Pengertian, Konsep, dan Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah permasalahan tingkat dunia di mana masing-masing negara juga memiliki definisi mereka yang lebih spesifik. Ketahanan pangan merupakan persoalan yang kompleks sebab meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Aspek politik berperan paling dominan dan menjadi sangat penting dalam setiap pengambilan keputusan urusan pangan suatu negara.

Ketahanan pangan kini menjadi isu yang semakin krusial sebab menurut FAO, populasi dunia diperkirakan akan bertambah dan akan ada hampir 10 miliar orang di bumi pada tahun 2050. Dan, sekitar 3 miliar lebih banyak mulut untuk diberi makan daripada tahun 2010.

Pengertian Ketahanan Pangan

Pengertian ketahanan pangan menurut UU No. 18/2012 tentang Pangan adalah “kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.”

Inti dari ketahanan pangan adalah akses terhadap pangan yang sehat dan gizi yang optimal bagi semua. Akses pangan terkait erat dengan pasokan pangan, sehingga ketahanan pangan bergantung pada sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.

Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki lima unsur yang harus dipenuhi yakni : 1) berorientasi pada rumah tangga dan individu, 2) dimensi waktu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses, 3) menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik, ekonomi dan sosial, 4) berorientasi pada pemenuhan gizi, serta 5) ditujukan untuk hidup sehat dan produktif.

Sistem Ketahanan Pangan

Sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan adalah sistem yang berfokus pada kesehatan lingkungan, vitalitas ekonomi, dan kesehatan manusia serta kesetaraan sosial. Berikut uraiannya:

Kesehatan lingkungan memastikan bahwa produksi dan pengadaan pangan tidak membahayakan tanah, udara, atau air sekarang atau untuk generasi mendatang.
Vitalitas ekonomi memastikan bahwa orang yang memproduksi makanan kita dapat memperoleh upah hidup yang layak dengan melakukannya. Ini memastikan bahwa produsen dapat terus memproduksi makanan kita.
Kesehatan manusia & kesetaraan sosial memastikan bahwa pengembangan komunitas dan kesehatan komunitas sangat penting, memastikan bahwa makanan sehat tersedia secara ekonomi dan fisik bagi komunitas dan bahwa orang-orang dapat mengakses makanan ini dengan cara yang bermartabat.

Sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya perihal ihwal produksi, distribusi, maupun penyediaan pangan di tingkat makro (nasional dan regional), akan tetapi menyangkut aspek mikro, yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga, terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.

Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan umumnya didasari oleh pendekatan perihal ketersediaan pangan. Hal tersebut atas dasar definisi ketahanan pangan oleh Bank Dunia (1988) yaitu ketahanan pangan sebagai ketersediaan pangan dalam jumlah yang memadai bagi semua penduduk untuk dapat hidup secara aktif dan sehat. 

Dalam mencapai ketahanan pangan dengan pendekatan tersebut  jurnal Forum penelitian Agro Ekonomi menyebutkan, salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan ketahanan pangan tersebut adalah melalui pemberdayaan kelembagaan lokal seperti lumbung desa dan peningkatan peran masyarakat dalam penyediaan pangan. 

Kemudian Achmad Suryana dalam jurnal Toward Sustainable Indonesian Food Security 2025: Challenges and Its Responses menyebutkan empat strategi untuk mengatasi ketersediaan pangan yaitu sebagai berikut:

Pertama, membangun penyediaan pangan berasal dari produksi domestik dan cadangan pangan nasional.

Kedua, memberdayakan usaha pangan skala kecil yang menjadi ciri dominan pada ekonomi pertanian Indonesia, perlu dilakukan:

(a) penyelarasan aktivitas usaha pangan skala kecil ke dalam rantai pasok pangan (food supply chain

(b) menghimpun usaha tani skala kecil sehingga mencapai skala ekonomi dengan menerapkan rekayasa sosial-ekonomi seperti corporate farming atau contract farming dalam satu luasan skala tertentu

Ketiga, mempercepat diseminasi teknologi dan meningkatkan kapasitas petani dalam mengadopsi teknologi tepat-guna untuk peningkatan produktivitas tanaman dan efisiensi usaha.

Keempat, mempromosikan pengurangan kehilangan pangan melalui pemanfaatan teknologi penanganan, pengolahan, dan distribusi pangan. 

Sumber Pustaka (copy paste)

https://m.merdeka.com/sumut/mengenal-ketahanan-pangan-pengertian-konsep-beserta-strateginya-kln.html?page=4

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.