Arsip Kategori: pendidikan

Sustainable Context Highlighting a Sustainable Bamboo Sector

This report is talk about the development of NTFPs (Non Timber Forest Products) in China is an organic combination of sustainable resource cultivation, highefficiency industrial processing and smooth marketing networks, and a constructive institutional culture. NTFPs and their production has become one of the supporting pillars of economic development in the rural areas of China. This activity done about 4 years before Pandemic Covid-19

Conclusion

All activity of this workshop is talk about practically sustainable of bamboo in China. This is very useful for all organized Indonesian peoples, especially to increase knowledge and management ability of bamboo as renewable resource, which is cheap and widely available. In addition, many project and activities on bamboo project can be hold easy to process and acceptable in price. The best workshop theme is about bamboo-based composites will become a highly competitive alternative to woodbased composites and an important forest based product in the future.


Recommendations
a. A well-organized technology dissemination system is one of the key aspects of China’s rapidly growing bamboo industry.
b. Multi-level participation: Local governments, scientists, businesses and farmers join hands with local government officials, participating in the establishment and development of technology extension stations.
c. Technology service contracts: Scientists sign contractual agreements with businesses and local farmers to provide technical services and to compensate farmers if household profit is less than the expected specified in the contract.
d. Training workshops for farmers: Several workshops were held to train the farmers in the application of the new technologies and methods.
e. Demonstration sites: Exemplary bamboo plantation sites, successful rural farmer households and enterprises are identified to illustrate results from use of new technologies and to provide motivation for others to participate.
f. Evaluation policy for scientists and technicians: Scientists and technicians who contribute on both academic research and technology dissemination will be given different kind of rewards, including a promotion in rank or position.

Mengatasi Pandemi Covid-19 Dengan Doa dan Usaha

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyampaikan bahwa virus Covid-19 tidak bisa hilang dalam waktu singkat dan menjadi masalah di seluruh dunia. Oleh karena itu tatanan hidup normal yang baru perlu diterapkan oleh masyarakat adalah berkomitmen kuat untuk berdampingan dengan situasi seperti ini (pandemi Covid-19).

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mulai mengubah budaya dasar (kebiasaan buruk) yang sering kita lakukan menuju budaya dasar (kebiasaan baik) yang baru atau disebut menuju ke kehidupan normal yang baru. Kehidupan normal yang baru adalah kebiasaan-kebiasaan untuk hidup bersih dan sehat. Kebiasaan tersebut meliputi : 1) selalu cuci tangan pakai sabun dan air mengalir minimal 20 detik, 2) memakai masker jika harus ke luar rumah, 3) menghindari kerumunan, dan 4) menjaga jarak kontak secara fisik. Ini semua merupakan bagian dari kehidupan normal yang baru, dimana ini adalah satu-satunya cara mengendalikan Covid-19 ini dengan baik.

Namun kita perlu mengingat bahwa basis adanya perubahan kehidupan normal yang lebih baik ada pada diri kita sendiri, termasuk keluarga yang menjadi tempat berinteraksi paling nyaman saat ini. Oleh karena itu pemimpin keluarga (ayah) harus bisa memberikan teladan agar bisa menerapkan kehidupan normal yang baru. Demikian pula dengan istri sebagai wakil kepala keluarga harus bisa memberikan arahan yang tepat kepada anak-anaknya untuk menerapkan perilaku sehat dalam mewujudkan kehidupan normal baru beradaptasi dengan pandemi covid-19.

Tatanan kehidupan normal yang baru tidak berarti membatasi produktivitas setiap orang, akan tetapi lebih diharapkan untuk memperbaiki kualitas hidup yakni menerapkan akhlak yang baik dan mencegah kemunkaran. Membersihkan tangan, menghindari menyentuh mata dengan tangan kotor, menerapkan etika batuk yang benar, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan termasuk contoh akhlak baik yang dianjurkan pemerintah kita dalam rangka menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus corona diantara sesama muslim. Sedangkan meningkatkan ketekunan ibadah, bertauhid dan meninggalkan kesyirikan, menegakkan sholat lima waktu, melaksanakan puasa dan zakat serta berusaha untuk haji ke baitullah merupakan akhlak yang dituntut Islam dalam rangka memohon pertolongan kepada Allah Subhanahuwa`ala agar segera mengangkat wabah pandemi covid-19 dan menyelamatkan kaum muslimin dan manusia secara keseluruhan.

Tatanan hidup baru, bukan sarana untuk bermalas-malasan, justru dengan segala keterbatasan aktivitas, masyarakat tetap produktif menjalankan ibadah dan beramal sholeh tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan. Beberapa usaha mengendalikan Covid-19 di era normal yang baru ini tentunya harus dimulai dengan usaha dan kesadaran dari diri kita sendiri dahulu (dengan selalu memohon pertolongan dari Allah Subhanahuwata`ala semata), kemudian kita membuka diri untuk bekerjasama terutama dengan keluarga terdekat dan tetangga. Usaha-usaha yang bisa dilakukan antara lain : 1) membersihkan tangan, 2) menhindari menyentuh mata, 3) menerapkan etika batuk yang benar, 4) memakai masker, 5) menjaga jarak dan 6) menghindari kerumunan seperti terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Bentuk usaha yang bisa dilakukan oleh sendiri dan keluarga untuk mencegah Covid-19

Sumber tulisan :

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/03/182900365/5-hal-sederhana-yang-dapat-dilakukan-untuk-cegah-penyebaran-virus-corona?page=all

https://republika.co.id/berita/q8gg9n414/lakukan-karantina-mandiri-jika-alami-gejala-ringan-covid-19

Strategi Pengelolaan Potensi Tumbuhan Api-api (Avicennia Sp.) dalam Restorasi Ekosistem Mangrove

Tidak disangsikan lagi bahwa pengelolaan sumber daya hayati memerlukan koordinasi dan strategi yang terpadu agar program restorasi ekosistem mangrove dapat dilakukan secara berkelanjutan (Rudianto, 2018). Terkait konflik kepentingan, maka partisipasi penduduk lokal yang baik adalah faktor terpenting untuk mengatasinya (Januarsa dan Luthfi, 2017). Penduduk lokal selain pengguna secara langsung, juga berkewajiban mengelola sumber daya dan fungsi ekologisnya pada wilayah restorasi dan konservasi (Rusdianti dan Sunito, 2012). Hal ini disebabkan mereka kaya pengalaman termasuk memiliki nilai kearifan lokal (Nugroho dkk., 2019) yang telah teruji bisa menjaga keberlanjutan kawasan tersebut (Eddy dkk., 2019).

Meskipun demikian strategi pengelolaan sumber daya hayati di suatu wilayah, tidaklah bijaksana jika hanya membahas aspek positif (kelebihan dan potensi) saja tanpa membahas potensi negatifnya (ancaman dan tantangan).
Seperti halnya yang terjadi pada ekosistem hutan mangrove di Desa Pagatan Besar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang menimbulkan dua pandangan yang sangat kontradiktif. Satu sisi menurut hasil penelitian Sarmila (2012) ekosistem hutan mangrove di Desa Pangatan Besar tadi sejak tahun 2000 mengalami penambahan luas daratan (akresi) kemudian membentuk kawasan baru dan dianggap memiliki potensi sumber daya hayati tinggi dengan hadirnya tumbuhan api-api (Avicennia sp.). Namun di sisi lain, kehadiran hutan mangrove tersebut dianggap menimbulkan rasa tidak aman oleh sebagian penduduk karena menjadi tempat persembunyian pelaku kejahatan. Ketidaksepahaman pendapat juga terjadi antara penduduk dengan pembakal (lurah) mengenai pandangan ke laut yang terhalang oleh hutan mangrove, serta ketidakjelasan status lahan oloran (Soendjoto dan Arifin, 1999).

Lalu bagaimana cara menggali informasi mengenai kearifan lokal dan merancang strategi pengelolaan potensi tumbuhan Api-api (Avicennia Sp.) dalam restorasi ekosistem mangrove? Selengkapnya silakan baca pada tautan berikut ini!

Kaidah Thibbun Nabawi di Masa Pandemi

Sebagaimana kita ketahui (ummat Islam khususnya) bahwa Pengobatan ala Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan media dakwah yang menggunakan pendekatan dakwah bil haal. Apa artiya? Dakwah bil haal adalah kegiatan yang mengutamakan action approach atau perbuatan nyata, yakni dakwah yang mengutamakan sikap, akhlak, kemampuan, kreativitas dan perilaku pendakwah (da’i) yang secara luas meliputi semua aspek kehidupan dengan mencontoh apa yang telah dikerjakan oleh para pendahulu dari kalangan yang shalih (Salafus Shalih).

Banyak sekali pengobatan yang dicontohkkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diantaranya penggunaan metode bekam bisa menyembuhkan penyakit stroke.

Metode lain yang digunakan oleh Rasulullah adalah Ruqyah Syar’iyyah, misalnya membacakan Surah Al Baqarah untuk mengobati orang yang terkena sihir.

Namun secara umum, kaidah pengobatan Islam menurut para ulama salafus shalih ada 3 (tiga) macam :
1. Menjaga/memelihara kesehatan
2. Melindungi diri dari hal-hal yang membahayakan kesehatan
3. Mengeluarkan zat-zat yang bisa merusak kesehatan dari dalam tubuh

Pertanyaan : Bagaimana menerapkan ketiga kaidah tersebut terutama pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini yang sudah berlangsung selama 2 tahun?

  1. Menjaga atau Memelihara kesehatan bisa dilakukan dengan cara membangun sistem imun tubuh yang prima. Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan terkait dengan tujuan ini akan selalu berhubungan dengan aktivitas manusia sehari-hari baik usia muda maupun tua misalnya : 1) mengatur pola makan dan menu makanan yang bisa menguatkan sistem imun, 2) melakukan olahraga yang teratur, 3) istirahat yang cukup, 4) menenangkan hati dengan ibadah dan sering berdoa serta dzikir, dan sebagainya.
  2. Melindungi diri dari kemungkinan masuknya zat-zat berbahaya bagi tubuh seperti racun, limbah, bakteri dan virus. Ini berhubungan dengan kegiatan protokol kesehatan yang bisa dilakukan pada masa pandemi misalnya 1) memakai masker, 2) mencuci tangan dengan sabun, 3) menjaga jarak, 4) menahan bersin dengan lengan tangan, dan sebagainya.
  3. Mengeluarkan zat-zat yang berbahaya dari dalam tubuh, terutama saat tubuh kita ditakdirkan Allah (qodarullah) terpapar virus Corona. Kegiatan yang bisa dilakukan : misal : 1) Minum air putih hangat ditambah jeruk, 2) Berkumur-kumur dengan air garam, 3) Mengkonsumsi herbal pembuang dahak dan lembab, 4) Memperbanyak makan buah dan sayuran, 5) Menghindari gorengan, 6) Shaum (puasa) Senin-Kamis) dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

Sebagian tulisan ini diambil dari kitab Zaadul Ma’ad dalam Bab Kitab Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Penerbit Daarul Atsar, Yogyakarta.

Sumber tulisan lainnya berasal dari Diskusi online WhatsApp grup Biomekanik oleh dr. Medi Irawan.

Pekarangan dan Kearifan Lokal Jenis Tanaman Obat

Pekarangan dikenal memiliki berbagai fungsi penting bagi kehidupan keluarga, selain sebagai tempat menghasilkan tanaman obat, tanaman pangan, hortikultura, ternak, ikan dan lainnya pekarangan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta menambah penghasilan rumah tangga apabila dirancang dan direncanakan dengan baik (Ashari dan Purwantini, 2012). Sebagai salah satu tipe sistem agroforestri tradisional yang cenderung mampu diadaptasi penduduk menghadapi perubahan iklim, pekarangan pada umumnya dikelola dengan landasan pengetahuan ekologi tradisional yang kuat (Iskandar, 2010), sehingga menjadi kekuatan tangguh menghadapi ancaman keamanan pangan, ketidakstabilan politik dan kehilangan budaya lokal. Modal seperti inilah yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia sesungguhnya (Kuspriyangga, 2011).


Pemanfaatan pekarangan yang optimal dalam bidang kesehatan tentu mempunyai banyak keuntungan, yakni meningkatan pendapatan keluarga misalnya warung hidup, lumbung hidup, apotek hidup, meskipun masih perlu pengembangan secara intensif. Kenyataan saat ini, bahwa harga obat di pedesaan tergolong sangat tinggi, sering tidak tersedia, apotek sering tutup dan lebih sering lagi dokter tidak ada. Oleh karena itu penyediaan tanaman yang berfungsi sebagai obat herbal di pekarangan sangat membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan (Duaja et al,, 2011).

Simak selengkapnya pada tautan laman berikut ini

Pustaka

Ashari, Saptana, & dan T. B. Purwantini. (2012). Potensi dan prospek pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 30(1), 13–30.

Duaja, M. D., E. Kartika, & F. Mukhlis. (2011). Pemberdayaan wanita dalam pemanfaatan pekarangan dengan tanaman obat keluarga ( TOGA ). Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, (52), 74–
79.

Iskandar, J. (2010). Pekarangan dan Iklim. Harian Umum Kompas Edisi Jumat, 3 Desember 2010. Dosen Etnobiologi FMIPA dan Peneliti PPSDAL LPPM Unpad. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/ 03/09495489/Pekarangan.dan.Iklim.

Kuspriyangga. (2011). Etnobiologi sebagai Modal Dasar Kebangkitan Bangsa. Opini Kampus Rabu, 27 April 2011. Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Peserta PPSDMS Regional V Bogor.

STUDI KEARIFAN LOKAL KONSERVASI PAKAN IKAN

Kearifan lokal berperan penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi komponen ekosistem termasuk penyediaan pakan alami pada ekosistem mangrove di wilayah muara Daerah Aliran Sungai Barito.

Tujuan penelitian ini adalah menggali informasi konservasi pakan ikan pada ekosistem manrove di wilayah muara DAS Barito, terutama pada empat parameter penting yakni : kegiatan pemancingan ikan, umpan alami yang digunakan ketika memancing, pemeliharaan jenis ikan dan penggunaan pakan alami dalam kultur.

Lokasi penelitian terbagi menjadi dua wilayah, yakni : ekosistem mangrove Desa Sungai Bakau – Kabupaten Tanah Laut dan rawa pasang surut di Desa Jejangkit Muara – Kabupaten Barito Kuala. Metode penelitian adalah survey dengan penggalian informasi melalui wawancara terhadap responden yang ditemui dengan tujuan tertentu (purposive random sampling). Data dianalisis secara deskriptif sehingga diperoleh gambaran mengenai kearifan lokal konservasi pakan ikan baik dari ekosistem mangrove maupun rawa di Daerah Aliran Sungai Barito.

Hasil penelitian menunjukkan pemancingan ikan pada ekosistem mangrove (Desa Sungai Bakau) lebih banyak dilakukan pada sore hari (18.00 – 24.00) dengan durasi kegiatan selama 6 jam, sedangkan pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) pemancingan banyak dilakukan pagi hari (08.00) sampai dengan sore (18.00) dengan durasi kegiatan lebih lama (±10 jam). Jenis umpan pancing yang digunakan pada ekosistem mangrove umumnya hasil tangkapan nelayan seperti udang dan ikan bilis, sedangkan dari ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) cenderung jenisnya lebih beragam seperti : katak, siput, cacing dan serangga. Dua jenis ikan yang banyak dipelihara di ekosistem mangrove adalah ikan yang beradaptasi dengan salinitas tinggi seperti : bandeng dan udang, adapun pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) adalah jenis ikan patin dan papuyu. 

Kesimpulan umum : bentuk kearifan lokal pada ekosistem mangrove (Desa Sungai Bakau) lebih mengarah kepada ciri pesisir seperti : mata pencaharian nelayan dan mencari ikan dengan memasang jaring (merempa), sedangkan pada ekosistem rawa (Desa Jejangkit Muara) lebih mengarah kepada sifat dan ciri daratan seperti : mata pencaharian menjadi petani dan aktivitas mencari ikan atau “beiwak”.

Simak tulisan yang lebih lengkap pada laman berikut ini

Cara Menuliskan Manfaat Penelitian Yang Tepat dan Terarah!

Pengalaman kuliah selama bertahun-tahun belajar di Perguruan Tinggi, tidak serta merta membuat mahasiswa bisa menulis proposal atau laporan tugas akhir (skripsi) dengan baik. Mulai dari menentukan judul, menyusun latar belakang, membuat perumusan masalah, membuat tujuan, menuliskan tinjauan pustaka, menyusun metode penelitian, menuliskan hasil dan pembahasan, membuat kesimpulan sampai dengan menyusun daftar pustaka dan lampiran masih banyak dijumpai mahasiswa yang gagap dengan teknik penulisan yang baik dan benar. Termasuk dalam hal ini adalah menuliskan manfaat penelitian.

Apa itu manfaat penelitian? Manfaat penelitian adalah keuntungan atau potensi yang bisa diperoleh oleh pihak-pihak tertentu setelah penelitian kamu selesai. Peneliti bisa menuliskan manfaat penelitian di bagian tujuan penelitian karena keduanya terkait erat. Manfaat adalah narasi yang objektif yang menggambarkan hal-hal yang diperoleh setelah suatu tujuan penelitian telah terpenuhi. Manfaat bisa saja bersifat teori atau bersifat praktis misalkan memecahkan masalah-masalah pada objek yang diteliti.

Manfaat penelitian sesungguhnya berkaitan dengan tujuan penelitian. Jika tujuan spesifik dan unik, maka tentu manfaat juga spesifik. Oleh karena berkaitan dengan tujuan, maka manfaat disuguhkan dengan asumsi setelah tujuan penelitian tercapai. Jadi kata kunci penulisan manfaat, terikat dengan objek yang diteliti dan dengan tujuan penelitian tersebut. Karena itu, penulisan manfaat keluar dari ikatan tersebut menjadi keliru. Contoh, ‘skripsi berguna untuk bantalan kursi’ atau ‘pembungkus kacang goreng’ adalah contoh sedikit ekstrem penulisan manfaat yang salah, meskipun mungkin lembaran-lembaran itu bisa untuk pembungkus. Tapi simpulan itu jauh dari ikatan objek teliti dan tujuan dari penelitian.

Mengapa kita penting menuliskan manfaat penelitian? Penulisan manfaat pada hasil penelitian sangat penting untuk memberi gambaran pada pembaca tentang outcome (luaran) dan impact (dampak) dari penelitian yang dilakukan. Jika bagian ini tidak jelas, maka seperti kehilangan serpihan besar karya ilmiah. Karya menjadi sulit dipahami dan pembaca bisa saja kehilangan orientasi pada ‘untuk apa semua ini diteliti’. Selain itu, bagian penting deskripsi manfaat yang harus tepat, adalah untuk kepentingan kesolidan karya ilmiah. Manfaat sangat terkait dengan bagian saran pada bagian akhir penelitian: Kesimpulan dan Saran. Salah satu poin pokok saran adalah pejabaran yang berkaitan dengan manfaat. Jadi tulislah manfaat penelitian anda dengan baik dan benar!

Tujuan dari manfaat penelitian paling tidak terbagi menjadi tiga poin sebagai berikut :

  • Tujuan Eksploratif merupakan sebuah penelitian yang mana akan memiliki tujuan supaya bisa mendapatkan sebuah pengetahuan yang baru sebelumnya belum pernah diketahui.
  • Tujuan Verifikasi adalah suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk dapat melakukan suatu bentuk pengujian dari sebuah teori yang sebelumnya sudah ada. Dengan tujuan dapat meningkatkan kualitas informasi.
  • Tujuan Development adalah bentuk dari suatu penelitian yang memiliki tujuan supaya dapat untuk mengembangkan suatu penelitian yang telah ada.

Contoh Cara Menuliskan Manfaat Penelitian dalam Bidang Kajian Biologi : Jika anda ingin melakuan penelitian dengan tujuan : 1) Mengidentifikasi berbagai jasa ekosistem di sepanjang bantaran Sungai, 2) Mendeskripsikan cara pemanfaatan jasa ekosistem oleh generasi milenial di Bantaran Sungai dan 3) Menggali informasi persepsi dan perilaku generasi milenial terhadap pemanfaatan jasa ekosistem di Bantaran Sungai, maka paling tidak untuk menuliskan manfaat penelitiannya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1) Manfaat Teoretis dan 2) Manfaat Praktis.

  1. Manfaat teoretis merupakan manfaat yang berhubungan dengan pengembangan ilmu, dalam hal yang kita bahas adalah ilmu Biologi. Dengan demikian anda bisa menulis manfaat penelitian sebagai berikut : Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam pengembangan ilmu Biologi, khususnya dalam bidang ekologi lahan basah / ekologi Kalimantan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan mengenai studi tentang pemanfaatan jasa ekosistem lahan basah dan perilaku serta karakter generasi milenial di sekitar bantaran sungai.
  2. Manfaat Praktis merupakan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini oleh peneliti itu sendiri dan pembaca. Dengan demikian anda bisa menulis manfaat penelitian dalam bidang biologi adalah sebagai berikut : Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pembaca mengenai pemahaman terhadap jasa yang dihasilkan ekosistem sungai, terutama dalam memahami transfer materi dan energi yang terjadi di lingkungan lahan basah serta pemanfaatan jasa dan layanan ekosistem sungai oleh generasi milenial, yakni dengan cara menganalisis secara langsung kondisi yang ada di ekosistem tersebut. Selain itu, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

Pustaka

  1. https://dosenpintar.com/contoh-manfaat-penelitian/
  2. Rahman (2020) Bagaimana Menulis Manfaat Penelitian?, Selasa, 09 Juni 2020. Available at: http://sin.fst.uin-alauddin.ac.id/bagaimana-menulis-manfaat-penelitian/ (Accessed: 1 June 2021).

Potensi Biodiversitas Tumbuhan Obat di Hutan Kalimantan Dalam Penanggulangan Efek Pandemi Covid-19

Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat berlimpah terutama tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat tradisional. Masyarakat Indonesia memanfaatkan tanaman obat tradisional sebagai bahan untuk pengobatan berbagai macam penyakit. Biaya pengobatan yang mahal membuat masyarakat beralih ke pengobatan secara tradisional. Potensi hasil hutan tidak hanya berupa kayu, tetapi juga bermanfaat lain seperti tumbuhan hutan berkhasiat obat untuk kesehatan. Tumbuhan obat merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu Indonesia yang bermanfaat dari segi ekologi, sosial-budaya, maupun ekonomi yang harus dikelola sepanjang pemanfaatannya dilakukan secara rasional dengan memperhatikan kebutuhan generasi masa kini dan masa datang (Zuhud, 1994).

Pengetahuan masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumber daya tumbuhan akan sangat membantu menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan usaha domestikasi tanaman obat (Kandari et al., 2012). Dilihat dari potensinya, hutan tropis di Indonesia menyimpan banyak jenis tumbuhan obat yang berpotensi mengatasi penyebaran covid-19. Penelitian Fahrurozi, Priyanti, dan Astutik (2015) membuktikan bahwa di Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Bawat ditemukan 45 jenis yang termasuk ke dalam 40 marga dan 29 suku. Suku dengan anggota terbanyak yaitu 4 jenis ditemukan pada Urticaceae, sedangkan suku lainnya beranggotakan satu hingga tiga jenis. Anggota suku Urticaceae diyakini dapat digunakan dalam pengobatan demam, batuk, mata, organ vital wanita, dan anti kanker. Bagian tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat adalah daun (42%) dibandingkan akar, batang, bunga, dan buah. Tingkat keanekaragaman tumbuhan obat tergolong sedang (1≤H’≤3). Kekayaan jenis tumbuhan berperawakan herba tergolong tinggi (R’>5), pancang dan pohon tergolong sedang (R’=3,5─5), dan tiang berkategori rendah (R’<3,5).

Kalimantan merupakan bagian dari pulau Borneo yang berada di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan Kalimantan meliputi empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Kawasan ini memiliki luas 539.460 2 km (73% dari luas pulau Borneo). Berbagai penelitian yang dilakukan di kawasan hutan Kalimantan, berhasil mengetahui bahwa kawasan ini memiliki potensi tumbuhan obat yang beragam. Potensi yang terdata saat ini belum menunjukkan potensi tumbuhan obat Kalimantan secara keseluruhan, tetapi dapat menggambarkan potensi tumbuhan obat pada berbagai kawasan hutan tertentu saja. Potensi tumbuhan obat ini tersebar pada berbagai kawasan hutan baik kawasan konservasi seperti taman nasional, kawasan hutan penelitian, hutan lindung dan kawasan hutan lainnya (Noorhidayah, 2006).

Di masyarakat pedalaman Kalimantan, kehidupan masih bergantung pada alam. Masyarakat hidup dengan melakukan aktivitas mengambil bahan pangan dari alam dan bergantung pada alam dengan berburu, bertani secara tradisional dan mencari ikan di sungai. Masyarakat di Kalimantan belum merasakan betapa sulitnya seperti mencari bahan pangan karena masih melimpah ketersediaannya di alam. Kehidupan yang dimanjakan oleh alam menyebabkan masyarakat tidak berusaha untuk mencari pangan dengan cara yang susah. Perlu dicari jalan keluar untuk mencari model pengelolaan dan perlindungan hutan khususnya hutan pendidikan dengan pemanfaatan produk HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) agar hutan tetap terjaga dan lestari (Adawiyah, Maimunah and Rosawanti, 2019).

Hutan kerangas merupakan tipe hutan yang dicirikan dengan tanah yang kaya pasir kuarsa, miskin zat hara,
memiliki pH rendah dan mudah mengering [10]. Kondisi fisik berpasir, kering dan gersang menyebabkan hutan
kerangas tidak produktif. Kegiatan pertanian tidak dapatdilakukan di lahan hutan kerangas. Ekosistem pada hutan
kerangas mudah rusak dan jika sudah terganggu sulit untuk dikembalikan lagi. Hutan kerangas merupakan suatu
komunitas tumbuhan spesifik yang tumbuh dan berkembang pada habitat tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah, merupakan kawasan dengan sumber keanekaragaman tumbuhan yang berpotensi untuk menghasilkan metabolit sekunder. Berikut ini adalah contoh jenis tumbuhan dari Hutan Kerangas yang dapat berfungsi sebagai obat Tradisional (Adawiyah, Maimunah and Rosawanti, 2019).

Banyaknya tanaman dan tumbuhan obat di sekitar kita, ataupun di hutan tentunya merupakan nikmat dari Allah Subhanahuwata`ala yang perlu kita syukuri dengan cara belajar untuk meningkatkan imunitas tubuh. Penggalian pengetahuan ini juga merupakan upaya yang berkelanjutan untuk pengembangan penelitian pencegahan dan penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Pemerintah RI telah menerapkan 10 kluster riset dan kegiatan penelitian biodiversitas. Salah satu kluster yang diprioritaskan adalah riset herbal Indonesia sebagai anti virus, melalui 1) eksplorasi, 2) konservasi dan 3) pemanfaatan bahan-bahan alami dalam bentuk herbal dengan konsep diekstrasi guna menghasilkan senyawa aktif sebagai immunomodulator Covid-19 (https://www.idu.ac.id/berita/webinar-prodi-biologi-fmipam-unhan-bahas-biodiversitas-tanaman-obat-untuk-meningkatkan-imunitas-tubuh-di-tengah-pandemi-covid-19.html)

Pustaka

Adawiyah, R., Maimunah, S. and Rosawanti, P. (2019) ‘Keanekaragaman Tumbuhan Potensi Obat Tradisional di Hutan Kerangas Pasir Putih KHDTK UM Palangkaraya’, Talenta Conference Series: Agricultural and Natural Resources (ANR), 2(1), pp. 71–79. doi: 10.32734/anr.v2i1.576.

Fahrurozi, Priyanti, dan Astutik (2015) . Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat Pada Plot Cuplikan Di Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Indonesia. http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah AL-KAUNIYAH; Journal of Biology, 8(2), 2015, 109-106.

Kandari, L.S., Phondani, P.C., Payal, K.C. Rao, K.S. & Maikhuri, R.K. (2012). Etnobotani Study toward Conservation of Medicinal and Aromatic Plant in Upper Catchments of Dhauli Ganga in the Central Himalaya. Jurnal of Mountain Science, 9, 286-296.

Noorhidayah, N. (2006) ‘Potensi Dan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Di Hutan Kalimantan Dan Upaya Konservasinya’, Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 3(2), pp. 95–107. doi: 10.20886/jakk.2006.3.2.95-107.

Zuhud, E.A.M. 2004. Hutan Tropika Indonesia Sebagai Sumber keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat, dalam Zuhud E.A.M dan Haryanto, 1994, Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia, Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Lembaga Alam Tropika Indonesia.