Arsip Kategori: pendidikan

Ekologi Lanjut – Pertemuan 9. Konsep Populasi

Apa yang dimaksud dengan populasi? Sebuah populasi dikatakan sebagai satu kelompok individu yang berasal dari jenis yang sama dan menempati area tertentu yang relatif sama. Ilmu yang memelajari populasi adalah ekologi populasi yang fokus kajiannya ialah pada faktor-faktor yang memengaruhi ukuran populasi sepanjang waktu.  Dalam hal ini ciri-ciri populasi akan selalu terkait dengan parameter kepadatan/kerapatan dan penyebaran/dispersi. Kepadatan adalah jumlah yang menunjukkan keberadaan individu pada unit area atau volume tertentu pada waktu. Sedangkan penyebaran adalah pola penempatan individu pada ruang tertentu yang dianggap sebagai batas-batas sebuah populasi.

Apakah batas populasi selalu sama? Batas populasi selalu menunjukkan dinamika atau perubahan, dimana hal ini akan selalu tergantung dari tempat atau habitat atau ruang populasi itu berada dan pada waktu populasi itu menggunakan tempatnya.

Coba lihat, apakah ini contoh populasi?  These iguanas live in trees over a River in the North East corner of Costa Rica. Like many lizards, iguanas are cold-blooded, which means they don’t generate their own heat. However, these animals have adapted to live in a wide range of environments. While usually found in rainforest or near water, species of iguanas can be found in the desert and in other land environments where they get their water from their food sources.

Pola Penyebaran Populasi. Ada tiga bentuk pola penyebaran populasi yakni seragam, acak, dan mengelompok.  Penjelasannya adalah sebagai berikut : Uniform and random distributions are relatively rare and occur only where environmental conditions are fairly uniform. A uniform distribution results from intense competition or antagonism between individuals. Random distribution occurs when there is no competition, antagonism, or tendency to aggregate. The conditions are uniform.  It is rare for all these conditions in the environment to be met. Clumping is the most common distribution because environmental conditions are seldom uniform, reproductive patterns favor clumping, and animal behavior patterns often lead to congregation. The optimum density for population growth and survival is often an intermediate one; undercrowding can be as harmful as overcrowding (Gambar 1).

pola penyebaran populasi

Gambar 1. Bentuk pola penyebaran populasi yang umum dijumpai di lingkungan

Pada lingkungan nyata, pola penyebaran populasi yang mengelompok (clumped) cenderung banyak ditemukan pada tipe populasi yang menjadi pemangsa. Contohnya : populasi domba di padang rumput, populasi ikan di dekat batu karang, ataupun populasi penyu di pesisir pantai.  Lalu apa yang menyebabkan populasi organisme yang berbeda ini mengumpul? Jawabannya bahwa distribusi kelompok dalam spesies tertentu akan bertindak sebagai mekanisme untuk melawan predasi (pemangsaan) serta bagi pemangasa akan menjadi mekanisme yang efisien untuk menjebak atau menyudutkan mangsa. Bukti-bukti telah banyak ditunjukkan bahwa satu paket binatang yang lebih berkumpul dalam besar cenderung memiliki kemampuan pembunuhan dalam jumlah yang lebih besar.

Cara menduga ukuran populasi.  Ada tiga macam teknik yang bisa digunakan untuk mengukur seberapa besar populasi yang ada di suatu tempat (terkait jumlah dan kelimpahan). Cara pertama adalah menghitung total jumlah individu. Teknik ini mudah dilakukan jika organisme yang diukur ukurannya besar dan luasnya wilayah yang dijelajahi tidak terlalu besar. Cara kedua dilakukan dengan cara membagi area yang diamati menjadi bentuk kuadran, kemudian hitunglah jumlah individu yang ada di beberapa kuadran. Selanjutya anda bisa anda memperkirakan populasi di seluruh area.
Cara ketiga adalah Teknik Mark-and-recapture: Dalam hal ini sejumlah individu terbatas (misalnya 20) ditangkap secara acak dan ditandai dengan menggunakan pewarna atau tag, kemudian dilepaskan kembali ke lingkungan asalnya. Di lain waktu kelompok hewan kedua ditangkap secara acak dari populasi dan persentase individu yang ditandai juga ditentukan. Jika 10% dari hewan yang berada dalam kelompok kedua ini berhasil ditangkap kembali, maka 20 yang asli (diperoleh dari penagkapan pertama0 jumlahnya mewakili 10% populasi keseluruhan sehingga populasinya adalah 200. Anda bisa lihat rumus menggunakan metode ini (CMR=Capture Mark Recapture) ada pada Gambar 2 berikut ini.

Rumus metode CMR

Gambar 2. Rumus yang digunakan untuk menghitung jumlah populasi menggunakan metode tandai-tangkap-tandai kembali (CMR).

Mari kita lihat contohnya.  Dua puluh individu ditangkap secara acak dan ditandai dengan menggunakan pewarna atau tag dan kemudian dilepaskan kembali ke lingkungan. Dalam kasus ini maka jumlah hewan yang ditandai n1= 20.  Di lain waktu kelompok hewan kedua diambil secara acak dari populasi tersebut. Beberapa individu yang sudah ditandai, katakanlah 10 individu (x) yang ditandai berhasil ditangkap kembali dari total 35 individu yang berhasil ditangkap kedua kalinya. Maka kita sekarang tahu bahwa n2 = 35 dan x = 10. Jadi, terapkan rumus dan pecahkan untuk perkiraan ukuran populasi : 𝑁 = 𝑠𝑛 / 𝑥 = (20)*(35) / 10 = 700/10 = 70.  Oleh karena itu, jumlah populasi yang berada di tempat tersebut diperkirakan sebanyak 70 individu.

Kesimpulan

Konsep populasi adalah dinamis, sesuai dengan keadaan waktu dan tempatnya. Pembatasan populasi hanyalah disebabkan oleh keterbatasan manusia dalam mengamati dan menentukan batas-batas populasi secara tetap.

Tugas :

  1. Baca, catat kembali dan fahami tulisan di atas,berikanlah komentar, saran, atau tambahan materi yang dianggap perlu ditambahkan.
  2. Silakan kerjakan soal dan tugas dengan cara klik tautan ini! 
  3. Kumpulkan tugas makalah dengan mengikuti format yang ditentukan. Format template tugas dapat diunduh pada Template (Nama Mahasiswa-NIM-Nama Tugas) berikut ini

 

Ekologi Lanjut – Pertemuan 8. Autekologi dan Sinekologi

Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya. Berikut ini adalah materi mendasar yang membahas mengenai Pengertian Ekologi. Konsep ini sangat penting difahami untuk menjadi acuan memelajari ekologi lanjut.

Berdasarkan kategori keilmuannya kajian ekologi dapat dibagi menjadi dua macam yakni Autekologi dan Sinekologi.

AUTEKOLOGI

Autekologi, yaitu cabang ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Dari segi autekologi, maka bisa dipelajari : (1) pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis biota yang sifat kajiannya mendekati fisiologi, (2) pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis biota tertentu. Bahkan dalam autekologi dapat dipelajari (3) pola perilaku suatu jenis binatang liar, sifat adaptasi suatu jenis binatang liar, maupun sifat adaptasi suatu jenis pohon. Sub divisi dari autekologi meliputi : demekologi (spesiasi), ekologi populasi dan demografi (pengaturan ukuran populasi), ekologi fisiologi atau ekofisiologi, dan genekologi (genetika). Contoh autekologi misalnya mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap lingkungan. Jadi, jika kita mempelajari hubungan antara pohon Pinus merkusii dengan lingkungannya, maka itu termasuk autekologi. Contoh lain adalah mempelajari kemampuan adaptasi kutu di padang alang-alang, dan lain sebagainya.

SINEKOLOGI

Sinekologi, yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Dari segi sinekologi, dapat dipelajari : (1) berbagai kelompok jenis makhuk hidup sebagai suatu komunitas, dan (2) pengaruh berbagai faktor ekologi terhadap kondisi populasi, baik populasi tumbuhan maupun populasi binatang liar yang ada di dalamnya. misalnya mempelajari pengaruh keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi dan struktur vegetasi, atau terhadap produksi hutan.  Contoh sinekologi : mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya. Contoh lainnya adalah : mempelajari strktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka marga satwa, atau di taman Nasional, dan lain sebagainya.

Sebagai perbandingan perbedaan antara sinekologi dan autekologi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.  Meskipun berbeda, pada prinsipnya, kajian autekologi dan sinekologi itu sangat penting dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mewujudkan tujuan konservasi keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Tabel 1.  Perbandingan perbedaan antara sinekologi dan autekologi

Autekologi Sinekologi
*  Bersifat eksperimental *  Bersifat filosofis
*  Induktif *  Deduktif
*  Kuantitatif *  Deskriptif (umumnya)
*  Dapat dilakukan berdasarkan rancangan percobaan *  Sulit dengan pendekatan rancangan percobaan

TUGAS

  1. Berikan komentar terkait dengan tulisan Ekologi Lanjut – Pertemuan 8. Autekologi dan Sinekologi pada halaman ini
  2. Setelah anda membaca tulisan di atas, silakan klik tautan berikut ini untuk mengerjakan soal latihan dan membuat ulasan

KPSDH – Pertemuan 4. Media Pembelajaran Sumber Daya Hayati

Pendidikan Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati

Pendidikan Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati saat ini telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai harmonisasi atas kebutuhan ekonomi masyarakat dan keinginan melestarikan sumber daya bagi masa depan (Pranata dan Satria, 2015). Pendidikan konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati juga mutlak untuk dikaji dan disebarluaskan sejak diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 1999 yang mendorong semakin intensifnya pemanfaatan sumberdaya hayati. Sebagai contoh, pembukaan kawasan Suaka Margasatwa Pelaihari Tanah Laut mendorong semakin mempercepat perluasan serta perubahan dinamika populasi dan juga keseimbangan ekosistem berdasarkan parameter indeks biodiversitas.

Sumber dan Alat Belajar

Kata media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Association for Education and Communication Technology (AET) mengartikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen (perangkat) yang digunakan untuk menjalankan kegiatan tersebut. Sumber belajar menjadi lima kategori yaitu : manusia, buku / perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting, baik media berupa : (1) panca indera manusia sebagai karunia dari Allah Subhanahuwata’ala kemudian (2) media pembelajaran berupa bahan pembelajaran yang akan disampaikan (perangkat lunak/ software), serta perangkat keras atau hardware yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu untuk belajar.

Dilihat dari jenisnya, media pendidikan dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu : Media auditif, visual dan audiovisual. Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemmpuan suara saja, seperti : radio, recorder, dan flash disk. Media ini tidak cocok untuk orang yang mempunyai kelainan dalam hal pendengaran. Media visual adalah media yang mengandalkan indra penglihatan. Media ini menampilkan gambar diam seperti film, rangkai foto, gambar atau lukisan, cetakan dan juga yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film dan dokumenter. Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur rupa dan gambar baik berupa audiovisual diam maupun audiovisual gerak.

Peran Media dalam Pendidikan Konservasi

Kehadiran media dalam pendidikan konservasi jelaslah sangat menguntungkan, bagi semua pihak baik pelaku pendidik maupun peserta didik. Hal ini disebabkan karena dengan penggunaan media maka penyajian materi belajar menjadi lebih jelas tidak bersifat verbal saja. Pemberian contoh-contoh yang menarik berupa fakta, data, gambar, grafik, foto atau video dengan atau tanpa suara menjadikan suasana belajar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan siswa. Ketika seseorang belajar biologi konservasi maka yang lebih dituntut adalah kemampuan berinteraksi dengan obyek pengamatan yakni sumber daya hayati.  Penggunaan media pembelajaran yang baik serta penggunaan alat peraga praktek yang memadai disertai kemampuan untuk mengobservasi potensi dan kekayaan sumber daya hayati adalah sarana terbaik untuk mengungkapkan syukur atas segala karunia dari Allah Subhanahuwata’ala.

Untuk memudahkan pemahaman peserta kuliah Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati, berikut ini adalah sembilan jenis media penunjang pembelajaran yang dapat diaplikasikan kepada khalayak umum sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu :

  1. Bahan publikasi : Koran (e-koran/koran elektronik), majalah (e-majalah/majalah elektronik), buku (e-book/buku elektronik)
  2. Bahan bergambar : gambar, bagan (chart), peta, poster, foto, lukisan, grafik, diagram.
  3. Bahan pameran : bulletin board, papan flannel, papan magnet, papan demontrasi.
  4. Bahan proyeksi : film, film strip, slide, transparansi, OHP.
  5. Bahan rekaman audio : recorder (perekam suara)
  6. Bahan produksi : kamera, video, recorder
  7. Bahan siaran : program radio, program televisi
  8. Bahan pandang dengar : TV, you tube, slide suara, media sosial (whatsapp, telegram, facebook, instagram, dll).
  9. Bahan model / tiruan : model irisan penampang batang, model torso tubuh.

Kesimpulan

Pengelompokan jenis media pembelajaran dapat disusun berdasarkan kategori sederhana sampai dengan kategori kompleks. Pengelompokkan juga dapat dilihat berdasarkan kategori harga murah sampai dengan yang termahal. Dalam hal ini masing-masing media pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu, keunggulan dan kelemahan tertentu yang masing-masing akan berbeda sesuai dengan jenisnya.

Tugas dan Pertanyaan!

Setelah membaca penjelasan di atas jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini melalui tautan ini!

KPSDH – Pertemuan 3. Identifikasi Potensi Sumber Daya Hayati

PENGERTIAN SUMBER DAYA HAYATI

Bioresources atau sumber daya hayati / SDH adalah sumber daya hidup (makhluk hidup) yang dapat digunakan oleh manusia untuk menjalankan berbagai fungsi kehidupan yakni : (1) menghasilkan makanan, (2) produk substansial, dan (3) pembawa energi (http://bioresource.eu/bioresources/), dalam rangka menjalankan ketaatan untuk beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala dan bersyukur atas segala karunia yang diberikan-Nya.  Mereka dapat dikategorikan menjadi empat jenis yakni SDH Primer, SDH Sekunder, SDH Tersier, dan SDH Kuarter. 

SDH Primer adalah sumber-sumber daya hayati primer yang dibuat untuk tujuan spesifik yang berorientasi pada aplikasi di bidang kehutanan, pertanian, atau budidaya untuk memungkinkan produksi makanan, produk-produk substansial, atau energi. Contohnya adalah : kayu, biji-bijian, kentang, bambu, dan ganggang. Catatan : (1) Tidak semua tanaman dapat dianggap sebagai sumber daya hayati primer, contohnya adalah tanaman yang berada di taman yang digunakan untuk tujuan rekreasi. (2) Tanaman purba yang berada di hutan juga bukan merupakan sumber daya hayati primer. Sumber daya hayati primer asli adalah semua bagian yang miliki tanaman atau hewan yang digunakan secara langsung tidak melalui proses pengolahan atau bagi hewan tidak melalui proses penyembelihan. Sedangkan sumber daya hayati primer yang diproses adalah bagian-bagian yang dianggap paling bernilai tambah dari sumber daya primer asli yang diperlukan untuk menghasilkan “produk inti”. Contohnya : pohon cemara → kayu batang → pulp untuk kertas.

Sumber daya hayati sekunder adalah SDH yang dihasilkan selama pemrosesan primer dan pada industri pengolahan lebih lanjut dianggap sebagai produk sampingan atau residu. Sifat khas SDH sekunder adalah semakin bertambah asli karena berasal dari bahan murni, mengandung sedikit kotoran, dan diproduksi dalam jumlah yang besar. Sebagai contoh adalah buah residu. Sekitar 25% biomassa jeruk adalah kulit jeruk yang masih mengandung berbagai ekstrak menarik dan bahan organik yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Terdapat dua macam SDH sekunder yaitu : 1. Hasil dari pengolahan. Terdiri dari bagian-bagian yang dimiliki sumber primer yang dapat dipisahkan bukan saja melalui cara mekanis, tetapi juga proses biologis, kimia, atau pun fisik. 2. Residu hasil pemeliharaan, yakni SDH yang dipanen dari area hijau yang luas seperti taman, rumput, tempat olahraga, dan tanggul, kemudian dalam jumlah yang signifikan namun kualitas dan kondisinya terkendali terutama dalam hal kemurnian dan kesegaran.

SDH Tersier pada dasarnya juga merupakan salah satu bagian dari bahan utama, yang dipisahkan sepanjang rantai pengolahan (sumbernya tidak asli), dengan jumlah residu yang dihasilkan lebih sedikit dibadingkan SDH Sekunder. Terbentuk akibat modifikasi yang tidak terkontrol, misalnya produk dari hasil degradasi yang dihasilkan selama penyimpanan dan umumnya memiliki nilai yang lebih rendah daripada SDH sekunder. Contohnya adalah limbah Algae (rumput laut) yang dicampur dengan sampah dari hasil pembersihan di pantai.

SDH kuarter adalah residu yang terjadi setelah suatu produk digunakan yang dapat dibedakan berdasarkan kerangka waktu dari generasi awal setelah mulai dimanfaatkan dalam tiga kategori : jangka pendek, menengah, dan panjang. 1. Kategori jangka pendek, dimulai setelah mulai setelah produk digunakan misalnya konsumsi makanan dan pakan dalam bentuk kotoran dan urin yang dihasilkan pada skala waktu jam tertentu. 2. Kategori jangka menengah, yakni muncul dalam hitungan beberapa hari hingga bulan setelah dimulainya pemanfaatan. Misalnya, bahan pengemasan yang hanya digunakan untuk satu periode transportasi, atau cetakan yang digunakan untuk satu kali pengolahan. 3. Kategori waktu panjang yakni kelompok penggunaan yang dapat mencapai umur tahun sampai ke hitungan abad. Sebagai contoh, bahan-bahan konstruksi kayu, yang terintegrasi di rumah-rumah dapat berlangsung selama beberapa dekade hingga berabad-abad sampai menjadi kayu limbah. Juga bahan yang digunakan untuk konstruksi furnitur umumnya memiliki masa hidup yang panjang mulai dari hitungan tahun sampai ke dekade.

PENGERTIAN KONSERVASI DAN PENGELOLAAN

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengelolaan diartikan sebagai  proses, cara, atau perbuatan mengelola yakni melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain. Pengelolaan juga diartikan sebagai proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi sekaligus pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. Sedangkan konservasi adalah upaya pemeliharaan dan perlindungan sesuatu benda yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan pengawetan dan pelestarian.  Dan secara harfiah, konservasi adalah upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumber daya hayati dan lingkungan dengan cara melindungi dan  melestarikannya dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala dan bersyukur atas segala karunia yang diberikan-Nya.

Usaha konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati akan sangat terkait dengan situasi dan kondisi yang ada pada sumber daya hayati tersebut. Sehingga paling tidak ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam menerapkan usaha konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati yakni : (1) Sumber daya hayati yang dipacu untuk menghasilkan makanan dan serat maka harus dikelola dengan cara memertahankan potensi produktifnya, (2) Sumber daya hayati yang telah mengalami degradasi akibat aktivitas manusia maka harus dipulihkan kelengkapan asli yang dimilikinya dan juga layanan yang dihasilkannya, dan (3) Jika sumber daya hayati tersebut berada dalam kondisi sedikit dipengaruhi oleh aktivitas manusia, maka diperlukan adalah perlindungan fungsinya beserta konservasi keanekaragaman hayati.

PERLINDUNGAN KAWASAN KONSERVASI

Kegiatan konservasi juga selalu berhubungan dengan suatu kawasan, dimana kawasan itu sendiri mempunyai pengertian yakni wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (Undang-undang No. 32 Tahun 2009). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber dayabuatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Sedangkan Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.

Terkait kawasan lindung setidaknya ada dua jenis yakni : Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Cagar alam dan suaka margasatwa merupakan contoh dari Kawasan Suaka Alam (KSA), sementara taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam merupakan bagian dari Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Disebut Cagar alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sedangkan suaka margasatwa mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwanya.

Adapun kawasan budidaya setidaknya ada tiga jenis yaitu : Taman nasional, Taman hutan raya dan Taman wisata alam. Taman nasional mempunyai ekosistem asli yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman hutan raya dibuat untuk tujuan koleksi tumbuhan dan satwa yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Sedangkan Taman wisata alam dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

IDENTIFIKASI DALAM KONSERVASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA HAYATI

Perlu diingat untuk melakukan konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati maka terlebih dahulu diperlukan kegiatan identifikasi masalah dan serta analisis kebutuhan yang diperlukan sumber daya hayati.  Identifikasi berasal dari kata Identify yang artinya meneliti, menelaah. Identifikasi adalah kegiatan yang mencari, menemukan, mengumpulkan, meneliti, mendaftarkan, mencatat data dan informasi dari “kebutuhan” lapangan. Secara intensitas kebutuhan dapat dikategorikan (dua) macam yakni kebutuhan terasa yang sifatnya mendesak dan kebutuhan terduga yang sifatnya tidak mendesak (https://id.wikipedia.org/wiki/Identifikasi). Dalam kaitannya dengan Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati maka identifikasi merupakan langkah awal yang teramat sangat penting, mirip dengan kedudukan niat yakni sebagai dasar beramal dan amalan yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Identifikasi atau dikenal dengan nama pencandraan adalah pengamatan terhadap makhluk hidup yang akan diklasifikasi. Biasanya pengamatan yang dilakukan adala mengamati ciri-ciri dan sifat-sifat yang menempel pada makhluk hidup tersebut. Dalam kajian Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati pengamatan ciri dan sifat dilakukan berdasarkan parameter morfologi, fisiologi, anatomi, kromosom, dan tingkah laku. Untuk menentukan adanya persamaan dan perbedaan diantara dua makhluk hidup yang dibandingkan maka diperlukan alat pembanding berupa gambar, realia atau spesimen (awetan hewan dan tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui namanya, atau juga kunci identifikasi. Dalam hal ini kunci identifikasi disebut juga sebagai kunci determinasi.

Suatu jenis kunci identifikasi yang paling sederhana dan paling mudah digunakan dinamakan sebagai kunci dikotomi. Kunci ini bentuknya menggarpu dan cocok untuk mengidentifikasi suatu makhluk hidup tertentu termasuk dalam kelompok mana saja. Agar memudahkan pemahaman dapat dilihat pada contoh diagram di bawah ini (Gambar 1).

identifkasi makhluk hidup

Gambar 1. Diagram kunci dikotomi klasifikasi makhluk hidup

Empat tahapan yang perlu dilakukan dalam menggunakan kunci determinasi atau identifikasi dengan tujuan menentukan nama suatu kelompok makhluk hidup adalah sebagai berikut : (1) Mengambil objek yang diamati secara lengkap, jika tumbuhan maka bagian yang diambil harus selengkap mungkin, mulai dari akar, batang, daun, bunga, dan buah serta biji. (2) Mengamati objek, jika perlu gunakan lup untuk memperbesar objek. (3) Mencocokkan hasil pengamatan dengan kunci determinasi yang memuat ciri-ciri objek tersebut. dan (4) Menentukan nama atau kelompok objek dan menuliskan rumus determinasinya.

KESIMPULAN

  1. melakukan konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati maka terlebih dahulu diperlukan kegiatan identifikasi masalah dan serta analisis kebutuhan yang diperlukan sumber daya hayati. 
  2. Cara yang diperkirakan efektif untuk mengurangi hilangnya biodiversitas sumber daya hayati adalah mengurangi laju konversi lahan dan membuat perencanaan konservasi dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan populasi manusia, perubahan iklim, dan dampak perubahan global lainnya.
  3. Usaha konservasi dan pengelolaan kondisi sumber daya hayati yang disebutkan di atas membutuhkan suatu itikad yang kuat, perencanaan yang baik, serta seperangkat aplikasi solid yang informatif berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah.

TUGAS

  1. Berikan pendapat dan komentar anda dalam kolom komentar di bawah ini!
  2. Untuk lebih memahami materi mengenai Identifikasi dalam Konservasi PSDH ini silakan klik tautan berikut ini!

KPSDH – Pertemuan 2. Pedoman Penilaian

Pada pertemuan kedua ini kita akan membahas mengenai komponen penilaian dosen, penilaian mahasiswa dan teknis praktikum di lapangan. Silakan diperhatikan, Tabel 1. di bawah ini menjelaskan mengenai komponen penilaian terhadap dosen yakni kehadiran, materi kuliah, sumber bahan kuliah, referensi, kemudahan materi, penguasaan dosen, materi baru, latihan dan pembahasan, membantu pembelajaran dan lain-lain.

Tabel 1. Komponen penilaian terhadap dosen

Penilaian terhadap Dosen

Tabel 2. di bawah ini juga menjelaskan mengenai komponen penilaian terhadap mahasiswa yakni komponen kehadiran, materi kuliah, sumber bahan kuliah, referensi, kemudahan materi, penguasaan dosen, materi baru, latihan dan pembahasan, membantu pembelajaran dan lain-lain.

Tabel 2. Komponen penilaian terhadap mahasiswa

Penilaian terhadap Mahasiswa

Ketentuan lain mengenai penyelenggaraan mata kuliah dan praktikum Konservasi dan PSDH antara lain :

  1. Semua praktikum Konservasi dan PSDH sebisanya akan dibawa ke lapangan, karena real case-nya ada dilapangan, jadi tidak hanya “bekisah” saja.
  2. Akan diadakan pemberitahuan kepada mahasiswa mengenai apa-apa saja yang akan dikerjakan di lapangan, target dan capaiannnya dengan jelas, begitu juga sistem penilaiannya. Namun semua mahasiswa juga harus mengusahakan hadir perangkat memadai, pulsa telekomunikasi, serta pulsa akses internet dan keaktifan koordinasi dengan sesama mahasiswa, asisten dan juga dosen.
  3. Dalam proses penilaian akan diberikan ruang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk menunjukkan kemampuannya secara maksimal, bukan seleksi kemampuan tapi promosi kemampuan mahasiswa secara maksimal. Hal ini ditempuh dengan cara memiilih instrumen pendukung penilaiannya secara optimal.
  4. Kuliah Konservasi dan PSDH dbagi menjadi 16 x pertemuan sesuai dengan jumlah dosen pengajar dan di dalamnya sudah termasuk evaluasi. Evaluasi dilakukan pada saat mahasiswa sudah dianggap memenuhi kompetensi topik yang diberikan, baik single thopic atau pun colective thopic.
  5. Kompetensi disusun berdasarkan acuan atau kenyataan bahwa “kita tidak bisa mengubah batu bara menjadi intan”. Maka kompetensi akan ditinjau dari aspek perspektif, strategis, tapi tetap berpegang pada prinsip “semua mahasiswa pasti belajar, cuma waktu dan expektasinya berbeda-beda”.
  6. Dosen pengajar hanya bertugas memberikan inspirasi kepada mahasiswa tapi tidak paksa mereka untuk mengikuti keinginan mutlak dosen. Selain hal ini tidak berguna juga karena masalah yang akan dihadapi mereka (mahasiswa) ke depan nanti tidak pernah sama dengan masalah dosen sekarang.
  7. Penyelengaraan kegiatan ke lapangan akan dikompromikan waktunya dengan berbagai kondisi, Jikalau dosen memberikan tugas ke mahasiswa maka dosen harus tanggung berjawab mampu mendampingi dan menyelesaikan masalah, kemudian mahasiswa tanggung berjawab menyelesaikan komitmen yang sudah disepakati bersama dengan aktif komunikasi.
  8. Dosen tidak mengeksploitasi mahasiswa untuk mengumpulkan data demi kepentingan sendiri, namun harus ada manfaat yang jelas dan bisa diterima oleh mahasiswa. Dalam hal ini, instruksi yang diberikan harus sangat jelas, termasuk agreements dan serta akibatnya yang tidak boleh merugikan mahasiswa terutama dari sisi waktu.

Silakan komentar dan saran diberikan pada kolom komentar serta pengembangan keilmuan Konservasi dan PSDH juga melalui tautan ini!

KPSDH – Pertemuan 1. Kewajiban Mensyukuri Nikmat

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ المُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النََّاسُ، لَقَدْ قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ فِيْ كِتَابِِِهِ الْكَرِيْمِ:

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain dia, maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)
Di dalam ayat tersebut Allah ta’ala memerintahkan kepada seluruh manusia agar mereka mengingat nikmat-nikmat-Nya. Karena yang demikian ini akan mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah ta’ala.
Kaum muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah ta’ala,
Ketahuilah, bahwa bersyukur kepada Allah ta’ala akan menyebabkan terjaganya nikmat yang dikaruniakan kepada seseorang dan menyebabkan datangnya nikmat-nikmat Allah ta’ala yang lainnya. Namun sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnu Al-Qayyim, syukur itu tidak akan terwujud kecuali jika terbangun di atas lima perkara. Yaitu dengan merendahkan dirinya kepada Allah ta’ala, mencintai-Nya, mengakui bahwa nikmat tersebut merupakan karunia dari Allah ta’ala, memuji Allah ta’ala dengan lisannya, dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk perkara yang dibenci oleh Allah ta’ala. Oleh karena itu, sudah semestinya bagi kita untuk melihat kembali usaha kita dalam mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah. Karena apabila salah satu dari lima perkara yang harus dipenuhi tersebut tidak dilakukan, maka belum dikatakan orang tersebut telah bersyukur.
Dengan demikian, bersyukur itu tidaklah cukup dengan mengucapkan alhamdulillah atau dengan sekadar menyadari bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah ta’ala. Bahkan tidak cukup pula meskipun kemudian dia tunjukkan dengan menghinakan diri serta tidak menyombongkan dirinya kepada Allah ta’ala. Akan tetapi harus dilengkapi dengan mencintai Allah ta’ala dan membuktikan cintanya tersebut dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut di jalan yang diridhai-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah ta’ala telah memberitakan dalam ayat-Nya, bahwa keridhaan-Nya hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia akan meridhai kalian (dari perbuatan syukur tersebut).” (Az-Zumar: 7)
Oleh karena itu, sudah semestinya bagi orang-orang yang mengharapkan surga Allah ta’ala untuk memperbaiki dirinya dalam bersyukur kepada Allah ta’ala. Karena kalau tidak demikian, maka bisa jadi seseorang menyangka dirinya telah bersyukur namun ternyata tidak demikian kenyataannya. Padahal Allah ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya, telah membagi manusia menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok orang-orang yang bersyukur dan kelompok orang-orang yang kufur, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; maka (manusia) ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan: 3)
Maka marilah kita berusaha melihat pada diri kita masing-masing. Pada kelompok yang mana kita berada? Sudahkah kita mensyukuri nikmat waktu, nikmat sehat, penglihatan, pendengaran, lisan dan lain-lainnya dengan menggunakannya untuk beribadah di jalan Allah ta’ala? Sudahkah kita mensyukuri nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada kita, kemudahan dalam sarana transportasi dan komunikasi serta yang semisalnya untuk digunakan di jalan Allah ta’ala? Ataukah justru sarana tersebut digunakan untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ingatlah, bahwa nikmat-nikmat Allah ta’ala yang dikaruniakan kepada kita sangat banyak dan kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, marilah kita mensyukuri nikmat-nikmat Allah ta’ala dan jangan mengkufurinya. Rasulullah n telah mencontohkan kepada umatnya dan menganjurkan umatnya untuk mensyukuri nikmat. Tersebut di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Shahih keduanya, melalui jalan sahabat Anas radiyallahu’anhu: Bahwasanya Nabi n melewati sebiji kurma ketika sedang berjalan, maka beliau bersabda:
لَوْلاَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الصَّدَقَةِ لَأَكَلْتُهَا
“Kalaulah bukan (karena aku takut) kurma tersebut dari shadaqah, sungguh aku akan memakannya.”
Dari satu hadits ini saja, kita bisa mengetahui betapa besarnya perhatian Nabi  terhadap nikmat Allah ta’ala, sehingga tidak membiarkan meskipun hanya sebiji kurma untuk dibuang dan rusak tanpa dimanfaatkan. Kalau kita bandingkan dengan keadaan sebagian kita, akan kita dapatkan perbedaan yang sangat jauh. Makanan yang dibuang sia-sia merupakan pemandangan yang mungkin setiap hari dijumpai di sebagian rumah kita. Baik karena berlebihan dalam memasaknya atau membelinya yang kemudian menjadi rusak dan busuk sehingga kemudian dibuang sia-sia. Padahal terkadang makanan tersebut bukanlah makanan yang murah harganya atau mudah mendapatkannya. Sementara di sekitar rumahnya banyak orang-orang fakir miskin yang tidak memiliki makanan. Sudah semestinya bagi kita semua untuk berusaha memperbaiki dirinya dalam bersyukur kepada Allah ta’ala.
Saudara-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah ta’ala,
Ketahuilah, bahwa seseorang apabila tidak mensyukuri nikmat Allah ta’ala, maka dia akan berada pada satu dari dua keadaan. Kemungkinan yang pertama, Allah ta’ala akan mengambil nikmat tersebut darinya dan kemungkinan yang kedua, nikmat tersebut akan terus bersamanya namun akan menambah beratnya siksa di akhirat kelak. Maka tentunya kita semua tidak ingin terjatuh pada salah satu dari kedua keadaan tersebut.
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa dibiarkannya mereka (terus mendapat nikmat) adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami membiarkan mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka nantinya adzab yang menghinakan.” (Ali ‘Imran: 178)

Dengan demikian kita akan diselamatkan dari berbagai ajaran yang menyimpang dan selanjutnya mendapatkan janji Allah, yaitu kenikmatan surga pada kehidupan yang selamanya nanti. Wallahu a’lam bish-shawab.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dikutip seluruhnya dari :

Anonim. 2011. Kewajiban Mensyukuri Nikmat. Asy Syariah Edisi 039. Alamat : http://asysyariah.com/kewajiban-mensyukuri-nikmat/. Diakses tanggal 13 September 2018.
ِِ

KPSDH – Pertemuan 1. RPKPS

Deskripsi singkat :

Didalam mata kuliah Konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) ini mahasiswa diberikan pengertian-pengertian tentang : penciptaan alam semesta serta penyediaan sumber daya bagi manusia, kewajiban bersyukur atas karunia sumber daya alam hayati dan bersabar atas keterbatasan, pembagian sumberdaya alam hayati dan non hayati, mekanisme hilangnya / pemiskinan sumberdaya alam hayati, prinsip-prinsip dan strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati, upaya konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) di kawasan lindung, dan meningkatkan kapasitas manusia guna melestarikan sumberdaya alam hayati.

Standar Kompetensi :

Menanamkan pengertian kepada mahasiswa akan pentingnya : bersyukur kepada Rabb yang menyediakan sumber daya untuk manusia, konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) sehingga sumberdaya alam hayati dapat tetap lestari bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

Dasar Kompetensi :

Setelah selesai mengikuti mata kuliah Konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati)ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan tentang :

  1. Kewajiban mengenal Pencipta Alam Semesta, bersyukur atas pemberiannya, dan bersabar atas keterbatasan yang ada.
  2. Pengertian sumberdaya alam hayati dan non hayati dan mekanisme hilangnya keanekaragaman hayati.
  3. Prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati
  4. Strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati
  5. Kawasan Lindung di setiap ekosistemdan upaya konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) di kawasan lindung,
  6. Pengenalan penduduk setempat dan hubungannya dengan kawasan lindung.
  7. Meningkatkan kapasitas manusia guna melestarikan sumberdaya alam hayati.

PEMBAGIAN KELOMPOK DISKUSI MK Konservasi dan PSDH

Kelompok 1 : Pengertian sumberdaya alam hayati dan non hayati dan mekanisme hilangnya keanekaragaman hayati.

Kelompok 2 : Prinsip-prinsip konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati

Kelompok 3 : Strategi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati

Kelompok 4 :Kawasan Lindung di setiap ekosistemdan upaya konservasi dan PSDH (Pengelolaan Sumber Daya Hayati) di kawasan lindung,

Kelompok 5 : Pengenalan penduduk setempat dan hubungannya dengan kawasan lindung.

Kelompok 6 : Meningkatkan kapasitas manusia guna melestarikan sumberdaya alam hayati.

Rencana Kegiatan :

Minggu 1 : Pendahuluan, Silabus, Kontrak Kerja, dan Perencanaan Praktikum

Minggu 2 : Presentasi mengenai : Penciptaan Alam Semesta, bersyukur atas pemberiannya, dan bersabar atas keterbatasan yang ada

Minggu 3 : Diskusi kelompok 1 sd kelompok 6 : Presentasi

Minggu 4 : Identifikasi konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Minggu 5. Analisis deskriptif dan SWOT konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Minggu 6. Perencanaan konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Minggu 7 : Praktik konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut)

Referensi :

  1. Al-Quran dan Terjemahan. Departemen Agama, Republik Indonesia.
  2. Abdurrahim. U.A.A. 2015. Ilmu Pengetahuan Alam Dalam Al Qur’an dan Hadits. ISBN. 978-979-153070-7-0. Cetakan Pertama. Penerbit Hikmah Anak Sholih, Yogyakarta.
  3. Anonim. 1995. Strategi Keanekaragaman Hayati Global. Gramedia . Jakarta;
  4. Hardjo Soemantri. 1991. Konservasi SDAH dan Ekosistemnya. UGM. Yogyakarta;
  5. John and Kathy Mac Kinnon. 1993. Pengelolaan Kawasan Yang dilindungi Di
    Daerah Tropis. Gajah Mada Press. Yogyakarta;
  6. Soerianegara I. 1998. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Dan Lingkungan . IPB.
    Bogor;
  7. Mangunjaya, F.M. 2006. Hidup Harmonis dengan Alam. Esai esai Pembangunan
    Lingkungan, Konservasi dan Keanekaragaman Hayati. Yayasan Obor Indonesia.
  8. Mochamad Indrawan, Richard B. Primack dan Jatna Supriatna. 2007. Biologi
    Yayasan Obor Indonesia.
  9. Kadarsah, A. 2015. Waterbirds Biodiversity And Attendance In Rhizophora Sp. Mangrove Stands Of Varying Planting Ages. TWJ VOLUME 1 No.1 NOVEMBER 2015 ISSN : 2338-7653. http://twj.unlam.ac.id/index.php/twj/article/download/7/6.

  10. Kadarsah, A., dan Krisdianto. (2016). Identification And Characterization Of Anthropogenic Activities And Its Effect On Wetlands Ecological Functions : Simulation Case Of Riam Kanan River In Banjar District. Presented at International Conference of the Society for Indonesian Biodiversity (ICB). May 29, 2016. Padjadjaran University, Bandung. Alamat : http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/S/gen/pdf/A0304aaALL.pdf.

  11. Kadarsah, A. & Susilawati, I. O. (2018). Kajian Perbandingan Luas Pekarangan dan Kearifan Lokal Jenis Tanaman Obat di Pesisir pantai Kabupaten Tanah Laut. Jurnal Biodjati, 3 (1), 36-46.

Tugas tambahan :

  1. Silakan klik tautan berikut ini untuk mengisi biodata terkait materi kuliah Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Hayati!
  2. Jangan lupa berikan komentar terkait tulisan pada website ini!

Penilaian :

NO KOMPONEN PERSENTASE PENGAJAR
1 TUGAS 1 10 ANANG KADARSAH,S.Si.,M.Si.
2 UTS 1 20 ANANG KADARSAH,S.Si.,M.Si.
3 PRAKTIKUM 1 20 ANANG KADARSAH,S.Si.,M.Si.
4 TUGAS 2 10 DR. DRS. KRISDIANTO, M.Sc.
5 PRAKTIKUM 2 20 DR. DRS. KRISDIANTO, M.Sc.
6 UAS 20 DR. DRS. KRISDIANTO, M.Sc.
TOTAL 100

Wawasan Biologi Lingkungan

Konsep Biologi Lingkungan
Berbicara tentang biologi lingkungan maka kita akan dihadapkan kepada pemahaman tentang bagaimana lingkungan kita bekerja dan bereaksi. Pengetahuan seperti ini tentunya membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang organisme apa saja yang hidup di dalamnya, bagaimana organisme berinteraksi dan sistem seperti apa yang digunakan untuk menunjang kehidupan di mana mereka berpartisipasi. Kita perlu menyadari bahwa bumi yang kita tinggali ini memiliki kapasitas, waktu, dan ruang yang terbatas. Pemahaman mengenai arti penting biologi lingkungan sangat berguna untuk pengembangan pengetahuan lain seperti : sejarah lingkungan, geografi, penggunaan dan pengembangan lahan, penilaian dampak lingkungan, pertanian dan kehutanan, perubahan iklim, pencemaran dan juga konservasi sumber daya.
Konsep Wawasan Lingkungan

Secara umum wawasan lingkungan yang digunakan manusia berabad lalu sampai sekarang cenderung menggunakan pendekatan antroposentrisme. Antroposentrisme memandang bahwa segala sesuatu di muka bumi meliputi segala sumber daya alam yang terbentang luas di segala sudut digunakan sepenuhnya untuk kepentingan manusia dan kebutuhan di dunia semata. Sehingga organisme lain yang berada di sekitarnya kurang diperhitungkan manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di muka bumi. Organisme lain tersebut termasuk di dalamnya tumbuhan, hewan, berbagai protista, jamur, eubakteri dan arkeabakteri seolah tidak punya hak yang sama dengan manusia. Padahal organisme lain ini berhak hidup dan melangsungkan kehidupannya. Memang organisme lain ada yang sangat mengganggu dan menyebabkan penyakit pada manusia. Manusia berupaya terus membasmi berbagai organisme pengganggu ini. Sementara terdapat berbagai makroorganisme yang terpaksa mengalah dan terdesak oleh berbagai kepentingan manusia akhirnya mati danmusnah. Makroorganisme ini sekarang ini hanya tersisa beberapa spesies dan bahkan populasinya hanya dalam jumlah sedikit dan dalam kondisi terancam. Akibat manusia menjadi terlalu dominan di alam bumi ini (Sueb, 2014).

Konsep Islam dalam memandang lingkungan memang jauh berbeda dibandingkan dengan konsep di atas (pendekatan antroposentrisme). Islam memandang bahwa pengelolaan lingkungan dan sumber daya harus dilandasi oleh keyakinan bahwa dia adalah seorang hamba yang diberi tugas sebagai khilafah (pelaksana) di muka bumi ini dalam rangkaian beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, juga mengikuti tuntunan dari utusan-Nya yakni Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Pengetahuan terhadap hal tersebut akan menuntun manusia untuk bijaksana dan arif memanfaatkan keterbatasan bumi ini dan beramal dengan sebaik-baiknya, kemudian memperoleh balasan atas perbuatan baik tersebut di akhirat nanti. Islam adalah agama yang sempurna mengatur sendi-sendi kehidupan bukan hanya kehidupan manusia tapi semua makhluk (nyata maupun ghaib). Konsep Islam yang diadopsi di negara kita terdapat pada Undang-Undang Lingkungan No. 4 Tahun 1982 yang menyatakan bahwa lingkungan hidup, yaitu sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Meskipun demikian, manusia adalah makhluk yang memiliki beban paling berat, karena manusia sudah menyanggupi dirinya menjadi pengelola (khalifah) di muka bumi ini dan tentunya yang paling bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup bumi ini. Kita mengenal bahwa lingkungan diketahui terdiri atas unsur biotik seperti : manusia, hewan, dan tumbuhan dan juga unsur abiotik seperti : udara, air, tanah, iklim dan lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (Al Qur’an Surat Al Hijr : 19 – 20).

Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang disediakan oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah media utama kehidupan yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah Allah Subhanahu wata’ala berfirman :“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Qur’an Surat Al Mulk : 15). Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.

Konsep Penguasaan Biologi Lingkungan

Untuk tujuan penguasaan pengetahuan Biologi, menurut KOBI (2015) diperlukan setidaknya tiga aspek penguasaan penting yang masing-masing mengandung pemahaman tersendiri yakni : (1) Penguasaan pengetahuan tentang prinsip- prinsip biologi (misal: konsep spesies, populasi, gen) ; (2) Penguasaan pengetahuan tentang konsep aplikasi bidang biologi (misal: konsep mengaplikasikan metode analisis vegetasi untuk konservasi sumber daya hayati), dan (3) Penguasaan pengetahuan tentang prinsip dasar aplikasi perangkat untuk keperluan analisis dan sintesis di bidang Biologi (misal: prinsip dasar aplikasi mikroskop ). Dalam hal ini, lulusan biologi dituntut memiliki aspek lain yakni Kemampuan Kerja (Khusus) yang dijabarkan menjadi tiga kemampuan, yaitu : (1) kemampuan lulusan dalam memecahkan masalah sederhana di bidang Biologi berkaitan dengan kontribusinya dalam suatu tim/organisasi untuk pengambilan keputusan yang tepat, (2) kemampuan memanfaatkan keilmuan Biologi dalam kehidupan sehari-hari baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakatnya, dan (3) kemampuan untuk melaksanakan ide kreatif dalam mengelola sumber daya hayati di lingkungan tertentu (lingkup spesifik).
Kajian Biologi
Dalam bidang kajian biologi, cabang ilmu pengetahuan alam ini mempelajari tentang sistem organisasi makhluk hidup yang mencakup kajian struktur, proses, keanekaragaman dan kelangsungan sistem tersebut. Karena itu kajian biologi selanjutnya didalami pada :
(1) Biologi Sel dan Molekuler yang mempelajari organisasi benda hidup tingkat sel dan sub-seluler,
(2) Fisiologi mempelajari proses-proses yang terjadi dalam sistem benda hidup,
(3) Genetika yang mempelajari substansi gen dan proses-proses pewarisannya untuk menjamin kelangsungan sistem benda hidup,
(4) Struktur dan Perkembangan yang mempelajari organisasi tingkat individu dan perubahan ontogenik organisasi tersebut,
(5) Biosistematika dan Evolusi yang mempelajari keanekaragaman mahluk hidup dan sejarah filogeninya, serta
(6) Ekologi yang mempelajari organisasi interaksi individu dari tingkat populasi, komunitas, ekosistem sampai dengan biosfer.
Enam bidang kajian tersebut kemudian disebut sebagai Bonggol Ilmu Biologi.
Ekologi sebagai Dasar Ilmu Lingkungan
Dalam kajian biologi lingkungan, ekologi menjadi dasar pengembangan keilmuan dan pemanfaatan konsep serta aplikasinya. Dengan demikian, bahan kajian minimum
yang harus dikuasi mahasiswa peminat biologi lingkungan adalah meliputi hal-hal berikut ini :
1. Ekologi: konsep populasi dan komunitas, habitat dan relung ekologis, Interaksi organisme dengan lingkungannya, food web dan food chain, ekosistem.
2. Ekologi Populasi: Dinamika populasi dan faktor pembatas.
3. Ekologi Komunitas: suksesi dan dinamika komunitas.
4. Biodiversitas: Ruang lingkup, Biodiversity value,dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
5. Biokonservasi: prinsip dasar, ecosystem services, rancangan dan manajemen konservasi.
6. Ilmu Lingkungan: Ruang lingkup dan elemen-elemen lingkungan, kualitas lingkungan hidup, masalah lingkungan,sumber daya air, tanah dan batuan.
Pustaka

Mitchell, B., dkk. (2000). Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Sueb. (2014). Mengembangkan Wawasan Lingkungan dengan Menggunakan Paradigma Ekologis Baru Sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Lingkungan. Available from: https://www.researchgate.net/publication/282660967_Mengembangkan_Wawasan_Lingkungan_dengan_Menggunakan_Paradigma_Ekologis_Baru_Sebagai_Upaya_Mengurangi_Pencemaran_Lingkungan [accessed Sep 06 2018].

Note :

Untuk peserta matrikulasi Biologi FMIPA ULM Semester ganjil 2018/2019 mengenai Wawasan Biologi Lingkungan silakan klik tautan berikut ini untuk mengisi biodata dan diskusi mengenai materi Wawasan Biologi Lingkungan

Tips Cepat Berkualitas Membuat Laporan Penelitian Pendidikan

Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi Ahad siang tanggal 24 Desember 2017  atau bertepatan dengan tanggal 5 Rabiul Akhir 1439 pada Grup Guru Dahsyat Nusantara (Silakan klik di sini untuk pendaftaran)

  1. Tetapkan niat (motivasi)

Dari Amirul Mu’Minin, Abi Hafs Umar Bin Al Khattab Radiyallahuanhu, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung kepada niatnya  dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya  karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim). Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dan semuanya bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu hal pun yang bersifat instan. Walaupun judulnya cara cepat, namun semuanya perlu persiapan, dan perlu setting berkualitas. Oleh karena itu sebelum memulai pelatihan tetapkan niat kita tidak sekedar untuk mendapatkan pengetahuan namun untuk mendapatkan keridhoan dari Allah Subhanahuwata`ala. Aamiin.

2. Susun strategi pembuatan laporan

Ibarat membangun sebuah rumah, setiap orang biasanya membuat laporan kegiatan yang sebaik mungkin tentunya dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti : 1) alokasi waktu, 2) ketersediaan alat bahan, 3) paling penting adalah dana, dan sebagainya. Dalam menyusun strategi pembuatan laporan penelitian yang paling tepat adalah disesuaikan dengan (niat) atau tujuan penelitiannya. Berikut ini adalah beberapa metode yang sering saya gunakan sehingga Bapak / ibu dapat menerapkanny dalam menyusun strategi membuat laporan penelitain yakni : 1) Metode SKS (Sistem Kebut Semalam), 2) Metode A3L (Alon-alon Asal KeLakon), dan 3) Metode ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Nah manakah yang paling baik?

3. Perhatikan bentuk atau format laporan penelitian

Secara umum format laporan penelitian adalah :

1. Pendahuluan.

Bagian ini antara lain berisi: latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

2. Tinjauan pustaka

Bagian ini antara lain berisi: kajian teori, kerangka berpikir penelitian, serta hipotesis penelitian

3. Prosedur penelitian

Bagian ini antara lain berisi: jenis dan pendekatan penelitian, waktu dan tempat penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknis analisis data

4. Hasil dan pembahasan penelitian

Bagian ini antara lain berisi: laporan data-data hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian berdasarkan data-data yang telah diperoleh

5. Kesimpulan dan saran penelitian

Bagian ini antara lain berisi: kesimpulan penelitian, dan saran atau rekomendasi peneliti berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.

Catatan : Sistematika laporan penelitian terkadang tidak sama antara penelitian satu dengan penelitian lainnya. Hal ini bergantung pada pemikiran si peneliti, atau kadang telah ditentukan oleh institusi yang menaungi dan atau membiayai penelitian tersebut.

4. Mulai mengerjakan laporan penelitian :

  1. Bikin rincian rencana kegiatan : Rincian dapat dibuat menggunakan tabel
  2. Kumpulkan alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat Laporan Penelitian Pendidikan misalnya : komputer, hape, akses internet, buku tulis, buku pustaka, alat tulis dan lain-lain.
  3. Siapkan dua buah buku : buku kerja dan buku catatan keuangan
  4. Siapkan dua buah file: file kerja dan file catatan keuangan
  5. Berikan nama gabungan sesuai urutan tanggal kegiatan dan nama kegiatan : misal 20171224 Semnas GGDN Pelatihan Laporan Penelitian Pendidikan
  6. Gunakan software legal : system (windows asli atau linux) maupun officenya (Microsoft Office atau software legal lain dan free seperti WPS (https://www.wps.com/download/).

5. Mengenal Metode Penelitian Pendidikan

  1. Sebelum membuat laporan penelitian pendidikan kita kenali dulu apa yang dimaksud dengan Metode Penelitian Pendidikan. Metode Penelitian Pendidikan adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.
  2. Secara umum data yang telah diperoleh dari penelitian dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengatisipasi masalah. Memahami berarti memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu, memcahkan berarti meminimalkan atau menghilangkan masalah, dan mengantisipasi berarti mengupayakan agar masalah tidak terjadi.
  3. Jenis-jenis metode penelitian pendidikan dibagi menjadi dua yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel umumnya dilakukan secara acak, Pengumpulan datanya menggunakan instrumen penelitian tertentu. Dan analisis datanya juga bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, (sebenarnya), Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci.
  4. Pengambilan sampel dari sumber data dilakukan secara puposive (tujuan tertentu)dan snowball sampling (sampel diperoleh melalui proses bergulir dari satu responden ke responden yang lainnya). 
  5. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara : trianggulasi (gabungan), Analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna secara umum.
  6. Dari kedua metode tersebut lahirlah metode-metode baru yang mendukung diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Metode Survey : peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, test, wawancara terstruktur dan sebagainya perlakuan tidak seperti dalam eksperimen). Metode ini hanya berkisar pada ruang lingkup: 1. Ciri-ciri demografis masyarakat, 2. Kondisi lingkungan sosial, dan 3. Aktivitas, dan 4. Pendapat dan sikap.
  • Metode Ex-post-facto : hampir sama metode penelitian deskriptif, akan tetapi bertujuan untuk mengekspos kejadian-kejadian yang sedang berlangsung.
  • Metode Eksperimen : digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu. Misalnya pengaruh ruang kelas ber AC terhadap efektivitas pembelajaran.
  • Metode Naturalistik : digunakan untuk meneliti pada tempat yang alamiah, dan penelitian tidak membuat perlakuan karena peneliti dalam mengumpulkan data bersifat emic, yaitu berdasarkan pandangan dari sumber data bukan pandangan peneliti.
  • Metode Action Research : dilakukan sepanjang proyek dengan terus menerus mencari kelemahan-kelemahan untuk suatu penyempurnaan. Untuk itu cara kerja trial and error mendominasi kerja penelitian paksi ini. Contoh proyek pendayagunaan zakat secara efektif dan efisien.
  • Metode Evaluasi : bertujuan ingin menjawab pertanyaan sampai sejauh mana proyek telah tercapai sesuai yang ditentukan, contoh Apakah cara belajar siswa aktif sudah diterapkan dalam proses belajar mengajar?
  • Metode Sejarah : bertujuan membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi memverifikasikan serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat
  • Metode R & D : bersifat longitudinal (beberapa tahap), yakni : 1). Untuk penelitian analisis kebutuhan sehingga dihasilkan produk yang bersifat hipotetik sering digunakan metode penelitian dasar (basic research). 2). untuk menguji produk yang masih bersifat hipotetik tersebut digunakan eksperimen, atau action research. 3). Setelah produk teruji, maka dapat diaplikasikan. Proses pengujian produk dengan eksperimen tersebut, dinamakan penelitian terapan (applied research).

5. Cara membuat laporan penelitian pendidikan :

  • Mencermati komponen-komponen laporan hasil penelitian di atas, maka laporan penelitian pada Bab I, Bab II, dan Bab III paparannya dapat menggunakan apa yang sudah ditulis pada Bab I, Bab II, dan Bab III proposal penelitian.
  • Proposal penelitian berisi rencana bagaimana penelitian akan dilakukan. Oleh karena itu, untuk melaporkan bagaimana penelitian telah dilakukan, peneliti dapat mengunakan proposal tersebut sebagai bahan untuk menulis laporan, tentu dengan beberapa penyesuian.
  • Penyesuaian ini terutama berkaitan dengan hal-hal yang berbau “rencana” dalam proposal dirubah tidak lagi sebagai rencana melainkan sesuatu yang memang telah dilakukan.
  • Mengingat laporan merupakan paparan pasca penelitian, maka istilah-istilah yang berarti “rencana” harus disesuaikan, misal: pada proposal dikatakan bahwa “penelitian ini akan dilakukan untuk …” maka dalam laporan berubah menjadi “penelitian ini dilakukan untuk …”, tanpa ada kata “akan” lagi.
  • Selain itu, apabila dalam pelaksanaan penelitian ternyata terdapat beberapa penyesuaian langkah penelitian berbeda dengan proposal, maka dalam laporan penelitian dituliskan langkah-langkah nyata yang telah dilakukan, dan menghapus yang dituliskan dalam proposal.
  • Selanjutnya, peneliti tinggal menuliskan Bab IV dan Bab V, yaitu tentang hasil dan pembahasan serta kesimpulan dan saran penelitian

6. Cara memaparkan dan menjelaskan hasil penelitian pendidikan :

  • Bagian ini berisi paparan objektif peneliti terhadap hasil-hasil penelitian, antara lain: penemuan-penemuan penelitian, penjelasan serta penafsiran dari data dan hubungan yang diperoleh, serta pembuatan generalisasi dari penemuan. Apabila terdapat hipotesis, maka pada bagian ini juga dijelaskan proses pengujian hipotesis serta hasilnya. Hasil penelitian harus disajikan secara jelas dan sistematis agar mudah dibaca dan dipahami.
  • Penyajian hasil penelitian dapat dilakukan dengan cara deskriptif (naratif), menggunakan tabulasi, tabel atau grafik, atau dengan menggunakan gabungan dua atau ketiganya secara sekaligus. Penggunaan ketiga cara tersebut disesuaikan dengan jenis data dan sejauh mana diskripsi data akan dijelaskan. Biasanya, untuk memberikan paparan yang jelas, peneliti menggunakan ketiga cara tersebut secara bersamaan. Misalkan, pada awalnya peneliti memaparkan narasi temuannya, kemudian didukung dengan sajian data dalam bentuk tabulasi, tabel atau grafik. Atau, peneliti menyajikan data-data hasil penelitian, kemudian didukung grafik dilanjutkan deskrisi naratifnya.
  • Cara membahas hasil penelitian pendidikan :
    • Pembahasan dimaksukan untuk menyajikan gambaran yang lebih tajam terhadap data-data temuan, sehingga pada bagian ini peneliti tidak hanya sekedar menyajikan ulang data, melainkan memberikan analisis, penafsiran, dan pemaknaan terhadap temuannya. Dengan demikian jelas bahwa esensi dari pembahasan adalah menjelaskan pemaknaan terhadap data-data hasil penelitian sehingga dapat dipahami dengan jelas temuan penelitian yang diperoleh.
    • Pembahasan dapat dilakukan dengan fokus pada aspek teoritis dan aspek metodologis. Pada aspek teoritis, perlu dijelaskan dan dibandingkan antara premis- premis yang sudah digunakan untuk membangun hipotesis dengan kenyataan empiris di lapangan. Bila teori yang ada belum mampu menjelaskan fenomena tersebut, dapat digunakan logika, baik deduktif maupun induktif. Pada aspek metodologis perlu disadari bahwa tidak ada sebuah penelitian yang sempurna, yang sedikit banyak akan mempengaruhi hasil penelitian. Dalam kaitannya dengan hal ini, peneliti perlu mengkaji kemungkinan hasil penelitian tersebut dipengaruhi oleh kontribusi langkah-langkah metodologis yang sudah dilakukan, misalnya apakah cara penetapan variable benar, cara analisi datanya tepat dan sebagainya.
    • Pembahasan juga dilakukan dengan analisis mendalam terhadap hasil penelitian. Berdasarkan data-data yang ada, peneliti mengkomunikasikan apa arti atau penafsiran data tersebut terkait dengan masalah yang akan dipeccahkan dalam penelitian. Dalam hal ini peneliti juga perlu menyampaikan bagaimana analisis peneliti terhadap data yang ada, baik secara sendiri-sendiri, maupun pembacaan terhadap keseluruhan data. Analisis dan penafsiran terhadap data ini kemudian dilanjutkan dengan penjelasan peneliti mengenai pemecahan masalah yang sedang diteliti.
    • Pembahasan juga perlu dilakukan dengan melakukan pembandingan hasil penelitian penelitian yang diperoleh dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya, referensi atau teori-teori yang ada. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan interpretasi yang lebih luas dan mendalam terhadap hasil-hasil yang diperoleh. Dengan demikian, hasil penelitian yang diperoleh dapat dipahami secara komprehensif dan mendalam sehingga nampak dengan jelas bagaimana hasil penelitian yang didapatkan diantara hasil-hasil penelitian dan teori-teori yang pernah ada.
    • Penjelasan harus dibuat bukan hanya jika hasil penelitian sesuai dengan hipotesis, bahkan jika tidak sesuaipun harus dibuat penjelesannya. Hal ini mengingat bahwa tidak setiap hipotesis dapat dibuktikan kebenarannya melalui penelitian yang dilakukan.
    • Penelitian tidak diharuskan dapat membuktikan kebenaran hipotesis sehingga apabila ternyata data-data hasil penelitian tidak mendukung pembuktian kebenaran hipotesisnya, peneliti harus memberikan penjelasan apa adanya dan memadai agar temuannya tersebut dapat dipahami dengan baik.

Profil GGDN

Grup Guru Dahsyat Nusantara berdiri sejak tahun 2016 dengan kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan guru kreatif abad 21 yang diselenggarakan online via Aplikasi whatsapp & Telegram dengan jumlah alumni lebih dari 10.000 se Indonesia

Adapun tema-tema diklatnya yaitu : Menjadi Guru Kreatif, Guru Berprestasi, Membuat Blog, Membuat Animasi Pembelajaran, Penelitian Tindakan Kelas, Display Kelas, Implementasi Kurikulum 2013, Membuat Buku Berjamaah, Pelatihan Kewirausahaan, Teacher Trainer, dll

Dibuat secara online tidak lain tujuannya agar lebih memudahkan peserta untuk ikut serta dimanapun mereka berada dan dengan biaya yang relatif jauh lebih murah dibandingan dengan Diklat secara tatap muka.

Visi & Misi Grup Guru Dahsyat Nusantara

Visi
Menjadi Diklat Online Guru Terbaik Dalam Mencetak Guru Professional Dan Berkarakter

Misi
Mencetak Guru Yang Kompeten Dan Professional serta Konsisten Dalam Berprestasi
Memberikan Solusi Dalam Peningkatan Kompetensi Guru
Menyelenggarakan Diklat Online Guru Yang Kreatif & Religius

Nilai-Nilai
Think Globaly Do Localy
Entrepeneurship
Leadership
Creativ

Grup Guru Dahsyat Nusantara berada dalam naungan Yayasan Guru Nusantara dengan SK. MENKUMHAM NOMOR AHU-0011453.AH.01.04. TAHUN 2017

Untuk bergabung silahkan pasang aplikasi telegramnya

Lalu klik —> https://t.me/grupgurudahsyatnusantara

Atau search @grupgurudahsyatnusantara