Arsip Kategori: pendidikan

Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika

Semester genap 2021-2022 ini Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah di Program Studi Matematika – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam – FMIPA – Universitas Lambung Mangkurat. Setelah berdiskusi dengan Koti Matematika, ternyata Silabus PLLB dibuat oleh Pengampu Mata Kuliah PLLB itu sendiri, tetapi arahnya disesuaikan dengan aplikasi model-model Matematika dalam pengelolaan lingkungan lahan basah.

Berikut ini adalah Rencana Silabus Kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika di Program Studi Matematika Semester genap 2021-2022.

  • Pertemuan 1. Silabus dan Kurikulum, Cara kuliah, Tugas dan Ujiannya – Tanggal 7 Februari 2022 : Pemaparan Umum – Presentasi – tanya jawab
  • Pertemuan 2. Pengenalan Sistem Dinamik dalam PLLB – Tanggal 14 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 1 – tanya jawab – Latihan instal Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat Model Dinamik menggunakan Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat sistem dinamik menggunakan Vensim PLE​
  • Pertemuan 4. Valuasi Ketahanan Lanskap dalam PLLB – Tanggal 28 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 3 – Tanya jawab – Latihan membuat Diagram dalam rangka Applying the Resilience Indicators menggunakan Edrawsoft
  • Pertemuan 5. Perencanaan Adaptasi PLLB berbasis Ekosistem – Tanggal 7 Maret 2022 : Presentasi Kelompok 4 – Tanya jawab – Latihan membuat Perencanaan Aplikasi Berbasis Ekosistem.

Catatan :

Berikut ini adalah pustaka yang perlu dibaca dan dipelajari!

Kelompok 1 dan 2 membahas tentang Metodologi System Dynamics (Dinamika Sistem) untuk Pemodelan Kebijakan : Suatu Pengantar. In Pelatihan Analisis Kebijakan Menggunakan Model System Dynamic. Tasrif, M., Juniarti, I., Rohani, F., Ahmad, F., Nurwendah, E. I., & Waspada, N. L. (2015). https://www.lppm.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/55/2017/07/BAHAN_PELATIHAN.pdf >> fokus pada bahan ke- 4 Systems Thinking & System Dynamics.

Kelompok 3 dan 4 membahas tentang Simulation modeling for wetland utilization and protection based on system dynamic model in a coastal city, China. Ma, C., Zhang, G. Y., Zhang, X. C., Zhou, B., & Mao, T. Y. (2012). Procedia Environmental Sciences, 13 (January), 202–213. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2012.01.019

Kelompok 5 dan 6 membahas tentang Assessing Landscape Resilience – Best Practices And Lessons Learned From The Comdeks Programme. Mock, G., & Salvemini, D. (2018). United Nations Development Programme Bureau for Policy and Programme Support. https://comdeksproject.files.wordpress.com/2018/06/resilience-indicators-publication-web.pdf

Kelompok 7 dan 8 membahas tentang Adaptation , Livelihoods and Ecosystems Planning Tool : User Manual. Terton, A., & Dazé, A. (2018). (No. 01; 1.0). https://www.iisd.org/publications/alive-adaptation-livelihoods-and-ecosystem-planning-tool-user-manual

Kelompok 1,3, 5, 7 membuat ppt (power point) dari dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Minimal 10 halaman – maksimal 15 halaman. Penjelasan dibuat sebagus mungkin, kalau memungkinkan dilengkapi dengan diagram alir, flow chart, fish bone dll yang dibuat menggunakan aplikasi Edraw.

Kelompok 2, 4, 6, dan 8 membuat penjelasan dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Penjelasan dibuat sebaik mungkin dan secara sistematis menggunakan aplikasi word. dilengkapi dengan pustaka lainnya kemudian disitasi menggunakan aplikasi  Mendeley. dengan panjang tulisan antara 5 – 10 halaman, termasuk cover dan Pustaka (Referensi)

Materi Kuliah PLLB bisa didapatkan di sini!

Lima Inovasi untuk Bantu Mencegah Food Waste

Tahukah kamu bahwa kita membuang 1,3 miliar ton makanan setiap tahunnya? Jumlah tersebut cukup untuk memberi makan 3 miliar orang! Bayangkan, 3 miliar orang seharusnya dapat diberi makan dari makanan yang kita buang saja.

Sementara itu , diperkirakan ada sebanyak 925 juta orang yang hidup kelaparan. Mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan bahwa, secara teori, jika kita tidak membuang makanan sama sekali, mungkin kita sudah bisa menghapus kelaparan di dunia.

Tetapi tidak usah jauh-jauh berpikir soal menghapus kelaparan di dunia. Sebagai gantinya, mari mulai mengurangi limbah makanan dari gaya hidup dan rumah kita masing-masing (Baca juga soal perbedaan food loss dan food waste)

Contoh gambaran makanan sehari-hari yang tidak dihabiskan dan bisa berakibat pada masalah yang lebih besar soal limbah makanan. Bagi orang-orang yang memiliki akses terhadap makanan yang melimpah dan tidak perlu pusing memikirkan harus makan apa esok hari, persoalan limbah makanan mungkin terlihat remeh. Akan tetapi, ada yang salah dengan cara kita mengkonsumsi makanan, yang kemudian menghasilkan limbah maknanan. Apabila tidak diatasi, efeknya bisa sangat merugikan.

Karena masalah limbah makanan ini, orang-orang pun mulai menciptakan inovasi teknologi yang bisa membantu kita memerangi limbah makanan di kehidupan sehari-hari. Inovasi ini cukup beragam, mulai dari tempat penyimpanan makanan sampai pada label identifikasi yang bisa dimakan. Berikut beberapa contonhya

1. Penyimpanan Pintar Smarterware

Sistem penyimpanan makanan Ovie Smarterware pada dasarnya ialah satu set perangkat “label pintar” yang bisa dipasang pada tempat penyimpanan makanan Anda. Setelah Anda selesai melabeli semua makanan Anda yang berada di kulkas misalnya, masukkan data mengenai jenis-jenis makanan yang sudah Anda labeli di aplikasi Ovie.  Sistem Penyimpanan Makanan Ovie Smarterware dengan fitur “label pintar”

Nantinya aplikasi tersebut akan mendata makanan Anda dan memulai perhitungan mundur untuk setiap jenis makanan. Anda akan mulai menerima pemberitahuan melalui ponsel Anda serta smart speaker mengenai makanan mana yang sebaiknya Anda konsumsi terlebih dahulu sebelum basi atau kadaluarsa. Selain itu, lampu SmartTag yang berada di tempat penyimpanan makanan Anda juga akan berganti warna secara bertahap untuk memberi tahu Anda mengenai kondisi makanan di dalamnya.

Sebagai tambahan, lampu labelnya akan berubah dari hijau, lalu kuning, kemudian barulah menjadi merah. Ketika lampunya sudah berubah kuning, Anda akan menerima pemberitahuan untuk segera mengkonsumsi makanan tersebut, lengkap dengan rekomendasi cara atau tips mengolah makanan untuk dikonsumsi. Label Pintar Ovie bisa disematkan pada berbagai macam kontainer makanan

Anda juga bisa mengecek bahan-bahan makanan apa yang misalnya masih tersisa di kulkas Anda saat sedang belanja bulanan. Dengan begitu, orang-orang bisa menghabiskan makanan mereka tanpa harus membeli makanan terlalu banyak atau berlebihan.

2. BluApple

Buah dan sayuran memproduksi gas bernama etilen, yang bekerja layaknya hormon pada tubuh manusia dan hewan. Ga sini merupakan hasil dari prosess pematangan buah dan mengatur pertumbuhan serta perkembangan dari buah dan sayur-sayuran.

Dalam jumlah tertentu, gas etilen bisa menyebabkan perubahan fisiologis pada buah, seperti misalnya perubahan warna dan tekstur. Pengaruh gas etilen terhadap proses pematangan buah juga bisa dipengaruhi oleh gas lain seperti karbon dioksida dan oksigen. Produk BlueApple yang bisa memperpanjang “hidup” buah dan sayuran

Dengan mempertimbangkan pengaruh dari gas etilen ini, proses pematangan buah bisa dimodifikasi sedemikian rupa, entah untuk mempercepat atau bahkan menunda proses pematangannya. Industri makanan sudah lama menggunakan penghisap etilen untuk mencegah proses pematangan dan pembusukan buah yang prematur dalam proses pengiriman dan distribusi buah.

Konsep serupa ini yang kemudian diterapkan di dalam produk  BluApple, yang diklaim mampu menyerap gas etilen berlebih dengan cara mengoksidasinya dengan sodium permanganat. Seperti namanya, produk yang berbentuk seperti buah apel plastik berwarna biru ini bisa Anda letakkan di dalam kulkas, laci serta lemari penyimpanana makanan, serta keranjang buah untuk mencegah mereka menjadi matang terlalu cepat. Hasilnya, buah dan sayuran Anda bisa tiga kali lipat lebih awt.

3. Edipeel

Penemuan lain yang juga membantu memperpanjang usia hidup buah dan sayuran yaitu dari Apeel, yang notabene menciptakan “kulit kedua” yang bisa dikonsumsi bagi buah dan sayuran. Ya, kulit tambahannya aman untuk dimakan juga

Apeel bekerja dengan menambahkan lapisan tambahan yang tidak berbau, tidak berasa, serta terbuat dari tanaman pada permukaan sayur dan buah untuk menjaga kelembapan produk serta mencegah oksigen masuk. Hal ini diklaim dapat membantu buah dan sayuran lebih awet hingga dua kali lipat.

Untuk alpukat misalnya, Apeel tidak hanya bisa memperpanjang hidup alpukat selama hampir 1 minggu dan memperpanjang periode kematangan dari 2 menjadi 4 hari, tetapi juga diklaim bisa mengurangi kehilangan air sebanyak 30% dan tingkat pelunakan sebesar 60%.

4. Kamera Hiperspektral

Pencitraan hiperspektral merupakan sebuah teknologi yang mampu memecah spektrum elektromagnetik menjadi ratusan pita guna menghasilkan data yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Teknologi ini telah menjadi perbincangan yang populer di industri makanan selama beberapa tahun terakhir, hal ini dikarenakan kamera hiperspektral mampu menerawang buah dan sayuran yang mulai matang. Peraturan dasarnya ialah semakin matang buah tersebut, maka gambar yang dihasilkan akan semakin gelap. Gambaran mengenai bagaimana kamera hiperspektral bisa digunakan untuk mendeteksi apakah buah masih dalam kondisi yang baik

Selain berguna untuk inspeksi makanan, peneliti juga tengah mencoba mengemas teknologi ini agar bisa digunakan oleh konsumen. Meskipun masih dalam tahap pengerjaan, konsep yang diincar ialah untuk membuat alat praktis yang bisa disinkronisasikan dengan gawai yang kita gunakan di kehidupan sehar-hari. Mungkin di masa mendatang, kita bisa menggunakan kamera ponsel tidak hanya untuk mengambil selfie tapi juga untuk mencari tahu kapan waktu terbaik untuk memakan buah-buahan yang kita beli.

5. Label Identifikasi Graphene yang Bisa Dimakan

Peneliti dari Rice University tengah mencari cara untuk mengukir pola graphene pada makanan dan material lain dengan harapan bisa membuat label identifikasi dari dan pada produk itu sendiri.

James Tour, salah satu peneliti di laboratorium Rice University menyatakan bahwa graphene berbeda dengan tinta. Metode graphene bahkan bisa dikatakan sebagai mengubah material produk yang dituju menjadi graphene itu sendiri. Temuan baru mereka, yang notabene dimuat di jurnal American Chemical Society berjudul ACS Nano, mendemonstrasikan bahwa graphene yang ditulis dengan laser bisa diukir di atas kertas, kardus, serta jenis-jenis makanan tertentu, salah satunya yaitu roti panggang.

Material yang lazim digunakan untuk membuat label grapehen bernama lignin. Bahan-bahan seperti gabus, batok kelapa, serta kulit kentang memiliki kandungan lignin yang tinggi sehingga lebih mudah untuk dikonversi menjadi graphene.

Mengapa repot-repot mencetak graphene pada barang dan bahkan makanan? Jika eksperimen ini berjalan sesuari rencana, maka bukan tidak mungkin makanan akan memiliki label RFID mini yang menyediakan informasi mengenai asal muasal makanan itu berasal sebelum bisa mencapai piring kita.

Bahkan, label grapehen ini bisa berperan sebagai sensor yang mampu mendeteksi E.coli atau mikroorganisme lainnya yang bisa mencemari makanan kita. Dengan kata lain, label tersebut bisa memperingati kita apabila makanan yang akan kita konsumsi sudah terkontaminasi. Yang lebih unik lagi yaitu bahwa label itu bukan berbentuk kertas atau material tambahan, melainkan di produk itu sendiri.

Memerangi Limbah Makanan Dimulai dari Diri Sendiri

Dengan atau tanpa teknologi di atas, limbah makanan merupakan sesuatu yang harus kita hapus dari rutinitas dan gaya hidup kita.

Bahkan sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah untuk mencegah timbulnya limbah makanan, mulai dari melakukan food prep, menanam dan menumbuhkan kembali bahan makanan, serta mengompos. (Baca juga tentang Hierarki Pemulihan Makanan).

Mencegah dan menghindari dihasilkannya limbah makanan dimulai dari sekarang, dari gaya hidup kita, dan dari diri sendiri.

Sumber :  https://waste4change.com/blog/5-inovasi-keren-untuk-bantu-cegah-food-waste/

Interaksi Manusia dan Lingkungan

Sebagai makhluk yang diberikan amanah oleh Allah Subhana wa ta’ala untuk beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, manusia diberikan kesempatan memanfaatkan fasilitas berupa bumi dan segala isinya. Kehadiran bermacam-macam jenis makhluk hidup di muka bumi ini akan menciptakan interaksi kompleks secara simultan (terus-menerus) dan dinamis di berbagai tingkat organisasi ekologi pada berbagai skala ruang dan waktu.

Kompleksitas interaksi antar komponen makhluk hidup tidak terlepas dari manajemen biodiversitas yang sangat rapi berupa struktur (komposisi dan susunan) dan peran (fungsi) masing-maisng komponen ekosistem. Keberagaman struktur dan fungsi ekosistem selanjutnya menciptakan kekayaan jasa dan layanan ekosistem yang dapat digunakan oleh manusia untuk selalu bersyukur dengan karunia-Nya dan bersabar atas ujian yang diberikan kepada-Nya.

Bersyukur dan bersabar adalah dua konsep hidup yang seharusnya dijadikan patokan hidup manusia dalam rangka pemanfaatan jasa dan layanan ekosistem agar manusia bisa menjalin interaksi yang positif dengan lingkungan sekitar. Konservasi biodiversitas dan restorasi ekosistem terdegradasi di daerah aliran sungai merupakan dua contoh interaksi positif manusia dengan lingkungan, terutama menjamin keberlangsungan jasa ekosistem seperti ; 1) jasa penyediaan air bersih, 2) jasa pengaturan pencegahan erosi, 3) jasa pendukung siklus nitrogen, dan 4) jasa budaya pendidikan dan kearifan lokal pengelolaan potensi biodiversitas daerah aliran sungai.

Sedangkan pembalakan hutan, pembuangan limbah ke badan air, dan kejahatan atas lingkungan lainnya merupakan contoh interaksi negatif antara manusia dengan lingkungan. Interaksi ini secara nyata akan menghilangkan keseluruhan jasa dan layanan ekosistem dan menimbulkan gangguan pada rangkaian struktur dan fungsi ekosistem. Bencana alam seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, keracunan, limbah organik dan anorganik merupakan berbagai dampak perubahan struktur dan fungsi ekosistem dan dirasakan langsung oleh manusia karena berubahnya jasa dan layanan ekosistem secara keseluruhan.

Semoga tulisan ini bisa menyadarkan manusia agar kembali kepada jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah yang Maha Kuasa.

Pengelolaan Contaminants of Emerging Concern di DAS

Jakarta, 6 Oktober 2021. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Media Briefing Kontaminasi Paracetamol di Teluk Jakarta berkaitan dengan hasil kajian yang dilakukan oleh Peneliti LIPI. Penelitian yang berjudul High Concentration Of Paracetamol In Effluents Dominated Waters Of Jakarta Bay, Indonesia adalah disertasi Wulan Koagouw untuk Ph.D di Brigton UK (School of Pharmacy Brighton UK) bersama peneliti Pusat Penelitian Oseanografi BRIN, peneliti Zainal Arifin, Wulan Koagouw, dan Corina Ciocan, dan dimuat di Jurnal internasional Elsevier. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2017 dan 2018 di 4 lokasi di Jakarta yaitu Teluk Jakarta, Ancol, Tj Priok & Cilincing, serta di Teluk Eretan Jawa Tengah.
 
Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Etty Riani mengungkapkan perlu penelitian lebih lanjut. Prof. Etty juga menyampaikan kadar paracetamol yang ditemukan di Teluk Jakarta ini masih terhitung kecil. “Kalau dilihat dari jumlah 610 ng/L, itu sifatnya non akut. Sehingga tidak akan menjadi mematikan dalam jumlah tersebut,” kata Prof. Etty, saat menyampaikan paparan “Paracetamol: Penyebab Laut Terkontaminasi, Dampak, Pengelolaannya” pada Media Briefing secara virtual di Jakarta, Selasa (5/10/21).
 
Contaminants of Emerging Concern (CEC) muncul seiring dengan peningkatan kemampuan peralatan dan teknik uji sampel yang mampu mengukur konsentrasi bahan kimia sampai pada jangkuan μg/L dan ngram/L. Sebagai gambaran konsentrasi 1 μgram/L  menyatakan 1 gram bahan kimia di dalam 1.000.000 L pelarut, sedangkan 1 ng/L menyatakan 1 gram bahan kimia di dalam 1.000.000.000 L pelarut. Konsentrasi Paracetamol di Teluk Jakarta hasil Penelitian Pusat Oseanografi LIPI sebesar 420-610 ng/L artinya terdapat kandungan 420-610 gram paracetamol dalam 1.000.000.000 L air laut atau 1 juta liter air laut.
 
Salah seorang peneliti pada penelitian “Tingginya konsentrasi paracetamol pada buangan air limbah mendominasi air di Teluk Jakarta, Indonesia”, yaitu Prof. Zainal Arifin menjelaskan riset paracetamol dan bahan pencemar ini dilakukan sejak 2017 sampai 2020. Dari lima lokasi penelitian yaitu Angke, Ancol, Tanjung Priuk, Cilincing dan Pantai Eretan, paracetamol terdeteksi di dua lokasi yaitu Ancol dan Angke.
 
“Dari 4 parameter yaitu parameter fisik hasilnya aman bagi biota, dan parameter logam berat terlarut umumnya aman. Sedangkan nutriens seperti ammonia, nitrate, dan fosfat melebihi baku mutu. Sementara, parameter lainnya seperti pcb dan pestisida juga aman bagi biota laut,” terangnya.
 
KLHK menghargai penelitian tersebut karena hal ini menunjukkan Indonesia sudah memiliki perhatian terhadap isu Contaminants of Emerging Concern dan memiliki kemampuan penelitian dengan menggunakan peralatan Advanced Analytical Techniques untuk mendeteksi bahan kimia dengan konsentrasi yang sangat kecil, seperti yang dimiliki oleh Laboratorium Pusat Penelitian Oseanografi.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan paracetamol yang menjadi bahan penelitian tersebut merupakan bagian dari berbagai upaya di dunia untuk melakukan penelitian terhadap Contaminants of Emerging Concern (CEC). CEC adalah bahan kimia sintetis atau alami yang biasanya tidak dipantau di lingkungan, tetapi memiliki potensi untuk memasuki lingkungan dan menyebabkan efek yang sudah diketahui atau diduga memiliki efek terhadap ekologis dan (atau) kesehatan manusia. Kontaminan  baru ini muncul karena belum cukup pengetahuan untuk memastikan efek samping dari bahan kimia, sehingga dapat dipahami risiko yang terkait dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
 
“Saat ini belum ada baku mutu air terkait dengan paracetamol dan hal ini termasuk emerging pollutan. Dari paparan para ahli juga jumlahnya relatif kecil, dan kecil kemungkinan untuk mengganggu kesehatan. Meskipun demikian, kita bersyukur dengan adanya penelitian LIPI ini maka kita tidak tertinggal dengan negara lain yang saat ini juga mengalami dan mencari solusinya”, ujarnya.
 
Berbicara mengenai tantangan penanganan pencemaran di Teluk Jakarta, Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Sigit Reliantoro mengatakan Teluk Jakarta merupakan muara dari 13 sungai. Kalau dilihat dari segi daya dukung dan daya tampung memang sebagian besar dari Jakarta, yang juga dipengaruhi oleh daerah di sekitarnya. Secara umum sumber pencemaran kegiatan rumah tangga (domestik) yang berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, USK, kegiatan industri.
 
“Upaya paling efisien untuk penanganannya yaitu dilakukan sejak dari sumbernya. Jadi masing-masing daerah melakukan identifikasi sumber pencemarnya. Jadi kunci utamanya yaitu kolaborasi untuk perbaikan kualitas air laut di Jakarta khususnya,” kata Sigit.
 
Menindaklanjuti hasil penelitian ini, KLHK bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat-obatan baik terutama obat yang tersedia bebas di pasaranan. KLHK dan BPOM melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penanganan obat-obatan kadaluarsa, sehingga dikelola dengan baik dan tidak terbuang langsung ke lingkungan tanpa pengelolaan. Saat ini BPOM bersama KLHK sedang menyusun modul pelatihan pengelolaan limbah obat kadaluarsa.
 
KLHK dan BRIN akan membentuk Working Group Pengelolaan Contaminants of Emerging Concern, bekerjasama dengan kementerian teknis terkait dan Perguruan Tinggi. KLHK juga bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat-obatan baik terutama obat yang tersedia bebas di pasaran.
 
Ke depan KLHK akan bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap: pengelolaan limbah farmasi khususnya yang mengandung paracetamol, serta peningkatan kinerja pengolahan air limbah yang mengandung paracetamol baik untuk industri, fasyankes, maupun air limbah domestik.

KONTAMINASI PARACETAMOL DI TELUK JAKARTA PERLU PENELITIAN LEBIH LANJUT https://www.ppkl.menlhk.go.id./website/index.php?q=1036&s=3d41b7fd29fc9b4ab18b63e1727b59b9eb5df1e2

Perlu Peta Buta Indonesia – Kalimantan? Silakan ambil!

Peta politik Indonesia
Gambar 1. Peta Buta Indonesia dengan nama provinsi
Peta buta Indonesia
Gambar 2. Peta Buta Indonesia tanpa nama provinsi
Gambar 3. Peta buta Kalimantan
Gambar 4. Peta buta Provinsi Kalimantan Selatan
Gambar 5. Peta Wilayah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Sumber gambar

https://www.sejarah-negara.com/peta-buta-indonesia/
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_(wilayah_Indonesia)
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kabupaten_dan_kota_di_Kalimantan_Selatan https://mwahyunz.id/peta-wilayah-kota-banjarbaru-vector/

Pembangunan Berkelanjutan dan Kearifan Lokal

Isu mengenai pembangunan berkelanjutan yang melibatkan tiga komponen penting yakni : masyarakat (sosial), lingkungan (ekologi) dan pembangunan (ékonomi) merupakan isu global yang tidak pernah ada akhirnya. Isu-isu ini sangat menarik untuk dibahas dan didalami mengingat Kalimantan merupakan pulau dengan segala potensi sumberdaya hayatinya saat ini mengalami ancaman degradasi lahan, deforestasi, dan alih fungsi lahan yang masif dan simultan di Indonesia. Terkait hal tersebut, supaya tidak menimbulkan perdebatan tanpa akhir maka perlu ditentukan akar masalahnya yakni ontologi atau cara pandang manusia memandang lingkungannya. Masyarakat modern yang umumnya hidup di wilayah urban sering kali terjebak dengan cara berpikir model Cartesian-deterministik. Berbeda halnya dengan penduduk lokal / masyarakat adat yang umumnya hidup di wilayah sekitar hutan / perdesaan dengan pendekatan tradisional-holistiknya. Lalu ontologi mana yang lebih baik? Mari kita bandingkan!

Masyarakat modern. Kita bahas mengenai masyarakat modern, termasuk diantaranya masyarakat ilmiah (kampus dan sekolah). Kelompok ini sering terjebak dalam paradigma ilmu pengetahuan modern (scientific) mendasarkan kepada pendekatan Cartesian yang bersifat mekanistik-deterministik. Pendekatan ini memandang hubungan antara manusia dengan lingkungan alam secara terpisah dan menempatkan manusia di atas segalanya. Manusia ditempatkan sebagai subyek, sementara lingkungan alam (biodiversitas) ditempatkan sebagai obyek yang bebas dieksploitasi kapan saja oleh manusia. Konsep pembangunan yang berangkat dari cara pandang ilmu pengetahuan Cartesian tersebut pada kenyataannya telah menjauhkan manusia dari lingkungannya.

Implikasi pendekatan inilah yang melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif terhadap lingkungan, dan akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan. Pandangan ini juga menganggap bahwa modal biodiversitas yang disediakan oleh Dzat Yang Maha Kuasa ini hanya sebagai alat untuk melengkapi kehidupan manusia, Pandangan ini akhirnya menganggap segala sesuatu yang bersifat lokal (kearifan lokal) sebagai sesuatu yang statis, cenderung konservatif, dan lemah inovasi.

Selanjutnya cara pandang seperti ini oleh pengelola (pemerintah) maupun pengguna (masyarakat) melahirkan konsep pembangunan yang salah karena 1) telah menjauhkan manusia dari alam, 2) menyebabkan eksploitasi berlebihan karena menempatkan faktor ekonomi sebagai sumber kemajuan dalam kehidupan, 3) tidak peduli terhadap lingkungan (ekologi) serta 4) menyebabkan ketidakseimbangan atau kerusakan alam lingkungan. Lebih miris lagi, masyarakat ilmiah akhirnya menyederhanakan sistem ekologi yang amat komplek tersebut dengan melakukan perencanaan dan tindakan pembangunan yang cenderung homogen serta kaku.

Timbulnya serangkaian persoalan konflik masyarakat, kerusakan lingkungan dan timpangnya pembangunan karena menempatkan faktor ekonomi sebagai sumber kemajuan dalam kehidupan dan tidak peduli terhadap lingkungan. Sejarah juga telah membuktikan bahwa nilai sumberdaya alam yang dihitung dengan perhitungan angka-angka ekonomi ternyata berdampak semu terhadap kesejahteraan karena ilmu pengetahuan modern tidak mampu menghentikan penurunan kualitas sumberdaya alam dan menekan kerusakan lingkungan. Letak kegagalan yang paling menonjol adalah bahwa pendekatan deterministik – rasionalistik dengan konsepnya yang universal, tidak mampu untuk mengakomodir nilai-nilai pluralisme dan kepentingan-kepentingan masyarakat pada skala komunitas dan lokal (Sudaryono, 2006).

Masyarakat Tradisional. Berbeda dengan masyarakat modern, masyarakat loakl memandang alam / biodiversitas sebagai modal saling mendukung dengan manusia (terintegrasi), membentuk hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Cara pandang ini mencerminkan pembentukan karakteristik potensi lokal dengan segala pesona keanekaragaman hayatinya serta keunikan nilai-nilai lokal. Pandangan ini akan mengingatkan kita kembali dengan melihat alam sebagai sebuah komunitas etis yang holistik antara alam dengan manusia. Dalam konteks ini alam tidak hanya dijadikan sebagai objek (material) tanpa memposisikannya sebagai subjek moral, namun manusia, alam dengan seluruh isinya baik biotik maupun abiotik, nyata maupun tidak nyata (abstrak) memiliki posisi dan tanggung jawab yang sama dalam suatu tatanan ekologis yang saling mempengaruhi dan saling mendefinisikan.

Dalam komunitas ekologis tersebut, keunikan nilai-nilai lokal baik eksotisme keanekaragaman hayatinya maupun keunikan nilai budayanya sebagaimana yang tereksplorasi di lapangan, memahami segala sesuatu di alam semesta ini sebagai terkait dan tergantung satu sama lain. Cara pandang mengenai manusia sebagai bagian integral dari alam, serta prilaku penuh tanggung jawab, penuh sikap hormat termasuk terhadap masyarakat lokal dalam kepercayaan tradisional dan peduli terhadap keberlangsungan semua kehidupan di alam semesata, telah menjadi cara pandang dan prilaku yang menunjukkan kearifan lokal (local wisdom).

Wallahu’alam bish showab.

Disadur dari :

https://bppppd.bangkaselatankab.go.id/post/detail/1558-kawasan-ekosistem-esensial-kee-sebagai-benteng-mewujudkan-suistanble-tourism-development-berbasis-pesisir-pulau-pulau-kecil-di-kabupaten-bangka-selatan

https://www.coursehero.com/file/p6ij482/Dikatakan-mekanistis-karena-seluruh-alam-semesta-dan-manusia-dilihat-sebagai/

Penciptaan bumi sebagai tempat tinggal di dunia

Bumi merupakan satu satunya planet yang diketahui menjadi tempat tinggal yang layak bagi semua makhluk hidup. Dari seluruh planet yang ada di alam semesta, hanya bumi yang mampu mengakomodasi kehidupan manusia serta keanekaragaman makhluk yang menyertainya sebagai bagian dari ciptaan Allah Subhanahu Wa Taala

Islam memberikan pandangan yang lugas bahwa semua yang ada di bumi adalah merupakan karunia yang harus dipelihara agar semua yang ada menjadi stabil dan terpelihara. Allah Subhanahu Wa Ta`ala telah memberikan karunia yang besar kepada semua makhluk dengan menciptakan gunung, mengembangbiakkan segala jenis binatang dan menurunkan hujan dari langit agar segala tumbuhan dapat berkembang dengan baik.

Allah Subhanahu Wa Taala mengatakan dalam (Al Quran Surat Luqman [31]:10) >>>>

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan Dia memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”

Pustaka

Mangunjaya FM, Prabowo HS, Tobing IS, Abbas AS, Saleh C, Sunarto, et al. Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem [Internet]. Edisi ke-1. Mangunjaya FM, editor. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, (MUI) Pusat; 2017. Available from: http://repository.unas.ac.id/492/

Perubahan Iklim dan Ekosistem

Para ilmuwan sangat percaya bahwa perubahan iklim akan menyebabkan pengurangan keanekaragaman hayati pada ekosistem dan juga memacu kepunahan spesies. Peningkatan variabilitas iklim telah mempengaruhi kehadiran dinamika spesies dan perubahan ekosistem secara global. Perubahan iklim juga menjadi pendorong utama meningkatnya risiko kemiskinan dan bencana (IPCC, 2007). Perubahan ini sangat mempengaruhi berbagai komponen ekosistem yakni : 1) masyarakat miskin, 2) yang sering mengandalkan strategi mata pencaharian berbasis subsisten dan 3) bergantung pada sumber daya alam seperti tanah yang sehat, sumber daya air, hasil hutan, bahan baku, ikan, dan tanaman obat (Reid, 2016).

Kontribusi dan manfaat jasa ekosistem terhadap kebutuhan dasar yang diperlukan oleh manusia seperti : makanan, kesehatan dan kesejahteraan telah banyak didokumentasikan dengan baik untuk berbagai sistem.  Beberapa penerapan yang diklaim sebangai layanan ekosistem antara lain : 1) penyediaan air, 2) produksi pangan, 3) penyediaan bahan bakar dan serat, 4) pengaturan hama dan penyakit, dan 5) pengaturan iklim, air dan siklus nutrisi (de Groot & Ramakrishnan, 2005).

Jika ekosistem tempat tinggal manusia itu dilestarikan dan dikelola secara berkelanjutan, maka ekosistem akan diatur oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala sebagai Tuhan yang Maha Mengatur untuk menyediakan jasa ekosistem penting dan memainkan peran penting dalam membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan iklim. Ekosistem dapat mengurangi dampak bahaya alam termasuk tanah longsor, banjir, angin topan dan angin topan dan memberikan kontribusi yang berharga bagi ketahanan manusia (Sudmeier-rieux et al., 2006).

Pustaka

de Groot, R., & Ramakrishnan, P. S. (2005). Ecosystems and human well-being: Current State and Trends, Chapter 17: Cultural and Amenity Services. Ecosystem and Human Well-Being: Current State and Trends, 1, 457–474. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.13140/RG.2.2.32902.88644

IPCC. (2007). Climate change 2007: impacts, adaptation and vulnerability (Fourth Assessment Report, Issue 2300). https://msuweb.montclair.edu/~lebelp/ipccclimatechange2007.pdf

Reid, H. (2016). Ecosystem- and community-based adaptation: learning from community-based natural resource management. Climate and Development, 8(1), 4–9. https://doi.org/10.1080/17565529.2015.1034233

Sudmeier-rieux, K., Masundire, H., Rizvi, A., & Rietbergen, S. (2006). Ecosystems, livelihoods and disasters :an integrated approach to disaster risk management. In K. Sudmeier-Rieux, H. Masundire, A. Rizvi, & S. Rietbergen (Eds.), Ecosystems, livelihoods and disasters :an integrated approach to disaster risk management (Issue 4). IUCN. https://doi.org/10.2305/IUCN.CH.2006.CEM.4.en

Cara Sensus Populasi

Sensus adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan semua unit populasi di seluruh wilayah untuk memperoleh karakteristik populasi pada saat tertentu. Sensus populasi biasanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu secara serentak serta bersifat menyeluruh untuk menjalankan kepentingan demografi wilayah yang bersangkutan.

Sensus populasi dilakukan untuk bertujuan sebagai berikut :

  1. Mengetahui perkembangan jumlah penduduk dari periode ke periode selanjutnya.
  2. Mengetahui persebaran serta juga kepadatan penduduk di setiap wilayah.
  3. Mengetahui berbagai atribut populasi Contohnya tingkat kelahiran, kematian, serta migrasi dan segala macam faktor yang memengaruhi.

A.  Berdasarkan Status Tempat Tinggal Penduduk

Berdasarkan status tempat tinggal penduduknya, sensus dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sensus de facto dan sensus de jure.

  1. Sensus De Facto.  Dalam pelaksanaan sensus de facto, petugas sensus mencatat setiap orang yang ada di wilayah tersebut pada saat proses sensus sedang berlangsung. Oleh karena itu, dalam sensus de facto tidak ada klasifikasi lebih lanjut terhadap penduduk yang memang menetap di wilayah tersebut atau penduduk yang hanya tinggal untuk sementara. 
  2. Sensus De Jure.  Berbeda dengan sensus de facto, sensus de jure hanya mencatat penduduk yang sudah secara resmi terdaftar sebagai penduduk dan tinggal di daerah tersebut. Jika menggunakan metode sensus de jure, penduduk asli yang sudah terdaftar dapat dibedakan dengan penduduk yang belum terdaftar. Penduduk yang belum terdaftar tersebut antara lain penduduk yang hanya tinggal di tempat tersebut untuk sementara waktu. Oleh karena itu, penduduk tersebut tidak diikutkan dalam proses sensus de jure.  

 B.  Berdasarkan Metode Pelaksanaan Sensus

 Pada pelaksanaannya, sensus dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode householder dan metode canvaser.

  1. Metode HouseholderPada metode householder, penduduk diminta untuk mengisi formulir yang berisi pertanyaan mengenai data kependudukan. Setelah selesai mengisi, formulir tersebut akan diminta kembali oleh petugas sensus untuk kemudian diolah. Metode householder sering digunakan di daerah yang tingkat pendidikan penduduknya cenderung tinggi. 
  2. Metode Canvaser.  Metode Canvaser merupakan metode pelaksanaan sensus yang dilakukan dengan cara mewawancarai penduduk secara langsung. Oleh karena itu, pada metode ini penduduk tidak mengisi formulir secara mandiri, melainkan menjawab pertanyaan petugas yang didasarkan pada formulir data kependudukan. 

Pustaka

  1. https://www.ruangguru.com/blog/informasi-sensus-penduduk-yang-harus-kamu-ketahui-1
  2. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/04/140000869/pengertian-sensus-penduduk-dan-data-sensus-indonesia?page=all
  3. https://sirusa.bps.go.id/sirusa/index.php/dasar/page?view=definisi