Ketahanan Kesehatan Lingkungan

Banyaknya jumlah populasi manusia saat ini telah menempatkan berbagai beban ekstrim pada sumber daya lingkungan lokal maupun global. Berbagai gangguan akibat aktivitas manusia termasuk kualitas udara, air dan makanan telah meningkatkan tantangan adaptasi pengelolaan limbah dari kegiatan manusia dan pencegahan, pengendalian dan pengobatan penyakit.  Bahkan, saat ini manusia telah memasuki “antroposen”, yakni sebuah zaman di mana lingkungan global didominasi oleh aktivitas manusia.

Sekarang mulai banyak dipertanyakan bagaimana kemampuan populasi manusia untuk tumbuh, dan bahkan bagaimana agar manusia bisa terus ada di planet ini tanpa terjadi perubahan signifikan cara berinteraksi dengan lingkungan global. Namun yang lain menunjukkan prediksi yang mengerikan tentang kerapuhan umat manusia menuju kepunahan dan telah dibuat selama ribuan tahun lalu.

Bagaimana konsep resiliensi (ketangguhan) ini dapat diterapkan pada disiplin kesehatan lingkungan, misalnya kualitas air? Siklus hidrologi global yang tercemar memiliki kemampuan sendiri untuk memurnikan air melalui penguapan, pengembunan, pengendapan, penyusupan, dan perembesan melalui sistem atmosfer dan terestrial secara alami. Siklus ini hampir seluruhnya ditenagai oleh Matahari, sehingga sangat sedikit air yang hilang ke angkasa. Jadi ini merupakan sistem yang sangat berkelanjutan dan tangguh. Demikian pula, prinsipnya sistem pemurnian air minum dan air limbah berbasis teknologi adalah meniru siklus hidrologi alami dalam banyak hal. Perbedaannya adalah membutuhkan masukan energi yang lebih banyak dan meningkat secara signifikan menggunakan minyak bumi dan sumber daya manusia. Kerentanan fasilitas pengolahan air terhadap bencana alam dan bencana buatan manusia secara substansial akan mengurangi ketahanan sistem ini dan tidak cukup cepat untuk mencegah penderitaan manusia dari dampak kerusakan lingkungan.

Ketersediaan dan kualitas pangan adalah contoh lain di mana sistem alam menyediakan ketahanan (reproduksi spesies hewan dan tumbuhan), asalkan permintaannya tidak terlalu besar. Ketika masyarakat “pemburu-pengumpul” manusia prasejarah digantikan dengan masyarakat agraris, populasi manusia meningkat secara eksponensial karena peningkatan ketersediaan makanan dan peningkatan teknik penyimpanan makanan.

Namun, populasi manusia sekarang semakin bergantung pada tanaman pertanian “monokultur”, yang lebih rentan terhadap tantangan alam dan buatan manusia (misalnya, penyakit dan perubahan iklim). Sekali lagi, ini adalah contoh peningkatan kepadatan populasi manusia yang mengurangi ketahanan alami sistem.

Cara berpikir lain tentang hal ini adalah bahwa “penyangga” ketahanan alami telah berkurang melalui meningkatnya tuntutan manusia terhadap sumber daya lingkungan yang terbatas. Padahal di masa lalu, populasi manusia kecil mungkin telah bertahan terhadap perubahan signifikan di lingkungan kita karena kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas manusia, gaya hidup modern kita telah membatasi jangkauan kondisi yang dapat diterima serta toleransi kita terhadap perubahan. Sementara kelompok kecil manusia yang terisolasi mungkin pada akhirnya dapat bertahan dari bencana jangka pendek, kelangsungan hidup manusia jangka panjang setelah bencana global tidak dijamin, dan mungkin bahkan tidak mungkin.

.Komponen kunci dari ketahanan sistem manusia (termasuk kesehatan lingkungan) adalah peningkatan perencanaan untuk rentang yang lebih luas dari perubahan alam dan antropogenik (misalnya, iklim, permukaan laut, terorisme) agar lebih cepat dan tepat menanggapi perubahan ini. “Mitigasi bahaya” atau “adaptasi terencana” lingkungan ini disajikan di sini sebagai perencanaan untuk tantangan kesehatan lingkungan masa depan yang tidak dapat diprediksi secara historis vs. “tanggapan darurat” untuk tantangan yang lebih acak, sporadis, dan relatif berumur pendek.

Kesimpulan

1. Manusia terbukti sangat mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan sosial. Kemampuan beradaptasi ini adalah salah satu sifat utama yang memungkinkan manusia menjadi spesies dominan di Bumi.

2. Manusia mampu mengatasi atau menghindari banyak “pemeriksaan dan keseimbangan” yang biasanya dikenakan pada pertumbuhan sistem alami seperti berbagai persediaan makanan dan air, tempat berlindung, dan penyakit yang telah membatasi spesies lain untuk mencapai dominasi global. Namun, dominasi kita datang dengan harga – menjadi lebih rentan terhadap perubahan alam dan antropogenik yang pada akhirnya dapat menggantikan kita sebagai spesies dominan.

3. Oleh karena itu, manusia harus mempertimbangkan cara-cara di mana kita dapat meningkatkan ketahanan sebanyak mungkin dalam sistem alam, sistem teknologi buatan manusia, dan sistem kesehatan lingkungan sehingga manusia dapat merespons dan memulihkan diri dengan lebih baik dari tantangan dari lingkungan dan diri kita sendiri.

Sumber Kutipan

Environmental Health Resilience https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3595985/#!po=2.50000

Konsep Ekologi Industri (1)

Secara singkat ekologi industri berarti ilmu yang mempelajari interaksi antara sistem industri dengan biologi/lingkungannya. Jadi dalam ekologi industri dipelajari mengenai bagaimana interaksi antar komponen stok (industri, alam, manusia) membentuk aliran (flow) yang berlangsung stabil dan berkelanjutan. Tentunya anda perlu mempelajari apa saja stok (level/tingkat) yang ada dalam sebuah industri dan flow (laju/rate) seperti apa yang terbangun dalam industri tersebut.

Stock (level) adalah kumpulan benda (biotik dan abiotik) yang bisa menghasilkan informasi tertenut dan akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan atau pengambilan keputusan. Perubahan kondisi stock hanya disebabkan terjadinya aliran (flow). Flow adalah aliran yang berubah sesuai fungsi waktu dan merupakan proses yang langsung mempengaruhi stock. Flow juga menggambarkan adanya gerakan materi dan informasi dalam sistem. Flow merupakan satu-satunya variabel dalam model yang dapat mempengaruhi level dan dan menggambarkan laju perubahan suatu level. Notasi Diagram Stok dan Flow dapat dilhat pada Gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Notasi Diagram Stok dan Flow. Sumber : http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/127048-T%2026304-Analisis%20hubungan-Metodologi.pdf

Prinsip Ekologi Indsutri :

  • Ekologi Industri secara lebih spesifik disebut juga sebagai proses industri dengan alur tertutup. Jika dalam alur terbuka setiap material yang bergerak melalui sistem menjadi buangan yang tak terpakai, lain dengan alur tertutup yang setiap buangan / limbah hasil olah suatu industri menjadi material bagi industri-industri lain.
  • Ekologi industri juga merupakan suatu sistem yang digunakan untuk mengelola aliran energi atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi.
  • Ekologi industri ini merupakan salah satu konsep untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan.
  • Ekologi industri merupakan multi disiplin ilmu yang membahas masalah sistem industri, aktivitas ekonomi dan hubungannya yang fundamental dengan sistem alam

Pustaka

Ekologi Industri atau Industrial Ecology

https://siputeknik.blogspot.com/2016/09/mengenali-apa-itu-ekologi-industri.html

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/127048-T%2026304-Analisis%20hubungan-Metodologi.pdf

Ekologi Lanjut – Pertemuan 8. Autekologi dan Sinekologi

Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya. Berikut ini adalah materi mendasar yang membahas mengenai Pengertian Ekologi. Konsep ini sangat penting difahami untuk menjadi acuan memelajari ekologi lanjut.

Berdasarkan kategori keilmuannya kajian ekologi dapat dibagi menjadi dua macam yakni Autekologi dan Sinekologi.

AUTEKOLOGI

Autekologi, yaitu cabang ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dari segi autekologi, maka bisa dipelajari : (1) pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis biota yang sifat kajiannya mendekati fisiologi, (2) pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis biota tertentu. Bahkan dalam autekologi dapat dipelajari (3) pola perilaku suatu jenis binatang liar, sifat adaptasi suatu jenis binatang liar, maupun sifat adaptasi suatu jenis pohon. Sub divisi dari autekologi meliputi : demekologi (spesiasi), ekologi populasi dan demografi (pengaturan ukuran populasi), ekologi fisiologi atau ekofisiologi, dan genekologi (genetika). Contoh autekologi misalnya mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap lingkungan. Jadi, jika kita mempelajari hubungan antara pohon Pinus merkusii dengan lingkungannya, maka itu termasuk autekologi. Contoh lain adalah mempelajari kemampuan adaptasi kutu di padang alang-alang, dan lain sebagainya.

SINEKOLOGI

Sinekologi, yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Dari segi sinekologi, dapat dipelajari : (1) berbagai kelompok jenis makhuk hidup sebagai suatu komunitas, dan (2) pengaruh berbagai faktor ekologi terhadap kondisi populasi, baik populasi tumbuhan maupun populasi binatang liar yang ada di dalamnya. misalnya mempelajari pengaruh keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi dan struktur vegetasi, atau terhadap produksi hutan.  Contoh sinekologi : mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya. Contoh lainnya adalah : mempelajari strktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka marga satwa, atau di taman Nasional, dan lain sebagainya.

Sebagai perbandingan perbedaan antara sinekologi dan autekologi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.  Meskipun berbeda, pada prinsipnya, kajian autekologi dan sinekologi itu sangat penting dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mewujudkan tujuan konservasi keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Tabel 1.  Perbandingan perbedaan antara sinekologi dan autekologi

Autekologi Sinekologi
*  Bersifat eksperimental *  Bersifat filosofis
*  Induktif *  Deduktif
*  Kuantitatif *  Deskriptif (umumnya)
*  Dapat dilakukan berdasarkan rancangan percobaan *  Sulit dengan pendekatan rancangan percobaan

TUGAS

  1. Berikan komentar terkait dengan tulisan Ekologi Lanjut – Pertemuan 8. Autekologi dan Sinekologi pada halaman ini
  2. Setelah anda membaca tulisan di atas, silakan klik tautan berikut ini untuk mengerjakan soal latihan dan membuat ulasan

Pengertian ekologi

Ekologi secara harfiah berasal dari kata Yunani oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Dengan demikian, ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi diantara sesama makhluk hidup dan interaksi yang terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Dalam hal ini, makhluk hidup menjadi suatu kesatuan atau sistem yang terintegrasi dengan lingkungannya.

Pembahasan ekologi tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain terdiri dari faktor fisika (suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi) dan kimia (kesadahan, kelarutan, molalitas, pH, dan lain-lain). Sedangkan yang dimaksud dengan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari empat komponen utama yakni manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.

Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu individu, populasi, komunitas, dan ekosistem. Setiap tingkatan tersebut bersifat yang saling mempengaruhi dan menjadi suatu sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Ekologi sebagai bagian dari biologi dan ilmu lainnya bekerjasama dan saling melengkapi pengetahuan dengan antropologi, botani, zoologi dan mikrobiologi, Kerjasama yang teratur seperti ini tentunya tidak terlepas dari pengaturan yang dilakukan oleh Allah subhanahuwata`ala sebagai satu-satunya Dzat Pencipta alam semesta ini.  Oleh karena itu sudah sepantasnya kita untuk beribadah dan bertauhid hanya kepada-Nya.

Berkaitan dengan hal ini, para ahli ekologi menyimpulkan bahwa kajian utama ekologi adalah mempelajari hal berikut:

  1. Keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem pada tempat dan skala waktu yang berbeda.
  2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang menyebabkannya.
  3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  4. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.

Beberapa Cabang Ilmu dari Ekologi

Karena sifatnya yang masih sangat luas, maka ekologi mempunyai beberapa cabang ilmu yang lebih fokus.  Berdasarkan pendalaman kajian dan tingkat organisasinya ekologi dibagi menjadi :

  • Ekologi perilaku
  • Ekologi komunitas atau sinekologi
  • Ekologi populasi
  • Ekologi ekosistem
  • Ekofisiologi
  • Ekologi evolusioner
  • Global ecology

Berdasarkan obyek pengamatan maka ekologi dibagi menjadi :

  • Ekologi manusia
  • Ekologi hewan
  • Ekologi tumbuhan
  • Ekologi mikroba

Berdasarkan lokasi atau tempat tinggal maka ekologi dibagi menjadi :

  • Ekologi terestrial / daratan
  • Ekologi perairan
  • Ekologi lahan basah
  • Ekologi urban
  • Ekologi perdesaan

_________________________________ ak ___________________________________________

Masalah2 Penting dalam Kajian Biodiversitas

Masalah-masalah yang diangkat dalam tema biodiversitas antara lain :

  1. Biological population problems
  2. Dynamics of renewable resources
  3. Bioinformatics and Systems Biology
  4. Dynamics of infectious diseases transmission
  5. Utilizing renewable resources in fishery and forestry industries
  6. Biomathematic with economic and conservation issues
  7. Bioengineering and Synthetic Biology
  8. Controlling infectious diseases

Memahami Konsep Suksesi

Pada prinsipnya semua bentuk ekosistem akan mengalami perubahan baik struktur maupun fungs inya dalam perjalanan waktu. Beberapa perubahan mungkin hanya merupakan fluktuasi lokal yang kecil sifatnya, sehingga tidak memberikan arti yang penting. Perubahan lainnya mungkin sangat besar / kuat sehingga mempengaruhi sistem secara keseluruhan.

Perubahan ekosistem ini pada dasarnya dapat disebabkan oleh berbagai penyebab utama yaitu :
a. Akibat perubahan iklim. Perubahan atau fluktuasi iklim dalam skala dunia yang meliputi ribuan tahun telah memberikan reaksi penyesuaian dari ekosistem di dunia ini. Bentuk perubahan ini meliputi erubahan dalam perioda waktu yang lama dari penyebaran tumbuhan dan juga hewan, yang khirnya sampai pada bentuk-bentuk ekosistem sekarang.
b. Pengaruh dari faktor luar. Faktor luar seperti api, penginjakan, atau polusi dapat menginduksi perubahan ekosistem baik untuk sementara maupun untuk waktu yang relatif lama.
c. Karakteristika dalam sistem sendiri.Ini merupakan suksesi ekologi, yang dapat diartikan sebagai perubahan dalam ekosistem
ang berkembang ke arah pemasakan atau pematangan atau ”steady state”. Seperti yang dipahami bahwa ekosistem merupakan sistem yang terbuka, mempunyai kapasitas untuk pengaturan diri oleh sistem umpan balik negatif. Artinya ekosistem mengarah pada keseimbangannya, berupa ekosistem yang stabil.

Suksesi vegetasi, adalah peristiwa pergantian komunitas vegetasi dari suatu aras (stage) ke aras berikutnya yang lebih kompleks. Sebagai contoh, ketika pada tahun 1883 G. Krakatau meletus maka daratan pulau Krakatau bersih sama sekali dari tumbuhan. Dua tahun setelah letusan maka tumbuhan pertama adalah ganggang biiru dan hijau di dekat pantai pulau. Lima tahun kemudian, komunitas tumbuhan paku-pakuan mendominasi. Sepuluh tahun kemudian, komunitas rumput tumbuh dan membentuk padang rumput. Dua puluh lima tahun setelah meletus, padang rumput mulai bercampur dengan semak belukar. Pohon Ficus macaranga tumbuh berpencaran di padang rumput belukar tersebut. Lantas, 40-50 tahun kemudian asosiasi
pohon mulai membantuk hutan. Akhirnya, seratus tahun kemudian, pulau Krakatau telah didominasi oleh hutan hujan tropis. Nah, pergantian dari satu status komunitas ke komunitas lainnya disebut sebagai suksesi. Ketika 100 tahun kemudian, ketika hutan telah mendominasi P. Krakatau maka kondisi ini disebut sebagai klimaks vegetasi.

Suatu komunitas tumbuhan akibat adanya longsor, banjir, letusan gunung berapi dan atau pengaruh kegiatan manusia akan mengalami gangguan atau kerusakan yang parah. Hancurnya komunitas tumbuhan ini akan menimbulkan situasi terbukanya permukaan tanah, yang terjadi rimbun tertutup lapisan vegetasi/komunitas tumbuhan. Keadaan ini merupakan habitat baru yang
biasa digunakan sebagai tempat hidup tumbuhan liar, baik cepat maupun lambat. Vegetasi yang pertama kali masuk biasanya berupa tumbuhan pelopor atau pionir, yaitu tumbuhan yang berkemampuan tinggi untuk hidup pada keadaan lingkungan yang serba terbatas atau mempunyai berbagai faktor pembatas, seperti kesuburan tanah yang rendah sekali , kekurangan atau ketiadaan air dalam tanah; intensitas cahaya yang terlalu berlebihan/ tinggi dan sebagainya.

Kehadiran kelompok pionir ini akan menciptakan kondisi lingkungan tertentu yang memberikan kemungkinan untuk hidup tumbuhan lainnya. Koloni tumbuhan pionir ini akan menghasilkan proses pembentukan lapisan tanah, memecah batuan dengan akarnya dan membebaskan materi organik ketika terjadi pelapukan dari bagian tumbuhan yang mati. Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa vegetasi merupakan sistem yang dinamik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan.

Pengamatan yang lama pada pergantian vegetasi di alam menghasilkan konsep suksesi. Suksesi vegetasi menurut Odum adalah: urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut
Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks. Odum (1971) mengatakan bahwa adanya pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai keseimbangan biotik dan abiotik tercapai.

Tansley (1920) mendefinisikan suksesi sebagai perubahan tahap demi tahap yang terjadi dalam vegetasi pada suatu kecendrungan daerah pada permukaan bumi dari suatu populasi berganti dengan yang lain. Clements (1916) membedakan enam sub-komponen : (a) nudation; (b) migrasi; (c) excesis; (d) kompetisi; (e) reaksi; (f) final stabilisasi, klimaks.

Mueller-Dombois dan Ellenberg ( 1974), mengatakan bahwa suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses suksesi terjadi. Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal, terbentuk habitat baru. Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu baik secara alami atau buatan dan gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama masih ada.

Laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian menurun pada perkembangan berikutnya. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis tertentu. (Marsono dan Sastrosumarto, 1981). Soerianegara dan Indrawan (1988) menyebutkan dalam pembentukan klimaks terjadi 2 perbedaan pendapat yakni; paham monoklimaks dan paham polylimaks.

Paham monoklimaks beranggapan bahwa pada suatu daerah iklim hanya ada satu macam klimaks, yaitu formasi atau vegetasi klimaks iklim saja. Ini berarti klimaks merupakan pencerminan keadaan iklim, karena iklim merupakan faktor yang paling stabil dan berpengaruh. Paham polyklimaks mempunyai anggapan bahwa tidak hanya faktor iklim saja, seperti sinar matahari, suhu udara, kelembaban udara dan presipitasi, yang dapat menimbulkan suatu klimaks. Penganut paham ini sebaliknya berpendapat bahwa ada faktor lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya klimaks, yaitu edafis dan biotis. Faktor edafis timbul karena pengaruh tanah seperti komposisi tanah, kelembaban tanah, suhu tanah dan keadaan air tanah. Sedangkan biotis adalah
faktor yang disebabkan oleh manusia atau hewan, misalnya padang rumput dan savana tropika.

DAFTAR PUSTAKA
1. Neil A. Campbell, Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell, 2004. Biologi. Diterjemahkan oleh : Prof. Dr. Ir. Wasmen Manalu. Penerbit Erlangga.
2. Chapin, F.S., III, Matson, P.A., and Mooney, H.A. (2002). Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. New York, USA: Springer Science+Business Media, LLC.
3. Leksono, A.S. (2007). Ekologi Pendekatan Deskriptif dan Kuantitatif. Malang: Bayumedia.
4. Wirakusumah, S. (2003). Dasar-Dasar Ekologi bagi Populasi dan Komunitas. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
5. ht tp: / / i lmupedia.com/akademik/7/33-suksesi .html
6. ht tp: / /www. freewebs.com/ irwantomangrove/suksesi_mangrove.html

Tugas Presentasi Ekologi Terestrial-3 Isni Nuraziza M
19 November 2009 21309011

Memahami Konsep Efisiensi Ekologis (Ecological Efficiencies)

Transfer energi dan biomasa yang terjadi pada suatu sistem trofik terdiri dari tiga komponen: konsumsi, asimilasi, dan produksi; yang menentukan jumlah energi dan biomasa yang ditransfer selama proses amakan dimakan (feeding event). Semakin besar energi atau biomasa yang ditransfer, maka efisiensi trofiknya semakin tinggi (Newton, 2007). Produksi pada setiap tingkatan trofik (Prodn) bergantung pada besarnya produksi yang terjadi tingkatan trofik sebelumnya (Prodn-1) dan efisiensi trofik (Trophic EfficiencyEtroph), di mana produksi mangsa (Prodn-1) dikonversi ke produksi konsumen (Prodn) (Chapin et al., 2002). Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.

Prodn = Prodn-1 X Etroph = Prodn-1 X (Prodn / Prodn-1)

Gambar 1. Efisiensi pada Sistem Trofik (Chapin et al., 2002)
Gambar 1. Efisiensi pada Sistem Trofik (Chapin et al., 2002)

Pada ekosistem terrestrial, distribusi biomasa yang terjadi pada setiap tingkatan trofik dapat digambarkan dengan piramida yang serupa dengan piramida energi, dengan biomasa terbesar terdapat pada produsen primer dan semakin mengecil pada tingkatan di atasnya (Chapin et al., 2002). Hal ini dapat terjadi karena: (1) piramida energi menghasilkan ketersediaan energi untuk tingkatan trofik di atasnya semakin berkurang, karena adanya nergi yang dilepaskan pada setiap tingkatan trofuik sebelumnya. (2) Besarnya proporsi yang dilakukan oleh tumbuhan terrestrial pada jaringan strukturalnya memperkecil proporsi dari produksdi tumbuhan yang dapat diperoleh secondary production (Chapin et al., 2002).

2.2.1 Efisiensi Konsumsi (Consumption Efficiency)

Energi yang hilang di setiap tingkatan trofik membatasi produksi pada tingkatan trofik di atasnya. Faktor utama yang membedakan variasi efisiensi konsumsi pada herbivora adalah perbedaan alokasi tumbuhan pada strukturnya. Cara menghitung efisiensi konsumsi ini dapat dilihat pada persamaan di bawah ini (Chapin et al., 2002).

Efisiensi Konsumsi

Efisiensi konsumsi herbivora yang paling rendah umumnya terjadi di ekosistem hutan (kurang dari 1 % hingga 5 %) karena besarnya alokasi tumbuhan hutan pada struktur kayunya, yang tidak mudah untuk dikonsumsi herbivora (Chapin et al., 2002). Pada ekosistem padang rumput, efisiensi konsumsi hebivora lebih tinggi daripada di hutan (10 – 60 %) karena sebagian besar materi tumbuhannya bukan berupa materi berkayu. Efisiensi konsumsi herbivora tertinggi terdapat pada ekosistem pelagik (umumnya, lebih besar dari 40 %), ekosistem dengan sebagian besar biomasa tumbuhannya lebih banyak dialokasikan pada isi sel daripada dinding selnya (seperti alga) (Chapin et al., 2002).

Kandungan toksik alami tumbuhan (seperti kandungan metabolit sekunder tumbuhan) membatasi efisiensi konsumsi herbivora pada ekosistem terrestrial(Chapin et al., 2002). Selain itu, efisiensi konsumsi karnivora seringkali lebih tinggi daripada herbivora, yaitu antara 5-100%. Contohnya vertebrata predator yang memakan mangsa vertebrata lainnya, memiliki efisiensi konsumsi lebih besar dari 50%, menunjukkan bahwa lebih banyak mangsa yang dimakan daripada yang memasuki pool tanah sebagai detritus (Chapin et al., 2002)

2.2.2 Efisiensi Asimilasi (Assimilation Efficiency)

Efisiensi asimilasi ini merupakan proporsi dari energi yang dicerna (In) dan diasimilasikan (An) ke dalam aliran darah. Efisiensi Asimilasi dipengaruhi oleh kualitas makanan dan fisiologi konsumen. Materi yang tidak terasimilasi kemudian dikembalikan ke tanah dalam bentuk feces, komponen input bagi detritus-sistem. Cara menghitung efisiensi asimilasi ini ditunjukkan dengan persamaan di bawah ini (Chapin et al., 2002).

Efisiensi asimilasi

Efisiensi asimilasi seringkali lebih besar (sekitar 5-80%) daripada efisiensi konsumsi (0,1-50%). Karnivora pemakan vertebrata cenderung memiliki efisiensi asimilasi yang lebih tinggi (sekitar 80 %) daripada herbivora terrestrial (5-20%) karena karnivora tersebut memakan makanan dengan structural yang lebih kecil daripada yang terdapat pada tumbuhan terrestrial (Chapin et al., 2002).

2.2.3 Efisiensi Produksi (Production Efficiency)

Efisiensi produksi adalah proporsi dari energi yang terasimilasi yang dikonversi terhadap produksi hewan. Efisiensi produksi ini meliputi pertumbuhan dari individu dan proses reproduksi untuk membentuk individu baru. Efisiensi produksi ini terutama dipengaruhi/ditentukan oleh metabolisme hewan. Cara menghitung efisiensi produksi ini ditunjukkan dengan persamaan di bawah ini (Chapin et al., 2002).

Efisiensi Produksi

Energi asimilasi yang tidak tergabung dalam produksi hilang ke lingkungan dalam bentuk respiratory heat. Efisiensi produksi untuk setiap individu hewan bervariasi dari kurang dari 1 % hingga 50 % dan sangat berbeda antara homoeterm (Eprod 1-3%) dan poikiloterm (Eprod 10-50%) (Chapin et al., 2002). Homoeterm menghabiskan sebagian besar energi yang diasimilasikannya untuk mempertahankan suhu tubuh agar konstan. Efisiensi produksi pada homoiterm ini berkurang dengan semakin kecilnya ukuran tubuh. Efisiensi produksi pada poikiloterm relatif tinggi (sekitar 25%) dan cenderung menurun dengan bertambahnya ukuran tubuh (Chapin et al., 2002).

Pustaka :

Chapin, F.S., P. A. Matson., H. A. Mooney. 2002. Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. Springer. United States of America.

Newton, P. D. 2007. Agroecosystems in a Changing Climate. http://books.google.co.id/books.

Kontributor :

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-1 SITH ITB

Isni Nuraziza M

27 Oktober 2009

21309011

Jejaring Makanan dalam Sistem Trofik

Jaring-jaring makanan merupakan kumpulan dari organisme yang dihubungkan satu sama lain dengan adanya transfer energi dan nutrisi yang berasal dari sumber yang sama (Chapin et al., 2002). Tingkatan trofik pada jaring-jaring makanan ini melibatkan produsen (umumnya berupa tumbuhan dan organisme autotrof lainnya) pada tingkatan trofik pertama, konsumen I (yang umumnya berupa herbivora) pada tingkatan trofik kedua, konsumen II (berupa karnivora atau predator) pada tingkatan ketiga, dan seterusnya.

Menurut Newton (2007), struktur trofik pada sebuah jaring-jaring makanan tergantung pada kelimpahan (abundance), penyebaran (distribution), dan sumber makanan pada setiap organisme. Selain itu, sistem trofik ini biasanya melibatkan detrivora (kelompok yang memakan substrat detritus); herbivora (pemakan materi tumbuhan), bakteriovora (pemakan bakteri), fungivora (pemakan fungi), dan predator (pemakan hewan yang masih hidup). Sistem trofik ini sering digambarkan dalam bentuk plant-based (materi tumbuhan hidup) atau yang dikenal dengan istilah Plant-Based Trophic Systems dan detritus-based (seperti, pada tumbuhan dan hewan yang telah mati) atau dikenal dengan istilah Detritus Based Trophic Systems (Chapin et al., 2002 dan Newton, 2007).

Dua faktor yang mengontrol jaring-jaring makanan dalam sistem trofik, baik dalam plant-based trophic systems maupun dalam detritus based systems ini adalah:

  1. Bottom-Up Control, yaitu ketika ketersediaan makanan pada base dari rantai makanan (baik tumbuhan maupun detritus) membatasi produksi tingkatan di atasnya

  2. Up-Down Control, yaitu pengaruh dari keberadaan predator terhadap kelimpahan mangsanya (Chapin et al., 2002). Pada sejumlah spesies, interaksi yang kuat antara predator dan mangsanya ini dapat menghasilkan fenomena yang dikenal dengan “Trophic cascade” (Paine, 1980 dalam Chapin et al., 2002).

Sumber tulisan :

Program Pascasarjana SITH ITB

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-2

Isni Nuraziza M

05 November 2009

21309011

Memahami Konsep Trophic Cascade

Trophic cascade merupakan suatu gambaran interaksi yang menunjukkan pengaruh dari predator terhadap kelimpahan pada tingkatan di bawahnya. Interaksi yang terjadi antara predator dan mangsa ini sangat kuat dan memengaruhi pula terhadap sumber daya yang dikonsumsi oleh mangsa si predator (tingkatan di bawah mangsa di predatornya). Oleh karena itu, trophic cascade ini merupakan top-down control dalam sistem trofik.

Menurut Chapin et al. (2002), trophic cascade merupakan efek top-down dari predator terhadap biomasa organisme yang berada pada tingkatan trofik lebih rendah; menghasilkan tinggi dan rendahnya perubahan biomasa organisme pada tingkatan trofik secara berturut-turut. Menurut Beckerman et al. (1997), trophic cascade ini merupakan interaksi tidak langsung predator dengan sumber daya (resources) yang dikonsumsi oleh (Beckerman et al., 1997). Predasi yang dilakukan suatu organisme pada satu tingkatan trofik akan mengurangi kepadatan (density) mangsanya (Carpenter et al. 1985, Pace et al. 1999 dalam Chapin et al., 2002) dan akan memengaruhi pula terhadap tingkatan trofik di bawah mangsanya tersebut.

Dalam trophic cascade ini, jumlah tingkatan trofik akan memengaruhi struktur dan dinamika ekosistem. Dalam situasi ini akan terlihat bahwa perubahan kelimpahan pada suatu tingkatan trofik dapat mengubah kelimpahan tingkatan trofik lainnya lebih dari satu jalur dalam jaring-jaring makanan (Pace et al., 1999 dalam Chapin et al., 2002)). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada contoh di Gambar 1, bagaimana panjangnya suatu rantai makanan (banyaknya tingkatan trofik) dapat memengaruhi kelimpahan produsen yang terdapat pada base dalam tingkatan trofik.

Gambar 1.Efek panjangnya suatu rantai makanan terhadap biomasa produsen primer dalam kondisi berlakunya Trophic cascade.
Gambar 1.Efek panjangnya suatu rantai makanan terhadap biomasa produsen primer dalam kondisi berlakunya Trophic cascade.

Pada Gambar 1, dapat kita lihat bahwa biomasa tumbuhan berlimpah ketika jumlah tingkatan trofik gasal (satu, tiga, lima, dan seterusnya). Hal ini disebabkan karena rendahnya biomasa herbivora. Ketika jumlah tingkatan trofik genap (dua, empat, enam, dan seterusnya), biomasa tumbuhan menurun karena biomasa herbivora lebih besar. Contoh lainya ialah pada ekosistem sungai. Biomasa alga di sungai umumnya rendah pada jumlah tingkatan trofik yang genap (dua, empat, dan seterusnya) dan jumlah tingkatan trofik yang ganjil dalam trophic cascade ini akan mengurangi biomasa dari herbivora dan menyebabkan alga melimpah (Fretwell, 1977 dalam Chapin et al., 2002).

Literatur ekologi memiliki beberapa contoh bagaimana predator memengaruhi komunitas di alam, dalam fenomena Trophic cascade. Dalam sistem tingkatan tiga trofik, yang terdiri dari produsen (pada tingkatan pertama), herbivora (tingkatan kedua), dan karnivora (pada tingkatan trofik ketiga), proses pemangsaan terjadi oleh karnivora (predator) terhadap herbivora (mangsa). Pada sistem ini, dapat dilihat bagaimana trophic cascade ini digambarkan pada kelimpahan tumbuhan yang diakibatkan dari pengaruh karnivora terhadap populasi herbivora (Beckerman et al., 1997).

Predator dari herbivora ini dapat memengaruhi populasi tumbuhan melalui dua cara, dengan mengubah kepadatan herbivora (herbivore density) atau melalui perilaku (behavior-mediated effects), atau bisa juga dengan keduanya (Beckerman et al., 1997). Karnivora dapat memengaruhi kepadatan herbivora dengan mengonsumsi langsung herbivora. Dengan demikian, keadaan ini dapat mengurangi herbivora yang memakan tumbuhan (produsen). Secara tidak langsung, pemangsaan ini menginduksi adanya perubahan perilaku pada herbivora, seperti pada waktu makannya (feeding time) dan pemilihan jenis makannya (diet selection), mengurangi dampak herbivora tersebut terhadap tumbuhan (Beckerman et al., 1997).

Sumber tulisan :

Program Pascasarjana SITH ITB

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-2

Isni Nuraziza M

05 November 2009

21309011

Memahami konsep keanekaragaman bentang alam (landscape heterogeneity)

Bentang alam atau ansekap merupakan sebuah gambaran bentuk permukaan bumi (mosaik) dengan berbagai fragmentasi habitat yang berbeda-beda, baik sifat dan kepentingannya secara ekologis.  Sebagai bagian dari ekosistem, berbagai ukuran, bentuk, dan distribusi fragmen dapat bervariasi secara substansial, dimana fragmentasi ini akan berinteraksi dan membuat umpan balik satu sama lain.

Sedangkan fragmentasi secara sederhana didedinisikan sebagai “disruption of continuity” baik pada dimensi spatial, temporal or functional. Bentuk muka bumi atau apapun yang tidak bersambungan lagi disebut sebagai daerah terfragmen. Pada konteks lansekap (bentang alam)term fragmentasi dimulai dari teori island biogeography, patch-matrix-corridor, hierarchical theory, habitat variegation hingga yang terkini umwelt-continuum model. Dari serangkain teori tersebut, terdapat perbedaan mendasar dalam asumsinya. Hanya saja teori umwelt-continuum model dikatakan lebih ekologis karena mempertimbangkan sudut pandang organisme dalam melihat “disruption of continuity”, sedangkan teori sebelumnya hanya interpretasi manusia.

Apa yang menyebabkan suatu lansekap terfragmen ?

Gangguan (disturbance) diduga sebagai penyebab fragmentasi, dimana intensitas dan distribusi gangguan yang bervariasi secara temporal dan spasial, akan menyebabkan berbagai perubahan wujud muka bumi yang tidak sama. Gangguan yang timbul bisa saja berbentuk kebakaran, letusan gunung berapi, banjir, penebangan hutan, pembukaan lahan pertanian, urbanisasi, bahkan pengambilan satu batang pohon di tengah hutan pun bisa dikategorikan sebagai bentuk gangguan. Dengan demikian, dampak gangguan terhadap ekosistem berbeda-beda juga, tergantung dari skala (resolusi dan jangkauan luas) dan intensitasnya. Perlu diingat, bahwa sebelum ada gangguan belum tentu ekosistem berada pada kondisi stabil atau klimaks.

Apa yang terjadi pada ekosistem selama atau setelah terjadi gangguan ?

Gangguan dalam skala besar mampu mengubah muka bumi (kondisi fisik), dimana hal ini akan mengubah struktur dan komposisi komponen ekosisitem baik pada tingkat lansekap (kumpulan mosaik) atau tingkat patch (kumpulan populasi dan jenis). Perubahan struktur dapat berupa berubahnya ukuran, bentuk, susunan, sedangkan perubahan komposisi berupa hilangnya beberapa sumberdaya dan timbulnya sumberdaya yang lain. Perubahan ini juga menyebabkan perubahan aliran materi dan energi kedalam dan keluar ekosistem. Aliran materi bisa berupa organisme, biji, debu, partikel, air, udara dan lainnya. Sedangkan aliran energi utamanya bersumber dari aliran sinar mh atahari yang menembus ekosistem. Aliran ini menyebabkan perubahan iklim mikro, perubahan kelimpahan organisme dan perubahan struktur dan komposisi komponen ekosistem.

Beberapa patch lansekap memiliki hot spots biogeokimia yang tinggi, sehingga kedudukannya dianggap lebih penting daripada wilayah yang perlindungan yang disarankan. Hal ini disebabkan karena pengaturan lingkungan pada hot spot itu berbeda jauh dibandingkan pengaturan disekitar matriks , yaitu jenis patch utama dalam lanskap. Ukuran, bentuk, dan distribusi patch dalam lanskap memiliki peran mengatur interaksi di antara tambalan lansekap dimana ukuran patch berpengaruh terhadap heterogenitas habitat. 

Apa pengaruhnya bagi biota ?

Dampak gangguan akan sangat tergantung dari respons individual dari biota yang terkena dampak. Perubahan tutupan lahan dan hasil ikutannya akan menyebabkan perubahan ketersediaan sumberdaya dan kondisi lingkungan. Perubahan ketersediaan sumberdaya (pakan, pelindung, ruang) dan kondisi lingkungan (cuaca, predasi, kompetisi) akan direspon secara fungsional (perubahan laju konsumsi sumberdaya),  numerikal (perubahan jumlah individu yang mengkonsumsi) atau developmental (perubahan pertumbuhan badan) oleh setiap individu.

Ada biota tertentu yang menyukai banyak sinar matahari sehingga kelimpahan meningkat di sekitar area yang terfragmen. Ada biota yang sensitif terhadap perubahan iklim mikro sehingga dia terpaksa berdiam diri survival di tengah-tengah patch. Ada biota yang secara tidak langsung terpengaruh dengan perubahan komposisi dan struktur vegetasi yang mengakibatkan perubahan kelimpahan sumberdaya. Ada biota yang sama sekali tidak terpengaruh. Suatu fragmentasi hutan, terutama di Indonesia yang dikatakan mega biodiversity tentu saja direspon secara berbeda oleh masing-masing organisme, sehingga sulit untuk generalisir dampak fragmentasi terhadap komunitas biota secara keseluruhan. Pada akhirnya untuk mengukur respon biota tersebut secara mudah, maka harus dituangkan dalam term fitness (survival dan reproduksi). Term ini disarankan untuk digunakan untuk mengukur setiap pengaruh lingkungan terhadap organisme.

Bagaimana perkembangan dan trend penelitian tentang  respon organisme terhadap  fragmentasi ?

Perkembangan teori fragmentasi habitat :

  1. Teori fragmentasi habitat dimulai dengan teori island biogeography oleh MacArthur dan Wilson yang pada intinya menyatakan bahwa jumlah jenis organisme di suatu pulau berbanding lurus dengan luasannya dan berbanding terbalik dengan jarak dari pulau sumber organisme. Yang berasumsi bahwa suatu landscape hanya terdiri atas pulau yang bisa dihuni yang dikelilingi lautan yang tidak bisa ditempati (binary). Teori ini dikenal sebagai teori  patch-matrix-corridor. Dimana penerapan teori ini berimplikasi pada prinsip pemilihan area konservasi yang seluas-luasnya, sekompak mungkin, jika terfragmen harus dihubungkan dengan koridor. Namun hal ini menghadapi kendala besar, karena pada kenyataan dilapangan tidaklah seperti yang diperkirakan sebelumnya.

  2. Teori variegation model. Yang mengkategorikan bahwa landscape tidak hanya patch-matrix (binary) namun juga ada kondisi diantara patch dan matrix dengan asumsi bahwa fragmentasi adalah suatu process dan yang menghasilkan output (fragmented). Pandangan ini disebut antroposentris karena mengidentifikasi suatu vegetasi asal berdasarkan interpretasi manusia untuk semua organisma, yang belum tentu sesuai dengan interpretasi masing-masing organisme. Teori ini biasanya digunakan untuk menjelaskan pattern (korelasi), namun kelemahannya tidak bisa menjelaskan mengapa prose situ terjadi. Karena menganggap fragmentasi adalah suatu proses yang direspon secara spesifik oleh organisme.

  3. Teori continuum-umwelt. Yang menyatakan bahwa landscape sebagai serangkaian area yang berbeda tingkat kualitas habitatnya secara gradual. Dimana teori ini tidak mendefinisikan boundary fisik suatu landscape sebagai batas pembeda patch, namun membuat kombinasi antara keteresediaan sumberdaya dan kondisi lingkungan yang dapat menentukan kualitas habitat.

Benang merah dari  perkembangan teori diatas adalah  bahwa sebaiknya dibedakan antara  fragmentasi lansekap (yang objektnya  adalah pandangan penutupan lahan menurut manusia) dan fragmentasi habitat (objektnya adalah habitat menurut pandangan organisme). Fragmentasi landsekap belum tentu diikuti oleh fragmentasi habitat dan kehilangan habitat sedangkan fragmentenasi habitat selalu diikuti oleh proses isolasi. Dan yang paling penting adalah efek dari hilangnya habitat karena bisa berakibat pada menurunnya fitness individu.

Adapun trend penelitian ke depan adalah bagaimana memahami fragmentasi sebagai suatu proses yang berpengaruh terhadap fisiologi, tingkah laku, sejarah kehidupan, dan demography pada berbagai skala. Niche concept is presumed to help us in incorporating process more directly.  Trend ini mengarah pada  pemikiran untuk memandang  keluaran fragmentasi sebagai perwakilan gradien lingkungan (sumber atau kondisi).  Gradien lingkungan ini telah lama dikembangkan pada  ekologi komunitas tumbuhan. Namun tantangannya adalah bagaimana menerapkan gradien lingkungan pada komunitas satwa.

DAFTAR PUSTAKA

Chapin III. F.S., Matson, P.A., Mooney, H.A. 2002. Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. Springer, USA.

Göltenboth, R. 2005. Ecosystem Approach for Landscape Rehabilitation-review and Perspectives of the “Rainforestation Farming“ Technology in the Philippines. Stuttgart-Hohenheim, October 11-13, 2005. Conference on International Agricultural Research for Development. Stuttgart, Germany.

Sumber tulisan :

MAKALAH EKOLOGI TERESTRIAL

NAMA : ANANG KADARSAH

NIM : 20609008

TANGGAL : 25 NOVEMBER 2009

PEMBIMBING : DR. DEVI N CHOESIN

PASCASARJANA SITH ITB-BANDUNG

interaksi trofik antara organisme

Untuk mempelajari interaksi trofik antara organisme-organisme ini, para ekologis mengelompokkan individu-individu pada suatu populasi spesies dan pada kelompok pemakan (feeding groups) (Newton, 2007). Suatu feeding group (guild) terdiri dari populasi yang memakan substrat yang serupa. Contohnya: detrivora (kelompok yang memakan substrat detritus); herbivora (pemakan materi tumbuhan), bakteriovora (pemakan bakteri), fungivora (pemakan fungi), dan predator (pemakan hewan yang masih hidup) (Newton, 2007).

Sistem trofik ini sering digambarkan dalam bentuk plant-based (materi tumbuhan hidup) atau yang dikenal dengan istilah Plant-Based Trophic Systems dan detritus-based (seperti, pada tumbuhan dan hewan yang telah mati) atau dikenal dengan istilah Detritus Based Trophic Systems (Chapin et al., 2002 dan Newton, 2007). Penggambaran ini tergantung pada ditinjau dari sumber utama energi setelah matahari. Untuk lebih jelasnya, kedua sistem trofik ini digambarkan pada skema pada gambar 1.

Gambar 1. Skema Sistem Trofik Berbasis Tumbuhan dan Detritus (Chapin et al., 2002)
Gambar 1. Skema Sistem Trofik Berbasis Tumbuhan dan Detritus (Chapin et al., 2002)

Sebagian besar energi yang melalui ekosistem dipengaruhi oleh sistem trofik berbasis tumbuhan. Produksi yang dilakukan oleh tumbuhan turut membatasi aliran energi yang melewati jaring-jaring makanan yang berbasis tumbuhan ini. Contohnya pada perbedaan transfer energi antara tumbuhan dan herbivora yang terjadi pada bioma yang berbeda. Perbedaan herbivora pada bioma yang berbeda ditentukan oleh

  • Perbedaan Produksi Primer Bersih (Net Primary Production – NPP)

  • Perbedaan alokasi pada struktur tumbuhan, sebagai produsen atau base-flow

  • Keadaan nutrisi (resource) lingkungan. Proses pertahanan tumbuhan terhadap herbivori melalui mekanisme kimiawi dan fisik mengurangi transfer energi terhadap herbivora pada lingkungan dengan low-resource. Tiga faktor yang mempengaruhi/mengatur mekanisme alokasi pertahanan pada tumbuhan: (1) Potensi genetis; (2) Lingkungan tempat tumbuh; (3) Program alokasi yang dilakukan tumbuhan (Chapin et al., 2002).

Pustaka :

Chapin, F.S., P. A. Matson., H. A. Mooney. 2002. Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. Springer. United States of America.

Newton, P. D. 2007. Agroecosystems in a Changing Climate. http://books.google.co.id/books.

Kontributor :

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-1 SITH ITB

Isni Nuraziza M

27 Oktober 2009

21309011