Arsip Penulis: Anang Kadarsah

Tentang Anang Kadarsah

Dosen Biologi FMIPA ULM.

Partisipasi dan Pemberdayaan Penduduk Lokal dalam Restorasi Ekosistem dan Lanskap

Masyarakat lebih sering menjadi korban pembangunan ketimbang penikmat pembangunan. Sehingga, aspek ini perlu diberdayakan lebih intensif. Hal ini agar
masyarakat tidak saja dijadikan objek yang tekena dampak namun diposisikan sejajar
dengan kelompok terlibat lainnya dalam memformulasikan kebijakan lingkungan. Melalui pendekatan kondisi partisipasi masyarakat dalam perencanaan reklamasi lahan bekas tambang diharapkan dapat meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Fungsi partisipasi masyarakat adalah sebuah instrumen komunikasi dua arah antara pemrakarsa dengan masyarakat dalam menentukan formulasi kebijakan pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut. Adanya pengetahuan tentang gambaran riil partisipasi masyarakat lokal dalam reklamasi beserta faktor yang mempengaruhinya, maka dapat dijadikan bahan kajian dan analisis lebih lanjut dalam kebijakan pengelolaan sumber daya alam dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (Iswahyudi et al., 2013).

Partisipasi penduduk lokal diperlukan sebagai bentuk kesadaran dan perbaikan aktivitas masyarakat yang selama ini cenderung merusak ekosistem melalui illegal logging, hunting, poaching dan pertanian ladang berpindah. Partisipasi penduduk juga diperlukan agar program yang direncanakan sejalan dengan tujuan restorasi ekosistem selain kuatnya kelembagaan pada masyarakat (ormas) maupun kelembagaan pada pemerintah. Pembentukan forum atau lembaga yang terdiri dari unsur masyarakat, pemerintah, dan swasta diperlukan agar terjadi sinkronisasi diantara kedua lembaga dengan karakter dan peran yang berbeda (Kadarsah, 2021).

Silakan klik tautan ini untuk mendapatkan E-book REL Bab 5 Partisipasi Penduduk Lokal dalam Restorasi Ekosistemdan Lanskap

Pustaka

Iswahyudi, M., Wahyu, Shiddiq, M., & Erhaka, M. E. (2013). Masyarakat Lokal Dan Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang Di Desa Banjar Sari Kecamatan Angsana. Enviro Scienteae, 9, 177–185.

Kadarsah, A. (2021). Restorasi Ekosistem & Lanskap (A. Hadi (ed.); ke-1). Lambung Mangkurat University Press.




Kajian Ekologi Lanskap Berkelanjutan

Aktivitas manusia yang terus menerus mengubah proses sistem bumi melalui modifikasi kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati. Perubahan ekologi yang berlangsung pada berbagai skala ruang (lanskap atau bentang alam) dan waktu terus berdampak terhadap hilangnya struktur, fungsi, jasa dan layanan ekosistem yang penting seperti : penyediaan pangan, bahan bakar, sumber air, sumber mata pencaharian, tradisi budaya, dan kesehatan serta rekreasi.  

Lanskap merupakan ruang yang heterogen dan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam bentuk hubungan timbal balik antara komponen abiotik (air, udara, tanah, dan sebagainya) dan hayati (tumbuhan, hewan, manusia, dan sebagainya), yang terjadi dalam jangka panjang.  Keberadaan lanskap juga dipengaruhi oleh proses dan kegiatan historis, ekonomi, dan budaya yang terjadi di wilayah tersebut

Dalam upaya memulihkan (restorasi) sebuah lanskap yang rusak maka seharusnya mempertimbangkan identitas yang selama ini sudah terbentuk selama ratusan tahun. Sebuah identitas terbentuk dari proses kebudayaan, mulai dari kepercayaan, teknologi, ilmu pengetahuan, hingga ekonomi, yang terbangun karena adanya hubungan manusia dengan bentang alam. Karakteristik wilayah terutama kondisi alam dan budaya masyarakatnya yang berbeda akan berdampak pada munculnya beragam masalah. Dan terkait hal ini maka diperlukan upaya mitigasi (pencegahan) dan adaptasi (penyesuaian) model kebijakan untuk menentukan kebijakan dan jenis penanganan perbaikan lanskap yang akan dilakukan. Pilihan pendekatan lanskap berkelanjutan seharusnya menjadi pilihan pemangku kebijakan karena mengintegrasikan kelestarian ekologi dalam mengoptimalkan manfaat secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pendekatan lanskap dalam restorasi ekosistem dan lanskap tiga elemen utama, yaitu : 1) Air dan tanah. Penyediaan kembali air merupakan elemen vital untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup dan kegiatan ekonomi di sekitarnya. Sedangkan pemulihan tanah yang sehat merupakan syarat dasar bagi keberlangsungan produksi jasa dan layanan ekosistem. 2) Masyarakat. Pemulihan lanskap berkelanjutan tidak hanya menciptakan ruang-ruang hijau untuk kelestarian, tetapi juga menerapkan desain atau praktek yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan ekosistem secara bersamaan. Kualitas kehidupan masyarakat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan sikap dalam mengelola sumber daya alam di sekitarnya, dan sebaliknya. dan 3) Akses pasar. Permintaan pasar akan mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi, termasuk dalam menentukan komoditas yang ditanam dan praktek budidaya yang dilakukan.

Kajian utama restorasi ekosistem dan lanskap terletak pada proses yang membentuk identitas dan kelimpahan spesies dalam komunitas ekologis pasca gangguan, seperti lanskap pasca tambang. Kajian restorasi ekosistem dan lanskap dimulai dari berbagai kelompok taksonomi (mulai dari mikroba hingga pohon) pada berbagai tipe ekosistem termasuk lahan basah, hutan, area pertanian, dan pegunungan. Tema penelitian ekologi lanskap meliputi : biogeografi, urbanisasi, restorasi ekosistem, bioindikasi, dan dampak antropogenik terhadap biodiversitas dan fungsi ekosistem.

Pekerjaan dalam ekologi lanskap bersifat kuantitatif (penghitungan jumlah) dengan cara menggabungkan pendekatan teoretis, eksperimental, dan lapangan. Tujuan umum kajian ekologi lanskap adalah meningkatkan pemahaman tentang proses biotik dan abiotik pada lanskap yang terdampak aktivitas antropogenik dan konsekuensinya terhadap struktur dan fungsi ekosistem. Penelitian kajian ekologi lanskap diharapkan berkontribusi untuk mengembangkan solusi efektif dalam upaya mengurangi efek aktivitas manusia pada biosfer secara keseluruhan. Berikut ini adalah topik rencana penelitian dalam kajian ekologi pemulihan lanskap atau restorasi ekosistem dan lanskap.

  1. Pola dan proses pembentukan komunitas pada lanskap yang terdampak aktivitas antropogenik. Menilai kendala pengaruh faktor abiotik dan biotik pada spesies yang ada pada lanskap secara lokal dan regional. Memahami cara pembentukan atau perakitan berbagai komunitas pada berbagai skala spasial yang kompleks.
  2. biodivesitas dan proses ekologi pada lanskap permukiman. Menilai mekanisme yang mendasari dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas menggunakan ciri-ciri spesies. Pengembangan pemahaman tentang pembentukan komunitas makhluk hidup pada lanskap permukiman dengan pendekatan multi-skala. Pengembangan strategi untuk mengelola dampak aktivitas antropogenik terhadap ekosistem permukiman.
  3. Bioindikasi berdasarkan struktur dan komposisi komunitas ekologis : Mengidentifikasi spesies indikator pola dan proses ekologi utama pada skala lanskap. Menguji potensi penggunaan indikator untuk mendukung jasa dan layanan ekosistem pada skala lanskap. Mengembangkan pendekatan baru untuk mensurvei dan mengelola keberlanjutan ekosistem pada skala lanskap.
  4. Restorasi ekosistem. Menilai dampak restorasi (pemulihan) struktur dan fungsi ekosistem secara lokal terhadap biodiversitas dan jasa ekosistem. Memahami proses ekologi yang berlangsung skala lanskap dan terkait dengan restorasi ekosistem secara lokal.

Pustaka

https://www.sustainable-landscape.org/profil.php?id=2

https://www.uni-potsdam.de/en/umwelt/research/ag-landscape-ecology/research-topic

Mengukur dampak aktivitas manusia dengan Bioindikator

Krisis ekologi yang terjadi saat ini bersumber pada perilaku manusia. Ini terlihat dari pola produksi dan konsumsi yang tidak ekologis bahka teknologi hasil ciptaan manusia lebih banyak digunakan untuk merusak lingkungan langsung ataupun tidak. Perubahan bentang alam yang terjadi saat ini, seperti hutan dan perbukitan yang terbuka akibat aktivitas perkebunan, pertambangan, dan lainnya, membuat kebudayaan yang terbangun selama ini terganggu atau hilang. Menjaga bentang alam tetap lestari, maka perlu memperhatikan penanda hubungan manusia dengan bentang alam akan membentuk identitas yang disebut sebagai bioindikator.

Apa yang bisa diceritakan kenari di tambang batu bara kepada kita? Secara historis, burung kenari menemani penambang batu bara jauh di bawah tanah. Kapasitas paru-paru mereka yang kecil dan sistem ventilasi paru-paru searah membuat mereka lebih rentan terhadap konsentrasi kecil karbon monoksida dan gas metana daripada rekan manusia mereka. Hingga tahun 1986, sensitivitas akut burung-burung ini berfungsi sebagai indikator biologis kondisi tidak aman di tambang batubara bawah tanah di Inggris. Karena masalah kesehatan manusia terus mendorong pengembangan dan penerapan bioindikator, hilangnya jasa ekosistem (misalnya, udara bersih, air minum, penyerbuk tanaman) semakin memfokuskan perhatian kita pada kesehatan ekosistem alami. Semua spesies (atau kumpulan spesies) mentolerir kisaran terbatas kondisi kimia, fisik, dan biologis, yang dapat kita gunakan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan. Terlepas dari banyak kemajuan teknologi, kita mendapati diri kita beralih ke biota ekosistem alami untuk menceritakan kisah dunia kita.

Bioindikator mencakup proses biologis, spesies, atau komunitas dan digunakan untuk menilai kualitas lingkungan dan bagaimana perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan lingkungan sering dikaitkan dengan gangguan antropogenik (misalnya, polusi, perubahan penggunaan lahan) atau stresor alami (misalnya, kekeringan, pembekuan akhir musim semi), meskipun stres antropogenik membentuk fokus utama penelitian bioindikator. Pengembangan dan penerapan bioindikator secara luas telah terjadi terutama sejak tahun 1960-an. Selama bertahun-tahun, kami telah memperluas daftar bioindikator kami untuk membantu kami mempelajari semua jenis lingkungan (yaitu, perairan dan darat), menggunakan semua kelompok taksonomi utama.

Gambar 1: Perbandingan toleransi lingkungan dari (a) bioindikator, (b) spesies langka, dan (c) spesies di mana-mana

Area merah mewakili bagian dari gradien lingkungan (misalnya, ketersediaan cahaya, tingkat nitrogen) di mana individu, spesies, atau komunitas, memiliki kebugaran atau kelimpahan lebih besar dari nol. Garis putus-putus mewakili kinerja puncak di sepanjang gradien lingkungan khusus ini, sementara kotak kuning mencakup kisaran atau toleransi optimal. Bioindikator memiliki toleransi moderat terhadap variabilitas lingkungan, dibandingkan dengan spesies langka dan ada di mana-mana. Toleransi ini memberi mereka kepekaan untuk menunjukkan perubahan lingkungan, namun daya tahan untuk menahan beberapa variabilitas dan mencerminkan respons biotik umum.

Namun, tidak semua proses biologis, spesies, atau komunitas dapat berfungsi sebagai bioindikator yang berhasil. Faktor fisik, kimia, dan biologis (misalnya, substrat, cahaya, suhu, persaingan) bervariasi di antara lingkungan. Seiring waktu, populasi mengembangkan strategi untuk memaksimalkan pertumbuhan dan reproduksi (yaitu, kebugaran) dalam berbagai faktor lingkungan tertentu.

Spesies bioindikator secara efektif menunjukkan kondisi lingkungan karena toleransinya yang moderat terhadap variabilitas lingkungan (Gambar 1). Sebaliknya, spesies langka (atau kumpulan spesies) dengan toleransi sempit seringkali terlalu sensitif terhadap perubahan lingkungan, atau terlalu jarang ditemui, untuk mencerminkan respons biotik umum. Demikian pula, spesies di mana-mana (atau kumpulan spesies) dengan toleransi yang sangat luas kurang sensitif terhadap perubahan lingkungan yang jika tidak mengganggu komunitas lainnya.

Penggunaan bioindikator, bagaimanapun, tidak hanya terbatas pada satu spesies dengan toleransi lingkungan yang terbatas. Seluruh komunitas, yang mencakup berbagai toleransi lingkungan, dapat berfungsi sebagai bioindikator dan mewakili berbagai sumber data untuk menilai kondisi lingkungan dalam pendekatan “indeks biotik” atau “multimetrik”.

https://www.nature.com/scitable/knowledge/library/bioindicators-using-organisms-to-measure-environmental-impacts-16821310/

Biodiversitas dan Kesehatan Manusia

Pada dasarnya semua makhluk hidup termasuk manusia dalam kehidupan sehari-harinya sangat bergantung pada keanekaragaman hayati. Meskipun ketergantungan tersebut, bisa dilihat secara kasat mata seperti petani, pekebun, atau pencari kayu di hutan dan dengan cara yang tidak selalu terlihat seperti : pegawai dan wirausaha yang menjualbelikan jasa ekosistem. Pada akhirnya produk dan jasa ekosistem (seperti ketersediaan air tawar, makanan dan sumber bahan bakar) sangat diperlukan untuk mendukung kesehatan manusia dan mendapatkan mata pencaharian yang produktif.

Hilangnya keanekaragaman hayati dapat memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap kesehatan manusia jika jasa ekosistem tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial. Secara tidak langsung, perubahan dalam jasa ekosistem mempengaruhi mata pencaharian, pendapatan, migrasi lokal dan, kadang-kadang, bahkan dapat menyebabkan atau memperburuk konflik politik.

Selain itu, keanekaragaman hayati mikroorganisme, flora dan fauna memberikan manfaat yang luas bagi ilmu biologi, kesehatan, dan farmakologi. Penemuan medis dan farmakologis yang signifikan dibuat melalui pemahaman yang lebih besar tentang keanekaragaman hayati bumi. Hilangnya keanekaragaman hayati dapat membatasi penemuan pengobatan potensial untuk banyak penyakit dan masalah kesehatan.

Ada kekhawatiran yang berkembang tentang konsekuensi kesehatan dari hilangnya keanekaragaman hayati. Perubahan keanekaragaman hayati mempengaruhi fungsi ekosistem dan gangguan ekosistem yang signifikan dapat mengakibatkan barang dan jasa ekosistem yang menopang kehidupan. Hilangnya keanekaragaman hayati juga berarti bahwa kita kehilangan, sebelum ditemukan, banyak bahan kimia dan gen alam, dari jenis yang telah memberikan manfaat kesehatan yang sangat besar bagi umat manusia.

Sumber tulisan

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/biodiversity-and-health#:~:text=Biodiversity%20supports%20human%20and%20societal,that%20contribute%20to%20overall%20wellbeing.

MENGENAL JEMBATAN YANG AKAN DILEWATI MANUSIA PADA HARI KIAMAT

Soal:
Apakah yang dimaksud dengan shirath yang dipancangkan di atas Jahanam? Bagaimanakah hukum beriman kepada shirath ini? Dan apakah semua yang melewatinya akan mendapatkan rasa sakit?

▶️ Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah menjawab,

☀️ “Shirath ini adalah jembatan yang Allah pancangkan untuk kaum mukminin. Mereka akan melewatinya untuk menuju janah.

🔥 Di atas jembatan itu terdapat jangkar-jangkar yang akan menyambar manusia sesuai dengan kadar amalan mereka.

🔵 Orang yang berhasil melewatinya akan selamat. Akan tetapi ada sebagian orang yang tersambar akibat dosa yang dahulu mereka lakukan.

⏺ Terkadang pula ia tersambar akan tetapi tetap selamat dan berhasil melanjutkan jalannya.

🌅 Shirath ini adalah jembatan yang besar dan benar-benar ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Orang-orang yang telah Allah tuliskan mendapatkan janah akan berhasil melewatinya.

💦 Sebagian orang beriman akan ada yang terjatuh karena maksiatnya.

💥 Tidak ada yang melewatinya kecuali orang-orang yang beriman. Adapun orang kafir tidak melewati jembatan itu.

🍃 Jembatan ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang berhasil melewatinya akan selamat.

🔥 Orang yang terjatuh karena dosa-dosanya akan disiksa sesuai dengan kadar dosanya.

🔴 Adapun orang-orang kafir mereka langsung digiring ke neraka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

⁉️ BAGAIMANA PROSES MELEWATI JEMBATAN?

🔘 Tidak ada yang melewati jembatan itu kecuali orang-orang yang beriman sesuai dengan kadar amalan mereka berdasar hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits ini, “Ada kaum mukminin yang melewatinya secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat burung, ada yang secepat larinya kuda yang bagus dan para penunggang kuda.

⚠️ Ada yang selamat dan diselamatkan dan ada yang terjatuh dan tersungkur di Jahanam.” Muttafaq ‘alaihi (206).

Dalam Shahih Muslim disebutkan, “Amalan mereka mempercepat jalan mereka. Sementara nabi kalian berdiri di atas jembatan sambil mengatakan, ‘Wahai Rabbku, selamatkanlah, selamatkanlah’, hingga amalan seorang hamba menjadi lemah. Hingga datanglah seorang namun tidak mampu untuk berjalan kecuali dengan merangkak.” (207)

Dalam Shahih al-Bukhari, “Hingga orang yang terakhir melewatinya dengan diseret.”

🔵 ORANG PERTAMA YANG MELEWATI JEMBATAN

🍃 Orang pertama yang melewati shirath dari kalangan para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
👉🏻 Sedangkan dari kalangan umat mereka adalah umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi, “Aku dan umat menjadi orang pertama yang melewatinya. Pada hari itu tidak ada yang berkata-kata kecuali para rasul. Doa yang dipanjatkan oleh para rasul waktu itu adalah, ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’.” HR. al-Bukhari.

🌎 Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/1537
📝 Diterjemahkan oleh: al Ustadz Fathul Mujib hafizhahullah

fawaidumum #harikiamat

〰️〰️🌹〰️〰️
🍊 Update Ilmu agama bersama Warisan Salaf di: Website I Telegram I Twitter I Google Plus I Youtube I SMS Tausiyah
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Teknik Wawancara dan Jenisnya

Survei adalah suatu teknik mengumpulkan informasi dari responden dengan cara menanyakan sejumlah pertanyaan terstruktur kepada responden. Penelitian survey sangat erat kaitannya dengan pengumpulan data secara primer sehingga wawancara merupakan salah satu teknik yang sering digunakan dalam penelitian survey.

Kunci dari pengumpulan informasi dalam penelitian survey adalah pada proses wawancara. Wawancara merupakan sebuah cara yang khusus dalam setting percakapan yang terstruktur, yang masing-masing pewawancara dan responden memiliki batasan peran yang dimainkan. Kecakapan pewawancara dalam berinteraksi dengan responden ikut menentukan kualitas informasi yang dikumpulkan.

Pewawancara memiliki tugas pokok untuk membuat responden dapat berpartisipasi dalam survei dan mencatat informasi dari responden. Kunci sukses wawancara adalah pewawancara mampu mengajak responden untuk berpartisipasi dalam wawancara, menjamin kerahasiaan serta berhasil menerangkan secara baik tujuan yang dilakukan. Jenis wawancara ada dua macam yaitu : wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

Wawancara Terstruktur. Wawancara terstruktur merupakan teknik wawancara yang dilakukan apabila peneliti telah memiliki informasi dari apa yang akan ditelitinya. Pewawancara juga telah menyiapkan pertanyaan tertulis serta alternatif jawabannya. Adapun alat yang dapat menunjang wawancara terstruktur dalam penelitian adalah tape recorder, gambar, brosur dan alat lain yang dapat melancarkan proses wawancara.

Wawancara Tidak Terstruktur. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas. Peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Biasanya teknik ini digunakan pada penelitian yang dilakukan secara mendalam untuk mendapatkan jawaban dari responden atau narasumbernya. Isi pembicaraan bergantung pada suasana wawancara.

Pustaka

https://medium.com/@afdanrojabi/teknik-wawancara-research-methodology-7ebdb094b490

https://kumparan.com/berita-hari-ini/teknik-wawancara-dalam-penelitian-sosial-lengkap-dengan-tahapannya-1v7DVNnFdbD/full

Lahan Bekas Tambang direstorasi, bisakah?

Selama ini banyak pemegang izin usaha pertambangan berdalih bahwa kendala teknologi menjadi persoalan utama dalam melakukan kegiatan paska tambang. Terlebih mengembalikan kondisi lahan seperti semula. Benarkah?

Secara umum, permasalahan tambang di Indonesia disebabkan oleh sistem tambang terbuka atau open pit. Aktivitas tambang terbuka ini selalu melahirkan bahan galian, merubah lansekap dan topografi lahan, meninggalkan kolong atau lubang-lubang yang sebagian menjadi kolam air, pH ekstrim, polusi partikel debu, serta memiskinkan bahan organik, unsur hara dan mikroorgnisme. “Mutu tanah akan  menurun drastis akibat kehilangan tanah permukaan, humus dan terjadi pemadatan akibat aktivitas alat berat,” terang Retno Prayutyaningsih dari Balai Penelitian Kehutanan Makassar di Balikpapan, Kalimantan Timur, pekan lalu. Retno menyatakan bahwa alam bisa menyembuhkan dirinya sendiri, namun suksesi primer atau alami akan butuh waktu yang lama. “Oleh sebab itu perlu intervensi dalam bentuk rehabilitasi guna mempercepat suksesi primer tersebut.”

Tantangan untuk merestorasi lahan paska tambang semakin berat karena banyak pemegang izin tidak mengikuti prosedur operasional yang ditentukan dalam memperlakukan top soil dan overburden (lapisan tanah penutup) secara terpisah. “Sehingga, semua tercampur dengan material buangan lain seperti tailing kuarsa,” tambah Pratiwi dari Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi yang melakukan penelitian dan restorasi di lahan bekas tambang timah. Perilaku dan kondisi seperti itu akhirnya menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan restorasi lahan paska tambang. Sebagaimana tujuan utama dari restorasi yaitu memulihkan kembali kualitas tanah sehingga memungkinkan keragaman hayati yang hilang bisa dikembali dalam kondisi yang mendekati keadaan sebelum ditambang.

Strategi umum untuk melakukan pemulihan lahan adalah dengan cara melakukan perbaikan kualitas tanah, memilih bibit yang tepat, melakukan penyemaian, penanaman dan pemeliharaan. “Rehabilitasi adalah sebuah proses yang terintegrasi dan butuh waktu. Tanaman yang sehat sewaktu disemai dan ditanam belum tentu akan tumbuh normal setelah waktu tertentu,” terang Pratiwi. Pratiwi menuturkan, pemeliharaan tanaman mutlak dilakukan untuk rehabilitasi lahan bekas tambang sehingga bisa ditentukan langkah yang diperlukan untuk masing-masing tanaman yang dipilih. “Kondisi dan pertumbuhan tanaman pada lahan overburden dan tailing kuarsa berbeda meski jenisnya sama.”

Selain itu penyiapan iklim mikro juga amat penting untuk lahan yang hendak direhabilitasi. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan biomasa. Penanaman cover crop adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengawali usaha rehabilitasi. “Pengalaman kami, penanaman cover crop dengan pola jalur lebih baik dibanding dengan pola spot.” Selain yang sudah diungkapkan oleh Pratiwi, Retno memaparkan pentingnya perbaikan biologi tanah untuk mendukung keberlanjutan restorasi lahan. Dia memperkenalkan teknologi isomik (isolate mikroba) untuk merehabilitasi lahan bekas tambang.

Teknologi isomik adalah aplikasi mikroba tanah yang potensial hasil isolasi mikroba lokal yaitu mikoriza. “Mikoriza adalah jamur atau fungi yang bersimbiosis dengan akar tanaman. Jamur memperoleh makanan dari inang, inang memperoleh manfaat dari adanya jamur yang memproduksi benang-benang untuk memperluas serapan hara,” terang Retno. Manfaat mikoriza adalah meningkatkan daya hidup dan pertumbuhan tanaman. Meningkatkan ketahanan dari defisiensi hara, kekeringan, pH ekstrim, logam berat dan perbaikan struktur dan biologi tanah. “Dampaknya perkembangan komunitas alami baik flora, fauna maupun mikroba akan membuat pemulihan keanekaragaman hayati tercapai.” Kelebihan dari teknologi isomik adalah aplikasinya hanya sekali yaitu pada saat pembuatan bibit.!break!

Bersinergi dengan alam

Ishak Yasir dari Balai Penelitian Teknologi Konservasi SDA Samboja menyatakan pemanfaatan genetic resources atau sumber daya lokal untuk melakukan perbaikan lingkungan atau lahan terdegradasi penting dilakukan. Konsepnya adalah bersinergi dengan alam untuk merehabilitasi lahan bekas tambang. Menurut Ishak, konsep bersinergi dengan alam ini didasarkan atas kenyataan bahwa lahan pertambangan di Kalimantan Timur kerap berada di wilayah hutan dalam bentuk pinjam pakai area. “Area di sekitar tambang biasanya masih berupa hutan yang cukup bagus, sehingga rehabilitasi paska tambang adalah kombinasi antara upaya manusia dengan kekuatan alam.” “Intinya di sekitar lahan terdegradasi banyak material yang bisa dipakai untuk perbaikan lingkungan. Dia mencontohkan kayu-kayu hasil land clearing yang tidak dimanfaatkan bisa dipakai untuk memperbaiki kualitas tanah dengan diolah.

Konsep bersinergi dengan alam ini awalnya diuji coba dan dikembangkan di lahan alang-alang yang akan dipakai untuk reintroduksi dan rehabilitasi orangutan dengan ditanami buah-buahan. “Penanaman buah dimaksudkan untuk mengundang kehadiran burung dan kelelawar yang akan membawa benih dari hutan yang tersisa di sekitar kawasan tambang.” Konsep ini sudah diimplementasikan dan akan terus  dikembangkan ke lahan dengan tingkat kerumitan yang berbeda di Kaltim saat ini. “Merestorasi lahan terdegradasi bukan hal yang mustahil. Pertanyaannya adalah perusahaan punya komitmen atau tidak untuk melaksanakan reklamasi paska tambang?

Sumber Copy Paste : https://nationalgeographic.grid.id/read/13299352/bisakah-lahan-bekas-tambang-direstorasi?page=2

Fungsi, Bentuk, Prinsip dan Kajian yang Dipelajari dalam Ekologi Lanskap

Ekologi merupakan gabungan konsep ekologi dan lanskap. Lanskap secara sederhana berarti bentang alam yang kompleks. Sedangkan ekologi merupakan ilmu yang mempelajari ekosistem (interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya). Ekologi lanskap berarti suatu disiplin ilmu yang mempelajari variasi spasial bentang alam atau struktur lanskap yang mempengaruhi proses interaksi makhluk hidup beserta distribusi aliran energi materi dengan lingkungannya.

Ekologi lanskap merupakan cabang ilmu termuda dari ekologi. Tergagas setelah perang dunia II di negara Eropa Tengah dan Eropa Timur. Bersumber pada ilmu geografi, geobumi dan management lanskap. Pertama kali dicetuskan akhir tahun 1930 an oleh Carl Troll. Menurut beliau ekologi lanskap adalah suatu ilmu yang baru dikembangkan dengan mengombinasikan pola spasial, pendekatan secara horizontal dari ahli geografi dan pendekatan secara vertikal dari ahli ekologi.

Fungsi Ekologi Lanskap

Disiplin ilmu yang digunakan untuk:

  1. Mendapatkan gambaran daya dukung lahan untuk menentukan indikator kerusakan lingkungan atau ekosistem akibat ulah manusia.
  2. Sebagai dasar perencanaan design lanskap
  3. Mengetahui sebab-akibat dari heterogenitas spasial
  4. Mengetahui fragmentasi habitat yang mempengaruhi daya hidup suatu populasi tumbuhan maupun hewan. Bantuan teknologi yang digunakan untuk ini dengan Sistem Informasi Geografi (SIG)

Elemen Lanskap Pembentuk Ekologi

  1. Patch: Areal permukaan non-linear yang homogen yang dapat dibedakan dari daerah sekelilingnya. Bentuk, ukuran, type, heterogenitas, dan sifat deliniasinya (batasan daerah).
  2. Corridor: Elemen lanskap yang berbentuk memanjang dan berkesinambugan. Contoh: jalan kereta api, jalan raya dan sungai.
  3. Matriks: Areal homogen yang mendominasi lanskap yang dapat dikategorikan lanskap mayor.
  4. Edge: Daerah peralihan antara patch dan matriks.

Bentuk Ekologi Lanskap Berdasarkan 3 Perspektif

1. Manusia

Manusia memiliki kesatuan fungsi dengan lanskap. Dilihat dari sudut pandang manusia, lanskap terbentang area lanskap hasil dari interaksi manusia dengan lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Terdiri dari sawah, kebun, hutan produksi.

2. Geobotanical

https://ce74a4a794603c89423a96977d4f587a.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html

Penyebaran spasial dari lingkungan komponen biotik dan abiotik baik itu sebagai komunitas, woodland, woodlots dll. Hal yang dipertimbangkan kebutuhan hidup tumbuhan. Contoh: Mount ridge landscape, rock debris, bare soil, vegetation patches.

3. Hewan

Hampir sama dengan yang dipandang manusia akan tetapi ada sedikit perbedaan yang lebih natural seperti habitat hutan, sungai, laut dan jumlah pengelompokan hewan.

Hal yang Dipelajari Ekologi Lanskap

  1. Struktur: Hubungan spasial diantara heterogen ekosistem atau elemen lanskap yang ada yaitu distribusi energi, materi dan spesies dalam hubungan terhadap ukuran, bentuk, jumlah dan konfigurasinya.
  2. Fungsi: Interaksi antara spasial berupa aliran energi, material dan spesies dalam komponen ekosistem.
  3. Perubahan: Perubahan struktur dan fungsi mozaik lanskap.

Prinsip Ekologi Lanskap

  1. Prinsip Struktur dan Fungsi Lanskap: Perbedaan struktur pembentuk lanskap baik dalam tipe, ukuran dan bentuknya menyebabkan perbedaan dalam distribusi spesies, energi, materi diantara patch, koridor dan matriks yang ada, sehingga fungsi akan berbeda seperti aliran spesies, energi dan materi diantara elemen pembentuknya
  2. Prinsip Biodiversity (Keanekaragaman Hayati): Meningkatkan total potensi keberadaan spesies membutuhkan dua atau lebih elemen lanskap. Sehingga keragaman edge spesies dan spesies dan menurunkan kelimpahan (abundance) spesies interior.
  3. Prinsip Pergerakan Spesies: Pengaruh heterogenitas lanskap menyebabkan emigrasi dan imigrasi spesies diantara elemen lanskap.
  4. Prinsip Transport Nutrient (hara mineral): Meningkatnya laju perpindahan nutrient hara mineral antar elemen lanskap dapat meningkatkan intensitas gangguan.
  5. Prinsip Aliran Energi: Peningkatan heterogenitas lanskap meningkatnya perpindahan energi panas dan perpindahan biomasa antara  elemen lanskap meningkat dengan meningkatnya
  6. Prinsip Perubahan Lanskap: Bila ada gangguan yang besar maka akan menurunkan tingkat heterogenitas landskap
  7. Prinsip Stabilitas Lanskap: Sistem yang secara fisik sangat stabil (ketiadaan biomasa; gurun pasir, jalan, perkotaan), sistem dengan sistem recovery yang cepat (keberadaan tingkat biomasa yang rendah; padang alang/alang, daerah pertanian), sistem dengan tingkat resistensi yang tinggi terhadap gangguan  ( keberadaan biomasa yang sangat besar; misal hutan). Biomassa terdiri dari vegetasi juga komponen mikroorganisme  dan non-organisme yang terlibat dalam proses pertumbuhan dan reproduksi)

Demikian pembahasan mengenai ekologi lanskap. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan Anda.

Sumber Copy paste : https://materiipa.com/ekologi-lanskap

Ekowisata di Lahan Bekas Tambang

Indonesia memiliki banyak objek dan daya tarik wisata (ODTW) yang sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan nasional, kesejahteraan masyarakat, dan upaya konservasi melalui pengembangan ekowisata. ODTW yang ada di Indonesia umumnya berisi keunikan flora dan fauna (biodiversitas) yang bisa ditemui di kawasan cagar alam, cagar biosfir, kawasan lindung, taman nasional, serta ekosistem alami dan buatan lainnya dengan keindahan lanskap yang menakjubkan. Indonesia juga memiliki ragam warisan budaya dan pola kehidupan sosial pedesaan dan perkotaan yang mengandung makna pembelajaran dan dapat meningkatkan pengalaman wisatawan dalam berbagai aspek. Kondisi ojek wisata tersebut dapat menjadi penarik (pull factor) dan dapat juga menjadi alasan wisatawan tidak berkunjung.

Pengembangan wisata di Indonesia tidak hanya mengandalkan kawasan yang secara secara alami, disediakan oleh Allah Subanahuwata`ala, seperti : pegunungan, kawasan sungai, sawah, hutan mangrove, dan rawa gambut. Akan tetapi, juga terkait dengan inovasi penyelamatan lingkungan yang mengalami kerusakan seperti kegiatan pertambangan. Diketeahui, bahwa pertambangan tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan hanya akan menggiring dalam lubang bencana. Dengan demikian diperlukan solusi yang tepat agar bencana alam yang mengancam dapat dicegah.

Salah satu solusi terkait pengolahan lahan bekas tambang dan inovasi dalam pengelolaan lahan eks tambang yaitu dengan pembangunan lahan eks tambang sebagai ekowisata. Ekowisata merupakan tipe pariwisata dengan segmen pasar yang memiliki karakteristik spesifik, baik secara demografis, psikografis, maupun geografis. Ekowisata mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta pembelajaran atau pendidikan. Ekowisata dapat menyatukan komponen biodiversitas flora dan fauna, masyarakat lokal, serta kebudayaan sebagai bentuk implementasi pembangunan yang berkelanjutan. Sehingga, dalam capaiannya dapat menjadi sektor pariwisata yang berkembang dengan baik di Indonesia

Konsep ekowisata merupakan sebuah konsep pembangunan pariwisata dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Seperti yang dikemukakan IUCN tahun 1996 bahwa Ekowisata adalah perjalanan bertanggung jawab secara lingkungan dan kunjungan ke kawasan alami, dalam rangka menikmati dan menghargai alam (serta semua ciri-ciri budaya masa lalu dan masa kini) untuk mempromosikan konservasi, memiliki dampak kecil dan mendorong pelibatan sosial ekonomi masyarakat lokal secara aktif sebagai penerima manfaat.

Terkait pemanfaatan lahan bekas tambang, Jika lahan tersebut akan dijadikan kawasan wisata, maka sebaiknya ada regulasi yang jelas dalam peningkatan kualitas lingkungan, sosial budaya, serta ekonomi masyarakat dengan cara menyusun Rancangan Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah [RIPPARDA]. Hal ini berguna untuk mengatur kawasan eks tambang tersebut dapat dijadikan kawasan wisata yang aman bagi manusia dan sehat bagi lingkungan ketika lahan tersebut sudah tidak akan dieksploitasi kembali. Wallahu`alam.

Pustaka

Asmin, F. (2018). Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana. https://www.researchgate.net/publication/323309174Ekowisata

https://katadata.co.id/ariemega/berita/5fd9ffbba6c49/membangun-ekowisata-berkelanjutan-di-lahan-bekas-tambang

Kumpulan Video Lengkap Maggot Black Soldier Fly

Kumpulan video budidaya maggot / black soldier fly

  1. Dampak Maggot Bagi Cuan dan Keseimbangan Lingkungan https://youtu.be/iHNXuU2ukXU
  2. MODERN BLACK SOLDIER FLY MENJADI PAKAN HEWAN DAN MANUSIA https://youtu.be/2dHsGTHP_ok
  3. Tips Budidaya Maggot Untuk Pemula, Modal Sampah Jadi Rupiah https://youtu.be/ehRZjZEZGhc
  4. Ternak Maggot BSF Skala Rumahan untuk Pakan Ayam https://youtu.be/k5_kNIQ3qYg
  5. Cara Memancing Lalat BSF Liar Datang https://youtu.be/z3kPwTj0MHs
  6. Proses penyiapan magot dewasa menjadi lalat BSF https://youtu.be/1FrbI8lcYbs
  7. Lahan 2 Hektar budidaya lalat bsf,mengolah sampah menjadi berkah https://youtu.be/O81Fwv7czeE
  8. Cara Mengolah Maggot Menjadi Maggot Kering (Dried Maggot) https://youtu.be/dpJaxn76sEA
  9. CARA PEMASARAN MAGGOT BSF https://www.youtube.com/watch?v=O81Fwv7czeE
  10. Webinar BUDIDAYA MAGGOT UNTUK BIOKONVERSI SAMPAH ORGANIK https://youtu.be/sPRpKq39_SI
  11. HOW TO MAKE | MAGGOT OVEN https://youtu.be/Yv8e7ygvEPc
  12. Cara Mengolah Maggot Menjadi Pelet https://youtu.be/eiCs409XGHg

Biodiversitas dan Industri Wisata

Selama beberapa dekade, pariwisata telah menjadi salah satu industri terbesar dan paling cepat berkembang di dunia. Terhitung lebih dari 30% ekspor jasa komersial seluruh dunia berasal dari pariwisata dan lebih dari 6% keseluruhan ekspor terkait dengan barang dan jasa untuk menunjang pariwisata. Pariwisata berdampak besar dan perannya terus meningkat serta berdampak terhadap manusia maupun jasa ekosistem. Bagi banyak negara berkembang, pariwisata menjadi salah satu sumber pendapatan utama dalam menciptakan dan menghasilkan peluang kerja yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan sosial-ekonomi.

Pertumbuhan industri pariwisata yang berkelanjutan saat ini terus berkembang seiring dengan semakin menguatnya isu lingkungan. Selain itu konsumen juga semakin menuntut tujuan pariwisata yang lebih bersih, berkelanjutan, dan lebih ramah lingkungan. Tren kualitatif dan kuantitatif ini tentunya memerlukan pengembangan dan pengelolaan produk pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis keanekaragaman hayati. Konsep ini akan menghubungkan pariwisata dengan pemanfaatan sumber daya alam dan pengelolaan konservasi yang berkelanjutan.

Berbagai macam pilihan wisata akan berkaitan erat dengan jasa dan layanan yang dihasilkan dari biodiversitas. Berbagai pilihan yang dilakukan penduduk terkait wisata diantaranya, penduduk sering memilih tempat tertentu untuk menghabiskan waktu luang mereka. Sebagiannya memilih tempat wisata berdasarkan pada karakteristik lanskap alam atau budidaya di daerah tertentu. Sebagian lagi memilih rekreasi dalam kaitannya dengan hewan atau tumbuhan, merawat hewan peliharaan, atau kebun, taman dan cagar alam. Hasil yang diperoleh dari kegiatan wisata tersebut berhubungan dengan kesehatan berupa latihan fisik, dan kebugaran. Selain itu banyak sekali kontribusi wisata terhadap kesehatan fisik dan mental, dan pengentasan gangguan psikososial.

Terkait hal tersebut di atas, maka pengembangan produk pariwisata yang berbasis keanekaragaman hayati harus mengarah pada pembangunan berkelanjutan jangka panjang. Diperlukan usaha yang instensif untuk mempromosikan integrasi sosial dan ekonomi (pendapatan sektor pariwisata) dan partispasi masyarakat lokal. Untuk mencapainya, diperlukan rencana aksi komprehensif yang berfokus pada diversifikasi produk, daya saing dan pembangunan berbasis masyarakat. Titik utama pariwisata berkelanjutan adalah perlindungan dan pengelolaan keanekaragaman hayati, warisan budaya.

Sumber tulisan :

World Health Organization, & Secretariat of the Convention on Biological Diversity. (2015). Connecting Global Priorities: Biodiversity and Human Health. In WHO Press (Issue June 2017). https://doi.org/10.13140/RG.2.1.3679.6565

World Tourism Organization. (2011). Practical Guide for the Development of Biodiversity-based Tourism Products. In Practical Guide for the Development of Biodiversity-based Tourism Products (Second). World Tourism Organization. https://doi.org/10.18111/9789284413409

Pemanfaatan jasa eceng gondok untuk mengendalikan pencemaran air

Eceng gondok (Pontederia crassipes sebelumnya dinamakan Eichhornia crassipes)) merupakan salah satu jenis tumbuhan air yang tum­buh subur di sawah-sawah, danau, waduk, rawa-rawa dan saluran drainase. Tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan ini hidup mengambang secara bebas di daerah tropis dan sub-tropis. Bentuk daun bulat telur, lebar, tebal, dan mengkilap dengan ukuran 10–20 cm (4–8 inci). Memiliki batang yang panjang, kenyal dan bulat serta dapat naik di atas permukaan air setinggi 1 meter (3 kaki). Akarnya berwarna ungu-hitam, berbulu dan menggantung secara bebas di dalam air. Tangkainya berdiri tegak untuk menopang 8–15 bunga dengan warna yang sangat menarik, sebagian besar berwarna lavender hingga merah muda.

Sudah menjadi anggapan umum, bahwa kehadiran eceng gondok hanya memba­wa kerugian dan menim­bul­kan masalah terhadap ling­kungan perairan. Kemampuannya menutupi permukaan perair­an dengan cepat sehingga menghilangkan keberadaan air permukaan sampai 4 kali lipatnya adalah bukti yang menunjukkan anggapan tersebut. Sehingga dalam tempo 3–4 bulan saja, eceng gondok mampu menutupi lebih dari 70% permukaan danau. Dampak selanjutnya yang ditimbulkan oleh eceng gondok adalah tersumbatnya saluran alir (drainase), penurunan nilai estetika perairan, gang­guan penangkapan ikan di da­nau, waduk dan rawa, kehadiran vektor penyakit. Cepatnya pertumbuhan eceng gondok dan tingginya daya tahan hidup menjadikan tumbuhan ini sangat sulit dikendali­kan. Pengendalian eceng gondok secara mekanik, kimia dan biologi juga tidak pernah memberikan hasil yang optimal.

Anggapan tersebut di atas memang dapat dibenarkan, karena selama ini manfaat eceng gondok belum banyak digali dan diketahui. se­hing­ga terkesan bahwa eceng gondok itu bukanlah sumber daya hayati yang memiliki berbagai jasa dan layanan yang dihasilkannya. Hasil penelitian berjudul “The Benefits of Water Hyacinth (Eichhornia crassipes) for Southern Africa: A Review’ yang diterbitkan tanggal 6 November 2020 pada jurnal Sustainability; doi:10.3390/su12219222 menyimpulkan bahwa eceng gondok adalah sumber daya hayati yang pu­nya bermanfaat ganda bagi manusia. Eceng gondok antara lain dapat dimanfaatkan untuk fitoremediasi, pakan ternak, pupuk hayati, bioenergi (biogas, bioetanol, dan briket), sumber karbon untuk produksi enzim, dan juga sebagai bahan biopolimer.

Terkait pengendalian pencemaran perairan, eceng gondok dapat diman­fa­at­kan dalam mencapai tujuan tersebut. Hal ini ditunjang dengan kemam­puan tinggi tumbuhan ini dalam me­nye­rap senyawa-senyawa ki­mia toksik dari perairan ter­cemar. Diketahui, eceng gondok mam­pu menghilangkan senyawa fenolik dari perairan seba­nyak 160 kg/hektar dalam wak­tu 72 jam, menyerap fos­for sebanyak 157 kg/hektar, nitrogen 693 kg/hektar, dan menghilangkan amonium sebanyak 500 kg/hektar da­lam waktu 15 hari.

Kemampuan tumbuhan air itu untuk mengikat bahan-bahan organik dari partikel tersuspensi membuat gulma air itu mampu menjernihkan air. Kekeruhan air dapat ditu­runkan sampai 120 ppm sili­ka dalam waktu 48 jam. Hal ini mengandung arti, tum­buh­an ini dapat menurunkan TSS (total suspended solid) dan BOD (biological oxygen demand) dari perairan terce­mar. Lebih dari itu, eceng gon­dok mampunyai kemampuan yang tinggi dalam menyerap logam berat dari perairan. Dalam setiap 1 gram berat ke­ring mampu mengabsorbsi Timbal (Pb) 0,176 mg, Mer­kuri (Hg) 0,15 mg dan Cobalt (Co) 0,568 mg dalam waktu 24 jam.

Catatan pemanfaatan eceng gondok :

  • Pemanfaatan eceng gon­dok sangat dianjurkan untuk pengolahan limbah yang banyak mengandung bahan or­ganik, karena bahan itu dapat terurai di alam.
  • Tumbuhan eceng gon­dok yang sudah mati dari danau atau sungai dapat dikeringkan dan dibuat men­jadi kompos untuk berbagai kebutuhan.
  • Eceng gon­dok dapat digunakan untuk menyerap logam berat dengan syarat sisa tum­buhan yang telah mati tersebut tidak dimanfaatkan untuk kompos, tetapi hanya sebagai penutup tanah lembah atau tanah rawa.
  • Peman­faatan tumbuhan ini harus memperhatikan lokasi tum­buhnya. Bila tum­buh di sa­wah-sawah, danau atau wa­duk, pemanfa­atannya diarahkan untuk pakan ternak.
  • Eceng gondok yang tumbuh subur di perairan tercemar berat seperti parit busuk, tidak boleh dimanfaat­kan untuk pakan ternak ka­rena dikhawatirkan mengan­dung bahan pencemar toksik seperti logam berat, te­ta­pi digunakan untuk manfa­at lainnya seperti pembuatan ta­li, topi, tas atau produk kera­jinan lain.

Kesimpulan

Eceng gondok bukanlah gul­ma yang harus dimusnahkan dari perairan, akan tetapi dimanfaatkan berdasarkan penggalian ilmu pengetahuan dan data. Pemanfaatan eceng gon­dok sebaiknya dilakukan secara kontinyu karena eceng gondok mempu­nyai manfaat ganda melalui pengendalian. Eceng gondok dapat terken­dali di perairan jika dikelola dengan pendekatan berbasis ekosistem yakni melibatkan kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial sehingga bisa berkelanjutan. Melalui pengolahan yang terintegrasi, eceng gondok dapat dibuat menjadi bahan bernilai ekonomis, ber­manfaat dalam mengendalikan pencemaran perairan, sekaligus bermanfaat yang tinggi bagi nilai sosial seperti hadirnya mata pencaharian bagi penduduk lokal.

Pustaka

Bersihkan Kali Pakai Eceng Gondok, Mengatasi Masalah Dengan Masalah, https://tirto.id/da71

https://menyelamatkandanaulimboto.wordpress.com/teknologi-pengendalian-pencemaran-air/pemanfaatan-eceng-gondok/

https://analisadaily.com/berita/arsip/2017/1/22/303899/eceng-gondok-bermanfaat-untuk-lingkungan/