Perubahan iklim adalah perubahan sigifikan pada iklim, suhu udara dan curah hujan. Hal ini disebabkan oleh naiknya temeratur bumi akibat dari peningkatan konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Perubahan iklim adalah salah satu hal yang tidak bisa terelakkan mana kala perusakan lingkungan terus bertambah, begitu pula dengan bencana yang sifatnya tidak bisa terelakkan keberadaanya. Kerugian akibat perubahan iklim secara langsung berdampak pertama terhadap kebutuhan dasar pangan (terutama padi) dan kebutuhan energi (PLTA dan pendingin ruangan). Sedangkan bagi kesehatahan yang akan terjadi, diantaranya peningkatan 4 jenis penyakit (DBD, Malaria, Diare dan Pneumonia). Perubahan iklim kembali menjadi sorotan setelah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama bagi negara-negara kepulauan di Pasifik, termasuk Indonesia tentunya yang berhadapan dengan siklon tropis, badai dan kemungkinan akan menjadi lebih basah saat planet memanas.

Terkait pandemi Covid-19 yang telah mendorong penurunan emisi CO2 tahunan terbesar sejak Perang Dunia Kedua, serta menjadi ancaman menakutkan yang telah membunuh lebih dari 999 ribu jiwa di seluruh dunia, namun ini bukan satu-satunya ancaman. Beberapa negara kepualauan seperti Tuvalu yang tingginya hanya beberapa meter di atas permukaan laut, lebih terancam dengan naiknya permukaan laut sehingga kondisi pertanian lokal menjadi lebih sulit daripada efek pandemi yang memperlambat pergerakan barang sehingga terjadi kerawanan pangan. Intinya Covid-19 adalah krisis langsung namun perubahan iklim tetap menjadi ancaman terbesar bagi mata pencaharian, keamanan dan kesejahteraan negara kepulauan di seluruh dunia.

Apakah ada hubungan antara Perubahan Iklim dan Covid-19?

Perubahan iklim tidak menyebabkan wabah virus corona, tetapi dapat membantu menyebarkan pandemi dan penyakit di masa depan Iklim yang menghangat dan meningkatnya variabilitas dalam pola cuaca di seluruh dunia membuatnya lebih mudah untuk menularkan penyakit dari negara mana pun. Sebelum adanya pandemi Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia telah melacak dan menganalisis bagaimana perubahan iklim berdampak kepada kesehatan masyarakat. Sebagai contoh pada kasus polusi udara, polusi udara meningkatkan risiko penyakit lain, seperti penyakit jantung dan masalah pernapasan, sesuatu yang berdampak langsung pada mereka yang menderita Covid-19.

Bukti menunjukan bahwa Covid-19 adalah peristiwa zoonosis yang menular dari hewan ke manusia, tak hanya Covid-19 sebelumnya  ada pula penyakit SARS dan MERS. Ketika manusia merusak lingkungan, artinya kita telah mengeksploitasi secara berlebihan serta membiarkan diri kita terpapar terhadap resiko penyakit. Resiko terpapar penyakit dari hewan juga menjadi tinggi ketika kita tidak memantau adanya infeksi atau penyakit pada satwa liar atau hewan peliharaan kita.

Kesimpulan : Untuk mengurangi kemungkinan pandemi berikutnya dan dampak perubahan kita harus benar-benar sadar dan bijak untuk mengelola sumber daya alam. Tentunya besarnya dampak dan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana dan pengaruh perubahan iklim menuntut peran semua pihak untuk mengurangi risiko keduanya melalui Adaptasi Perubahan Iklim (API) dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) secara terpadu.

Pustaka

http://km.reddplusid.org/d/197f76fe309657064dbec74d9eea4be4

Apakah ada hubungan antara Perubahan Iklim dan Covid-19?

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55270307

https://republika.co.id/berita/qhd5gr396/perubahan-iklim-ancaman-kematian-setelah-pandemi