Arsip Bulanan: Juni 2021

Pekarangan dan Kearifan Lokal Jenis Tanaman Obat

Pekarangan dikenal memiliki berbagai fungsi penting bagi kehidupan keluarga, selain sebagai tempat menghasilkan tanaman obat, tanaman pangan, hortikultura, ternak, ikan dan lainnya pekarangan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta menambah penghasilan rumah tangga apabila dirancang dan direncanakan dengan baik (Ashari dan Purwantini, 2012). Sebagai salah satu tipe sistem agroforestri tradisional yang cenderung mampu diadaptasi penduduk menghadapi perubahan iklim, pekarangan pada umumnya dikelola dengan landasan pengetahuan ekologi tradisional yang kuat (Iskandar, 2010), sehingga menjadi kekuatan tangguh menghadapi ancaman keamanan pangan, ketidakstabilan politik dan kehilangan budaya lokal. Modal seperti inilah yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia sesungguhnya (Kuspriyangga, 2011).


Pemanfaatan pekarangan yang optimal dalam bidang kesehatan tentu mempunyai banyak keuntungan, yakni meningkatan pendapatan keluarga misalnya warung hidup, lumbung hidup, apotek hidup, meskipun masih perlu pengembangan secara intensif. Kenyataan saat ini, bahwa harga obat di pedesaan tergolong sangat tinggi, sering tidak tersedia, apotek sering tutup dan lebih sering lagi dokter tidak ada. Oleh karena itu penyediaan tanaman yang berfungsi sebagai obat herbal di pekarangan sangat membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan (Duaja et al,, 2011).

Simak selengkapnya pada tautan laman berikut ini

Pustaka

Ashari, Saptana, & dan T. B. Purwantini. (2012). Potensi dan prospek pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 30(1), 13–30.

Duaja, M. D., E. Kartika, & F. Mukhlis. (2011). Pemberdayaan wanita dalam pemanfaatan pekarangan dengan tanaman obat keluarga ( TOGA ). Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, (52), 74–
79.

Iskandar, J. (2010). Pekarangan dan Iklim. Harian Umum Kompas Edisi Jumat, 3 Desember 2010. Dosen Etnobiologi FMIPA dan Peneliti PPSDAL LPPM Unpad. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/ 03/09495489/Pekarangan.dan.Iklim.

Kuspriyangga. (2011). Etnobiologi sebagai Modal Dasar Kebangkitan Bangsa. Opini Kampus Rabu, 27 April 2011. Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Peserta PPSDMS Regional V Bogor.

STUDI KEARIFAN LOKAL KONSERVASI PAKAN IKAN

Kearifan lokal berperan penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi komponen ekosistem termasuk penyediaan pakan alami pada ekosistem mangrove di wilayah muara Daerah Aliran Sungai Barito.

Tujuan penelitian ini adalah menggali informasi konservasi pakan ikan pada ekosistem manrove di wilayah muara DAS Barito, terutama pada empat parameter penting yakni : kegiatan pemancingan ikan, umpan alami yang digunakan ketika memancing, pemeliharaan jenis ikan dan penggunaan pakan alami dalam kultur.

Lokasi penelitian terbagi menjadi dua wilayah, yakni : ekosistem mangrove Desa Sungai Bakau – Kabupaten Tanah Laut dan rawa pasang surut di Desa Jejangkit Muara – Kabupaten Barito Kuala. Metode penelitian adalah survey dengan penggalian informasi melalui wawancara terhadap responden yang ditemui dengan tujuan tertentu (purposive random sampling). Data dianalisis secara deskriptif sehingga diperoleh gambaran mengenai kearifan lokal konservasi pakan ikan baik dari ekosistem mangrove maupun rawa di Daerah Aliran Sungai Barito.

Hasil penelitian menunjukkan pemancingan ikan pada ekosistem mangrove (Desa Sungai Bakau) lebih banyak dilakukan pada sore hari (18.00 – 24.00) dengan durasi kegiatan selama 6 jam, sedangkan pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) pemancingan banyak dilakukan pagi hari (08.00) sampai dengan sore (18.00) dengan durasi kegiatan lebih lama (±10 jam). Jenis umpan pancing yang digunakan pada ekosistem mangrove umumnya hasil tangkapan nelayan seperti udang dan ikan bilis, sedangkan dari ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) cenderung jenisnya lebih beragam seperti : katak, siput, cacing dan serangga. Dua jenis ikan yang banyak dipelihara di ekosistem mangrove adalah ikan yang beradaptasi dengan salinitas tinggi seperti : bandeng dan udang, adapun pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) adalah jenis ikan patin dan papuyu. 

Kesimpulan umum : bentuk kearifan lokal pada ekosistem mangrove (Desa Sungai Bakau) lebih mengarah kepada ciri pesisir seperti : mata pencaharian nelayan dan mencari ikan dengan memasang jaring (merempa), sedangkan pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) lebih mengarah kepada sifat dan ciri daratan seperti : mata pencaharian menjadi petani dan aktivitas mencari ikan atau “beiwak”.

Simak tulisan yang lebih lengkap pada laman berikut ini

Cara Menuliskan Manfaat Penelitian Yang Tepat dan Terarah!

Pengalaman kuliah selama bertahun-tahun belajar di Perguruan Tinggi, tidak serta merta membuat mahasiswa bisa menulis proposal atau laporan tugas akhir (skripsi) dengan baik. Mulai dari menentukan judul, menyusun latar belakang, membuat perumusan masalah, membuat tujuan, menuliskan tinjauan pustaka, menyusun metode penelitian, menuliskan hasil dan pembahasan, membuat kesimpulan sampai dengan menyusun daftar pustaka dan lampiran masih banyak dijumpai mahasiswa yang gagap dengan teknik penulisan yang baik dan benar. Termasuk dalam hal ini adalah menuliskan manfaat penelitian.

Apa itu manfaat penelitian? Manfaat penelitian adalah keuntungan atau potensi yang bisa diperoleh oleh pihak-pihak tertentu setelah penelitian kamu selesai. Peneliti bisa menuliskan manfaat penelitian di bagian tujuan penelitian karena keduanya terkait erat. Manfaat adalah narasi yang objektif yang menggambarkan hal-hal yang diperoleh setelah suatu tujuan penelitian telah terpenuhi. Manfaat bisa saja bersifat teori atau bersifat praktis misalkan memecahkan masalah-masalah pada objek yang diteliti.

Manfaat penelitian sesungguhnya berkaitan dengan tujuan penelitian. Jika tujuan spesifik dan unik, maka tentu manfaat juga spesifik. Oleh karena berkaitan dengan tujuan, maka manfaat disuguhkan dengan asumsi setelah tujuan penelitian tercapai. Jadi kata kunci penulisan manfaat, terikat dengan objek yang diteliti dan dengan tujuan penelitian tersebut. Karena itu, penulisan manfaat keluar dari ikatan tersebut menjadi keliru. Contoh, ‘skripsi berguna untuk bantalan kursi’ atau ‘pembungkus kacang goreng’ adalah contoh sedikit ekstrem penulisan manfaat yang salah, meskipun mungkin lembaran-lembaran itu bisa untuk pembungkus. Tapi simpulan itu jauh dari ikatan objek teliti dan tujuan dari penelitian.

Mengapa kita penting menuliskan manfaat penelitian? Penulisan manfaat pada hasil penelitian sangat penting untuk memberi gambaran pada pembaca tentang outcome (luaran) dan impact (dampak) dari penelitian yang dilakukan. Jika bagian ini tidak jelas, maka seperti kehilangan serpihan besar karya ilmiah. Karya menjadi sulit dipahami dan pembaca bisa saja kehilangan orientasi pada ‘untuk apa semua ini diteliti’. Selain itu, bagian penting deskripsi manfaat yang harus tepat, adalah untuk kepentingan kesolidan karya ilmiah. Manfaat sangat terkait dengan bagian saran pada bagian akhir penelitian: Kesimpulan dan Saran. Salah satu poin pokok saran adalah pejabaran yang berkaitan dengan manfaat. Jadi tulislah manfaat penelitian anda dengan baik dan benar!

Tujuan dari manfaat penelitian paling tidak terbagi menjadi tiga poin sebagai berikut :

  • Tujuan Eksploratif merupakan sebuah penelitian yang mana akan memiliki tujuan supaya bisa mendapatkan sebuah pengetahuan yang baru sebelumnya belum pernah diketahui.
  • Tujuan Verifikasi adalah suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk dapat melakukan suatu bentuk pengujian dari sebuah teori yang sebelumnya sudah ada. Dengan tujuan dapat meningkatkan kualitas informasi.
  • Tujuan Development adalah bentuk dari suatu penelitian yang memiliki tujuan supaya dapat untuk mengembangkan suatu penelitian yang telah ada.

Contoh Cara Menuliskan Manfaat Penelitian dalam Bidang Kajian Biologi : Jika anda ingin melakuan penelitian dengan tujuan : 1) Mengidentifikasi berbagai jasa ekosistem di sepanjang bantaran Sungai, 2) Mendeskripsikan cara pemanfaatan jasa ekosistem oleh generasi milenial di Bantaran Sungai dan 3) Menggali informasi persepsi dan perilaku generasi milenial terhadap pemanfaatan jasa ekosistem di Bantaran Sungai, maka paling tidak untuk menuliskan manfaat penelitiannya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1) Manfaat Teoretis dan 2) Manfaat Praktis.

  1. Manfaat teoretis merupakan manfaat yang berhubungan dengan pengembangan ilmu, dalam hal yang kita bahas adalah ilmu Biologi. Dengan demikian anda bisa menulis manfaat penelitian sebagai berikut : Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam pengembangan ilmu Biologi, khususnya dalam bidang ekologi lahan basah / ekologi Kalimantan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan mengenai studi tentang pemanfaatan jasa ekosistem lahan basah dan perilaku serta karakter generasi milenial di sekitar bantaran sungai.
  2. Manfaat Praktis merupakan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini oleh peneliti itu sendiri dan pembaca. Dengan demikian anda bisa menulis manfaat penelitian dalam bidang biologi adalah sebagai berikut : Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pembaca mengenai pemahaman terhadap jasa yang dihasilkan ekosistem sungai, terutama dalam memahami transfer materi dan energi yang terjadi di lingkungan lahan basah serta pemanfaatan jasa dan layanan ekosistem sungai oleh generasi milenial, yakni dengan cara menganalisis secara langsung kondisi yang ada di ekosistem tersebut. Selain itu, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

Pustaka

  1. https://dosenpintar.com/contoh-manfaat-penelitian/
  2. Rahman (2020) Bagaimana Menulis Manfaat Penelitian?, Selasa, 09 Juni 2020. Available at: http://sin.fst.uin-alauddin.ac.id/bagaimana-menulis-manfaat-penelitian/ (Accessed: 1 June 2021).