Arsip Bulanan: Agustus 2015

Perjalanan di Hangzhou : Naik Taksi 

Taksi merupakan alternatif transportasi paling mudah ditemukan di Kota Hangzhou,  China.  Taksi di sana menggunakan merk mobil asli negeri tirai bambu, seperti merk : Cherry, Foton, Geely, dan banyak merk lainnya yang bisa bersaing dengan merk-mer mobil Jepang seperti Honda, Suzuki, Mazda, dan Toyota.

Uniknya, ketika anda masuk ke dalam kabin mobil, maka anda akan disuguhi dengan pemandangan seperti pada Gambar, yakni adanya dinding pembatas terbuat dari fiber antara pengemudi dengan penumpang. Saya berfikir mungkin untuk keselamatan supir kali ya diutamakan, karena banyaknya kejahatan atau juga menghindari interaksi berlebihan supir dengan penumpang.

Yang jelas bahasa yang mereka gunakan  bukanlah bahasa inggris apalagi bahasa Indonesia. Tulisan maupun percakapan yang digunakan oleh supir asli berbahasa Cina, entah China  Mandarin atau China Kanton. Masalahnya ketika saya mencoba menyodorkan kertas berisi tulisan tempat tujuan dan juga pertanyaan (setelah ditranslate menggunakan aplikasi penerjemah). Supirnya geleng-geleng kepala tanda tidak tahu.

Saya cuma bisa garuk kepala, kenapa ya bahasa China sulit difahami, he-he . yang saya hafal cuma beberapa yaitu : Wo=saya, Ai=suka,cinta, Zhu=bambu, Nie=kamu, Niehou=Apa kabar?

 

 

Perjalanan menuju kota Hangzhou (2)

Jumat, 29 Agustus 2015
– Perjalanan dari Singapura ke Hangzhou
Mendarat di Singapura waktu menunjukkan pukul 23.30,karena ada beda waktu satu jam dengan jakarta . masuk bandara changi,  waw..  Beda banget dengan jakarta.  Bandara soekarno hatta cenderung crowd,  sedangkan Changi lebih futuristic,  semua lantai dilapisi karpet, untuk berpindah dari terminal satu menuju terminal lainnya anda bisa berjalan di terminal transit yang dibantu dengan eskalator atau tangga berjalan,  kalau anda capek dan malas anda bisa naik sky train yang berjalan otomatis tanpa supir. Keren.. Kan. Kalau anda capek berjalan setiap 100 meter disediakan air minum gratis, teguk langsung ke mulut dan juga toilet.  Budaya melayu masih kental di sini sehingga jika anda tak paham bahasa inggris untuk hari itu juga kalo ,  awak bisa cakap sini… Hampir satu jam berjalan mengikuti arah dari terminal 3 menuju terminal satu, tibalah saya di pintu keberangkatan C17 milik maskapai penerbangan Xiamen Airlines.  Waktu itu menunjukkan pukul 01.30. Pintu belum dibuka karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 02.30, sehingga direncanakan pukul 02.00 boarding dibuka. Saya pikir masih ada waktu satu jam lagi,  sambil menunggu saya berbaring di lantai yang empuk karena dilapisi karpet tebal. Kurang lebih setengah jam berbaring,  akhirnya pintu keberangkatan Xiamen Airlines dibuka.  Wah ternyata antrian panjang,  malas mengantri saya berjalan menuju koridor untuk mencari toilet.  Sayangnya, petugas cleaning services sedang bekerja sehingga saya harus mencari toilet lain.
Begitu masuk ruang tunggu,  satu persatu penumpang dipanggil untuk masuk pesawat
– Perjalanan dari Bandara Xiaoshan ke Huachen Holiday Hotel , Hangzhou.
Sebelum turun dari pesawat Xiamen Airlines, hati ini terus bertanya bagaimana kalau nanti sudah turun, siapakah yang menjemput? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran, karena e-mail sebelumnya, yang dikirim dari bandara Singapura belum mendapat respon.  Bagaimana mau respon, sambungan data internet aja dimatikan,  kalau dihidupkan kena roaming internasional yang mahalnya 20x lipat sambungan data di Indonesia.  Kekhawatiran itu,  alhamdulillah tidak terbukti.  Setelah melewati pemeriksaan yang cukup ketat dari seorang polisi bandara, di pintu keluar saya melihat beberapa orang berdiri menunggu penumpang yang datang,  seorang perempuan tiba-tiba mengangkat kertas bertuliskan INBAR.  ya…  Langsung saja pandangan saya tertuju kepada tulisan tersebut dan mengatakan itu am anang.  Wanita itu tidak berkata melainkan menunjukkan isyarat agar saya segera keluar menuju kendaraan yang sudah disiapkan.  Sepanjang perjalanan tidak banyak obrolan dengan supir,  dan hanya sempat menanyakan nama siapa dan berapa jarak bandara ke kota Hangzhou.
Begitu sampai di hotel,  barang bawaan saya berupa tas trolley dan backpack langsung dimasukkan ke kamar.  Setelah itu, saya langsung diajak ikut kegiatan di botanical garden of Hangzhou.  Dalam hati bertanya kenapa nih koordinator ngga ngerti banget ama saya,  datang jauh,  capek, mungkin perlu makan,  perlu istirahat bukannya disuruh tenang dulu malah langsung disuruh jalan.  Ya sudah, dijalankan saja.  Ternyata  dalam perjalanan menuju botanical garden dari hotel Hangzhou, saya mengalami rasa tidak enak, mual,  terasa hendak muntah.  Saya fikir tidak mungkin ikut kegiatan dan harus istirahat.  Begitu sampai di pintu masuk botanical garden,  saya membeli minuman dan makanan kemudian izin kepada guide agar kembali ke hotel untuk istirahat sampai jam 2. Jin Wei koordinator program mengizinkan saya beristirahat dan langsung dipesankan kamar. Saya mendapatkan kamar di lantai 5 tepatnya nomer. 3350. Segera saja masuk ke dalam kamar,  bersih kan kaki.  Sebelum tidur saya menyempatkan diri melihat jam,  ternyata sudah jam 11, kalau di Indonesia sudah siap-siap melakukan shalat Jum`at,  ini di china  nggak terdengar suara adzan pun,  ya sudah istirahat lah sampai waktu menunjukkan 13.30.

Perjalanan menuju kota Hangzhou (1)

Bismillah,  tahun 2015 bisa dikatakan tahun penuh kenikmatan,  semoga saya bisa terus bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala karena pada tahun ini saya berkesempatan mengunjungi negeri China. Negeri tirai bambu,dalam rangka mengikuti workshop on sustainable bamboo development.  Kegiatan berlangsung sejak tanggal 25 Agustus sampai dengan tanggal 13 September 2015 yang didanai oleh Ministry of Science and Technology, People Republic of China melalui INBAR atau International Network on Bamboo and Rattan Research.  Sedangkan untuk perjalanan dari Banjarmasin menuju  Hangzhou, Zhejiang Province,  tempat berlangsung kegiatan menggunakan dana ONDT dari PIU-IDB Universitas Lambung Mangkurat tahun anggaran 2015.

Berikut ini sekelumit kisah dan catatan perjalanan saya. Selamat menyimak.
Kamis, 28 Agustus 2015
– Perjalanan dari Banjarmasin ke Jakarta
Kali ini saya memilih perjalanan menggunakan citilink yang berangkat pada pukul 11.20 WITA,  dan dijadwalkan tiba di Jakarta pukul 12.20 WIB. Maklum saja perbedaan waktu antara Banjarmasin adalah satu jam lebih awal dibandingkan waktu di Jakarta. Saya duduk di kursi No. 3A atau yang berdampingan dengan jendela,  dalam kesempatan penerbangan ini saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memotret kondisi luar saat pesawat. Hanya dua kali pemotretan dilakukan yakni foto sayap pesawat dan langit biru tanpa halangan awan.  Selebihnya sudah dianggap cukup sampai pesawat mendarat di bandara soekarno hatta, cengkareng.

Turun dari pesawat saya tidak perlu lama mengantri karena semua bawaan dibawa ke kabin,  tidak menitipkan barang di bagasi.  Waktu menunjukkan pukul 12.50, kurang lebih 20 menit berlalu saat turun dari pesawat Citilink,  pikiran langsung tertuju kepada paspor yang masih ada di tangan mas nur,  teman saya (Mas Nur) setelah diambil dari CVASC, kemarin. Saya mencoba bertanya-tanya untuk menuju terminal rawa buaya, cengkareng dari bandara sebaiknya naik apa? Setelah lama bertanya, dan untuk efisiensi waktu dipilihlah taksi. Perjalanan sampai lokasi yang dituju,  ditempuh selama 35 menit dengan biaya sebesar Rp. 98.000.

Alhamdulillah,  bertemu dengan Mas Nur,  beliau segera menyerahkan kelengkapan paspor, visa, print out tiket serta berkas-berkas yang diajukan untuk membuat visa. Setelah beristirahat selama 90 menit di mess pekerja proyek, saya berangkat ke bandara.  Kali ini saya lebih memilih jalur ke bandara Soetta yang melalui jalur perumahan citra 2. Ini berdasarkan saran dari supir taksi agar melewati jalan tersebut,  jika melihat jalan tol yang menuju bandara terlihat mengalami kemacetan.
– Perjalanan dari Jakarta ke Singapura
Perjalanan dimulai pada pukul 17.30. Masuk pintu bandara soekarno hatta,  terminal 2, tidak ada pemeriksaan berarti, hanya memasukkan barang dan lain-lain kemudian menunjukkan paspor, visa dan tiket keberangkatan. Masuk ke bagian pendaftaran saya masukkan barang bawaan, karena tidak terlalu berat(kurang dari 8 kg), akhirnya trolley dibawa ke kabin.

Sebelumnya saya harus melewati bagian imigrasi, saya serahkan visa, paspor dan tiket oleh petugas di cap kemudian dipersilahkan masuk. Tiket saya menunjukkan saya harus masuk pintu E4, tapi sebelumnya saya ingin menukarkan mata uang rupiah saya ke mata uang China yaitu Yuan.  Tempat penukaran uang atau money changer ada di sebelah kiri, kira-kira sekitar 100 meter dari imigrasi.  Oh ya,  jika anda lupa bawa uang anda bisa menemukan ATM BRI yang ada di sebelah kanan sekitar 70 meter dari imigrasi melewati kafe Arab. Saya siapkan uang sekitar 5 juta rupiah dengan bayangan 1 rupiah sama dengan 1000 – 1500 rupiah.  Hmm..  Kira-kira dapat sekitar 3.000 Yuan.  Petugas money changer menyodorkan daftar tukar mata uang, woow…  Ternyata 1 Yuan dihargai 2520 rupiah.

Berapa yang harus saya bawa?  Sambil meminjam kalkulator akhirnya saya putuskan beli sebanyak 1700 Yuan berarti saya harus menyerahkan uang rupiah sebanyak 4.280.000. Beres,  siap masuk keberangkatan,  namun oh tidak saya harus menunaikan sholat dulu. Jika demikian maka dari money changer teruslah anda berjalan sampai ujung belok kiri dan di situ ada musholla. Saya tunaikan shalat magrib dan isya dijamak qoshor yakni Maghrib 3 rakaat kemudian Isya dua rakaat.

Siap masuk,  jangan lupa kalau anda bawa botol minuman lebih dari 100 ml maka itu akan dibuang oleh petugas atau anda akan disuruh untuk minum ditempat. Selesai pemeriksaan,  saya duduk menunggu waktu itu menunjukkan 20.10 sedangkan pesawat berangkat 20.30, berarti masih ada waktu menunggu sekitar 20 menit.  Saya gunakan untuk ber whatsapp dengan keluarga di rumah,  sambil memposting foto uang Yuan.  Tidak lama kemudian petugas memanggil penumpang untuk masuk pesawat.

Naik Garuda Indonesia serasa di rumah sendiri bagaimana tidak dari bahasa sampai penyajiannya semua rasa Indonesia.  Pramugari Garuda kayanya sudah menandai mana orang cina mana Indonesia, sehingga bahasa dan gaya penawaran disesuaikan dengan konsumen yang dimaksud. Waktu itu ada pilihan ikan dan nasi ayam.  Saya memilih ikan,  karena sebelumnya sudah makan nasi yang dibeli dari KFC.

IMG_20150827_213723

Sayangnya begitu makanan dibuka dan dicicipi saya rasa masakan ikannya tidaklah sesedap yang dibayangkan, bisa dibilang biasa saja. Makanan ini tidak dihabiskan, jadi hanya menghabiskan  roti, buah, dan sayur.