Pengelolaan Contaminants of Emerging Concern di DAS

Jakarta, 6 Oktober 2021. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Media Briefing Kontaminasi Paracetamol di Teluk Jakarta berkaitan dengan hasil kajian yang dilakukan oleh Peneliti LIPI. Penelitian yang berjudul High Concentration Of Paracetamol In Effluents Dominated Waters Of Jakarta Bay, Indonesia adalah disertasi Wulan Koagouw untuk Ph.D di Brigton UK (School of Pharmacy Brighton UK) bersama peneliti Pusat Penelitian Oseanografi BRIN, peneliti Zainal Arifin, Wulan Koagouw, dan Corina Ciocan, dan dimuat di Jurnal internasional Elsevier. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2017 dan 2018 di 4 lokasi di Jakarta yaitu Teluk Jakarta, Ancol, Tj Priok & Cilincing, serta di Teluk Eretan Jawa Tengah.
 
Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Etty Riani mengungkapkan perlu penelitian lebih lanjut. Prof. Etty juga menyampaikan kadar paracetamol yang ditemukan di Teluk Jakarta ini masih terhitung kecil. “Kalau dilihat dari jumlah 610 ng/L, itu sifatnya non akut. Sehingga tidak akan menjadi mematikan dalam jumlah tersebut,” kata Prof. Etty, saat menyampaikan paparan “Paracetamol: Penyebab Laut Terkontaminasi, Dampak, Pengelolaannya” pada Media Briefing secara virtual di Jakarta, Selasa (5/10/21).
 
Contaminants of Emerging Concern (CEC) muncul seiring dengan peningkatan kemampuan peralatan dan teknik uji sampel yang mampu mengukur konsentrasi bahan kimia sampai pada jangkuan μg/L dan ngram/L. Sebagai gambaran konsentrasi 1 μgram/L  menyatakan 1 gram bahan kimia di dalam 1.000.000 L pelarut, sedangkan 1 ng/L menyatakan 1 gram bahan kimia di dalam 1.000.000.000 L pelarut. Konsentrasi Paracetamol di Teluk Jakarta hasil Penelitian Pusat Oseanografi LIPI sebesar 420-610 ng/L artinya terdapat kandungan 420-610 gram paracetamol dalam 1.000.000.000 L air laut atau 1 juta liter air laut.
 
Salah seorang peneliti pada penelitian “Tingginya konsentrasi paracetamol pada buangan air limbah mendominasi air di Teluk Jakarta, Indonesia”, yaitu Prof. Zainal Arifin menjelaskan riset paracetamol dan bahan pencemar ini dilakukan sejak 2017 sampai 2020. Dari lima lokasi penelitian yaitu Angke, Ancol, Tanjung Priuk, Cilincing dan Pantai Eretan, paracetamol terdeteksi di dua lokasi yaitu Ancol dan Angke.
 
“Dari 4 parameter yaitu parameter fisik hasilnya aman bagi biota, dan parameter logam berat terlarut umumnya aman. Sedangkan nutriens seperti ammonia, nitrate, dan fosfat melebihi baku mutu. Sementara, parameter lainnya seperti pcb dan pestisida juga aman bagi biota laut,” terangnya.
 
KLHK menghargai penelitian tersebut karena hal ini menunjukkan Indonesia sudah memiliki perhatian terhadap isu Contaminants of Emerging Concern dan memiliki kemampuan penelitian dengan menggunakan peralatan Advanced Analytical Techniques untuk mendeteksi bahan kimia dengan konsentrasi yang sangat kecil, seperti yang dimiliki oleh Laboratorium Pusat Penelitian Oseanografi.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan paracetamol yang menjadi bahan penelitian tersebut merupakan bagian dari berbagai upaya di dunia untuk melakukan penelitian terhadap Contaminants of Emerging Concern (CEC). CEC adalah bahan kimia sintetis atau alami yang biasanya tidak dipantau di lingkungan, tetapi memiliki potensi untuk memasuki lingkungan dan menyebabkan efek yang sudah diketahui atau diduga memiliki efek terhadap ekologis dan (atau) kesehatan manusia. Kontaminan  baru ini muncul karena belum cukup pengetahuan untuk memastikan efek samping dari bahan kimia, sehingga dapat dipahami risiko yang terkait dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
 
“Saat ini belum ada baku mutu air terkait dengan paracetamol dan hal ini termasuk emerging pollutan. Dari paparan para ahli juga jumlahnya relatif kecil, dan kecil kemungkinan untuk mengganggu kesehatan. Meskipun demikian, kita bersyukur dengan adanya penelitian LIPI ini maka kita tidak tertinggal dengan negara lain yang saat ini juga mengalami dan mencari solusinya”, ujarnya.
 
Berbicara mengenai tantangan penanganan pencemaran di Teluk Jakarta, Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Sigit Reliantoro mengatakan Teluk Jakarta merupakan muara dari 13 sungai. Kalau dilihat dari segi daya dukung dan daya tampung memang sebagian besar dari Jakarta, yang juga dipengaruhi oleh daerah di sekitarnya. Secara umum sumber pencemaran kegiatan rumah tangga (domestik) yang berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, USK, kegiatan industri.
 
“Upaya paling efisien untuk penanganannya yaitu dilakukan sejak dari sumbernya. Jadi masing-masing daerah melakukan identifikasi sumber pencemarnya. Jadi kunci utamanya yaitu kolaborasi untuk perbaikan kualitas air laut di Jakarta khususnya,” kata Sigit.
 
Menindaklanjuti hasil penelitian ini, KLHK bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat-obatan baik terutama obat yang tersedia bebas di pasaranan. KLHK dan BPOM melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penanganan obat-obatan kadaluarsa, sehingga dikelola dengan baik dan tidak terbuang langsung ke lingkungan tanpa pengelolaan. Saat ini BPOM bersama KLHK sedang menyusun modul pelatihan pengelolaan limbah obat kadaluarsa.
 
KLHK dan BRIN akan membentuk Working Group Pengelolaan Contaminants of Emerging Concern, bekerjasama dengan kementerian teknis terkait dan Perguruan Tinggi. KLHK juga bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat-obatan baik terutama obat yang tersedia bebas di pasaran.
 
Ke depan KLHK akan bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap: pengelolaan limbah farmasi khususnya yang mengandung paracetamol, serta peningkatan kinerja pengolahan air limbah yang mengandung paracetamol baik untuk industri, fasyankes, maupun air limbah domestik.

KONTAMINASI PARACETAMOL DI TELUK JAKARTA PERLU PENELITIAN LEBIH LANJUT https://www.ppkl.menlhk.go.id./website/index.php?q=1036&s=3d41b7fd29fc9b4ab18b63e1727b59b9eb5df1e2

BPL – Pertemuan 1. Apakah bioindikator itu dan mengapa penting?


Assalamualaikumwarohmatullah wabarokaatuh. Apa kabar anda semua? Alhamdulillah sudah seharusnya kita mengucapkan syukur atas besarnya karuania yang dilimpahkan Allah Subhanahuwata`ala terhadap kita semua. Limpahan nikmat lahir (kekayaan dan kesehatan) dan serta nikmat bathin (ketenangan, khusyu, dan keamanan) yang tidak terhitung jumlahnya. Maka pantaslah bagi kita untuk selalu bersyukur bahkan selayaknya kita memohon ampunan (istigfar) atas segala perbuatan kita yang tidak akan bisa mengerjakan semua amalan yang diperintahkan-Nya. Sholawat serta salam kita mohonkan agar selalu dilimpahkan kepada Nabi terakhir dan terbaik Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Hadirin rahimakumullah, peserta kuliah Bioindikator Pencemaran Lingkungan. Apakah anda selalu merasakan kondisi lingkungan di sekitar kita ini selalu membaik atau semakin buruk? Lalu bagaimana caranya mengetahui perubahan kondisi ini dengan menggunakan berbagai penanda perubahan, baik penanda fisiologis atau perilaku biota juga perubahan distribusi, kelimpahan, dan juga genetika populasi organisme yang bisa memberi kita informasi lebih baik tentang penyebab perubahan lingkungan? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk dikaji, bukan hanya bagi ahli biologi, namun juga penting bagi seluruh makhluk hidup. karena perubahan kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati akan mengubah siklus hidup serta transfer materi dan energi secara keseluruhan.

Terkait hal tersebut, maka keberadaan indikator biologis dari perubahan lingkungan adalah sangat diperlukan karena bermanfaat untuk mengukur ‘kualitas hidup’ lingkungan dalam konteks yang lebih luas. Di bawah ini akan diuraikan bagaimana perubahan yang terjadi dalam karakteristik biologis yang dimiliki hewan dan tumbuhan yang dikenal sebagai ‘Bioindikator’ dapat memberi tahu kepada kita tentang sifat dan tingkat keparahan perubahan lingkungan.

Apa itu bioindikator? Bioindikator secara luas dapat didefinisikan sebagai biota yang dikembangkan sebagai indikator kualitas lingkungan. Bioindikator dapat berupa komponen biotic (hewan, tumbuhan, mikroba, alga, dan fungi), atau manusia yang dijumpai dalam suatu ekosistem (Burger 2006). Sebagai contoh bioindikator yang banyak digunakan adalah Burung Kenari. Burung jenis ini sering digunakan untuk mendeteksi keberadaan karbon monoksida (CO) dan metana di lokasi tambang karena sensitivitas tinggi yang dimiliki oleh burung terhadap keberadan gas-gas berbahaya tersebut. Dalam contoh ini, keberadaan burung kenari mampu memberikan peringatan dini tentang kondisi lingkungan yang membahayakan bahkan pada akhirnya bisa mematikan bagi manusia.

Namun hal ini bukan satu-satunya peran bioindikator, namun secara umum bioindikator seringkali digunakan untuk menilai perubahan kualitas lingkungan dari waktu ke waktu. Meskipun kemajuan teknologi baru-baru ini juga memungkinkan pengukuran kualitas lingkungan yang lebih akurat mengenai potensi penyebab tekanan pada lingkungan, namun pengukuran perubahan pada tingkat penyebab tekanan (stress) itu sendiri tidak memberi tahu kita apa-apa tentang dampaknya, sehingga keberadaan bioindikator menjadi hal yang tidak tergantikan keberadaannya.

Sebagai contoh, pengukuran suhu yang luas dan terkoordinasi akan memungkinkan kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang lintasan dan kecepatan pemanasan iklim, dan adanya pencitraan satelit akan memungkinkan kita untuk mengukur kehilangan dan fragmentasi habitat. Tapi pertanyaan selanjutnya apa konsekuensi dari semua perubahan ini untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem yang dihasilkan? Sebagaimana kita ketahui bahwa nikmat keanekaragaman hayati ini sangat penting bagi kehidupan manusia, selain menciptakan berbagai kenikmatan juga menuntut manusia untuk terus berkreasi sesuai tuntunan Rasul-Nya dalam lingkup ibadah hanya kepada Allah Subhanahuwata`ala.

Tentunya menggabungkan data tentang perubahan lingkungan yang dikumpulkan menggunakan teknologi yang semakin canggih disertai dengan memantau respons bioindikator yang peka terhadap perubahan lingkungan ini memberikan akan tantangan ilmiah yang menarik dan sangat diperlukan untuk saat ini dan mendatang.

Sumber bacaan.

Jones, G. (2012). What bioindicators are and why they are important. Pp. 18-19 in Flaquer, C. & Puig-Montserrat, X. eds. Proceedings of the International Symposium on the Importance of Bats as Bioindicators. Museum of Natural Sciences Edicions, Granollers.