Arsip Bulanan: September 2022

Mengukur dampak aktivitas manusia dengan Bioindikator

Krisis ekologi yang terjadi saat ini bersumber pada perilaku manusia. Ini terlihat dari pola produksi dan konsumsi yang tidak ekologis bahka teknologi hasil ciptaan manusia lebih banyak digunakan untuk merusak lingkungan langsung ataupun tidak. Perubahan bentang alam yang terjadi saat ini, seperti hutan dan perbukitan yang terbuka akibat aktivitas perkebunan, pertambangan, dan lainnya, membuat kebudayaan yang terbangun selama ini terganggu atau hilang. Menjaga bentang alam tetap lestari, maka perlu memperhatikan penanda hubungan manusia dengan bentang alam akan membentuk identitas yang disebut sebagai bioindikator.

Apa yang bisa diceritakan kenari di tambang batu bara kepada kita? Secara historis, burung kenari menemani penambang batu bara jauh di bawah tanah. Kapasitas paru-paru mereka yang kecil dan sistem ventilasi paru-paru searah membuat mereka lebih rentan terhadap konsentrasi kecil karbon monoksida dan gas metana daripada rekan manusia mereka. Hingga tahun 1986, sensitivitas akut burung-burung ini berfungsi sebagai indikator biologis kondisi tidak aman di tambang batubara bawah tanah di Inggris. Karena masalah kesehatan manusia terus mendorong pengembangan dan penerapan bioindikator, hilangnya jasa ekosistem (misalnya, udara bersih, air minum, penyerbuk tanaman) semakin memfokuskan perhatian kita pada kesehatan ekosistem alami. Semua spesies (atau kumpulan spesies) mentolerir kisaran terbatas kondisi kimia, fisik, dan biologis, yang dapat kita gunakan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan. Terlepas dari banyak kemajuan teknologi, kita mendapati diri kita beralih ke biota ekosistem alami untuk menceritakan kisah dunia kita.

Bioindikator mencakup proses biologis, spesies, atau komunitas dan digunakan untuk menilai kualitas lingkungan dan bagaimana perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan lingkungan sering dikaitkan dengan gangguan antropogenik (misalnya, polusi, perubahan penggunaan lahan) atau stresor alami (misalnya, kekeringan, pembekuan akhir musim semi), meskipun stres antropogenik membentuk fokus utama penelitian bioindikator. Pengembangan dan penerapan bioindikator secara luas telah terjadi terutama sejak tahun 1960-an. Selama bertahun-tahun, kami telah memperluas daftar bioindikator kami untuk membantu kami mempelajari semua jenis lingkungan (yaitu, perairan dan darat), menggunakan semua kelompok taksonomi utama.

Gambar 1: Perbandingan toleransi lingkungan dari (a) bioindikator, (b) spesies langka, dan (c) spesies di mana-mana

Area merah mewakili bagian dari gradien lingkungan (misalnya, ketersediaan cahaya, tingkat nitrogen) di mana individu, spesies, atau komunitas, memiliki kebugaran atau kelimpahan lebih besar dari nol. Garis putus-putus mewakili kinerja puncak di sepanjang gradien lingkungan khusus ini, sementara kotak kuning mencakup kisaran atau toleransi optimal. Bioindikator memiliki toleransi moderat terhadap variabilitas lingkungan, dibandingkan dengan spesies langka dan ada di mana-mana. Toleransi ini memberi mereka kepekaan untuk menunjukkan perubahan lingkungan, namun daya tahan untuk menahan beberapa variabilitas dan mencerminkan respons biotik umum.

Namun, tidak semua proses biologis, spesies, atau komunitas dapat berfungsi sebagai bioindikator yang berhasil. Faktor fisik, kimia, dan biologis (misalnya, substrat, cahaya, suhu, persaingan) bervariasi di antara lingkungan. Seiring waktu, populasi mengembangkan strategi untuk memaksimalkan pertumbuhan dan reproduksi (yaitu, kebugaran) dalam berbagai faktor lingkungan tertentu.

Spesies bioindikator secara efektif menunjukkan kondisi lingkungan karena toleransinya yang moderat terhadap variabilitas lingkungan (Gambar 1). Sebaliknya, spesies langka (atau kumpulan spesies) dengan toleransi sempit seringkali terlalu sensitif terhadap perubahan lingkungan, atau terlalu jarang ditemui, untuk mencerminkan respons biotik umum. Demikian pula, spesies di mana-mana (atau kumpulan spesies) dengan toleransi yang sangat luas kurang sensitif terhadap perubahan lingkungan yang jika tidak mengganggu komunitas lainnya.

Penggunaan bioindikator, bagaimanapun, tidak hanya terbatas pada satu spesies dengan toleransi lingkungan yang terbatas. Seluruh komunitas, yang mencakup berbagai toleransi lingkungan, dapat berfungsi sebagai bioindikator dan mewakili berbagai sumber data untuk menilai kondisi lingkungan dalam pendekatan “indeks biotik” atau “multimetrik”.

https://www.nature.com/scitable/knowledge/library/bioindicators-using-organisms-to-measure-environmental-impacts-16821310/

Biodiversitas dan Kesehatan Manusia

Pada dasarnya semua makhluk hidup termasuk manusia dalam kehidupan sehari-harinya sangat bergantung pada keanekaragaman hayati. Meskipun ketergantungan tersebut, bisa dilihat secara kasat mata seperti petani, pekebun, atau pencari kayu di hutan dan dengan cara yang tidak selalu terlihat seperti : pegawai dan wirausaha yang menjualbelikan jasa ekosistem. Pada akhirnya produk dan jasa ekosistem (seperti ketersediaan air tawar, makanan dan sumber bahan bakar) sangat diperlukan untuk mendukung kesehatan manusia dan mendapatkan mata pencaharian yang produktif.

Hilangnya keanekaragaman hayati dapat memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap kesehatan manusia jika jasa ekosistem tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial. Secara tidak langsung, perubahan dalam jasa ekosistem mempengaruhi mata pencaharian, pendapatan, migrasi lokal dan, kadang-kadang, bahkan dapat menyebabkan atau memperburuk konflik politik.

Selain itu, keanekaragaman hayati mikroorganisme, flora dan fauna memberikan manfaat yang luas bagi ilmu biologi, kesehatan, dan farmakologi. Penemuan medis dan farmakologis yang signifikan dibuat melalui pemahaman yang lebih besar tentang keanekaragaman hayati bumi. Hilangnya keanekaragaman hayati dapat membatasi penemuan pengobatan potensial untuk banyak penyakit dan masalah kesehatan.

Ada kekhawatiran yang berkembang tentang konsekuensi kesehatan dari hilangnya keanekaragaman hayati. Perubahan keanekaragaman hayati mempengaruhi fungsi ekosistem dan gangguan ekosistem yang signifikan dapat mengakibatkan barang dan jasa ekosistem yang menopang kehidupan. Hilangnya keanekaragaman hayati juga berarti bahwa kita kehilangan, sebelum ditemukan, banyak bahan kimia dan gen alam, dari jenis yang telah memberikan manfaat kesehatan yang sangat besar bagi umat manusia.

Sumber tulisan

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/biodiversity-and-health#:~:text=Biodiversity%20supports%20human%20and%20societal,that%20contribute%20to%20overall%20wellbeing.

MENGENAL JEMBATAN YANG AKAN DILEWATI MANUSIA PADA HARI KIAMAT

Soal:
Apakah yang dimaksud dengan shirath yang dipancangkan di atas Jahanam? Bagaimanakah hukum beriman kepada shirath ini? Dan apakah semua yang melewatinya akan mendapatkan rasa sakit?

▶️ Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah menjawab,

☀️ “Shirath ini adalah jembatan yang Allah pancangkan untuk kaum mukminin. Mereka akan melewatinya untuk menuju janah.

🔥 Di atas jembatan itu terdapat jangkar-jangkar yang akan menyambar manusia sesuai dengan kadar amalan mereka.

🔵 Orang yang berhasil melewatinya akan selamat. Akan tetapi ada sebagian orang yang tersambar akibat dosa yang dahulu mereka lakukan.

⏺ Terkadang pula ia tersambar akan tetapi tetap selamat dan berhasil melanjutkan jalannya.

🌅 Shirath ini adalah jembatan yang besar dan benar-benar ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Orang-orang yang telah Allah tuliskan mendapatkan janah akan berhasil melewatinya.

💦 Sebagian orang beriman akan ada yang terjatuh karena maksiatnya.

💥 Tidak ada yang melewatinya kecuali orang-orang yang beriman. Adapun orang kafir tidak melewati jembatan itu.

🍃 Jembatan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang berhasil melewatinya akan selamat.

🔥 Orang yang terjatuh karena dosa-dosanya akan disiksa sesuai dengan kadar dosanya.

🔴 Adapun orang-orang kafir mereka langsung digiring ke neraka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

⁉️ BAGAIMANA PROSES MELEWATI JEMBATAN?

🔘 Tidak ada yang melewati jembatan itu kecuali orang-orang yang beriman sesuai dengan kadar amalan mereka berdasar hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits ini, “Ada kaum mukminin yang melewatinya secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat burung, ada yang secepat larinya kuda yang bagus dan para penunggang kuda.

⚠️ Ada yang selamat dan diselamatkan dan ada yang terjatuh dan tersungkur di Jahanam.” Muttafaq ‘alaihi (206).

Dalam Shahih Muslim disebutkan, “Amalan mereka mempercepat jalan mereka. Sementara nabi kalian berdiri di atas jembatan sambil mengatakan, ‘Wahai Rabbku, selamatkanlah, selamatkanlah’, hingga amalan seorang hamba menjadi lemah. Hingga datanglah seorang namun tidak mampu untuk berjalan kecuali dengan merangkak.” (207)

Dalam Shahih al-Bukhari, “Hingga orang yang terakhir melewatinya dengan diseret.”

🔵 ORANG PERTAMA YANG MELEWATI JEMBATAN

🍃 Orang pertama yang melewati shirath dari kalangan para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
👉🏻 Sedangkan dari kalangan umat mereka adalah umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi, “Aku dan umat menjadi orang pertama yang melewatinya. Pada hari itu tidak ada yang berkata-kata kecuali para rasul. Doa yang dipanjatkan oleh para rasul waktu itu adalah, ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’.” HR. al-Bukhari.

🌎 Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/1537
📝 Diterjemahkan oleh: al Ustadz Fathul Mujib hafizhahullah

fawaidumum #harikiamat

〰️〰️🌹〰️〰️
🍊 Update Ilmu agama bersama Warisan Salaf di: Website I Telegram I Twitter I Google Plus I Youtube I SMS Tausiyah
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com