Restorasi ekosistem hutan di kawasan konservasi diperlukan terutama untuk akibat gangguan antropogenik seperti pembuatan tambak , perumahan dan alih fungsi lahan lainnya. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai pola dan pelaksanaan restorasi ekosistem mangrove yang terdegradasi akibat tambak (Miyakawa, 2014).

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 27% dari luas mangrove di dunia dan 75% dari luas mangrove di Asia Tenggara. Namun demikian sebagian besar ekosistem mangrove telah mengalami degradasi antara lain akibat pembangunan tambak dan penebangan liar. Luas penyebaran mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan, berdasarkan data Ditjen BPDASPS, dari 9.3 juta ha pada tahun 1999 menjadi 3.7 juta ha pada tahun 2010. Dari data tersebut, degradasi ekosistem mangrove rata-rata sebesar 0.5 juta ha per tahun. Ekosistem mangrove yang rusak tersebut perlu segera dipulihkan agar dapat berfungsi kembali sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu perlu adanya suatu pedoman agar kegiatan pemulihan fungsi kawasan tersebut dapat berjalan secara efisien dan efektif (Miyakawa, 2014).

Secara umum, tahapan restorasi ekosistem mangrove terdegradasi di dalam kawasan konservasi, yang terdiri dari 5 tahapan, yaitu :Mencari dan menentukan sasaran areal restorasi ekosistem

  1. Penentuan areal restorasi

2. Persiapan

3. Survei awal area

4. Perencanaan

5. Pelaksanaan

6. Pemeliharaan dan Monitoring

7. Evaluasi kegiatan

Daftar Pustaka

Miyakawa, H. (2014). Pedoman Tata Cara Restorasi di Kawasan Konservasi. Direktorat Jenderal PHKA, Kementerian Kehutanan dan Japan International Cooperation Agency (JICA). https://www.jica.go.jp/project/english/indonesia/008/materials/c8h0vm000001gj3g-att/pamphlet_03.pdf