Arsip Kategori: Konservasi

PRAKTIKUM 3 KONSERVASI SUMBER DAYA HAYATI

Waktu                                    :          

Ahad, 27 Oktober 2019

Tempat                       :          

Desa Pagatan Besar, Kabupaten Tanah Laut

Capaian Pembelajaran         :

  1. Kelompok 1. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Tingkat organisasi pada yang beranekaragam pada ekosistem mangrove
  2. Kelompok 2. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Adanya hewan asli (native species) pada ekosistem mangrove
  3. Kelompok 3. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Penghitungan keberadaan keystone species (ecosystem engineer) pada ekosistem mangrove
  4. Kelompok 4. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : PVA (Analisis Viabilitas Populasi) pada ekosistem mangrove
  5. Kelompok 5. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Kelentingan ekologis pada ekosistem mangrove
  6. Kelompok 6. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Gangguan pada ekosistem mangrove
  7. Kelompok 7. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Jembatan/fragmentasi pada ekosistem mangrove
  8. Kelompok 8. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Pendekatan saringan kasar dan halus pada ekosistem mangrove.
  9. Kelompok 9. Mampu melakukan pengambilan sampel dan menyusun data pengamatan untuk kegiatan praktikum berjudul : Analisis risiko untuk membuat keputusan pada ekosistem mangrove

Integrasi penelitian   :

Penelitian PDUPT berjudul : Aplikasi konservasi timpakul dan moluska pada ekosistem mangrove terhadap pencemaran logam berat

Metode Praktikum :

  1. Dosen koordinator mengkoordinasikan seluruh kegiatan serta menyiapkan materi dan bahan praktikum lapangan
  2. Asisten menyiapkan daftar hadir, sewa kendaraan, poster, spanduk, daftar hadir dan izin ke Kepala Desa tujuan
  3. Praktikan menyiapkan Konsep Konservasi Biodiversitas seperti yang dijelaskan pada praktikum ke-1 yakni :
    1. Deskripsi tentang konsep ekologi dalam praktikum KPSDH
    1. Daftar nama jenis kegiatan dalam praktikum lapangan KPSDH
    1. Tabel pengamatan kegiatan dalam praktikum lapangan KPSDH.
    1. Data dummy, analisis data deskriptif dan perbandingan kualitatif menggunakan software GNU PSPP.
  4. Praktikan menyiapkan Teknik Sampling, Identifikasi dan Koleksi Sampel KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut seperti yang dijelaskan pada praktikum ke-2 yakni :
    1. Data alat-alat dan bahan yang diperlukan
    1. Data deskripsi langkah kerja pengambilan sampel
    1. Data titik-titik pengambilan sampel menggunakan peta digital
    1. Data cara identifikasi sampel yang akan diambil
    1. Data cara koleksi dan pengawetan sampel
  5. Praktikan menyiapkan Data dan Laporan Sampling, Identifikasi dan Koleksi Sampel KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut seperti yang dijelaskan pada praktikum ke-1 dan ke-2 yakni :
    1. Foto hasil identifikasi
    1. Koleksi sampel
    1. Mengolah data hasil pengamatan melalui analisis deskriptif dan analisis kualitatif menggunakan software PSPP.
    1. Membuat pembahasan data hasil pengamatan
    1. Membuat kesimpulan dan saran atas kegiatan yang dilakukan (per kelompok)
    1. Menyusun laporan praktikum (secara berkelompok) menggunakan gaya penulisan pustaka APA 6th
    1. Selanjutnya, setiap individu membuat tulisan yang menceritakan kesan, saran atau hal-hal unik lain yang ditemukan dalam bentuk ringkasan sebanyak minimal 300 kata dengan format sebagai berikut :
Nama Nama institusi Alamat institusi   Isi Ringkasan

Keterangan :

  1. Asisten membuat laporan mengenai
    1. Penggunaan keuangan praktikum lapangan
    1. Melengkapi berkas-berkas keuangan yang diperlukan seperti : kwitansi, STNK, SIM supir, dll
    1. Membuat laporan penilaian mengenai kinerja mahasiswa
  2. Pembagian kelompok praktikum KPSDH dapat dilihat Tabel 1. di bawah ini.

Tabel 1. Pembagian kelompok Praktikum KPSDH

Kelompok Judul kegiatan praktikum
Kelompok 1 Keranekaragaman tingkat organisasi pada ekosistem mangrove
Kelompok 2 Adanya hewan asli (native species) pada ekosistem mangrove
Kelompok 3 Adanya keystone species pada ekosistem mangrove
Kelompok 4 PVA (Analisis Viabilitas Populasi) pada ekosistem mangrove
Kelompok 5 Kelentingan ekologis pada ekosistem mangrove
Kelompok 6 Gangguan pada ekosistem mangrove
Kelompok 7 Jembatan/fragmentasi pada ekosistem mangrove
Kelompok 8 Pendekatan saringan kasar dan halus pada ekosistem mangrove
Kelompok 9 Analisis risiko untuk membuat keputusan pada ekosistem mangrove

PRAKTIKUM 2 PERSIAPAN SAMPLING, IDENTIFIKASI DAN KOLEKSI BIOTA MANGROVE

Nama Praktikum : KONSERVASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA HAYATI (JCPB 372)

Waktu                                    :          

Selasa, 22 Oktober 2019

Tempat                       :          

Lab Biologi Umum – FMIPA ULM

Capaian Pembelajaran         :          

  1. Peserta praktikum mampu mengidentifikasikan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  2. Peserta praktikum mampu mendeskripsikan langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  3. Peserta praktikum mampu menentukan titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps)
  4. Peserta praktikum memahami cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  5. Peserta praktikum memahami cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut

Integrasi penelitian   :

Penelitian PDUPT berjudul : Aplikasi konservasi timpakul dan moluska pada ekosistem mangrove terhadap pencemaran logam berat

Tujuan Praktikum

  1. Mengidentifikasikan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  2. Mendeskripsikan langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  3. Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps)
  4. Memahami cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  5. Memahami cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut

Metode Praktikum :

  1. Mahasiswa menuliskan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut. Sesuaikan dengan tugas kelompok masing-masing!
  2. Mahasiswa mendeskripsikan langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.
    • Tuliskan langkah kerja yang akan dilakukan untuk mengambil sampel dalam praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.
    • Perhatikan : sesuaikan langkah kerjanya dengan tugas kelompok masing-masing!
  3. Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps) yakni Ekowisata mangrove Pagatan Besar dan Hutan muara Pagatan Besar, masing-masing sejumlah tiga titik sampling.
  4. Memahami cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut. Mencari dan menyediakan buku identifikasi sampel sesuai dengan tugas kelompok masing-masing!
  5. Memahami cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.
    • Cara membuat herbarium
    • Cara membuat awetan sampel basah
    • Cara membuat awetan kering basah
Kelompok Identifikasi Sampel
Kelompok 1 Jenis-jenis vegetasi pada ekosistem mangrove
Kelompok 2 Jenis-jenis native species pada ekosistem mangrove
Kelompok 3 Jenis-jenis keystone species pada ekosistem mangrove
Kelompok 4 Tumbuhan mayor dan minor pada ekosistem mangrove
Kelompok 5 Tumbuhan mayor dan minor pada ekosistem mangrove
Kelompok 6 Jenis-jenis serangga dan kepiting pada ekosistem mangrove
Kelompok 7 Jenis-jenis koneksi, edge, dan patch pada ekosistem mangrove
Kelompok 8 Konservasi insitu dan eksitu pada ekosistem mangrove
Kelompok 9 Resiko pencemaran dan gangguan pada ekosistem mangrove

Hasil Praktikum :

  1. Data mengenai alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  2. Data mengenai deskripsi langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  3. Data mengenai titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps)
  4. Data mengenai cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  5. Data mengenai cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut

HAK CIPTA ADA PADA PENULIS :

DILARANG MENGCOPY PASTE TANPA MENCANTUMKAN TAUTAN PENULIS!

Pengertian dan konsep konservasi

Konservasi berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata “Conservation” yang berati pelestarian atau perlindungan. Konservasi adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh manusia untuk melestarikan lingkungan (ekosistem secara keseluruhan) dengan tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dan mempertahankan keberadaan setiap komponen-konponen lingkungan untuk pemanfaatan di masa yang akan datang. Konservasi bisa juga disebut dengan usaha pelestarian ataupun perlindungan (Sora, 2015).

Apa yang harus dikonservasi ?

Pada intinya konservasi adalah usaha untuk melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati (biodiversitas). Keanekaragaman hayati adalah kekayaan atau bentuk kehidupan di bumi, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme, genetika yang dikandungnya, maupun ekosistem, serta proses-proses ekologi yang dibangun menjadi lingkungan hidup. Frasa keanekaragaman hayati sendiri sering pula disebut sebagai biodiversitas. Biodiversitas ini dapat kita temui di sekitar kita, berbagai makhluk hidup yang kita temui menggambarkan adanya perbedaan-perbedaan antara makhluk hidup yang saling menyeimbangkan. Biodiversitas dapat terjadi pada berbagai tingkatan kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Secara garis besar biodiversitas ini dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman ekosistem (Ardiansyah, 2107).

Tujuan konservasi :

Beberapa tujuan konservasi, yang diantaranya sebagai berikut ini (Sora, 2015) :

  • Yang pertama, untuk memelihara maupun melindungi tempat-tempat yang dianggap berharga supaya tidak hancur, berubah atau punah.
  • Yang kedua, untuk menekankan kembali pada pemakaian bangunan lama supaya tidak terlantar, disini maksudnya apakah dengan cara menghidupkan kembali fungsi yang sebelumnya dari bangunan tersebut atau mengganti fungsi lama dengan fungsi baru yang memang diperlukan.
  • Yang ketiga, untuk melindungi benda-benda sejarah atau benda jaman purbakala dari kehancuran atau kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alam, mikro organisme dan kimiawi.
  • Yang keempat, untuk melindungi benda-benda cagar alam yang dilakukan secara langsung yaitu dengan cara membersihkan, memelihara dan memperbaiki baik itu secara fisik maupun secara langsung dari pengarauh berbagai macam faktor, misalnya seperti faktor lingkungan yang bisa merusak benda-benda tersebut.

Manfaat Konservasi.

Manfaat dari kawasan konservasi terhadap ekosistem, yang diantaranya sebagai berikut ini : (1) Untuk melindungi kekayaan ekosistem alam dan memelihara proses – proses ekologi maupun keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan. (2) Untuk melindungi spesies flora dan fauna yang langka atau hampir punah. (3) Untuk melindungi ekosistem yang indah, menarik dan juga unik. (4) Untuk melindungi ekosistem dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam, mikro organisme dan lain-lain. dan (5) Untuk menjaga kualitas lingkungan supaya tetap terjaga, dan lain sebagainya (Sora, 2015).

Jika dari segi ekonomi : (2) Untuk mencegah kerugian yang diakibatkan oleh sistem penyangga kehidupan misalnya kerusakan pada hutan lindung, daerah aliran sungai dan lain-lain. Kerusakan pada lingkungan akan menimbulkan bencana dan otomatis akan mengakibatkan kerugian. (2) Untuk mencegah kerugian yang diakibatkan hilangnya sumber genetika yang terkandung pada flora yang mengembangkan bahan pangan dan bahan untuk obat-obatan (Sora, 2015).

Mengapa harus dikonservasi (dilestarikan dan dilindungi)?

  1. Perintah dari Allah kepada manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya dan bertakwa dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
  2. Sustainability (keberlanjutan) kehidupan manusia di muka bumi untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah (pelaksana)
  3. Life-time (kualitas dan kuantitas kehidupan) yang lebih baik serta barokah dalam semua aspek kehidupan.

Metode dan Cara Konservasi

Umumnya metode konservasi ada dua macam yaitu konservasi in-situ (mempertahankan habitat asli) dan konservasi ex-situ (melindungi di habitat luar). Adapun masing-masing metode memiliki cara konservasi yang berbeda. Konservasi in-situ dapat dilakukan dengan cara : 1). Identifikasi, 2).Inventarisasi, 3).Pemantauan, 4).Pembinaan habitat dan populasi, 5).Penyelamatan jenis, 6).Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan. Konservasi ex-situ dapat dilakukan dengan cara : 1). Pemeliharaan, 2).Pengembangbiakan, 3).Pengkajian, Penelitian & Pengembangan, 4).Rehabilitasi Satwa dan 5).Penyelamatan jenis.

Pustaka

Al Quran Al Karim. Departemen Agama RI.

Ardiansyah, T. (2107). Keanekaragaman Hayati: Pengertian, Tingkatan, dan Klasifikasi. Retrieved October 9, 2019, from https://foresteract.com/keanekaragaman-hayati/

Sora, N. (2015). Pengertian konservasi dan tujuannya serta manfaatnya terjelas. Retrieved from http://www.pengertianku.net/2015/08/pengertian-konservasi-dan-tujuannya-serta-manfaatnya.html

Aplikasi Konservasi Menggunakan Pendekatan Filter Halus

Dalam dekade terakhir, ada peningkatan fokus pada tindakan konservasi yang dapat membantu spesies individu mengatasi lingkungan yang berubah dengan cepat. Memahami dampak perubahan iklim pada satu spesies hampir secara universal melibatkan prediksi di mana iklim cenderung cocok untuk spesies di masa depan (dengan demikian memfasilitasi terjadinya) mengingat perubahan iklim yang diharapkan.

Metode yang disukai untuk membuat prediksi menggunakan model distribusi spesies (SDM), atau disebut sebagai model ceruk lingkungan atau model amplop bioklimatik) untuk secara matematis mentransfer hubungan distribusi iklim saat ini ke masa depan ke iklim masa depan yang diprediksi, menghasilkan permukaan kesesuaian iklim baru untuk suatu wilayah tertentu.42 Validitas menggunakan distribusi saat ini untuk membuat prediksi lintas waktu telah didukung dan dikritik sebagai alternatif.

Meskipun tidak sempurna, SDM masih dianggap sebagai alat terbaik untuk memprediksi kesesuaian wilayah di masa depan untuk spesies, dan penggabungan kemampuan penyebaran, interaksi biotik, dan mekanisme fisiologis secara eksplisit akan membantu menjembatani kesenjangan antara di mana iklim yang cocok akan terjadi untuk suatu spesies dan di mana spesies tersebut berada. itu sendiri akan terjadi. Sementara itu, SDM merupakan komponen mendasar dari banyak strategi yang dibahas di bawah ini untuk melestarikan spesies di bawah perubahan iklim.

Dalam pendekatan penyaringan halus untuk konservasi, langkah pertama adalah memprioritaskan spesies mana yang membutuhkan upaya konservasi. Karena perubahan iklim menimbulkan risiko baru bagi spesies, itu mengharuskan para ilmuwan untuk menyesuaikan perhitungan mereka tentang seberapa serius setiap spesies berada dalam kelompok tertentu (termasuk Daftar Merah Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) yang banyak digunakan).

Metode terbaru untuk menyuntikkan perubahan iklim ke dalam prioritas spesies tunggal. Skema ini melibatkan mengukur berbagai segi kerentanan spesies. Di sini, kerentanan didefinisikan sebagai kombinasi dari paparan spesies terhadap dampak iklim, kepekaan intrinsiknya terhadap dampak-dampak tersebut, dan kapasitas adaptif perilaku atau evolusi untuk merespons lingkungan yang berubah.

Pustaka :

Tingley, M. W., Darling, E. S., & Wilcove, D. S. (2014). Fine- and coarse-filter conservation strategies in a time of Climate Change. Ann. N.Y. Acad. Sci. 1322 ISSN 0077-8923, 92–109.

KPSDH – Pertemuan 1. RPKPS

Deskripsi singkat :

Didalam mata kuliah Konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) ini mahasiswa diberikan pengertian-pengertian tentang : penciptaan alam semesta serta penyediaan sumber daya bagi manusia, kewajiban bersyukur atas karunia sumber daya alam hayati dan bersabar atas keterbatasan, pembagian sumberdaya alam hayati dan non hayati, mekanisme hilangnya / pemiskinan sumberdaya alam hayati, prinsip-prinsip dan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati, upaya konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) di kawasan lindung, dan meningkatkan kapasitas manusia guna melestarikan sumberdaya alam hayati.

Standar Kompetensi :

Menanamkan pengertian kepada mahasiswa akan pentingnya : bersyukur kepada Rabb yang menyediakan sumber daya untuk manusia, konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) sehingga sumberdaya alam hayati dapat tetap lestari bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

Dasar Kompetensi :

Setelah selesai mengikuti mata kuliah Konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati)ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan tentang :

  1. Kewajiban mengenal Pencipta Alam Semesta, bersyukur atas pemberiannya, dan bersabar atas keterbatasan yang ada.
  2. Pengertian sumberdaya alam hayati dan non hayati dan mekanisme hilangnya keanekaragaman hayati.
  3. Prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati
  4. Strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati
  5. Kawasan Lindung di setiap ekosistemdan upaya konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) di kawasan lindung,
  6. Pengenalan penduduk setempat dan hubungannya dengan kawasan lindung.
  7. Meningkatkan kapasitas manusia guna melestarikan sumberdaya alam hayati.

PEMBAGIAN KELOMPOK DISKUSI MK Konservasi dan PSDH

Kelompok 1 : Pengertian sumberdaya alam hayati dan non hayati dan mekanisme hilangnya keanekaragaman hayati.

Kelompok 2 : Prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati

Kelompok 3 : Strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati

Kelompok 4 :Kawasan Lindung di setiap ekosistemdan upaya konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) di kawasan lindung,

Kelompok 5 : Pengenalan penduduk setempat dan hubungannya dengan kawasan lindung.

Kelompok 6 : Meningkatkan kapasitas manusia guna melestarikan sumberdaya alam hayati.

Rencana Kegiatan :

Minggu 1 : Pendahuluan, Silabus, Kontrak Kerja, dan Perencanaan Praktikum

Minggu 2 : Presentasi mengenai : Penciptaan Alam Semesta, bersyukur atas pemberiannya, dan bersabar atas keterbatasan yang ada

Minggu 3 : Diskusi kelompok 1 sd kelompok 6 : Presentasi

Minggu 4 : Identifikasi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Minggu 5. Analisis deskriptif dan SWOT konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Minggu 6. Perencanaan konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Minggu 7 : Praktik konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Referensi :

  1. Al-Quran dan Terjemahan. Departemen Agama, Republik Indonesia.
  2. Abdurrahim. U.A.A. 2015. Ilmu Pengetahuan Alam Dalam Al Qur’an dan Hadits. ISBN. 978-979-153070-7-0. Cetakan Pertama. Penerbit Hikmah Anak Sholih, Yogyakarta.
  3. Anonim. 1995. Strategi Keanekaragaman Hayati Global. Gramedia . Jakarta;
  4. Hardjo Soemantri. 1991. Konservasi SDAH dan Ekosistemnya. UGM. Yogyakarta;
  5. John and Kathy Mac Kinnon. 1993. Pengelolaan Kawasan Yang dilindungi Di
    Daerah Tropis. Gajah Mada Press. Yogyakarta;
  6. Soerianegara I. 1998. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Dan Lingkungan . IPB.
    Bogor;
  7. Mangunjaya, F.M. 2006. Hidup Harmonis dengan Alam. Esai esai Pembangunan
    Lingkungan, Konservasi dan Keanekaragaman Hayati. Yayasan Obor Indonesia.
  8. Mochamad Indrawan, Richard B. Primack dan Jatna Supriatna. 2007. Biologi
    Yayasan Obor Indonesia.
  9. Kadarsah, A. 2015. Waterbirds Biodiversity And Attendance In Rhizophora Sp. Mangrove Stands Of Varying Planting Ages. TWJ VOLUME 1 No.1 NOVEMBER 2015 ISSN : 2338-7653. http://twj.unlam.ac.id/index.php/twj/article/download/7/6.

  10. Kadarsah, A., dan Krisdianto. (2016). Identification And Characterization Of Anthropogenic Activities And Its Effect On Wetlands Ecological Functions : Simulation Case Of Riam Kanan River In Banjar District. Presented at International Conference of the Society for Indonesian Biodiversity (ICB). May 29, 2016. Padjadjaran University, Bandung. Alamat : http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/S/gen/pdf/A0304aaALL.pdf.

  11. Kadarsah, A. & Susilawati, I. O. (2018). Kajian Perbandingan Luas Pekarangan dan Kearifan Lokal Jenis Tanaman Obat di Pesisir pantai Kabupaten Tanah Laut. Jurnal Biodjati, 3 (1), 36-46.

Tugas tambahan :

  1. Silakan klik tautan berikut ini untuk mengisi biodata terkait materi kuliah Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati!
  2. Jangan lupa berikan komentar terkait tulisan pada website ini!

Penilaian :

NO KOMPONEN PERSENTASE PENGAJAR
1 TUGAS 1 10 ANANG KADARSAH,S.Si.,M.Si.
2 UTS 1 20 ANANG KADARSAH,S.Si.,M.Si.
3 PRAKTIKUM 1 20 ANANG KADARSAH,S.Si.,M.Si.
4 TUGAS 2 10 DR. DRS. KRISDIANTO, M.Sc.
5 PRAKTIKUM 2 20 DR. DRS. KRISDIANTO, M.Sc.
6 UAS 20 DR. DRS. KRISDIANTO, M.Sc.
TOTAL 100

Pengembangan Kawasan Konservasi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah mengembangkan  cara baru mengelola kawasan konservasi dengan membangun learning organization. Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno saat membuka rapat koordinasi teknis (Rakornis) Bidang KSDAE 2017 di Jakarta, Selasa, 26 September 2017.

Dia menuturkan cara baru itu nantinya akan melibatkan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan konservasi serta harus mempertimbangkan prinsip-prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia. “Cara baru tersebut juga sebagai upaya menemukan model kelola kawasan konservasi yang didasarkan pada nilai-nilai adat dan budaya setempat, perubahan geopolitik, serta sosial ekonomi yang terjadi di sekitar kawasan konservasi sebagai dampak dari pembangunan di berbagai bidang selama 47 tahun,” tuturnya.

Wiratno menjelaskan, Kementerian Lingkungan sangat menyadari masyarakat memegang peranan penting sebagai pelaku utama terhadap masa depan konservasi. Untuk mendukung hal itu, Kementerian Lingkungan telah menerbitkan beberapa kebijakan konservasi yang prorakyat, seperti Peraturan Menteri LHK Nomor  P.43/Menlhk/Setjen/2017  tentang Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Kawasan Suaka Alam dan Konsorsium Pembaruan Agraria serta Peraturan Menteri LHK Nomor  P.83/2016 tentang Perhutanan Sosial.

Selain melibatkan masyarakat, kepemimpinan yang kuat menjadi syarat utama menjalankan cara baru kelola kawasan konservasi dengan dukungan semua levelMulai pusat, daerah, hingga tingkat tapak.  Untuk itu, Kementerian Lingkungan akan terus membangun sinergisitas lintas sektoral sejak dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, serta evaluasi. “Leadership  yang kuat harus mampu membangun kerja sama multipihak dengan prinsip saling menghormati  (mutual respect), saling percaya (mutual trust), juga saling menguntungkan (mutual benefits),” ucapnya.

Begitu pula para pihak yang bekerja sama, menurut dia, harus mampu menerapkan empat prinsip governance (tata kelola pemerintah), yaitu partisipasi, keterbukaan, tanggung jawab kolektif, juga akuntabilitas.

Wiratno menekankan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sistem aplikasi resort based management juga penting sebagai dasar penerapan cara baru kelola kawasan konservasi. Sebagai implementasinya, Ditjen KSDAE menugaskan 74 unit pelaksana teknis untuk menerapkan role modelsebagai prototype yang dilaksanakan secara partisipatif. “Dengan cara baru ini, diharapkan Ditjen KSDAE mampu membangun learning organization dalam mengelola 27,2 juta hektare kawasan konservasi di seluruh Indonesia sebagai  national treasure (harta karun nasional).  Resources is limited but innovation is unlimited ,” katanya.

https://inforial.tempo.co/info/1000014/cara-baru-klhk-kelola-kawasan-konservasi