sebagai bentuk gangguan. Dengan demikian, dampak gangguan terhadap ekosistem berbeda-beda juga, tergantung dari skala (resolusi dan jangkauan luas) dan intensitasnya. Perlu diingat, bahwa sebelum ada gangguan belum tentu ekosistem berada pada kondisi stabil atau klimaks.

Apa yang terjadi pada ekosistem selama atau setelah terjadi gangguan ?

Gangguan dalam skala besar mampu mengubah muka bumi (kondisi fisik), dimana hal ini akan mengubah struktur dan komposisi komponen ekosisitem baik pada tingkat lansekap (kumpulan mosaik) atau tingkat patch (kumpulan populasi dan jenis). Perubahan struktur dapat berupa berubahnya ukuran, bentuk, susunan, sedangkan perubahan komposisi berupa hilangnya beberapa sumberdaya dan timbulnya sumberdaya yang lain. Perubahan ini juga menyebabkan perubahan aliran materi dan energi kedalam dan keluar ekosistem. Aliran materi bisa berupa organisme, biji, debu, partikel, air, udara dan lainnya. Sedangkan aliran energi utamanya bersumber dari aliran sinar mh atahari yang menembus ekosistem. Aliran ini menyebabkan perubahan iklim mikro, perubahan kelimpahan organisme dan perubahan struktur dan komposisi komponen ekosistem.

Beberapa patch lansekap memiliki hot spots biogeokimia yang tinggi, sehingga kedudukannya dianggap lebih penting daripada wilayah yang perlindungan yang disarankan. Hal ini disebabkan karena pengaturan lingkungan pada hot spot itu berbeda jauh dibandingkan pengaturan disekitar matriks , yaitu jenis patch utama dalam lanskap. Ukuran, bentuk, dan distribusi patch dalam lanskap memiliki peran mengatur interaksi di antara tambalan lansekap dimana ukuran patch berpengaruh terhadap heterogenitas habitat. 

Apa pengaruhnya bagi biota ?

Dampak gangguan akan sangat tergantung dari respons individual dari biota yang terkena dampak. Perubahan tutupan lahan dan hasil ikutannya akan menyebabkan perubahan ketersediaan sumberdaya dan kondisi lingkungan. Perubahan ketersediaan sumberdaya (pakan, pelindung, ruang) dan kondisi lingkungan (cuaca, predasi, kompetisi) akan direspon secara fungsional (perubahan laju konsumsi sumberdaya),  numerikal (perubahan jumlah individu yang mengkonsumsi) atau developmental (perubahan pertumbuhan badan) oleh setiap individu.

Ada biota tertentu yang menyukai banyak sinar matahari sehingga kelimpahan meningkat di sekitar area yang terfragmen. Ada biota yang sensitif terhadap perubahan iklim mikro sehingga dia terpaksa berdiam diri survival di tengah-tengah patch. Ada biota yang secara tidak langsung terpengaruh dengan perubahan komposisi dan struktur vegetasi yang mengakibatkan perubahan kelimpahan sumberdaya. Ada biota yang sama sekali tidak terpengaruh. Suatu fragmentasi hutan, terutama di Indonesia yang dikatakan mega biodiversity tentu saja direspon secara berbeda oleh masing-masing organisme, sehingga sulit untuk generalisir dampak fragmentasi terhadap komunitas biota secara keseluruhan. Pada akhirnya untuk mengukur respon biota tersebut secara mudah, maka harus dituangkan dalam term fitness (survival dan reproduksi). Term ini disarankan untuk digunakan untuk mengukur setiap pengaruh lingkungan terhadap organisme.

Bagaimana perkembangan dan trend penelitian tentang  respon organisme terhadap  fragmentasi ?

Perkembangan teori fragmentasi habitat :

  1. Teori fragmentasi habitat dimulai dengan teori island biogeography oleh MacArthur dan Wilson yang pada intinya menyatakan bahwa jumlah jenis organisme di suatu pulau berbanding lurus dengan luasannya dan berbanding terbalik dengan jarak dari pulau sumber organisme. Yang berasumsi bahwa suatu landscape hanya terdiri atas pulau yang bisa dihuni yang dikelilingi lautan yang tidak bisa ditempati (binary). Teori ini dikenal sebagai teori  patch-matrix-corridor. Dimana penerapan teori ini berimplikasi pada prinsip pemilihan area konservasi yang seluas-luasnya, sekompak mungkin, jika terfragmen harus dihubungkan dengan koridor. Namun hal ini menghadapi kendala besar, karena pada kenyataan dilapangan tidaklah seperti yang diperkirakan sebelumnya.

  2. Teori variegation model. Yang mengkategorikan bahwa landscape tidak hanya patch-matrix (binary) namun juga ada kondisi diantara patch dan matrix dengan asumsi bahwa fragmentasi adalah suatu process dan yang menghasilkan output (fragmented). Pandangan ini disebut antroposentris karena mengidentifikasi suatu vegetasi asal berdasarkan interpretasi manusia untuk semua organisma, yang belum tentu sesuai dengan interpretasi masing-masing organisme. Teori ini biasanya digunakan untuk menjelaskan pattern (korelasi), namun kelemahannya tidak bisa menjelaskan mengapa prose situ terjadi. Karena menganggap fragmentasi adalah suatu proses yang direspon secara spesifik oleh organisme.

  3. Teori continuum-umwelt. Yang menyatakan bahwa landscape sebagai serangkaian area yang berbeda tingkat kualitas habitatnya secara gradual. Dimana teori ini tidak mendefinisikan boundary fisik suatu landscape sebagai batas pembeda patch, namun membuat kombinasi antara keteresediaan sumberdaya dan kondisi lingkungan yang dapat menentukan kualitas habitat.

Benang merah dari  perkembangan teori diatas adalah  bahwa sebaiknya dibedakan antara  fragmentasi lansekap (yang objektnya  adalah pandangan penutupan lahan menurut manusia) dan fragmentasi habitat (objektnya adalah habitat menurut pandangan organisme). Fragmentasi landsekap belum tentu diikuti oleh fragmentasi habitat dan kehilangan habitat sedangkan fragmentenasi habitat selalu diikuti oleh proses isolasi. Dan yang paling penting adalah efek dari hilangnya habitat karena bisa berakibat pada menurunnya fitness individu.

Adapun trend penelitian ke depan adalah bagaimana memahami fragmentasi sebagai suatu proses yang berpengaruh terhadap fisiologi, tingkah laku, sejarah kehidupan, dan demography pada berbagai skala. Niche concept is presumed to help us in incorporating process more directly.  Trend ini mengarah pada  pemikiran untuk memandang  keluaran fragmentasi sebagai perwakilan gradien lingkungan (sumber atau kondisi).  Gradien lingkungan ini telah lama dikembangkan pada  ekologi komunitas tumbuhan. Namun tantangannya adalah bagaimana menerapkan gradien lingkungan pada komunitas satwa.

DAFTAR PUSTAKA

Chapin III. F.S., Matson, P.A., Mooney, H.A. 2002. Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. Springer, USA.

Göltenboth, R. 2005. Ecosystem Approach for Landscape Rehabilitation-review and Perspectives of the “Rainforestation Farming“ Technology in the Philippines. Stuttgart-Hohenheim, October 11-13, 2005. Conference on International Agricultural Research for Development. Stuttgart, Germany.

Sumber tulisan :

MAKALAH EKOLOGI TERESTRIAL

NAMA : ANANG KADARSAH

NIM : 20609008

TANGGAL : 25 NOVEMBER 2009

PEMBIMBING : DR. DEVI N CHOESIN

PASCASARJANA SITH ITB-BANDUNG