Sebagaimana diketahui pola sebaran individu atau populasi dalam lingkungan memiliki tiga pola secara umum yakni acak (random), mengelompok (clump) dan seragam (uniform). Pola sebaran berkelompok/clumped adalah pola yang paling sering dijumpai pada berbagai lingkungan. Pada tumbuhan pola berkelompok disebabkan oleh reproduksi vegetatif, susunan benih lokal dan fenomena lain. Sedangkan pada hewan-hewan tingkat tinggi, pengelompokkan dapat disebabkan oleh pengelompokan sosial. Penyebaran seragam (uniform) sering terjadi di alam baik diantara hewan-hewan tingkat rendah dimana kehadiran satu jenis biota berpengaruh terhadap kehadiran biota lain dari  jenis yang sama. Pola penyebaran acak (random) pada tumbuhan adalah peristiwa yang umum dijumpai di lingkungan dimana penyebaran benihnya disebabkan angin (Michael, 1994).

Dalam menghitung pola sebaran suatu jenis atau populasi diperlukan sebuah alat pengukuran yang disebut sebagai indeks sebagai alat ukur pola sebaran. Indeks Morisita adalah salah satu indeks yang digunakan untuk mengukur pola sebaran spasial suatu jenis atau populasi, dari lima indeks pola sebaran yang dikenal yaitu : (1) rasio varian dan mean, (2) Indeks Clumping, (3) Koefisien Green, dan (4) Rasio kepadatan observasi dengan kepadatan harapan.

Indeks Morisita (Id) adalah yang paling sering digunakan untuk mengukur pola sebaran suatu jenis atau populasi karena hasil perhitungannya tidak dipengaruhi oleh perbedaan nilai rataan dan ukuran unit sampling. Indeks ini bersifat independen terhadap tipe-tipe distribusi, jumlah sampel dan nilai rataannya. Oleh karena itu, berapa pun ukuran contohnya, indeks ini memberikan hasil yang relatif stabil dan tidak bergantung terhadap kepadatan populasi dan ukuran sampel. Dibawah ini adalah Rumus Indeks Morisita secara umum, dimana n adalah jumlah plot contoh, dan x adalah jumlah individu yang ditemukan pada setiap plot (Gambar 1).

Gambar 1. Rumus indeks Morisita untuk menentukan pola sebaran populasi

Berikut ini adalah contoh perhitungan sebaran populasi vegetasi mangrove menggunakan menggunakan Software pengolah data (WPS Spreadsheet). Untuk menghitung sebaran vegetasi mangrove ditetapkan sebanyak 3 jalur  masing-masing berukuran 10 meter x 60 meter.  Masing-masing jalur dibagi lagi menjadi 3 plot contoh berukuran  10 meter x 20 meter. Jadi pada setiap satu lokasi hutan mangrove ditetapkan sebanyak 9 plot pengamatan. Diketahui jumlah sampel yang berhasil dikumpulkan adalah 42 jenis dari 9 plot pengukuran (Gambar 2).

Indeks Morisita

Gambar 2. Contoh penghitungan pola penyebaran vegetasi mangrove

Hasil pengambilan sampel vegetasi mangrove dari sebanyak 9 plot diperoleh 42 jenis vegetasi dengan rincian : Avicennia Sp. 15 jenis, Bruguiera Sp. 3 jenis, Sonneratia Sp. 4 jenis, Rhizophora Sp. 3 jenis, Acanthus Sp. 15 jenis dan Xylocarpus Sp. 2 jenis.  Melalui penghitungan menggunakan skala Indeks Morisita diketahui nilainya adalah 1,23. (id>1), sehingga disimpulkan pola penyebaran vegetasi mangrove yang terjadi ialah mengelompok (clumped).

Tugas :

Lakukan suatu pengamatan mengamati jenis-jenis biota (hewan, manusia, serangga, tumbuhan) di lingkungan Kampus ULM Banjarbaru. Kerjakan seperti contoh, lihat petunjuk lebih lengkap dan kumpulkan laporannya pada tautan ini!