Kearifan lokal berperan penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi komponen ekosistem termasuk penyediaan pakan alami pada ekosistem mangrove di wilayah muara Daerah Aliran Sungai Barito.

Tujuan penelitian ini adalah menggali informasi konservasi pakan ikan pada ekosistem manrove di wilayah muara DAS Barito, terutama pada empat parameter penting yakni : kegiatan pemancingan ikan, umpan alami yang digunakan ketika memancing, pemeliharaan jenis ikan dan penggunaan pakan alami dalam kultur.

Lokasi penelitian terbagi menjadi dua wilayah, yakni : ekosistem mangrove Desa Sungai Bakau – Kabupaten Tanah Laut dan rawa pasang surut di Desa Jejangkit Muara – Kabupaten Barito Kuala. Metode penelitian adalah survey dengan penggalian informasi melalui wawancara terhadap responden yang ditemui dengan tujuan tertentu (purposive random sampling). Data dianalisis secara deskriptif sehingga diperoleh gambaran mengenai kearifan lokal konservasi pakan ikan baik dari ekosistem mangrove maupun rawa di Daerah Aliran Sungai Barito.

Hasil penelitian menunjukkan pemancingan ikan pada ekosistem mangrove (Desa Sungai Bakau) lebih banyak dilakukan pada sore hari (18.00 – 24.00) dengan durasi kegiatan selama 6 jam, sedangkan pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) pemancingan banyak dilakukan pagi hari (08.00) sampai dengan sore (18.00) dengan durasi kegiatan lebih lama (±10 jam). Jenis umpan pancing yang digunakan pada ekosistem mangrove umumnya hasil tangkapan nelayan seperti udang dan ikan bilis, sedangkan dari ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) cenderung jenisnya lebih beragam seperti : katak, siput, cacing dan serangga. Dua jenis ikan yang banyak dipelihara di ekosistem mangrove adalah ikan yang beradaptasi dengan salinitas tinggi seperti : bandeng dan udang, adapun pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) adalah jenis ikan patin dan papuyu. 

Kesimpulan umum : bentuk kearifan lokal pada ekosistem mangrove (Desa Sungai Bakau) lebih mengarah kepada ciri pesisir seperti : mata pencaharian nelayan dan mencari ikan dengan memasang jaring (merempa), sedangkan pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) lebih mengarah kepada sifat dan ciri daratan seperti : mata pencaharian menjadi petani dan aktivitas mencari ikan atau “beiwak”.

Simak tulisan yang lebih lengkap pada laman berikut ini