KPSDH – Praktikum Lapangan

Pendahuluan

Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati sudah lama diupayakan dan terus dikembangkan di Indonesia Salah satu melalui peraturan yang telah dikeluarkan pemerintah yakni Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990, yang berbunyi: “Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya”. Di Provinsi Kalimantan Selatan, Desa Pagatan Besar termasuk salahsatu desa yang statusnya berada di dalam kawasan konservasi perairan daerah Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari Tanah Laut (Hafizianor, 2009).   Keberadaan lahan di pesisir pantai yang sekarang ditanami oleh vegetasi jenis Avicennia Sp. (Api-api) dan Rhizophora Sp. (Bakau) seluas kurang lebih 10 hektar hingga saat ini telah menjadi daya tarik wisata bagi sebagian wisatawan lokal. Penetapan desa Pagatan Besar sebagai tujuan ekowisata mangrove dalam rangka pengembangan kawasan pesisir tangguh (PKPT) bukan hanya menjadikannya sebagai peluang, namun sekaligus tantangan karena dalam praktek pengelolaan dan konservasi hutan mangrove yang berlangsung selama ini masih banyak kelemahan dan ancaman yang dihadapi.

Tujuan

Dalam hal ini, tantangan terbesar yang dihadapi dalam pengembangan ekowisata mangrove di Pagatan Besar adalah minimnya kesadaran penduduk terutama generasi muda untuk lebih peduli terhadap konservasi dan pengelolaan ekosistem mangrove. Selain minimnya penggalian informasi dan juga masih sedikitnya perhatian dalam bidang pendidikan menyebabkan belum tergalinya potensi ekonomi dan ekologi dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar. Banyaknya kunjungan anak-anak sekolah khususnya pada hari-hari menjelang libur panjang untuk sekedar menelusuri vegetasi dan pengamatan ekosistem mangrove yang membentang sepanjang kurang lebih 2000 meter ini di satu sisi patut dibanggakan namun di sisi lain memprihatinkan karena pengujung pada umumnya tidak memperhatikan kebersihan lingkungan serta upaya kelestarian ekosistem mangrove. Oleh karena itu, Program Studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat melalui praktikum lapangan Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati, merasa terpanggil untuk bisa membantu mengatasi masalah tersebut di atas. Kegiatan Praktikum Lapangan Konservasi Pengelolaan Sumber Daya Hayati ini bertujuan antara lain :

  1. Melakukan praktikum identifikasi potensi ekonomi dan ekologi pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar,
  2. Membuat alat bantu belajar mengenai potensi ekonomi dan ekologi pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar,
  3. Mengenalkan identitas potensi ekonomi dan ekologi ekosistem mangrove serta pengenalan alat bantu belajar ekosistem mangrove kepada anak sekolah di SDN Pagatan Besar, dan
  4. Menganalisis potensi sumber daya manusia di Desa Pagatan Besar dalam upaya meningkatkan keberhasilan konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati di ekosistem mangrove berbasis kearifan lokal

Praktikum 1. Identifikasi potensi SDH di Ekosistem Mangrove (Pengamatan Herbivori)

Herbivori adalah eksploitasi secara langsung jaringan tumbuhan hidup oleh kepiting,
moluska, dan serangga pada vegetasi mangrove. Proses herbivori daun, selain mempengaruhi pertumbuhan vegetasi juga akan mengurangi perannya sebagai produsen primer penghasil serasah daun dan oksigen (Murphy, 1990)
.
Untuk melakukan pengukuran herbivori maka pengambilan sampel dilakukan secara langsung (discrete sampling) dan untuk keseragaman data, maka pada ekosistem mangrove pengukuran dilakukan pada saat air sedang surut (Saifullah dan Ali, 2004).  Parameter yang diamati adalah pola serangan herbivori, serta tingkat kerusakan daun atau jumlah daun yang dikonsumsi oleh herbivora dapat dilihat pada Gambar 2.

Metode pengambilan daun herbivori

Gambar 2.   Pengukuran herbivori pada tegakan mangrove menggunakan metode Rinker dan Lowman (2004).

Pengukuran luas area daun yang dikonsumsi oleh herbivora dilakukan menggunakan kertas grafik. Luas area daun yang dikonsumsi oleh serangga diukur dengan cara menandai dan menempatkan daun yang berlubang pada selembar kertas. Ketika ditemukan terdapat bagian daun yang hilang, maka dibuat gambaran perkiraan daun yang sebenarnya (Gambar 3.).

Pengukuran herbivori

Gambar 3. Perbandingan persentase area daun yang dikonsumsi oleh serangga (titik arsir) dengan perkiraan luas daun sebenarnya (Burrows, 2003).

Untuk pengukuran herbivori, maka daun dipisahkan berdasarkan umur (tua atau muda) dan kondisi daun (utuh atau rusak). Kategori kerusakan daun dibatasi dengan adanya bekas herbivori, yaitu hilangnya sebagian luasan daun akibat gigitan atau pelubangan. Untuk selanjutnya sama dengan pengukuran morfometri, yaitu dilakukan scan leaf area kemudian hasil scanning daun diolah dengan menggunakan software Compu Eye-Leaf & Symptom Area untuk mendapatkan luas area daun (tanpa tangkai) mangrove yang lebih akurat, baik yang utuh maupun daun yang rusak akibat herbivore (Septyaningsih, Ardli and Widyastuti, 2010).

Praktikum 2. Pembuatan Alat Bantu Belajar (Pembuatan Presentasi dan Video) dalam Upaya Konservasi Pengelolaan SDH di Ekosistem Mangrove

Penyusunan Multi media dengan powerpoint

Powerpoint salah satu software yang dirancang khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan dan relatif murah, karena tidak membutuhkan bahan baku selain alat untuk penyimpanan data (data storage).
Prosedur pembuatan media power point adalah:
a. Identifikasi program, hal ini dimaksudkan untuk melihat kesesuaian antara program yang dibuat dengan materi, sasaran (siswa) terutama latar belakang kemampuan, usia juga jenjang pendidikan.

b. Mengumpulkan bahan pendukung sesuai dengan kebutuhan materi dan sasaran seperti video, gambar, animasi, suara. Pengumpulan bahan tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari melalui internet (browsing), menggunakan yang sudah ada di direktori Anda, jika diperlukan memproduksi sendiri bahan-bahan yang diperlukan misalnya untuk kebutuhan video dengan shooting, rekaman audio dan untuk kebutuhan gambar melalui scanning image. Bersamaan dengan itu dilakukan juga penyusunan materi yang diambil dari bahan utama misalnya buku, modul, makalah lengkap. Materi untuk powerpoint sebaiknya dikemas menjadi uraian pendek, pokok-pokok bahasan atau pointer-pointer.
c. Setelah bahan terkumpul dan materi sudah dirangkum, selanjutnya proses pengerjaan di Powerpoint hingga selesai. Selanjutnya mengubah hasil akhir presentasi apakah dalam bentuk Slide Show, Web Pages, atau Executable File (exe).
d. Setelah program selesai dibuat, tidak langsung digunakan sebaiknya dilakukan review program dari sisi bahasa, teks, tata letak, dan kebenaran konsep, selanjutnya di revisi dan siap digunakan.
Tips membuat media dengan power point:
a. Gunakan background yang sederhana, kontras dan konsisten, hindari background yang rumit, mengganggu dan penuh.
b. Gunakan huruf yang konsisten, sederhana, dan jelas seperti arial, verdana, Tahoma dan trabucet, jangan gunakan huruf yang rumit dan bersambung.
c. Visualisasikan pesan Anda, jangan gunakan tulisan kecuali terpaksa
d. Maksimalkan fitur power point seperti unsur gambar, video, animasi dan suara, tapi jangan berlebihan.
e. Buatlah background atau template sendiri untuk meningkatkan daya Tarik presentasi dan memperjelas pesan.
f. Jika menggunakan latar dengan warna yang terang, maka gunakanlah teks dengan intensitas yang gelap, demikian sebaliknya.
g. Gunakanlah warna untuk memperindah tampilan sekaligus memberikan fokus pada penyajian. Tapi jangan terlalu banyak karena akan terkesan ramai dan mengganggu sajian materi. Gunakan warna kontras atau warna yang serasi
h. Hindari kombinasi warna lebih dari 3 dalam satu slide

Praktikum penyusunan bahan ajar dengan Video
Kita bisa menggunakan bahan ajar dari dari berbagai media video seperti televisi ataupun media online shared video dari internet misalnya Youtube untuk dijadikan sebagai bahan ajar berbasis video di kelas. Model pembelajaran ini memang termasuk ke dalam model pembelajaran pelengkap yang bersifat metode alternatif. Bahan ajar ini bias kita kemas sebagai video tutorial yang bisa kita sesuaikan dengan topik mata pelajaran yang cocok untuk dilengkapi dengan penyampaian materi dengan audio visual.

Dengan bahan ajar seperti ini tentunya diharapkan bisa lebih meningkatkan motivasi belajar peserta didik, tidak cukup hanya mengandalkan media atau metode belajar pokok yang berupa media cetak seperti : buku, handout, modul atau lembar kertas kerja, sudah saatna harus ada media alternatif lain untuk mampu memicu proses kognitif, afektif dan psikomotorik siswa didik ketika mengikuti perkuliahan.  Kita bisa mencoba mengembangkan bahan ajar berbasis video ini sebagai inovasi pembelajaran agar terkesan lebih menarik dan mampu merubah sikap dan persepsi siswa didik selama ini khususnya dalam mengikuti pembelajaran di kelas, dan pada akhirnya diharapkan akan memberikan kontribusi berupa sebuah media yang lebih familier bagi peserta didik dalam meningkatkan kemampuan dan prestasinya.

Diharapkan dengan pembuatan bahan ajar berbasis video ini ada beberapa point tujuan yang bisa tercapai yaitu: Tersedianya media alternatif yang mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik, Tersedianya alat bantu pembelajaran berupa sebuah metode yang lebih mudah dipahami oleh peserta didik dalam menguasai materi pelajaran dalam kegiatan pembelajaran, Menambah media pembelajaran selain yang sudah ada/dikenal selama ini di kelas, Terciptanya sebuah inovasi pembelajaran menggunakan perangkat bergerak seluler yang bersifat mobile sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan secara kontinyu oleh peserta didik ketika sedang berada di luar kelas, dan Memberikan kontribusi bagi peningkatan kemampuan dan prestasi peserta didik dalam menyelesaikan studi.

Praktikum 3. Pengenalan Potensi dalam Konservasi Pengelolaan SDH di Ekosistem Mangrove

  1. Media pembelajaran adalah wahana penyalur pesan dan informasi belajar. Media pembelajaran yang dirancang secara baik akan sangat membantu peserta didik
    mencapai tujuan pembelajaran. Masing-masing jenis media pembelajaran memiliki karakteristik, kelebihan serta kekurangannya. Itulah sebabnya maka perlu adanya perencanaan yang sistematis untuk penggunaan media pembelajaran.
  2. Pengembangan media pembelajaran hendaknya memenuhi prinsip VISUALS (Visible, Interesting, Simple, Useful, Accurate, Legitimate, Structured) dalam perencanaan sistematik untuk penggunaan media. Jenis-jenis media yang dapat disiapkan atau dikembangkan dalam pembelajaran di antaranya meliputi: media visual yang tidak diproyeksikan, media visual yang diproyeksikan, media audio, dan multimedia. Penggunaan media pembelajaran dapat memperlancar proses pembelajaran dan mengoptimalkan hasil belajar. Guru seyogyanya mampu memilih dan mengembangkan media yang tepat
  3. Mahasiswa yang sudah dibagi menjadi 2 kelompok, memasuki ruangan kelas masing-masing. Sebelum memulai jangan lupa memberikan salam, doa dan perkenalan, jika memungkinkan gunakan kartu nama yang besar dan baju almamater. Gunakan bahasa yang menyapa dan menarik perhatian anak-anak. Jangan lupa rekam kegiatan anda menggunakan perekam suara, foto diperlukan untuk dokumentasi, sedangkan perekaman video tidak disarankan karena ukuran filenya besar.
  4. Kelompok 1 dan 2 bertugas untuk memberikan penjelasan mengenai alat bantu belajat menggunakan multimedia (presentasi dan video). Setelah selesai acara presentasi dan pemutaran video maka diadakan tanya jawab antara peserta didik dengan mahasiswa. Acara kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menggambar biota pada ekosistem mangrove dengan menggunakan metode pensil dan kertas gambar.  Dan terakhir adalah acara pembagian doorprize untuk pemenang lomba gambar terbaik dan peserta terbaik.
  5. Tema materi yang disampaikan adalah mengenai ekosistem mangrove : vegetasi mangrove dan timpakul dan dikemas dalam bentuk pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA.

Praktikum 4. Analisis Potensi Sumber Daya Manusia dalam Upaya Konservasi dan Pengelolaan SDH

  1. Dalam upaya mengetahui tingkat pemahaman penduduk lokal mengenai konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati di ekosistem mangrove maka mahasiswa melakukan wawancara atau survey tingkat pemahaman.
  2. Wawancara dilakukan dengan penduduk yang ada di sekitar ekosistem mangrove. Sasaran utama adalah petani, pedagang keliling, pedagang ikan, pedagang sayur, guru sekolah, nelayan, penjual warung, kepala desa dan lain-lain.
  3. Jangan lupa sebelumnya anda perlu memperkenalkan diri dengan orang yang di Kemudian tanyakan informasi yang ingin diperoleh sesuai dengan tujuan praktikum Konservasi Pengelolaan Sumber Daya Hayati.
  4. Pertanyaan yang diajukan adalah terkait kegiatan tema praktikum konservasi sumber daya hayati di Desa Pagatan Besar, yakni ;
    1. Potensi vegetasi pada ekosistem mangrove
    2. Potensi timpakul pada ekosistem mangrove
    3. Potensi kerang pada ekosistem mangrove
    4. Potensi burung pada ekosistem mangrove
    5. Potensi serangga pada ekosistem mangrove
    6. Aktivitas penduduk memanfaatkan ekosistem mangrove
    7. Potensi penjualan barang dari ekosistem mangrove
    8. Potensi penjualan jasa dari ekosistem mangrove
  5. Data wawancara selanjutnya ditabulasi menjadi data kelas seperti terlihat dengan contoh pengisian terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Contoh pengamatan potensi (ikan) pada ekosistem mangrove dalam rangka praktikum KPSDH

No Pertanyaan Penjelasan yang dikumpulkan

dari setiap narasumber

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1. Cara pengambilan ikan
2. Waktu pengambilan ikan
3. Jumlah panen ikan dari melaut
4. Jumlah jenis ikan yang ditemukan setelah panen
5. Daftar nama jenis ikan, sebutkan : …..
6. Cara pengolahan ikan setelah dipanen
7. Penjualan ikan kemana saja
8. Harga penjualan ikan berapa
9. Ikan apa saja yang paling mahal, sebutkan : …..
10. Ikan apa saja yang paling murah, sebutkan : …..
11. Pada bulan apa, mudah diperoleh ikan?
12. Pada bulan apa, sulit diperoleh ikan?

 Contoh analisis data konservasi pengelolaan SDH terkait perhitungan potensi vegetasi di ekosistem mangrove :

  1. Membuat deskripsi jenis-jenis vegetasi dijumpai dalam di ekosistem mangrove.
  2. Membuat perbandingan tingkat hidup vegetasi ekosistem mangrove
  3. Menghitung potensi ekonomi, ekologi, dan spiritual dari vegetasi yang ada di mangrove
  4. Membandingkan nilai yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan hasil dari wawancara.

Pengumpulan Laporan Praktikum :

  1. Pengumpulan Laporan Praktikum 1, 2, dan 3 untuk Kelompok 1, disini!
  2. Pengumpulan Laporan Praktikum 1, 2, dan 3 untuk Kelompok 2, disini!
  3. Pengumpulan Laporan Praktikum 4 untuk Kelompok 1, disini!
  4. Pengumpulan Laporan Praktikum 4 untuk Kelompok 2, disini!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.