Dapatkan Ebook Cara Praktis Menulis Buku!

Langsung saja, untuk membangkitkan keinginan menulis buku, tentunya Anda perlu tahu apa saja keuntungan melimpah yang dapat Anda peroleh jika menulis buku. Berikut adalah beberapa manfaat menulis buku untuk seorang dosen menurut Utama dan Widyani (2014), diantaranya :

1. Membantu mempromosikan nama Jurusan, Fakultas, dan Universitas tempatnya bekerja karena memiliki penulis dan pengajar handal (terbukti dari buku-buku yang berhasil diterbitkan). Nama Universitas biasanya melekat pada seorang dosen. Dengan begitu nama Universitas, Fakultas, dan Jurusan pun akan menjadi lebih terkenal, berkelas, dan terpercaya.

2. Menunjukkan pada dunia bahwa Anda memang mahir di bidangnya. Dengan cara ini, akan banyak pihak lain yang mungkin meminta bantuan atau sekedar konsultasi tentang bidang tersebut.

3. Dengan kata lain, menulis buku merupakan alat untuk membangun trust atau kepercayaan.

Meskipun demikian menulis buku tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak rintangan yang harus dilalui serta ilmu yang dipelajari. Tentunya yang diperlukan adalah paling penting adalah niat. Innamal `amalu binniat. Segala sesuatu tergantung dari niatnya, demikian yang disampaikan oleh Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907].

Dalam menulis buku pun demikian, jika kita punya tujuan dan fokus pada tujuan itu dalam hati, ucapan, dan tindakan maka Allah yang Maha Kuasa kemudian seluruh alam akan mendukung. Tujuan itu mampu memberi motivasi yang kuat. Oleh karena itu, anda segera rumuskan tujuan menulis buku agar semakin terpacu untuk mewujudkannya. Berikut adalah beberapa contoh bagaimana niat bisa mewujudkan anda untuk menulis buku dan dapat Anda ikuti jejaknya :

Contoh dosen A
Seorang dosen Teknik Perkapalan bercerita kepada mahasiswanya, mengapa ia sangat bangga terhadap profesinya sebagai dosen dan sangat menjunjung tinggi tridharma perguruan tinggi di universitasnya. Kesuksesan dosen tersebut kini telah jauh melampaui dosen lainnya di tempat ia mengajar. Pada saat perkuliahan beliau berlangsung, salah satu mahasiswa bertanya,”apa kunci sukses bapak sehingga bapak bisa seperti sekarang?”
Dosen itu menjawab,”saya rajin melakukan penelitian dan banyak mendapat dana hibah baik dari dikti, organisasi, maupun perusahaan besar. Selain itu saya juga rajin menulis buku referensi tentang keilmuan yang saya kuasai dan membagi-bagikannya secara gratis kepada kolega saya baik di pemerintahan, universitas, maupun perusahaan-perusahaan besar terkait keilmuan saya. Dari situ saya mendapat banyak apresiasi. Banyak orang berdatangan untuk berkonsultasi kepada saya. Kini selain menjadi dosen, saya juga seorang peneliti dan konsultan.” Setelah mendengar penuturan sang dosen, seluruh mahasiswa di kelas tersebut bersorak, “wooow…”

Contoh dosen B
Seorang dosen perguruan tinggi swasta di kota Cirebon terlihat sangat antusias dalam mengajar di jurusan Ilmu Peternakan. Kami bertanya-tanya, mengapa ia dapat mengajar begitu antusias padahal mahasiswa yang diajarnya hanya 8 orang? Ya, hanya 8 orang. Itupun jika sang mahasiswa tidak ada yang absen. Dengan rasa penasaran yang tinggi, kami memberanikan diri untuk bertanya pada beliau. “Bu, mengapa ibu begitu semangat mengajar dan tidak kecewa dengan jumlah mahasiswa ibu yang sedikit ini?” Beliau menjawab dengan tenangnya,”Mahasiswa sedikit tidak apa-apa mas. Namanya juga universitas kecil. Tapi dari sedikitnya mahasiswa saya ini, dan dengan adanya buku ajar yang saya buat (sesuai kebutuhan beliau dan kurikulum yang berlaku di jurusan tersebut) saya dapat memaksimalkan potensi dari seluruh mahasiswa saya mas.”

Rasa penasaran kami semakin tinggi, apa maksud dari ucapan dosen tersebut. “Memaksimalkan potensi bu? Kalau boleh tahu, potensi seperti apa ya bu?” Senyum lebar terlihat di bibir dosen tersebut, kemudian beliau menjawab,”saya menyisipkan ilmu kewirausahaan di dalam buku saya mas. Dari situ saya bisa menjadikan mahasiswa saya seorang pengusaha. Sekarang sudah ada ternak Ayam 25.000 ekor dengan omzet Rp 80.000.000,-/panen (35 hari). Selain itu saya juga punya saham di usaha
tersebut. Dengan demikian, saya telah berhasil sedikit membantu pemerintah dalam program mengurangi pengangguran terdidik. Selain itu saya juga jadi memiliki pemasukan sampingan yang cukup besar mas.”. Beberapa detik kami terdiam dan saling bertatapan satu sama lain,
tidak 1 patah kata pun bisa kami ucapkan selain,”Subhanallah..”

Contoh dosen C
Pada sore hari sekitar jam 5 sore, laboratorium itu terlihat sangat ramai. Awalnya kami ragu-ragu untuk memasuki laboratorium tersebut, takut mengganggu. Sebelum masuk, kami sms dosen yang tadi siang sudah janjian untuk bertemu sore ini di lab tersebut. Selang beberapa saat, dosen itu keluar lab dan mempersilakan kami untuk memasuki ruang kerjanya yang sederhana. Setelah dipersilahkan duduk, kami bertanya kepada dosen tersebut,”Ada acara apa ya pak, kok jam segini lab masih ramai seperti itu?”Dosen itu menjawab,”iya mas, anak-anak sedang mempersiapkan bahan lomba karya aplikatif di Jakarta nanti. Mereka sedang membuat prototype mesinnya.” Setelah itu kami bertanya lagi,”Pak, apakah yang sedang mereka kerjakan itu diajarkan di perkuliahan mereka pak?”. Sang dosen pun menjawab,”Sebenarnya tidak mas, tapi saya sengaja membuat buku ajar yang membahas tentang pengaplikasian praktis keilmuan saya. Hasilnya mahasiswa saya bisa membuat karya yang dapat dilombakan mas. Itu buktinya (sambil menunjuk ke dalam lab)”.


Secara serempak kami menjawab,”hmmmm… mantap pak!” Saat itu kami baru menyadari bahwa dengan adanya Buku Ajar yang dibuat secara langsung oleh dosen jurusan setempat, proses penurunan ilmu dan modifikasinya jauh lebih sempurna apabila dibandingkan dengan mahasiswa membeli buku mata kuliah tersebut yang ada di toko buku.

Sang dosen dapat menurunkan ilmunya lebih mendalam dan mahasiswa dapat menyerap ilmu dosen tersebut jauh lebih sempurna dibandingkan jika mereka hanya mendengarkan dosen mengajar dan membaca slide power point.

Selain itu, hubungan antara dosen dan mahasiswa pun menjadi lebih akrab dan terbuka dibanding sebelumnya. Mahasiswa merasa lebih nyaman untuk bertanya kepada dosen apabila ada materi yang belum ia pahami, dan dosen pun merasa lebih dibutuhkan, dihormati, dan dihargai oleh mahasiswanya. Sebuah suasana ideal di kampus. Setelah 1 bulan berlalu, kami mendapat kabar bahwa tim mahasiswa yang

dosen C kirim untuk mengikuti perlombaan karya aplikatif di Jakarta berhasil meraih Juara II. Beliau dan mahasiswanya telah berhasil mengharumkan nama universitas mereka dengan prestasi.

Menarik bukan setelah anda membaca tiga cerita di atas?. Mudah-mudahan anda segera tergugah untuk segera menentukan apa tujuan Anda menulis buku kemudian segera menulisnya. Aamiin.

Anda ingin mendapatkan buku gratis dengan judul :

Download Ebook Panduan Menulis Buku Premium Gratisnya. Silakan klik di sini!

Referensi

Utama, A. N. B., & Widyani, R. (Ed. ). (2014). Cara Praktis Menulis Buku. Penerbit Deepublish.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.