Ketahanan Kesehatan Lingkungan

Banyaknya jumlah populasi manusia saat ini telah menempatkan berbagai beban ekstrim pada sumber daya lingkungan lokal maupun global. Berbagai gangguan akibat aktivitas manusia termasuk kualitas udara, air dan makanan telah meningkatkan tantangan adaptasi pengelolaan limbah dari kegiatan manusia dan pencegahan, pengendalian dan pengobatan penyakit.  Bahkan, saat ini manusia telah memasuki “antroposen”, yakni sebuah zaman di mana lingkungan global didominasi oleh aktivitas manusia.

Sekarang mulai banyak dipertanyakan bagaimana kemampuan populasi manusia untuk tumbuh, dan bahkan bagaimana agar manusia bisa terus ada di planet ini tanpa terjadi perubahan signifikan cara berinteraksi dengan lingkungan global. Namun yang lain menunjukkan prediksi yang mengerikan tentang kerapuhan umat manusia menuju kepunahan dan telah dibuat selama ribuan tahun lalu.

Bagaimana konsep resiliensi (ketangguhan) ini dapat diterapkan pada disiplin kesehatan lingkungan, misalnya kualitas air? Siklus hidrologi global yang tercemar memiliki kemampuan sendiri untuk memurnikan air melalui penguapan, pengembunan, pengendapan, penyusupan, dan perembesan melalui sistem atmosfer dan terestrial secara alami. Siklus ini hampir seluruhnya ditenagai oleh Matahari, sehingga sangat sedikit air yang hilang ke angkasa. Jadi ini merupakan sistem yang sangat berkelanjutan dan tangguh. Demikian pula, prinsipnya sistem pemurnian air minum dan air limbah berbasis teknologi adalah meniru siklus hidrologi alami dalam banyak hal. Perbedaannya adalah membutuhkan masukan energi yang lebih banyak dan meningkat secara signifikan menggunakan minyak bumi dan sumber daya manusia. Kerentanan fasilitas pengolahan air terhadap bencana alam dan bencana buatan manusia secara substansial akan mengurangi ketahanan sistem ini dan tidak cukup cepat untuk mencegah penderitaan manusia dari dampak kerusakan lingkungan.

Ketersediaan dan kualitas pangan adalah contoh lain di mana sistem alam menyediakan ketahanan (reproduksi spesies hewan dan tumbuhan), asalkan permintaannya tidak terlalu besar. Ketika masyarakat “pemburu-pengumpul” manusia prasejarah digantikan dengan masyarakat agraris, populasi manusia meningkat secara eksponensial karena peningkatan ketersediaan makanan dan peningkatan teknik penyimpanan makanan.

Namun, populasi manusia sekarang semakin bergantung pada tanaman pertanian “monokultur”, yang lebih rentan terhadap tantangan alam dan buatan manusia (misalnya, penyakit dan perubahan iklim). Sekali lagi, ini adalah contoh peningkatan kepadatan populasi manusia yang mengurangi ketahanan alami sistem.

Cara berpikir lain tentang hal ini adalah bahwa “penyangga” ketahanan alami telah berkurang melalui meningkatnya tuntutan manusia terhadap sumber daya lingkungan yang terbatas. Padahal di masa lalu, populasi manusia kecil mungkin telah bertahan terhadap perubahan signifikan di lingkungan kita karena kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas manusia, gaya hidup modern kita telah membatasi jangkauan kondisi yang dapat diterima serta toleransi kita terhadap perubahan. Sementara kelompok kecil manusia yang terisolasi mungkin pada akhirnya dapat bertahan dari bencana jangka pendek, kelangsungan hidup manusia jangka panjang setelah bencana global tidak dijamin, dan mungkin bahkan tidak mungkin.

.Komponen kunci dari ketahanan sistem manusia (termasuk kesehatan lingkungan) adalah peningkatan perencanaan untuk rentang yang lebih luas dari perubahan alam dan antropogenik (misalnya, iklim, permukaan laut, terorisme) agar lebih cepat dan tepat menanggapi perubahan ini. “Mitigasi bahaya” atau “adaptasi terencana” lingkungan ini disajikan di sini sebagai perencanaan untuk tantangan kesehatan lingkungan masa depan yang tidak dapat diprediksi secara historis vs. “tanggapan darurat” untuk tantangan yang lebih acak, sporadis, dan relatif berumur pendek.

Kesimpulan

1. Manusia terbukti sangat mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan sosial. Kemampuan beradaptasi ini adalah salah satu sifat utama yang memungkinkan manusia menjadi spesies dominan di Bumi.

2. Manusia mampu mengatasi atau menghindari banyak “pemeriksaan dan keseimbangan” yang biasanya dikenakan pada pertumbuhan sistem alami seperti berbagai persediaan makanan dan air, tempat berlindung, dan penyakit yang telah membatasi spesies lain untuk mencapai dominasi global. Namun, dominasi kita datang dengan harga – menjadi lebih rentan terhadap perubahan alam dan antropogenik yang pada akhirnya dapat menggantikan kita sebagai spesies dominan.

3. Oleh karena itu, manusia harus mempertimbangkan cara-cara di mana kita dapat meningkatkan ketahanan sebanyak mungkin dalam sistem alam, sistem teknologi buatan manusia, dan sistem kesehatan lingkungan sehingga manusia dapat merespons dan memulihkan diri dengan lebih baik dari tantangan dari lingkungan dan diri kita sendiri.

Sumber Kutipan

Environmental Health Resilience https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3595985/#!po=2.50000

Pengertian, Konsep, dan Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah permasalahan tingkat dunia di mana masing-masing negara juga memiliki definisi mereka yang lebih spesifik. Ketahanan pangan merupakan persoalan yang kompleks sebab meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Aspek politik berperan paling dominan dan menjadi sangat penting dalam setiap pengambilan keputusan urusan pangan suatu negara.

Ketahanan pangan kini menjadi isu yang semakin krusial sebab menurut FAO, populasi dunia diperkirakan akan bertambah dan akan ada hampir 10 miliar orang di bumi pada tahun 2050. Dan, sekitar 3 miliar lebih banyak mulut untuk diberi makan daripada tahun 2010.

Pengertian Ketahanan Pangan

Pengertian ketahanan pangan menurut UU No. 18/2012 tentang Pangan adalah “kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.”

Inti dari ketahanan pangan adalah akses terhadap pangan yang sehat dan gizi yang optimal bagi semua. Akses pangan terkait erat dengan pasokan pangan, sehingga ketahanan pangan bergantung pada sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.

Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki lima unsur yang harus dipenuhi yakni : 1) berorientasi pada rumah tangga dan individu, 2) dimensi waktu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses, 3) menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik, ekonomi dan sosial, 4) berorientasi pada pemenuhan gizi, serta 5) ditujukan untuk hidup sehat dan produktif.

Sistem Ketahanan Pangan

Sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan adalah sistem yang berfokus pada kesehatan lingkungan, vitalitas ekonomi, dan kesehatan manusia serta kesetaraan sosial. Berikut uraiannya:

Kesehatan lingkungan memastikan bahwa produksi dan pengadaan pangan tidak membahayakan tanah, udara, atau air sekarang atau untuk generasi mendatang.
Vitalitas ekonomi memastikan bahwa orang yang memproduksi makanan kita dapat memperoleh upah hidup yang layak dengan melakukannya. Ini memastikan bahwa produsen dapat terus memproduksi makanan kita.
Kesehatan manusia & kesetaraan sosial memastikan bahwa pengembangan komunitas dan kesehatan komunitas sangat penting, memastikan bahwa makanan sehat tersedia secara ekonomi dan fisik bagi komunitas dan bahwa orang-orang dapat mengakses makanan ini dengan cara yang bermartabat.

Sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya perihal ihwal produksi, distribusi, maupun penyediaan pangan di tingkat makro (nasional dan regional), akan tetapi menyangkut aspek mikro, yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga, terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.

Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan umumnya didasari oleh pendekatan perihal ketersediaan pangan. Hal tersebut atas dasar definisi ketahanan pangan oleh Bank Dunia (1988) yaitu ketahanan pangan sebagai ketersediaan pangan dalam jumlah yang memadai bagi semua penduduk untuk dapat hidup secara aktif dan sehat. 

Dalam mencapai ketahanan pangan dengan pendekatan tersebut  jurnal Forum penelitian Agro Ekonomi menyebutkan, salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan ketahanan pangan tersebut adalah melalui pemberdayaan kelembagaan lokal seperti lumbung desa dan peningkatan peran masyarakat dalam penyediaan pangan. 

Kemudian Achmad Suryana dalam jurnal Toward Sustainable Indonesian Food Security 2025: Challenges and Its Responses menyebutkan empat strategi untuk mengatasi ketersediaan pangan yaitu sebagai berikut:

Pertama, membangun penyediaan pangan berasal dari produksi domestik dan cadangan pangan nasional.

Kedua, memberdayakan usaha pangan skala kecil yang menjadi ciri dominan pada ekonomi pertanian Indonesia, perlu dilakukan:

(a) penyelarasan aktivitas usaha pangan skala kecil ke dalam rantai pasok pangan (food supply chain

(b) menghimpun usaha tani skala kecil sehingga mencapai skala ekonomi dengan menerapkan rekayasa sosial-ekonomi seperti corporate farming atau contract farming dalam satu luasan skala tertentu

Ketiga, mempercepat diseminasi teknologi dan meningkatkan kapasitas petani dalam mengadopsi teknologi tepat-guna untuk peningkatan produktivitas tanaman dan efisiensi usaha.

Keempat, mempromosikan pengurangan kehilangan pangan melalui pemanfaatan teknologi penanganan, pengolahan, dan distribusi pangan. 

Sumber Pustaka (copy paste)

https://m.merdeka.com/sumut/mengenal-ketahanan-pangan-pengertian-konsep-beserta-strateginya-kln.html?page=4

Simulasi Pemodelan Pemanfaatan dan Perlindungan Lahan Basah Berdasarkan Model Sistem Dinamis di Kota Pesisir, China

Ringkasan

Lahan basah yang tersebar di antara ekosistem darat dan ekosistem perairan dengan karakteristik hidrologis dan biologis yang unik. Namun, peningkatan aktivitas manusia menyebabkan lahan basah hancur pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Konservasi lahan basah saat ini telah menjadi fokus dunia. Sebagai contoh Kota Tianjin sebagai salah satu kota maju China juga menarik perhatian dunia. Keberadaan ekosistem lahan basah di kawasan ini telah diakui menyediakan berbagai fungsi ekologis yang sangat mendukung keberlanjutan. Oleh karena itu, kajian tentang pemanfaatan dan konservasi lahan basah di kawasan ini menjadi sangat penting.

Penelitian ini membahas tentang pemodelan simulasi dinamis dalam hal pemanfaatan dan perlindungan lahan basah, serta menganalisis potensi kebijakan pengelolaan berkelanjutannya. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat skenario untuk menemukan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lahan basah di wilayah ini.

Untuk mencapai tujuan ini, maka model sistem dinamis digunakan untuk merancang pengelolaan lahan basah. Model tersebut dibuat berdasarkan analisis pada sebanyak 24 indeks dan lima subsistem, yaitu sistem kependudukan, ekologi, lingkungan, ilmiah, ekonomi, dan sosial. Data statistik di Kota Tianjin dari dari tahun 1990 hingga 2008 digunakan untuk membuat model verifikasi. Juga dipilih enam model conoth skenario umum untuk simulasi keadaaan pada tahun 2010, 2030 dan 2050.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pendekatan pengelolaan lahan basah yang saat ini diterapkan telah menyebabkan degradasi lahan basah; (2) Penggunaan skenario yang berbeda telah menunjukkan bahwa penggunaan lima model skenario pengelolaan lahan basah satu sama lain memiliki keunggulan yang jelas; (3) Penyebab utama degradasi lahan basah adalah keberadaan struktur industri yang tidak masuk akal dan juga pencemaran lingkungan.

Adapun alternatif kebijakan yang diuji : 1), ‘mengendalikan populasi’, 2) ‘meningkatkan teknologi restorasi lahan basah’, dan 3) ‘memperbaiki struktur industri’ menunjukkan bahwa kebijakan berkelanjutan yang mengarah pada kondisi yang lebih baik. Oleh karena itu, disarankan bahwa perlindungan ekologi, pengendalian populasi dan penyesuaian struktur industri sebagai pendekatan berkelanjutan untuk mencapai pemanfaatan dan perlindungan lahan basah yang bijaksana di daerah ini.

Sumber Bacaan

Ma, C., Zhang, G. Y., Zhang, X. C., Zhou, B., & Mao, T. Y. (2012). Simulation modeling for wetland utilization and protection based on system dynamic model in a coastal city, China. Procedia Environmental Sciences13(January), 202–213. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2012.01.019

Mengingat Umur, Semoga Dalam Kebaikan

Umur adalah pohon kehidupan
Batangnya adalah tahun yang dijalaninya
Cabangnya adalah bulan yang dijalaninya
Harinya adalah daun yang dijalaninya
Sedangkan buahnya adalah amal yang dilakukannya

Jika umurnya panjang dan diisi dengan amal kebaikan maka ini adalah sebaik-baik manusia.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengatakan : siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dibentangkan rezekinya maka sambunglah silaturahmi.
Panjang umur saja belum tentu kebaikan, karena sebaik-baik manusia adalah panjang umurnya dan baik amalannya. Sebaliknya sejelek-jelek manusia adalah panjang umurnya dan jelek amalannya.

Sehingga jika ada yang mengatakan, semoga barokah umurmu, semoga panjang umurmu. Maka jangan lupa untuk menambahkan, : Amiin, dalam kebaikan. Walllahu`alam bisshowab.

(Faidah ini diambil dari Ustadz Muhammad bin Umar As Sewed, Radio Indah Siar, 91,8 FM)

Age is the tree of life
The trunk is the year it lives
The branch is the month it walks
Her day is the leaf she lives
While the fruit is the charity he does

If his life is long and filled with good deeds then this is the best of
people.
Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam said: Whoever wants to extend his
life and expand his sustenance, then continue the relationship.
Long life alone is not necessarily goodness, because the best of humans is long
life and good deeds. On the other hand, the worst of people is their longevity
and their bad deeds.

17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan sebuah agenda internasional yang akan menjadi kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium.  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini disusun oleh 194 negara, civil society, dan berbagai pelaku ekonomi dari berbagai belahan dunia yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Agenda ini dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kesenjangan sosial dan kemiskinan serta perubahan iklim yang terjadi di dunia.  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs ini telah ditetapkan sejak 25 September 2015 dan terdiri dari 17 tujuan yang mencakup lingkungan global. 17 tujuan ini memiliki 169 target yang akan dijadikan tuntunan kebijakan dan pendanaan hingga 15 tahun ke depan dan diharapkan akan selesai pada tahun 2030.

Tujuan 1 Tanpa kemiskinan (No Poverty). Hingga kini, kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di berbagai belahan dunia. Agar dapat mensejahterakan penduduk dunia, maka penuntasan kemiskinan menjadi salah satu agenda utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Tujuan 2 Tanpa kelaparan (Zero Hunger). Selain kemiskinan, masalah kelaparan atau kurang pangan juga masih menghantui berbagai tempat di belahan dunia. Maka dari itu, menggalakkan pertanian dan ketahanan pangan menjadi agenda utama dalam mencapai tujuan perbaikan nutrisi.

Tujuan 3 Kehidupan sehat dan sejahtera (Good Health and Well-Being). Isu kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Maka dari itu, kini tengah digalakkan gaya hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia.

Tujuan 4 Pendidikan berkualitas (Quality Education). Memastikan agar pendidikan berkualitas bisa di akses oleh semua orang. Hal ini lantaran pendidikan punya peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. 

Tujuan 5 Kesetaraan gender (Gender Equality). Meski sedang terjadi perkembangan kesetaraan gender yang masif belakangan ini, namun diskriminasi terhadap gender terutama perempuan masih menjadi permasalahan di berbagai negara. Dengan memperjuangkan kesetaraan gender dapat memperkuat kemampuan negara untuk berkembang pesat, memerintah dengan efektif, dan mengentaskan kemiskinan.

Tujuan 6 Air bersih dan sanitasi layak (Clean Water and Sanitation). Bank Dunia pada tahun 2014 merilis data bahwa masih ada 780 juta orang yang tidak punya akses air bersih di dunia ini dan lebih dari 2 miliar penduduk bumi tak punya akses sanitasi. Hal ini mengakibatkan kerugian materi hingga 7 persen dari PDB dunia akibat banyak nyawa melayang setiap harinya. Maka dari itu, menjamin akses atas air bersih dan sanitasi untuk semua merupakan hal yang penting dalam rangka peningkatan kualitas hidup manusia.

Tujuan 7 Energi bersih dan terjangkau (Affordable and Clean Energy). Di dunia ini masih banyak daerah yang terisolasi dan belum memiliki listrik, padahal hal tersebut penting untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. 

Tujuan 8 Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (Decent Work and Economy Growth). Untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi, maka pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang sehat harus dijamin agar investasi dan konsumsi terus berjalan.

Tujuan 9 Industri, inovasi dan infrastruktur (Industry, Inovations, and Infrastructure). Di dunia ini, lebih dari 4 miliar orang belum memiliki akses internet dan 90 persen di antaranya berasal dari negara-negara berkembang. Maka dari itu, untuk membangun infrastruktur yang kuat dan industrialisasi yang berkelanjutan, hal ini akan segera dituntaskan.

Tujuan 10 Berkurangnya kesenjangan (Reduce Inequality). Mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara. Kesenjangan pendapatan sedang mengalami kenaikan, 10 persen orang-orang terkaya menguasai 40 persen dari total pendapatan global. Di lain pihak, 10 persen orang-orang termiskin hanya mendapat antara 2 sampai 7 persen dari total pendapatan global. Di negara-negara berkembang, kesenjangan ini telah meningkat sebanyak 11 persen jika kita menghitung berdasarkan pertumbuhan populasi.

Tujuan 11 Kota dan komunitas berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities). Membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan.

Tujuan 12 Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible Consumption and Production). Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Tujuan 13 Penanganan perubahan iklim (Climate Action). Melawan dan mengatasi iklim yang terus berubah dan pemanasan global merupakan salah satu tugas utama. 

Tujuan 14 Ekosistem laut (Life Below Water). Akibat banyak perburuan dan pencemaran terhadap ekosistem laut, maka dalam pembangunan berkelanjutan, kehidupan laut akan dilindungi dengan lebih maksimal.

Tujuan 15 Ekosistem darat (Life On Land). Selain berpengaruh terhadap iklim, mengelola hutan secara berkelanjutan, merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati juga jadi tujuan utama.

Tujuan 16 Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh (Peace, Justice, and Strong Institution).  Mendorong masyarakat adil, damai, dan inklusif.

Tujuan 17 Kemitraan untuk mencapai tujuan (Partnership for The Goals). Menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan.

Sumber

https://hot.liputan6.com/read/4376458/17-tujuan-pembangunan-berkelanjutan-atau-sdgs-kenali-dan-pahami-maksudnya

KPSDH – Adaptasi berbasis Ekosistem (EbA)

Adaptasi berbasis ekosistem (Ecosystem based Adaptation=EbA) adalah penggunaan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem sebagai bagian dari strategi adaptasi keseluruhan komponen untuk membantu masyarakat agar dapat beradaptasi dengan dampak buruk perubahan iklim.

Adaptasi berbasis ekosistem merupakan salah satu upaya penyesuaian diri terhadap dampak perubahan iklim dengan dukungan ekosistem yang sehat. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk membuat ekosistem di sekitar masyarakat mampu menyediakan jasa lingkungan yang berperan terhadap perubahan iklim. Selain mampu berperan dalam adaptasi perubahan iklim, ekosistem yang dikelola dengan baik mampu menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Pustaka

Swiderska, K., King-Okumu, C., & Islam, M. M. (2018). Ecosystem-based adaptation: a handbook for EbA in mountain, dryland and coastal ecosystems International Ecosystem Management Partnership . https://pubs.iied.org/sites/default/files/pdfs/migrate/17460IIED.pdf

RPS (Rencana Pembelajaran Semester) Ekotoksikologi – Biologi

A. Capaian Pembelajaran (CP)
A.1. Capaian Pembelajaran Lulusan CPL
A.1.1. Sikap
1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religious.
2. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika.
3. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila.
4. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa.
5. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
6. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
7. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
8. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik.
9. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri.
10. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.
11. Mempunyai ketulusan, komitmen, kesungguhan hati untuk mengembangkan sikap, nilai, dan kemampuan peserta didik dengan dilandasi oleh nilai-nilai kearifan lokal dan akhlak mulia serta memiliki motivasi untuk berbuat bagi kemaslahatan peserta didik dan masyarakat.
12. Memiliki karakter religius, waja sampai kaputing.
A.1.2. Keterampilan Umum
1. Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu
pengetahuan dan
2. teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang keahliannya
3. Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur
4. Mampu mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah di bidang keahliannya, berdasarkan hasil analisis
informasi data
5. Mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan supervisi serta evaluasi terhadap penyelesaian
pekerjaan yang
6. ditugaskan kepada pekerja yang berada di bawah tanggungjawabnya
7. Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada dibawah tanggung jawabnya, dan mampu
mengelola secara mandiri
A.2. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan pengertian, konsep dasar, sejarah perkembangan dan kaitan toksikologi dengan ilmu lain.
2. Mahasiswa mampu mendeskripsikan klasifikasi toksikan; hubungan dosis-respon; pengaruh senyawa toksik terhadap sistem kehidupan
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi nasib senyawa pencemar di lingkungan (perairan, udara dan tanah), Mahasiswa mampu menggunakan sains dan teknologi untuk pengembangan Ekotoksikologi di lingkungan lahan basah
4. Mahasiswa mampu menghargai nilai kearifan lokal
B. Deskripsi Singkat MK
Mata kuliah ini merupakan mata kuliah keahlian (MKK) dan sifatnya pilihan bagi mahasiswa di program studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. Dengan kurikulum merdeka, maka tidak menutup kemungkinan peserta mata kuliah ini dari luar Program Studi Biologi.
Visi mata kuliah Ekotoksikologi ini adalah : mengantarkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan pemahaman serta tanggungjawab mahasiswa terhadap pengembangan potensi Ekotoksikologi dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berkehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Misi mata kuliah ini adalah :
1) Memberikan landasan pengetahuan, wawasan serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat baik sebagai individu, makhluk sosial, maupun sebagai hamba Allah yang beradab.
2) Memberikan keterampilan pengelolaan Ekotoksikologi agar mahasiswa bertanggung jawab terhadap pengelolaan biodiversitas di Lingkungan Lahan Basah.
C. Pokok Bahasan
Pertemuan Kuliah ke-
1. Kontrak Kuliah dan Pengertian Ekotoksikologi
2. Sumber Polutan dan Terjadinya Pencemaran
3. Bahan Pestisida dan daya kerja
4. Logam Berat dan Daya Kerja
5. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
6. Potensi toksisitas bahan polutan
7. Analisa Kimia dan Biokimia Bahan Polutan
8. UTS untuk BK/PB : 2 – 7
9. Agen dan perilaku pejamu (host) terhadap polutan
10. Pengukuran paparan dan perubahan populasi
11. Karakteristik dan Standardisasi Uji Toksikan
12. Sistem dan Model Ekotoksikologi
13. Studi kasus Ekotoksikologi (Promosi Kesehatan Tingkat Populasi)
14. Studi kasus Ekotoksikologi (Ketahanan Ekologi Lanskap)
15.. Sumatif (UTS) untuk BK/PB : 9 – 14
D. Pustaka Utama
1. Connel,D.W., and G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Penerbit UI-Press.
2. Moriarty, F. 1999. 3rd ed. Ecotoxicology: The Study of Pollutants in Ecosystems. Academic Press. London.
3. Soemirat, Juli. 2015. Epidemiologi Lingkungan. Edisi Ketiga (Cetakan Kelima). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika

Semester genap 2021-2022 ini Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah di Program Studi Matematika – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam – FMIPA – Universitas Lambung Mangkurat. Setelah berdiskusi dengan Koti Matematika, ternyata Silabus PLLB dibuat oleh Pengampu Mata Kuliah PLLB itu sendiri, tetapi arahnya disesuaikan dengan aplikasi model-model Matematika dalam pengelolaan lingkungan lahan basah.

Berikut ini adalah Rencana Silabus Kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika di Program Studi Matematika Semester genap 2021-2022.

  • Pertemuan 1. Silabus dan Kurikulum, Cara kuliah, Tugas dan Ujiannya – Tanggal 7 Februari 2022 : Pemaparan Umum – Presentasi – tanya jawab
  • Pertemuan 2. Pengenalan Sistem Dinamik dalam PLLB – Tanggal 14 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 1 – tanya jawab – Latihan instal Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat Model Dinamik menggunakan Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat sistem dinamik menggunakan Vensim PLE​
  • Pertemuan 4. Valuasi Ketahanan Lanskap dalam PLLB – Tanggal 28 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 3 – Tanya jawab – Latihan membuat Diagram dalam rangka Applying the Resilience Indicators menggunakan Edrawsoft
  • Pertemuan 5. Perencanaan Adaptasi PLLB berbasis Ekosistem – Tanggal 7 Maret 2022 : Presentasi Kelompok 4 – Tanya jawab – Latihan membuat Perencanaan Aplikasi Berbasis Ekosistem.

Catatan :

Berikut ini adalah pustaka yang perlu dibaca dan dipelajari!

Kelompok 1 dan 2 membahas tentang Metodologi System Dynamics (Dinamika Sistem) untuk Pemodelan Kebijakan : Suatu Pengantar. In Pelatihan Analisis Kebijakan Menggunakan Model System Dynamic. Tasrif, M., Juniarti, I., Rohani, F., Ahmad, F., Nurwendah, E. I., & Waspada, N. L. (2015). https://www.lppm.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/55/2017/07/BAHAN_PELATIHAN.pdf >> fokus pada bahan ke- 4 Systems Thinking & System Dynamics.

Kelompok 3 dan 4 membahas tentang Simulation modeling for wetland utilization and protection based on system dynamic model in a coastal city, China. Ma, C., Zhang, G. Y., Zhang, X. C., Zhou, B., & Mao, T. Y. (2012). Procedia Environmental Sciences, 13 (January), 202–213. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2012.01.019

Kelompok 5 dan 6 membahas tentang Assessing Landscape Resilience – Best Practices And Lessons Learned From The Comdeks Programme. Mock, G., & Salvemini, D. (2018). United Nations Development Programme Bureau for Policy and Programme Support. https://comdeksproject.files.wordpress.com/2018/06/resilience-indicators-publication-web.pdf

Kelompok 7 dan 8 membahas tentang Adaptation , Livelihoods and Ecosystems Planning Tool : User Manual. Terton, A., & Dazé, A. (2018). (No. 01; 1.0). https://www.iisd.org/publications/alive-adaptation-livelihoods-and-ecosystem-planning-tool-user-manual

Kelompok 1,3, 5, 7 membuat ppt (power point) dari dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Minimal 10 halaman – maksimal 15 halaman. Penjelasan dibuat sebagus mungkin, kalau memungkinkan dilengkapi dengan diagram alir, flow chart, fish bone dll yang dibuat menggunakan aplikasi Edraw.

Kelompok 2, 4, 6, dan 8 membuat penjelasan dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Penjelasan dibuat sebaik mungkin dan secara sistematis menggunakan aplikasi word. dilengkapi dengan pustaka lainnya kemudian disitasi menggunakan aplikasi  Mendeley. dengan panjang tulisan antara 5 – 10 halaman, termasuk cover dan Pustaka (Referensi)

Materi Kuliah PLLB bisa didapatkan di sini!