Pendidikan Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati

Pendidikan Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati saat ini telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai harmonisasi atas kebutuhan ekonomi masyarakat dan keinginan melestarikan sumber daya bagi masa depan (Pranata dan Satria, 2015). Pendidikan konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati juga mutlak untuk dikaji dan disebarluaskan sejak diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 1999 yang mendorong semakin intensifnya pemanfaatan sumberdaya hayati. Sebagai contoh, pembukaan kawasan Suaka Margasatwa Pelaihari Tanah Laut mendorong semakin mempercepat perluasan serta perubahan dinamika populasi dan juga keseimbangan ekosistem berdasarkan parameter indeks biodiversitas.

Sumber dan Alat Belajar

Kata media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Association for Education and Communication Technology (AET) mengartikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen (perangkat) yang digunakan untuk menjalankan kegiatan tersebut. Sumber belajar menjadi lima kategori yaitu : manusia, buku / perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting, baik media berupa : (1) panca indera manusia sebagai karunia dari Allah Subhanahuwata’ala kemudian (2) media pembelajaran berupa bahan pembelajaran yang akan disampaikan (perangkat lunak/ software), serta perangkat keras atau hardware yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu untuk belajar.

Dilihat dari jenisnya, media pendidikan dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu : Media auditif, visual dan audiovisual. Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemmpuan suara saja, seperti : radio, recorder, dan flash disk. Media ini tidak cocok untuk orang yang mempunyai kelainan dalam hal pendengaran. Media visual adalah media yang mengandalkan indra penglihatan. Media ini menampilkan gambar diam seperti film, rangkai foto, gambar atau lukisan, cetakan dan juga yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film dan dokumenter. Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur rupa dan gambar baik berupa audiovisual diam maupun audiovisual gerak.

Peran Media dalam Pendidikan Konservasi

Kehadiran media dalam pendidikan konservasi jelaslah sangat menguntungkan, bagi semua pihak baik pelaku pendidik maupun peserta didik. Hal ini disebabkan karena dengan penggunaan media maka penyajian materi belajar menjadi lebih jelas tidak bersifat verbal saja. Pemberian contoh-contoh yang menarik berupa fakta, data, gambar, grafik, foto atau video dengan atau tanpa suara menjadikan suasana belajar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan siswa. Ketika seseorang belajar biologi konservasi maka yang lebih dituntut adalah kemampuan berinteraksi dengan obyek pengamatan yakni sumber daya hayati.  Penggunaan media pembelajaran yang baik serta penggunaan alat peraga praktek yang memadai disertai kemampuan untuk mengobservasi potensi dan kekayaan sumber daya hayati adalah sarana terbaik untuk mengungkapkan syukur atas segala karunia dari Allah Subhanahuwata’ala.

Untuk memudahkan pemahaman peserta kuliah Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati, berikut ini adalah sembilan jenis media penunjang pembelajaran yang dapat diaplikasikan kepada khalayak umum sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu :

  1. Bahan publikasi : Koran (e-koran/koran elektronik), majalah (e-majalah/majalah elektronik), buku (e-book/buku elektronik)
  2. Bahan bergambar : gambar, bagan (chart), peta, poster, foto, lukisan, grafik, diagram.
  3. Bahan pameran : bulletin board, papan flannel, papan magnet, papan demontrasi.
  4. Bahan proyeksi : film, film strip, slide, transparansi, OHP.
  5. Bahan rekaman audio : recorder (perekam suara)
  6. Bahan produksi : kamera, video, recorder
  7. Bahan siaran : program radio, program televisi
  8. Bahan pandang dengar : TV, you tube, slide suara, media sosial (whatsapp, telegram, facebook, instagram, dll).
  9. Bahan model / tiruan : model irisan penampang batang, model torso tubuh.

Kesimpulan

Pengelompokan jenis media pembelajaran dapat disusun berdasarkan kategori sederhana sampai dengan kategori kompleks. Pengelompokkan juga dapat dilihat berdasarkan kategori harga murah sampai dengan yang termahal. Dalam hal ini masing-masing media pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu, keunggulan dan kelemahan tertentu yang masing-masing akan berbeda sesuai dengan jenisnya.

Tugas dan Pertanyaan!

Setelah membaca penjelasan di atas jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini melalui tautan ini!