Kurang lebih selama satu minggu terakhir ini (13 sampai 21 Januari 2021) banjir bandang menerjang Kalimantan Selatan (Kalsel) dan telah menewaskan lima orang serta membuat 112.709 orang lainnya mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) seperti tampak pada Gambar 1 di bawah ini melaporkan sebanyak 7 Kabupaten/Kota terdampak banjir. Beberapa daerah yang terkena antara lain : Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong (CNN Indonesia, 2021).

Gambar 1. Infografis kejadian banjir di Kalimantan Selatan (Januari 2021) https://apahabar.com/2021/01/mengupas-problem-banjir-kalsel-ratusan-eks-lubang-tambang-di-das-barito-terendus/
  1. Kabupaten Banjar. Kabupaten ini merupakan wilayah yang paling terkena dampak akibat bencana banjir ini, yakni dalam jumlah yang paling besar. Selain itu, Kota Tanah Laut juga terdampak besar, yakni dengan jumlah 27.024 terdampak dan mengungsi serta 8.249 rumah terendam. Besarnya dampak yang terjadi menimbulkan pertanyaan apa penyebabnya. Salah satu potensinya adalah terjadi degradasi lingkungan, mulai dari lubang tambang yang tidak ada perbaikan hingga pembukaan lahan sawit yang kebablasan (Sandi, 2021).
  2. Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Mengapa Belanda waktu itu tidak melakukan penambangan batu bara di wilayah Hulu Sungai khususnya Barabai ? Hari ini, 92 tahun yang lalu,tepatnya pada hari Jum’at tanggal 13 Januari 1928, kala itu kabupaten Hulu Sungai Tengah masih bernama “DE ONDERAFDEELING BARABAI”, banjir besar pernah menenggelamkan hampir seluruh daratan kota Barabai. Menurut G. L. TICHELMAN yang menjabat sebagai controleur (bupati) saat itu, banjir tersebut sempat melumpuhkan kota Barabai selama 30 jam dan ketinggian air di alun -alun kota mencapai kurang lebih 45 cm. Sementara debit air sungai Barabai yang berada di Pagat mencapai titik tertinggi, yakni 190 meter kubik perdetik. Masih menurut G. L. TICHELMAN, 7 minggu sebelumnya, pada hari Jum’at tanggal 2 Desember 1927, Birayang juga tidak luput dari terjangan banjir, menyusul hujan lebat hampir seharian di daerah hulu. Hal ini menyebabkan sungai Batang Alai meluap secara tiba – tiba. Derasnya air yang bercampur dengan material hutan (RABA menurut bahasa lokal) menghantam tiang besi jembatan Birayang hingga mengakibatkan jembatan yang panjangnya 46 meter tersebut runtuh (Sandi, 2021).

Bencana banjir itu tak lepas dari kerusakan lingkungan dan alih fungsi kawasan hutan dan tambang batubara pun dituding menjadi salah satu penyebab utamanya. Merujuk catatan Kontan.co.id, Kalimantan Selatan merupakan provinsi utama yang menyumbang produksi batubara. Dari rencana produksi pada tahun 2020, misalnya, produksi batubara dari Kalimantan Selatan direncanakan sebanyak 64,83 juta ton. Angka itu setara dengan 31% dari target produksi nasional pada 2020, dan menempati urutan kedua. Hanya kalah dari Kalimantan Timur dengan rencana produksi 82,2 juta ton (Mulyana, 2021). Jaringan advokasi tambang menyebut bahwa industri ekstraktif menguasai hampir seluruh luas total wilayah Kalsel (Sari,2021), sehingga mengalami krisis. Lubang dan konsesi tambang terbesar berada di Hulu sungai Balangan yang semuanya bermuara ke sungai Barito di das Balangan Tabalong terbesar dan paling banyak titik banjir 9 titik banjir di sungai Tabalong berada di sekitar konsesi PT Adaro koperasi rakyat dan di lingkungan dikorbankan (Sari, 2021). Lihat Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Krisis ekologi di Kalimantan Selatan, lebih dari separuh lahan dikuasai industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan di Daerah aliran sungai (https://apahabar.com/2021/01/mengupas-problem-banjir-kalsel-ratusan-eks-lubang-tambang-di-das-barito-terendus/)

Namun tudingan itu ditampik oleh Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesia Mining Association (IMA), seperti disampaikan oleh Pelaksana Harian Direktur Eksekutif IMA Djoko Widajatno bahwa anggota IMA yang menambang di Kalsel (17 perusahaan pemegang PKP2B dan IUP) sudah menjalankan aturan dan kaidah pertambangan, termasuk reklamasi. Ironisnya pemegang izin usaha pertambangan di Kalsel ternyata mencapai 180 perusahaan, namun hanya 10% saja yang telah memenuhi kewajiban lingkungan termasuk kewajiban reklamasi, dan rehabilitasi penanaman di Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagaimana aturan dari Kementerian ESDM maupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Perusahaan tambang pun  terus memperbaiki pengelolaan tambang sesuai dengan kaidah tambang yang baik (good mining practices), teknologi yang lebih ramah lingkungan, meningkatkan produktivitas, dan menghilangkan redundansi (Mulyana, 2021).

Dalam pada itu, senada dengan Jatam, WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) meminta pemerintah menghentikan pemberian izin tambang dan perkebunan sawit. Walhi meminta jadi pemerintah jangan hanya menyalahkan hujan, saja tetapi melalui mengaudit perusahaan-perusahaan tambang yang bermasalah dan meminta penegakan hukum bagi pelaku kejahatan lingkungan. Sementara Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalsel, menyatakan bahwa Dinas sudah mengatur pertambangan yang ada di Kalsel dengan mencabut 623 IUP dan sambil menunggu peraturan dari pusat. Namun sambungnya, potensi banjir tidak hanya disebabkan oleh aktivitas pertambangan, karena masyarakat kita belum disiplin buang sampah di sungai (Sari, 2021)

Hmm ,. kalau seperti ini tanggungjawab siapa? Apakah kita perlu saling menyalahkan? Lalu usaha yang perlu dilakukan? Paling tidak ada dua usaha yang perlu dilakukan dalam menghadapi musibah yang menimpa manusia secara umum, dan banjir di Kalsel secara khusus, yaitu : berdoa dan menolong.

Berdoa. Urgensi (pentingnya) berdoa adalah doa akan meringankan musibah, menolaknya atau bahkan dapat menolak hal yang lebih besar daripada musibah itu sendiri. Doa juga merupakan ungkapan kesabaran atas musibah yang diterima, sehingga akan menjadi penghapus dosa dan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahuwata`ala. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda : “Tidak ada yang menolak taqdir kecuali doa.” [Hadits Hasan: Sunan Ibnu Majah no. 87; Al-Mustadrak 1/493. Shahih Sunan Ibnu Majah no. 73; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 2/129]. Fatwa Lajnah Daimah no. 17885.

Gambar 1. Doa tatkala dirundung kesedihan (https://t.me/salafy_cirebon/275)

Menolong. Menolong warga yang terkena musibah (banjir) adalah kewajban setiap muslim untuk membantu meringankan beban mereka. Menolong dan memberikan bantuan juga sebagai bentuk pengamalan Hadits Nabi Shalallahu alaihi wa salam dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari (no. 481, 2446, 6026) ; “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Dan dalam hadits Riwayat Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586, Nabi bersabda : “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

Ayo bergerak, ulurkan bantuan kalian dan sumbangkan dengan niat lillahi ta`ala kemudian menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Pustaka

CNN Indonesia. (2021). Banjir Kalimantan Selatan: 5 Warga Tewas, 112 Ribu Mengungsi. Minggu, 17/01/2021 07:27 WIB. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210117071801-20-594710/banjir-kalimantan-selatan-5-warga-tewas-112-ribu-mengungsi.

Mulyana, R. N. (2021). Tambang batubara dituding sebabkan banjir di Kalsel, pelaku usaha buka suara. Rabu, 20 Januari 2021 18:00 WIB. https://amp.kontan.co.id/news/tambang-batubara-dituding-sebabkan-banjir-di-kalsel-pelaku-usaha-buka-suara

Sandi, F. (2021). Banjir Kalsel Akibat Lahan Sawit & Tambang? Ini Jawaban BNPB. 6 January 2021. https://www.cnbcindonesia.com/news/20210116182316-4-216583/banjir-kalsel-akibat-lahan-sawit-tambang-ini-jawaban-bnpb.

Mulyana, R. N. (2021). Tambang batubara dituding sebabkan banjir di Kalsel, pelaku usaha buka suara. Rabu, 20 Januari 2021 18:00 WIB. https://amp.kontan.co.id/news/tambang-batubara-dituding-sebabkan-banjir-di-kalsel-pelaku-usaha-buka-suara

Sari, M. (2021). Mengupas problem Banjir di Kalsel : Ratusan eks lubang tambang di DAS Barito terendus. Rabu, 20 Januari 2021 18:44 WIB. https://apahabar.com/2021/01/mengupas-problem-banjir-kalsel-ratusan-eks-lubang-tambang-di-das-barito-terendus/