Arsip Bulanan: Juni 2015

Jejaring Makanan dalam Sistem Trofik

Jaring-jaring makanan merupakan kumpulan dari organisme yang dihubungkan satu sama lain dengan adanya transfer energi dan nutrisi yang berasal dari sumber yang sama (Chapin et al., 2002). Tingkatan trofik pada jaring-jaring makanan ini melibatkan produsen (umumnya berupa tumbuhan dan organisme autotrof lainnya) pada tingkatan trofik pertama, konsumen I (yang umumnya berupa herbivora) pada tingkatan trofik kedua, konsumen II (berupa karnivora atau predator) pada tingkatan ketiga, dan seterusnya.

Menurut Newton (2007), struktur trofik pada sebuah jaring-jaring makanan tergantung pada kelimpahan (abundance), penyebaran (distribution), dan sumber makanan pada setiap organisme. Selain itu, sistem trofik ini biasanya melibatkan detrivora (kelompok yang memakan substrat detritus); herbivora (pemakan materi tumbuhan), bakteriovora (pemakan bakteri), fungivora (pemakan fungi), dan predator (pemakan hewan yang masih hidup). Sistem trofik ini sering digambarkan dalam bentuk plant-based (materi tumbuhan hidup) atau yang dikenal dengan istilah Plant-Based Trophic Systems dan detritus-based (seperti, pada tumbuhan dan hewan yang telah mati) atau dikenal dengan istilah Detritus Based Trophic Systems (Chapin et al., 2002 dan Newton, 2007).

Dua faktor yang mengontrol jaring-jaring makanan dalam sistem trofik, baik dalam plant-based trophic systems maupun dalam detritus based systems ini adalah:

  1. Bottom-Up Control, yaitu ketika ketersediaan makanan pada base dari rantai makanan (baik tumbuhan maupun detritus) membatasi produksi tingkatan di atasnya

  2. Up-Down Control, yaitu pengaruh dari keberadaan predator terhadap kelimpahan mangsanya (Chapin et al., 2002). Pada sejumlah spesies, interaksi yang kuat antara predator dan mangsanya ini dapat menghasilkan fenomena yang dikenal dengan “Trophic cascade” (Paine, 1980 dalam Chapin et al., 2002).

Sumber tulisan :

Program Pascasarjana SITH ITB

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-2

Isni Nuraziza M

05 November 2009

21309011

Memahami Konsep Trophic Cascade

Trophic cascade merupakan suatu gambaran interaksi yang menunjukkan pengaruh dari predator terhadap kelimpahan pada tingkatan di bawahnya. Interaksi yang terjadi antara predator dan mangsa ini sangat kuat dan memengaruhi pula terhadap sumber daya yang dikonsumsi oleh mangsa si predator (tingkatan di bawah mangsa di predatornya). Oleh karena itu, trophic cascade ini merupakan top-down control dalam sistem trofik.

Menurut Chapin et al. (2002), trophic cascade merupakan efek top-down dari predator terhadap biomasa organisme yang berada pada tingkatan trofik lebih rendah; menghasilkan tinggi dan rendahnya perubahan biomasa organisme pada tingkatan trofik secara berturut-turut. Menurut Beckerman et al. (1997), trophic cascade ini merupakan interaksi tidak langsung predator dengan sumber daya (resources) yang dikonsumsi oleh (Beckerman et al., 1997). Predasi yang dilakukan suatu organisme pada satu tingkatan trofik akan mengurangi kepadatan (density) mangsanya (Carpenter et al. 1985, Pace et al. 1999 dalam Chapin et al., 2002) dan akan memengaruhi pula terhadap tingkatan trofik di bawah mangsanya tersebut.

Dalam trophic cascade ini, jumlah tingkatan trofik akan memengaruhi struktur dan dinamika ekosistem. Dalam situasi ini akan terlihat bahwa perubahan kelimpahan pada suatu tingkatan trofik dapat mengubah kelimpahan tingkatan trofik lainnya lebih dari satu jalur dalam jaring-jaring makanan (Pace et al., 1999 dalam Chapin et al., 2002)). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada contoh di Gambar 1, bagaimana panjangnya suatu rantai makanan (banyaknya tingkatan trofik) dapat memengaruhi kelimpahan produsen yang terdapat pada base dalam tingkatan trofik.

Gambar 1.Efek panjangnya suatu rantai makanan terhadap biomasa produsen primer dalam kondisi berlakunya Trophic cascade.

Gambar 1.Efek panjangnya suatu rantai makanan terhadap biomasa produsen primer dalam kondisi berlakunya Trophic cascade.

Pada Gambar 1, dapat kita lihat bahwa biomasa tumbuhan berlimpah ketika jumlah tingkatan trofik gasal (satu, tiga, lima, dan seterusnya). Hal ini disebabkan karena rendahnya biomasa herbivora. Ketika jumlah tingkatan trofik genap (dua, empat, enam, dan seterusnya), biomasa tumbuhan menurun karena biomasa herbivora lebih besar. Contoh lainya ialah pada ekosistem sungai. Biomasa alga di sungai umumnya rendah pada jumlah tingkatan trofik yang genap (dua, empat, dan seterusnya) dan jumlah tingkatan trofik yang ganjil dalam trophic cascade ini akan mengurangi biomasa dari herbivora dan menyebabkan alga melimpah (Fretwell, 1977 dalam Chapin et al., 2002).

Literatur ekologi memiliki beberapa contoh bagaimana predator memengaruhi komunitas di alam, dalam fenomena Trophic cascade. Dalam sistem tingkatan tiga trofik, yang terdiri dari produsen (pada tingkatan pertama), herbivora (tingkatan kedua), dan karnivora (pada tingkatan trofik ketiga), proses pemangsaan terjadi oleh karnivora (predator) terhadap herbivora (mangsa). Pada sistem ini, dapat dilihat bagaimana trophic cascade ini digambarkan pada kelimpahan tumbuhan yang diakibatkan dari pengaruh karnivora terhadap populasi herbivora (Beckerman et al., 1997).

Predator dari herbivora ini dapat memengaruhi populasi tumbuhan melalui dua cara, dengan mengubah kepadatan herbivora (herbivore density) atau melalui perilaku (behavior-mediated effects), atau bisa juga dengan keduanya (Beckerman et al., 1997). Karnivora dapat memengaruhi kepadatan herbivora dengan mengonsumsi langsung herbivora. Dengan demikian, keadaan ini dapat mengurangi herbivora yang memakan tumbuhan (produsen). Secara tidak langsung, pemangsaan ini menginduksi adanya perubahan perilaku pada herbivora, seperti pada waktu makannya (feeding time) dan pemilihan jenis makannya (diet selection), mengurangi dampak herbivora tersebut terhadap tumbuhan (Beckerman et al., 1997).

Sumber tulisan :

Program Pascasarjana SITH ITB

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-2

Isni Nuraziza M

05 November 2009

21309011