Disampaikan oleh Prof. Johan Iskandar (Guru besar FMIPA UNPAD) pada acara : 3rd SYMBION 2019 yang bertema Bio-Literacy and Education for a Sustainable Life

Indonesia memiliki lebih dari 300 etnik dengan memiliki 655 bahasa ibu, menempati urutan kedua dari 25 negara di dunia dengan memiliki keanekaan bahasa lokal endemik , setelah papua new guinea  (847 bahasa ibu).

Pandangan baru sejak era tahun 1990-an, bahwa terdapat hubungan yang erat antara keanekaan hayati (biodiversity) dan keanekaan budaya (cultural diversity)—–biocultural diversity system (carlson and maffi 2004)

Tidak selamanya aktifitas manusia menyebabkan kerusakan lingkungan. Manusia dapat pula berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung dalam memelihara bahkan menciptakan keanekaan hayati dalam berbagai ekosistem. Misalnya berbagai lanskap diciptakan atau dimodifikasi oleh kreasi manusia, seperti pengelolaan hutan, budidaya tanaman dalam bertani.

Beberapa istilah pengetahuan “tradisional” penduduk : local knowledge (lk), indigenous knowledge (ik), folk konowledge (fk), traditional  ecological knowledge (TEK).

TEK: pengetahuan penduduk yang terhimpun hasil pewarisan  secara turun temurun dan pengalaman praktik sendiri dalam berinterkasi dengan sesamanya dan lingkungannya, disebarkan secara lisan, secara lekat budaya dan dilandasi oleh kepecayaan,  dalam upaya proses adpatasi dengan lingkungannya secara dinamik (berkes 2008)

Kearifan ekologi : adaptasi kultural yang diajarkan dari generasi yang satu ke generasi yang lain yang dinamik mengikuti perubahan yang terjadi di lingkungan.

Selengkapnya pembahasan mengenai hal ini, dapat anda klik pada tautan ini.