Arsip Kategori: food systems

Ubi Jalar, bukan sekedar makanan pokok

Ubi jalar adalah sumber makanan umum bagi banyak penduduk asli di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, Karibia dan Hawaii. Ia adalah sumber senyawa alami yang sangat baik, termasuk beta-karoten dan anthocyanin. Konsentrasi tinggi senyawa ini pada tanaman umbi-umbian, dipasangkan dengan warna stabilnya, membuat ubi jalar menjadi alternatif yang sehat untuk pewarna sintetis dalam makanan.

Ubi jalar lebih dari sekadar makanan pokok populer yang disajikan sebagai hidangan pembuka manis, lauk pauk, atau camilan pengisi sendiri. Sayuran akar bertepung ini memiliki banyak manfaat untuk mencapai kesehatan yang optimal.

Dilanjutkan bacanya : https://kanuragan.com/lima-alasan-untuk-makan-lebih-banyak-ubi-jalar/

Pengertian, Konsep, dan Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah permasalahan tingkat dunia di mana masing-masing negara juga memiliki definisi mereka yang lebih spesifik. Ketahanan pangan merupakan persoalan yang kompleks sebab meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Aspek politik berperan paling dominan dan menjadi sangat penting dalam setiap pengambilan keputusan urusan pangan suatu negara.

Ketahanan pangan kini menjadi isu yang semakin krusial sebab menurut FAO, populasi dunia diperkirakan akan bertambah dan akan ada hampir 10 miliar orang di bumi pada tahun 2050. Dan, sekitar 3 miliar lebih banyak mulut untuk diberi makan daripada tahun 2010.

Pengertian Ketahanan Pangan

Pengertian ketahanan pangan menurut UU No. 18/2012 tentang Pangan adalah “kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.”

Inti dari ketahanan pangan adalah akses terhadap pangan yang sehat dan gizi yang optimal bagi semua. Akses pangan terkait erat dengan pasokan pangan, sehingga ketahanan pangan bergantung pada sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.

Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki lima unsur yang harus dipenuhi yakni : 1) berorientasi pada rumah tangga dan individu, 2) dimensi waktu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses, 3) menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik, ekonomi dan sosial, 4) berorientasi pada pemenuhan gizi, serta 5) ditujukan untuk hidup sehat dan produktif.

Sistem Ketahanan Pangan

Sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan adalah sistem yang berfokus pada kesehatan lingkungan, vitalitas ekonomi, dan kesehatan manusia serta kesetaraan sosial. Berikut uraiannya:

Kesehatan lingkungan memastikan bahwa produksi dan pengadaan pangan tidak membahayakan tanah, udara, atau air sekarang atau untuk generasi mendatang.
Vitalitas ekonomi memastikan bahwa orang yang memproduksi makanan kita dapat memperoleh upah hidup yang layak dengan melakukannya. Ini memastikan bahwa produsen dapat terus memproduksi makanan kita.
Kesehatan manusia & kesetaraan sosial memastikan bahwa pengembangan komunitas dan kesehatan komunitas sangat penting, memastikan bahwa makanan sehat tersedia secara ekonomi dan fisik bagi komunitas dan bahwa orang-orang dapat mengakses makanan ini dengan cara yang bermartabat.

Sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya perihal ihwal produksi, distribusi, maupun penyediaan pangan di tingkat makro (nasional dan regional), akan tetapi menyangkut aspek mikro, yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga, terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.

Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan umumnya didasari oleh pendekatan perihal ketersediaan pangan. Hal tersebut atas dasar definisi ketahanan pangan oleh Bank Dunia (1988) yaitu ketahanan pangan sebagai ketersediaan pangan dalam jumlah yang memadai bagi semua penduduk untuk dapat hidup secara aktif dan sehat. 

Dalam mencapai ketahanan pangan dengan pendekatan tersebut  jurnal Forum penelitian Agro Ekonomi menyebutkan, salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan ketahanan pangan tersebut adalah melalui pemberdayaan kelembagaan lokal seperti lumbung desa dan peningkatan peran masyarakat dalam penyediaan pangan. 

Kemudian Achmad Suryana dalam jurnal Toward Sustainable Indonesian Food Security 2025: Challenges and Its Responses menyebutkan empat strategi untuk mengatasi ketersediaan pangan yaitu sebagai berikut:

Pertama, membangun penyediaan pangan berasal dari produksi domestik dan cadangan pangan nasional.

Kedua, memberdayakan usaha pangan skala kecil yang menjadi ciri dominan pada ekonomi pertanian Indonesia, perlu dilakukan:

(a) penyelarasan aktivitas usaha pangan skala kecil ke dalam rantai pasok pangan (food supply chain

(b) menghimpun usaha tani skala kecil sehingga mencapai skala ekonomi dengan menerapkan rekayasa sosial-ekonomi seperti corporate farming atau contract farming dalam satu luasan skala tertentu

Ketiga, mempercepat diseminasi teknologi dan meningkatkan kapasitas petani dalam mengadopsi teknologi tepat-guna untuk peningkatan produktivitas tanaman dan efisiensi usaha.

Keempat, mempromosikan pengurangan kehilangan pangan melalui pemanfaatan teknologi penanganan, pengolahan, dan distribusi pangan. 

Sumber Pustaka (copy paste)

https://m.merdeka.com/sumut/mengenal-ketahanan-pangan-pengertian-konsep-beserta-strateginya-kln.html?page=4

Mengenai Jenis Pemborosan Pangan, yuk kita pelajari!

Diketahui dari The Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Sedangkan food wastage memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia, misalnya menyebabkan kelaparan.

Global Hunger Index juga mengatakan, tingkat kelaparan di indonesia berada di tingkat serius. Artinya banyak orang yang sedang kelaparan diluar sana, sedangkan kita yang serba berkecukupan (banyak makanan) suka membuang dan tidak menghabiskan makanan.

Food wastage terdiri dari 2 bagian, yakni food loss dan food waste. Kedua jenis sampah makanan ini memiliki perbedaan tersendiri. Berikut penjelasannya:

Food Loss

Food loss adalah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran,buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja.

Food loss menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk memasak. Di Indonesia sendiri kasus food loss sudah banyak terjadi, salah satunya yang terjadi di Banyuwangi dimana para petani buah naga membuang buah naga yang masih segar ke sungai. Keadaan ini sangat disayangkan sekali.

Penyebab Food Loss:

  • Proses pra-panen tidak menghasilkan mutu yang diinginkan pasar.
  • Permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan sehingga produsen memutuskan untuk membuang bahan pangan tersebut.
  • Kurangnya permintaan konsumen di pasar.
  • Permainan harga pasar antara agen dan distributor yang menyebabkan harga melonjak tajam, dan ujung-ujungnya tidak terjual.
  • Terlalu lama di gudang dan lama kelamaan menjadi basi,berjamur, dan berbau busuk.
  • Tidak disimpan secara sempurna sehingga umurnya menjadi pendek.
  • Dan kalian yang kurang bijak membeli bahan makanan dan akhirnya bahan makanan tersebut membusuk di tempat penyimpanan (kulkas).

Maka dari itu, sebagai konsumen seharusnya kita harus membuat planning yang lebih baik sebelum membeli bahan makanan agar bahan makanan tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Food Waste

Food Waste adalah makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA. Food waste yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana dan karbondioksida. Sedangkan keduanya tidak sehat untuk bumi.

Gas-gas tersebut terbawa ke atmosfer dan berpotensi merusak lapisan ozon. Padahal, salah satu fungsi lapisan ozon adalah menjaga kestabilan suhu di bumi. Jika kestabilan suhu terganggu, maka terjadilah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut akibat dari mencairnya es di bumi.

Penyebab food waste:

  • Tidak menghabiskan makanan.
  • Makan tidak sesuai dengan porsi makananmu.
  • Membeli atau memasak makanan yang tidak kalian sukai.
  • Gaya hidup (gengsi) menghabiskan makanan di depan orang ramai.

Untuk mengurangi jumlah food loss dan food waste, salah satu cara yang paling mudah untuk dilakukan yaitu adalah mindful dalam konsumsi makanan dan dengan menghabiskan makanan yang kamu makan.

Yuk ikuti #zwidfoodwaste challenge di Instagram. Post before dan after piring kalian dan tag zerowaste.id_official.

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari laman. https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/perbedaan-food-loss-dan-food-waste/