Arsip Bulanan: Februari 2019

BPL – Pertemuan 1. Apakah bioindikator itu dan mengapa penting?


Assalamualaikumwarohmatullah wabarokaatuh. Apa kabar anda semua? Alhamdulillah sudah seharusnya kita mengucapkan syukur atas besarnya karuania yang dilimpahkan Allah Subhanahuwata`ala terhadap kita semua. Limpahan nikmat lahir (kekayaan dan kesehatan) dan serta nikmat bathin (ketenangan, khusyu, dan keamanan) yang tidak terhitung jumlahnya. Maka pantaslah bagi kita untuk selalu bersyukur bahkan selayaknya kita memohon ampunan (istigfar) atas segala perbuatan kita yang tidak akan bisa mengerjakan semua amalan yang diperintahkan-Nya. Sholawat serta salam kita mohonkan agar selalu dilimpahkan kepada Nabi terakhir dan terbaik Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Hadirin rahimakumullah, peserta kuliah Bioindikator Pencemaran Lingkungan. Apakah anda selalu merasakan kondisi lingkungan di sekitar kita ini selalu membaik atau semakin buruk? Lalu bagaimana caranya mengetahui perubahan kondisi ini dengan menggunakan berbagai penanda perubahan, baik penanda fisiologis atau perilaku biota juga perubahan distribusi, kelimpahan, dan juga genetika populasi organisme yang bisa memberi kita informasi lebih baik tentang penyebab perubahan lingkungan? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk dikaji, bukan hanya bagi ahli biologi, namun juga penting bagi seluruh makhluk hidup. karena perubahan kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati akan mengubah siklus hidup serta transfer materi dan energi secara keseluruhan.

Terkait hal tersebut, maka keberadaan indikator biologis dari perubahan lingkungan adalah sangat diperlukan karena bermanfaat untuk mengukur ‘kualitas hidup’ lingkungan dalam konteks yang lebih luas. Di bawah ini akan diuraikan bagaimana perubahan yang terjadi dalam karakteristik biologis yang dimiliki hewan dan tumbuhan yang dikenal sebagai ‘Bioindikator’ dapat memberi tahu kepada kita tentang sifat dan tingkat keparahan perubahan lingkungan.

Apa itu bioindikator? Bioindikator secara luas dapat didefinisikan sebagai biota yang dikembangkan sebagai indikator kualitas lingkungan. Bioindikator dapat berupa komponen biotic (hewan, tumbuhan, mikroba, alga, dan fungi), atau manusia yang dijumpai dalam suatu ekosistem (Burger 2006). Sebagai contoh bioindikator yang banyak digunakan adalah Burung Kenari. Burung jenis ini sering digunakan untuk mendeteksi keberadaan karbon monoksida (CO) dan metana di lokasi tambang karena sensitivitas tinggi yang dimiliki oleh burung terhadap keberadan gas-gas berbahaya tersebut. Dalam contoh ini, keberadaan burung kenari mampu memberikan peringatan dini tentang kondisi lingkungan yang membahayakan bahkan pada akhirnya bisa mematikan bagi manusia.

Namun hal ini bukan satu-satunya peran bioindikator, namun secara umum bioindikator seringkali digunakan untuk menilai perubahan kualitas lingkungan dari waktu ke waktu. Meskipun kemajuan teknologi baru-baru ini juga memungkinkan pengukuran kualitas lingkungan yang lebih akurat mengenai potensi penyebab tekanan pada lingkungan, namun pengukuran perubahan pada tingkat penyebab tekanan (stress) itu sendiri tidak memberi tahu kita apa-apa tentang dampaknya, sehingga keberadaan bioindikator menjadi hal yang tidak tergantikan keberadaannya.

Sebagai contoh, pengukuran suhu yang luas dan terkoordinasi akan memungkinkan kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang lintasan dan kecepatan pemanasan iklim, dan adanya pencitraan satelit akan memungkinkan kita untuk mengukur kehilangan dan fragmentasi habitat. Tapi pertanyaan selanjutnya apa konsekuensi dari semua perubahan ini untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem yang dihasilkan? Sebagaimana kita ketahui bahwa nikmat keanekaragaman hayati ini sangat penting bagi kehidupan manusia, selain menciptakan berbagai kenikmatan juga menuntut manusia untuk terus berkreasi sesuai tuntunan Rasul-Nya dalam lingkup ibadah hanya kepada Allah Subhanahuwata`ala.

Tentunya menggabungkan data tentang perubahan lingkungan yang dikumpulkan menggunakan teknologi yang semakin canggih disertai dengan memantau respons bioindikator yang peka terhadap perubahan lingkungan ini memberikan akan tantangan ilmiah yang menarik dan sangat diperlukan untuk saat ini dan mendatang.

Sumber bacaan.

Jones, G. (2012). What bioindicators are and why they are important. Pp. 18-19 in Flaquer, C. & Puig-Montserrat, X. eds. Proceedings of the International Symposium on the Importance of Bats as Bioindicators. Museum of Natural Sciences Edicions, Granollers.

Ekologi Kalimantan – Pertemuan 1. Silabus dan Kontrak Kuliah (2019)

Mata Kuliah Ekologi Kalimantan dengan kode mata kuliah JCKB 365 dan bernilai 4 SKS (3 SKS Kuliah /1 SKS Praktikum)  merupakan mata kuliah unggulan dan pilihan spesifik yang ditawarkan pada Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lambung Mangkurat. Pengampu mata kuliah ini terdiri dari tiga orang yakni : Anang Kadarsah (AK), Krisdianto (KD), dan Sasi Gendro Sari (SGS). Pembagian materi kuliah ekologi kalimantan dibagikan berdasarkan kondisi umum Kalimantan dan bidang minat yakni : ekosistem pesisir (AK), ekosistem pegunungan (KD) dan ekosistem rawa (SGS).

Standar Kompetensi Khusus yang ingin dicapai setelah selesai mengikuti mata kuliah ini (dalam minat ekosistem pesisir), mahasiswa dapat : (1) menjelaskan kewajiban bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada wilayah Kalimantan, (2) menerangkan kondisi umum (geografis, pembagian wilayah, penduduk, tipe ekosistem pesisir) di Kalimantan, dan (3) secara khusus menjelaskan keanekaragaman tumbuhan dan hewan serta interaksi yang membentuk sistem ekologi pada ekosistem pesisir di Kalimantan.

Standar penilaian yang digunakan meliputi tiga komponen yaitu : kognitif, afektif, dan psikomotor. Kognitif adalah  aspek yang mencakup kegiatan intelektual, yaitu: 1. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge) 2. Pemahaman (comprehension) 3. Penerapan (application) 4. Analisis (analysis) 5. Sintesis (syntesis) 6. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation). Kedua, adalah Afektif yakni aspek yang berkaitan dengan sikap dan nilai, yaitu: 1. Receiving atau attending ( menerima atau memperhatikan) 2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif” 3. Valuing (menilai atau menghargai) 4. Organization (mengatur atau mengorganisasikan) 5. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan  suatu nilai atau komplek nilai). Ketiga adalah Psikomotori merupakan  aspek yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.yang diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.

Pustaka :

Mackinnon, Kathy, Hatta, Gusti, Halim, Hakimal, dan Mangalik, Arthur. 2000. Ekologi Kalimantan. Seri Ekologi Indonesia Buku III. Jakarta. Prenhallindo, Alih bahasa Tjitrosoepomo, Gembong, Kartikasari, S.N, dan Widyantoro, Agus.

Dahuri, Rokhimin, Rais, Jacub, Ginting, Sapta Putra, dan Sitepu, M.J. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta. PT. Pradnya Paramita.

Dwi setyawan, Ahmad, Susilowati, Ari, dan Sutarno. 2002. Bodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa. Petunjuk Praktikum Biodiversitas. Studi Kasus Mangrove. Surakarta. FMIPA. Universitas Sebelas Maret.