Analisis Desain Restorasi (Ekosistem mangrove) : Terpadu dan Partisipatif

Salah satu langkah penting untuk menjamin keberhasilan program rehabilitasi pada eksosistem (mangrove) adalah diawali dengan merancang kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai secara terpadu dan partisipatif  (Onrizal, 2014). Kegiatan tersebut meliputi enam langkah yang disesuaikan dengan kepentingan serta keberadaan ekosistem mangrove itu sendiri, antara lain :

  1. Mengidentifikasi permasalahan dan garis besar tujuan rehabilitasi
  2. Mensintesis kondisi ekosistem masa lalu dan sekarang, terutama struktur ekologi dan fungsinya  dan ketergantungan masyarakat  sekitar terhadap sumberdaya mangrove
  3. Menyusun garis rencana besar rehabilitasi  yang sistematis  ekologi ; (rekayasa
    ecological engineering).
  4. Mengembangkan keterlibatan masyarakat dan rencana subsidi pendapatan (rekayasa
    ekonomi-sosial; economic-social engineering)
  5. Mengembangkan rencana detil implementasi (tata letak bagaimana menerapkan berbagai aktivitas di bawah rencana yang berbeda)
  6. Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengawasan yang ketat untuk manajemen adaptif yang logis.

Namun sebelum membuat desain rancangan restorasi ekosistem mangrove sebaiknya kita menyimak penjelasan dari Choesin, D. N. (2020) bahwa Kunci keberhasilan restorasi eksosistem secara keseluruhan (bukan hanya Mangrove) adalah Rekayasa Ekologi (gambar 1) . Apa itu rekayasa ekologi? Rekayasa ekologi adalah teknik yang digunakan untuk merancang dan mengelola ekosistem dengan teknik tertentu berdasarkan pendekatan ekologi. Seperti pada ekosistem mangrove itu sendiri tentunya memiliki karakteristik unik dan berbeda dibandingkan ekosistem lain, seperti lahan bekas tambang.

Gambar 1. Restorasi ekosistem mangrove (Choesin, 2020)

Sehingga ada 5 faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaksana dan perencana restorasi dalam upaya menerapkan prinsip rekayasa ekologi. Berikut ini adalah penjelasan desain restorasi pada ekosistem mangrove yakni :

1.Perlu memperhatikan karakteristik khas mangrove sebagai ekosistem lahan basah.

2.Perlu pemahaman tentang kondisi area yang direstorasi (ekologi, hidrologi).

3.Perlu mengembalikan proses fisik hidrologi (aliran air, alirah sedimen, elevasi lahan) untuk memfasilitasi transport alami propagul mangrove.

4.Penanaman perlu menggunakan spesies yang tepat pada lokasi yang tepat, pada bagian sistem dan elevasi yang sesuai.

5.Perlu pemantauan dan pengelolaan jangka panjang

Pustaka

Choesin, D. N. (2020). Ecological Approach in Mangrove Restoration. Kuliah Tamu Prodi Biologi FMIPA ULM Kamis, 26 November 2020.

Onrizal, O. (2014). Merancang Program Rehabilitasi Mangrove yang Terpadu dan Partisipatif. August 2014. https://www.researchgate.net/publication/268148016

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.