Ketahanan Kesehatan Lingkungan

Banyaknya jumlah populasi manusia saat ini telah menempatkan berbagai beban ekstrim pada sumber daya lingkungan lokal maupun global. Berbagai gangguan akibat aktivitas manusia termasuk kualitas udara, air dan makanan telah meningkatkan tantangan adaptasi pengelolaan limbah dari kegiatan manusia dan pencegahan, pengendalian dan pengobatan penyakit.  Bahkan, saat ini manusia telah memasuki “antroposen”, yakni sebuah zaman di mana lingkungan global didominasi oleh aktivitas manusia.

Sekarang mulai banyak dipertanyakan bagaimana kemampuan populasi manusia untuk tumbuh, dan bahkan bagaimana agar manusia bisa terus ada di planet ini tanpa terjadi perubahan signifikan cara berinteraksi dengan lingkungan global. Namun yang lain menunjukkan prediksi yang mengerikan tentang kerapuhan umat manusia menuju kepunahan dan telah dibuat selama ribuan tahun lalu.

Bagaimana konsep resiliensi (ketangguhan) ini dapat diterapkan pada disiplin kesehatan lingkungan, misalnya kualitas air? Siklus hidrologi global yang tercemar memiliki kemampuan sendiri untuk memurnikan air melalui penguapan, pengembunan, pengendapan, penyusupan, dan perembesan melalui sistem atmosfer dan terestrial secara alami. Siklus ini hampir seluruhnya ditenagai oleh Matahari, sehingga sangat sedikit air yang hilang ke angkasa. Jadi ini merupakan sistem yang sangat berkelanjutan dan tangguh. Demikian pula, prinsipnya sistem pemurnian air minum dan air limbah berbasis teknologi adalah meniru siklus hidrologi alami dalam banyak hal. Perbedaannya adalah membutuhkan masukan energi yang lebih banyak dan meningkat secara signifikan menggunakan minyak bumi dan sumber daya manusia. Kerentanan fasilitas pengolahan air terhadap bencana alam dan bencana buatan manusia secara substansial akan mengurangi ketahanan sistem ini dan tidak cukup cepat untuk mencegah penderitaan manusia dari dampak kerusakan lingkungan.

Ketersediaan dan kualitas pangan adalah contoh lain di mana sistem alam menyediakan ketahanan (reproduksi spesies hewan dan tumbuhan), asalkan permintaannya tidak terlalu besar. Ketika masyarakat “pemburu-pengumpul” manusia prasejarah digantikan dengan masyarakat agraris, populasi manusia meningkat secara eksponensial karena peningkatan ketersediaan makanan dan peningkatan teknik penyimpanan makanan.

Namun, populasi manusia sekarang semakin bergantung pada tanaman pertanian “monokultur”, yang lebih rentan terhadap tantangan alam dan buatan manusia (misalnya, penyakit dan perubahan iklim). Sekali lagi, ini adalah contoh peningkatan kepadatan populasi manusia yang mengurangi ketahanan alami sistem.

Cara berpikir lain tentang hal ini adalah bahwa “penyangga” ketahanan alami telah berkurang melalui meningkatnya tuntutan manusia terhadap sumber daya lingkungan yang terbatas. Padahal di masa lalu, populasi manusia kecil mungkin telah bertahan terhadap perubahan signifikan di lingkungan kita karena kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas manusia, gaya hidup modern kita telah membatasi jangkauan kondisi yang dapat diterima serta toleransi kita terhadap perubahan. Sementara kelompok kecil manusia yang terisolasi mungkin pada akhirnya dapat bertahan dari bencana jangka pendek, kelangsungan hidup manusia jangka panjang setelah bencana global tidak dijamin, dan mungkin bahkan tidak mungkin.

.Komponen kunci dari ketahanan sistem manusia (termasuk kesehatan lingkungan) adalah peningkatan perencanaan untuk rentang yang lebih luas dari perubahan alam dan antropogenik (misalnya, iklim, permukaan laut, terorisme) agar lebih cepat dan tepat menanggapi perubahan ini. “Mitigasi bahaya” atau “adaptasi terencana” lingkungan ini disajikan di sini sebagai perencanaan untuk tantangan kesehatan lingkungan masa depan yang tidak dapat diprediksi secara historis vs. “tanggapan darurat” untuk tantangan yang lebih acak, sporadis, dan relatif berumur pendek.

Kesimpulan

1. Manusia terbukti sangat mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan sosial. Kemampuan beradaptasi ini adalah salah satu sifat utama yang memungkinkan manusia menjadi spesies dominan di Bumi.

2. Manusia mampu mengatasi atau menghindari banyak “pemeriksaan dan keseimbangan” yang biasanya dikenakan pada pertumbuhan sistem alami seperti berbagai persediaan makanan dan air, tempat berlindung, dan penyakit yang telah membatasi spesies lain untuk mencapai dominasi global. Namun, dominasi kita datang dengan harga – menjadi lebih rentan terhadap perubahan alam dan antropogenik yang pada akhirnya dapat menggantikan kita sebagai spesies dominan.

3. Oleh karena itu, manusia harus mempertimbangkan cara-cara di mana kita dapat meningkatkan ketahanan sebanyak mungkin dalam sistem alam, sistem teknologi buatan manusia, dan sistem kesehatan lingkungan sehingga manusia dapat merespons dan memulihkan diri dengan lebih baik dari tantangan dari lingkungan dan diri kita sendiri.

Sumber Kutipan

Environmental Health Resilience https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3595985/#!po=2.50000

Pengertian, Konsep, dan Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah permasalahan tingkat dunia di mana masing-masing negara juga memiliki definisi mereka yang lebih spesifik. Ketahanan pangan merupakan persoalan yang kompleks sebab meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Aspek politik berperan paling dominan dan menjadi sangat penting dalam setiap pengambilan keputusan urusan pangan suatu negara.

Ketahanan pangan kini menjadi isu yang semakin krusial sebab menurut FAO, populasi dunia diperkirakan akan bertambah dan akan ada hampir 10 miliar orang di bumi pada tahun 2050. Dan, sekitar 3 miliar lebih banyak mulut untuk diberi makan daripada tahun 2010.

Pengertian Ketahanan Pangan

Pengertian ketahanan pangan menurut UU No. 18/2012 tentang Pangan adalah “kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.”

Inti dari ketahanan pangan adalah akses terhadap pangan yang sehat dan gizi yang optimal bagi semua. Akses pangan terkait erat dengan pasokan pangan, sehingga ketahanan pangan bergantung pada sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.

Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki lima unsur yang harus dipenuhi yakni : 1) berorientasi pada rumah tangga dan individu, 2) dimensi waktu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses, 3) menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu, baik fisik, ekonomi dan sosial, 4) berorientasi pada pemenuhan gizi, serta 5) ditujukan untuk hidup sehat dan produktif.

Sistem Ketahanan Pangan

Sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan adalah sistem yang berfokus pada kesehatan lingkungan, vitalitas ekonomi, dan kesehatan manusia serta kesetaraan sosial. Berikut uraiannya:

Kesehatan lingkungan memastikan bahwa produksi dan pengadaan pangan tidak membahayakan tanah, udara, atau air sekarang atau untuk generasi mendatang.
Vitalitas ekonomi memastikan bahwa orang yang memproduksi makanan kita dapat memperoleh upah hidup yang layak dengan melakukannya. Ini memastikan bahwa produsen dapat terus memproduksi makanan kita.
Kesehatan manusia & kesetaraan sosial memastikan bahwa pengembangan komunitas dan kesehatan komunitas sangat penting, memastikan bahwa makanan sehat tersedia secara ekonomi dan fisik bagi komunitas dan bahwa orang-orang dapat mengakses makanan ini dengan cara yang bermartabat.

Sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya perihal ihwal produksi, distribusi, maupun penyediaan pangan di tingkat makro (nasional dan regional), akan tetapi menyangkut aspek mikro, yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga, terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin.

Strategi Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan umumnya didasari oleh pendekatan perihal ketersediaan pangan. Hal tersebut atas dasar definisi ketahanan pangan oleh Bank Dunia (1988) yaitu ketahanan pangan sebagai ketersediaan pangan dalam jumlah yang memadai bagi semua penduduk untuk dapat hidup secara aktif dan sehat. 

Dalam mencapai ketahanan pangan dengan pendekatan tersebut  jurnal Forum penelitian Agro Ekonomi menyebutkan, salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan ketahanan pangan tersebut adalah melalui pemberdayaan kelembagaan lokal seperti lumbung desa dan peningkatan peran masyarakat dalam penyediaan pangan. 

Kemudian Achmad Suryana dalam jurnal Toward Sustainable Indonesian Food Security 2025: Challenges and Its Responses menyebutkan empat strategi untuk mengatasi ketersediaan pangan yaitu sebagai berikut:

Pertama, membangun penyediaan pangan berasal dari produksi domestik dan cadangan pangan nasional.

Kedua, memberdayakan usaha pangan skala kecil yang menjadi ciri dominan pada ekonomi pertanian Indonesia, perlu dilakukan:

(a) penyelarasan aktivitas usaha pangan skala kecil ke dalam rantai pasok pangan (food supply chain

(b) menghimpun usaha tani skala kecil sehingga mencapai skala ekonomi dengan menerapkan rekayasa sosial-ekonomi seperti corporate farming atau contract farming dalam satu luasan skala tertentu

Ketiga, mempercepat diseminasi teknologi dan meningkatkan kapasitas petani dalam mengadopsi teknologi tepat-guna untuk peningkatan produktivitas tanaman dan efisiensi usaha.

Keempat, mempromosikan pengurangan kehilangan pangan melalui pemanfaatan teknologi penanganan, pengolahan, dan distribusi pangan. 

Sumber Pustaka (copy paste)

https://m.merdeka.com/sumut/mengenal-ketahanan-pangan-pengertian-konsep-beserta-strateginya-kln.html?page=4

Simulasi Pemodelan Pemanfaatan dan Perlindungan Lahan Basah Berdasarkan Model Sistem Dinamis di Kota Pesisir, China

Ringkasan

Lahan basah yang tersebar di antara ekosistem darat dan ekosistem perairan dengan karakteristik hidrologis dan biologis yang unik. Namun, peningkatan aktivitas manusia menyebabkan lahan basah hancur pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Konservasi lahan basah saat ini telah menjadi fokus dunia. Sebagai contoh Kota Tianjin sebagai salah satu kota maju China juga menarik perhatian dunia. Keberadaan ekosistem lahan basah di kawasan ini telah diakui menyediakan berbagai fungsi ekologis yang sangat mendukung keberlanjutan. Oleh karena itu, kajian tentang pemanfaatan dan konservasi lahan basah di kawasan ini menjadi sangat penting.

Penelitian ini membahas tentang pemodelan simulasi dinamis dalam hal pemanfaatan dan perlindungan lahan basah, serta menganalisis potensi kebijakan pengelolaan berkelanjutannya. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat skenario untuk menemukan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lahan basah di wilayah ini.

Untuk mencapai tujuan ini, maka model sistem dinamis digunakan untuk merancang pengelolaan lahan basah. Model tersebut dibuat berdasarkan analisis pada sebanyak 24 indeks dan lima subsistem, yaitu sistem kependudukan, ekologi, lingkungan, ilmiah, ekonomi, dan sosial. Data statistik di Kota Tianjin dari dari tahun 1990 hingga 2008 digunakan untuk membuat model verifikasi. Juga dipilih enam model conoth skenario umum untuk simulasi keadaaan pada tahun 2010, 2030 dan 2050.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pendekatan pengelolaan lahan basah yang saat ini diterapkan telah menyebabkan degradasi lahan basah; (2) Penggunaan skenario yang berbeda telah menunjukkan bahwa penggunaan lima model skenario pengelolaan lahan basah satu sama lain memiliki keunggulan yang jelas; (3) Penyebab utama degradasi lahan basah adalah keberadaan struktur industri yang tidak masuk akal dan juga pencemaran lingkungan.

Adapun alternatif kebijakan yang diuji : 1), ‘mengendalikan populasi’, 2) ‘meningkatkan teknologi restorasi lahan basah’, dan 3) ‘memperbaiki struktur industri’ menunjukkan bahwa kebijakan berkelanjutan yang mengarah pada kondisi yang lebih baik. Oleh karena itu, disarankan bahwa perlindungan ekologi, pengendalian populasi dan penyesuaian struktur industri sebagai pendekatan berkelanjutan untuk mencapai pemanfaatan dan perlindungan lahan basah yang bijaksana di daerah ini.

Sumber Bacaan

Ma, C., Zhang, G. Y., Zhang, X. C., Zhou, B., & Mao, T. Y. (2012). Simulation modeling for wetland utilization and protection based on system dynamic model in a coastal city, China. Procedia Environmental Sciences13(January), 202–213. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2012.01.019

Mengingat Umur, Semoga Dalam Kebaikan

Umur adalah pohon kehidupan
Batangnya adalah tahun yang dijalaninya
Cabangnya adalah bulan yang dijalaninya
Harinya adalah daun yang dijalaninya
Sedangkan buahnya adalah amal yang dilakukannya

Jika umurnya panjang dan diisi dengan amal kebaikan maka ini adalah sebaik-baik manusia.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengatakan : siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dibentangkan rezekinya maka sambunglah silaturahmi.
Panjang umur saja belum tentu kebaikan, karena sebaik-baik manusia adalah panjang umurnya dan baik amalannya. Sebaliknya sejelek-jelek manusia adalah panjang umurnya dan jelek amalannya.

Sehingga jika ada yang mengatakan, semoga barokah umurmu, semoga panjang umurmu. Maka jangan lupa untuk menambahkan, : Amiin, dalam kebaikan. Walllahu`alam bisshowab.

(Faidah ini diambil dari Ustadz Muhammad bin Umar As Sewed, Radio Indah Siar, 91,8 FM)

Age is the tree of life
The trunk is the year it lives
The branch is the month it walks
Her day is the leaf she lives
While the fruit is the charity he does

If his life is long and filled with good deeds then this is the best of
people.
Prophet Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam said: Whoever wants to extend his
life and expand his sustenance, then continue the relationship.
Long life alone is not necessarily goodness, because the best of humans is long
life and good deeds. On the other hand, the worst of people is their longevity
and their bad deeds.

17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan sebuah agenda internasional yang akan menjadi kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium.  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini disusun oleh 194 negara, civil society, dan berbagai pelaku ekonomi dari berbagai belahan dunia yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Agenda ini dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kesenjangan sosial dan kemiskinan serta perubahan iklim yang terjadi di dunia.  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs ini telah ditetapkan sejak 25 September 2015 dan terdiri dari 17 tujuan yang mencakup lingkungan global. 17 tujuan ini memiliki 169 target yang akan dijadikan tuntunan kebijakan dan pendanaan hingga 15 tahun ke depan dan diharapkan akan selesai pada tahun 2030.

Tujuan 1 Tanpa kemiskinan (No Poverty). Hingga kini, kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di berbagai belahan dunia. Agar dapat mensejahterakan penduduk dunia, maka penuntasan kemiskinan menjadi salah satu agenda utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Tujuan 2 Tanpa kelaparan (Zero Hunger). Selain kemiskinan, masalah kelaparan atau kurang pangan juga masih menghantui berbagai tempat di belahan dunia. Maka dari itu, menggalakkan pertanian dan ketahanan pangan menjadi agenda utama dalam mencapai tujuan perbaikan nutrisi.

Tujuan 3 Kehidupan sehat dan sejahtera (Good Health and Well-Being). Isu kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Maka dari itu, kini tengah digalakkan gaya hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia.

Tujuan 4 Pendidikan berkualitas (Quality Education). Memastikan agar pendidikan berkualitas bisa di akses oleh semua orang. Hal ini lantaran pendidikan punya peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. 

Tujuan 5 Kesetaraan gender (Gender Equality). Meski sedang terjadi perkembangan kesetaraan gender yang masif belakangan ini, namun diskriminasi terhadap gender terutama perempuan masih menjadi permasalahan di berbagai negara. Dengan memperjuangkan kesetaraan gender dapat memperkuat kemampuan negara untuk berkembang pesat, memerintah dengan efektif, dan mengentaskan kemiskinan.

Tujuan 6 Air bersih dan sanitasi layak (Clean Water and Sanitation). Bank Dunia pada tahun 2014 merilis data bahwa masih ada 780 juta orang yang tidak punya akses air bersih di dunia ini dan lebih dari 2 miliar penduduk bumi tak punya akses sanitasi. Hal ini mengakibatkan kerugian materi hingga 7 persen dari PDB dunia akibat banyak nyawa melayang setiap harinya. Maka dari itu, menjamin akses atas air bersih dan sanitasi untuk semua merupakan hal yang penting dalam rangka peningkatan kualitas hidup manusia.

Tujuan 7 Energi bersih dan terjangkau (Affordable and Clean Energy). Di dunia ini masih banyak daerah yang terisolasi dan belum memiliki listrik, padahal hal tersebut penting untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. 

Tujuan 8 Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (Decent Work and Economy Growth). Untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi, maka pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang sehat harus dijamin agar investasi dan konsumsi terus berjalan.

Tujuan 9 Industri, inovasi dan infrastruktur (Industry, Inovations, and Infrastructure). Di dunia ini, lebih dari 4 miliar orang belum memiliki akses internet dan 90 persen di antaranya berasal dari negara-negara berkembang. Maka dari itu, untuk membangun infrastruktur yang kuat dan industrialisasi yang berkelanjutan, hal ini akan segera dituntaskan.

Tujuan 10 Berkurangnya kesenjangan (Reduce Inequality). Mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara. Kesenjangan pendapatan sedang mengalami kenaikan, 10 persen orang-orang terkaya menguasai 40 persen dari total pendapatan global. Di lain pihak, 10 persen orang-orang termiskin hanya mendapat antara 2 sampai 7 persen dari total pendapatan global. Di negara-negara berkembang, kesenjangan ini telah meningkat sebanyak 11 persen jika kita menghitung berdasarkan pertumbuhan populasi.

Tujuan 11 Kota dan komunitas berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities). Membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan.

Tujuan 12 Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible Consumption and Production). Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Tujuan 13 Penanganan perubahan iklim (Climate Action). Melawan dan mengatasi iklim yang terus berubah dan pemanasan global merupakan salah satu tugas utama. 

Tujuan 14 Ekosistem laut (Life Below Water). Akibat banyak perburuan dan pencemaran terhadap ekosistem laut, maka dalam pembangunan berkelanjutan, kehidupan laut akan dilindungi dengan lebih maksimal.

Tujuan 15 Ekosistem darat (Life On Land). Selain berpengaruh terhadap iklim, mengelola hutan secara berkelanjutan, merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati juga jadi tujuan utama.

Tujuan 16 Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh (Peace, Justice, and Strong Institution).  Mendorong masyarakat adil, damai, dan inklusif.

Tujuan 17 Kemitraan untuk mencapai tujuan (Partnership for The Goals). Menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan.

Sumber

https://hot.liputan6.com/read/4376458/17-tujuan-pembangunan-berkelanjutan-atau-sdgs-kenali-dan-pahami-maksudnya

KPSDH – Adaptasi berbasis Ekosistem (EbA)

Adaptasi berbasis ekosistem (Ecosystem based Adaptation=EbA) adalah penggunaan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem sebagai bagian dari strategi adaptasi keseluruhan komponen untuk membantu masyarakat agar dapat beradaptasi dengan dampak buruk perubahan iklim.

Adaptasi berbasis ekosistem merupakan salah satu upaya penyesuaian diri terhadap dampak perubahan iklim dengan dukungan ekosistem yang sehat. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk membuat ekosistem di sekitar masyarakat mampu menyediakan jasa lingkungan yang berperan terhadap perubahan iklim. Selain mampu berperan dalam adaptasi perubahan iklim, ekosistem yang dikelola dengan baik mampu menjadi penggerak perekonomian masyarakat.

Pustaka

Swiderska, K., King-Okumu, C., & Islam, M. M. (2018). Ecosystem-based adaptation: a handbook for EbA in mountain, dryland and coastal ecosystems International Ecosystem Management Partnership . https://pubs.iied.org/sites/default/files/pdfs/migrate/17460IIED.pdf

RPS (Rencana Pembelajaran Semester) Ekotoksikologi – Biologi

A. Capaian Pembelajaran (CP)
A.1. Capaian Pembelajaran Lulusan CPL
A.1.1. Sikap
1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religious.
2. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika.
3. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila.
4. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa.
5. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
6. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
7. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
8. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik.
9. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri.
10. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.
11. Mempunyai ketulusan, komitmen, kesungguhan hati untuk mengembangkan sikap, nilai, dan kemampuan peserta didik dengan dilandasi oleh nilai-nilai kearifan lokal dan akhlak mulia serta memiliki motivasi untuk berbuat bagi kemaslahatan peserta didik dan masyarakat.
12. Memiliki karakter religius, waja sampai kaputing.
A.1.2. Keterampilan Umum
1. Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu
pengetahuan dan
2. teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang keahliannya
3. Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur
4. Mampu mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah di bidang keahliannya, berdasarkan hasil analisis
informasi data
5. Mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan supervisi serta evaluasi terhadap penyelesaian
pekerjaan yang
6. ditugaskan kepada pekerja yang berada di bawah tanggungjawabnya
7. Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada dibawah tanggung jawabnya, dan mampu
mengelola secara mandiri
A.2. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan pengertian, konsep dasar, sejarah perkembangan dan kaitan toksikologi dengan ilmu lain.
2. Mahasiswa mampu mendeskripsikan klasifikasi toksikan; hubungan dosis-respon; pengaruh senyawa toksik terhadap sistem kehidupan
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi nasib senyawa pencemar di lingkungan (perairan, udara dan tanah), Mahasiswa mampu menggunakan sains dan teknologi untuk pengembangan Ekotoksikologi di lingkungan lahan basah
4. Mahasiswa mampu menghargai nilai kearifan lokal
B. Deskripsi Singkat MK
Mata kuliah ini merupakan mata kuliah keahlian (MKK) dan sifatnya pilihan bagi mahasiswa di program studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. Dengan kurikulum merdeka, maka tidak menutup kemungkinan peserta mata kuliah ini dari luar Program Studi Biologi.
Visi mata kuliah Ekotoksikologi ini adalah : mengantarkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan pemahaman serta tanggungjawab mahasiswa terhadap pengembangan potensi Ekotoksikologi dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berkehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Misi mata kuliah ini adalah :
1) Memberikan landasan pengetahuan, wawasan serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat baik sebagai individu, makhluk sosial, maupun sebagai hamba Allah yang beradab.
2) Memberikan keterampilan pengelolaan Ekotoksikologi agar mahasiswa bertanggung jawab terhadap pengelolaan biodiversitas di Lingkungan Lahan Basah.
C. Pokok Bahasan
Pertemuan Kuliah ke-
1. Kontrak Kuliah dan Pengertian Ekotoksikologi
2. Sumber Polutan dan Terjadinya Pencemaran
3. Bahan Pestisida dan daya kerja
4. Logam Berat dan Daya Kerja
5. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
6. Potensi toksisitas bahan polutan
7. Analisa Kimia dan Biokimia Bahan Polutan
8. UTS untuk BK/PB : 2 – 7
9. Agen dan perilaku pejamu (host) terhadap polutan
10. Pengukuran paparan dan perubahan populasi
11. Karakteristik dan Standardisasi Uji Toksikan
12. Sistem dan Model Ekotoksikologi
13. Studi kasus Ekotoksikologi (Promosi Kesehatan Tingkat Populasi)
14. Studi kasus Ekotoksikologi (Ketahanan Ekologi Lanskap)
15.. Sumatif (UTS) untuk BK/PB : 9 – 14
D. Pustaka Utama
1. Connel,D.W., and G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Penerbit UI-Press.
2. Moriarty, F. 1999. 3rd ed. Ecotoxicology: The Study of Pollutants in Ecosystems. Academic Press. London.
3. Soemirat, Juli. 2015. Epidemiologi Lingkungan. Edisi Ketiga (Cetakan Kelima). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika

Semester genap 2021-2022 ini Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah di Program Studi Matematika – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam – FMIPA – Universitas Lambung Mangkurat. Setelah berdiskusi dengan Koti Matematika, ternyata Silabus PLLB dibuat oleh Pengampu Mata Kuliah PLLB itu sendiri, tetapi arahnya disesuaikan dengan aplikasi model-model Matematika dalam pengelolaan lingkungan lahan basah.

Berikut ini adalah Rencana Silabus Kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika di Program Studi Matematika Semester genap 2021-2022.

  • Pertemuan 1. Silabus dan Kurikulum, Cara kuliah, Tugas dan Ujiannya – Tanggal 7 Februari 2022 : Pemaparan Umum – Presentasi – tanya jawab
  • Pertemuan 2. Pengenalan Sistem Dinamik dalam PLLB – Tanggal 14 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 1 – tanya jawab – Latihan instal Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat Model Dinamik menggunakan Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat sistem dinamik menggunakan Vensim PLE​
  • Pertemuan 4. Valuasi Ketahanan Lanskap dalam PLLB – Tanggal 28 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 3 – Tanya jawab – Latihan membuat Diagram dalam rangka Applying the Resilience Indicators menggunakan Edrawsoft
  • Pertemuan 5. Perencanaan Adaptasi PLLB berbasis Ekosistem – Tanggal 7 Maret 2022 : Presentasi Kelompok 4 – Tanya jawab – Latihan membuat Perencanaan Aplikasi Berbasis Ekosistem.

Catatan :

Berikut ini adalah pustaka yang perlu dibaca dan dipelajari!

Kelompok 1 dan 2 membahas tentang Metodologi System Dynamics (Dinamika Sistem) untuk Pemodelan Kebijakan : Suatu Pengantar. In Pelatihan Analisis Kebijakan Menggunakan Model System Dynamic. Tasrif, M., Juniarti, I., Rohani, F., Ahmad, F., Nurwendah, E. I., & Waspada, N. L. (2015). https://www.lppm.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/55/2017/07/BAHAN_PELATIHAN.pdf >> fokus pada bahan ke- 4 Systems Thinking & System Dynamics.

Kelompok 3 dan 4 membahas tentang Simulation modeling for wetland utilization and protection based on system dynamic model in a coastal city, China. Ma, C., Zhang, G. Y., Zhang, X. C., Zhou, B., & Mao, T. Y. (2012). Procedia Environmental Sciences, 13 (January), 202–213. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2012.01.019

Kelompok 5 dan 6 membahas tentang Assessing Landscape Resilience – Best Practices And Lessons Learned From The Comdeks Programme. Mock, G., & Salvemini, D. (2018). United Nations Development Programme Bureau for Policy and Programme Support. https://comdeksproject.files.wordpress.com/2018/06/resilience-indicators-publication-web.pdf

Kelompok 7 dan 8 membahas tentang Adaptation , Livelihoods and Ecosystems Planning Tool : User Manual. Terton, A., & Dazé, A. (2018). (No. 01; 1.0). https://www.iisd.org/publications/alive-adaptation-livelihoods-and-ecosystem-planning-tool-user-manual

Kelompok 1,3, 5, 7 membuat ppt (power point) dari dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Minimal 10 halaman – maksimal 15 halaman. Penjelasan dibuat sebagus mungkin, kalau memungkinkan dilengkapi dengan diagram alir, flow chart, fish bone dll yang dibuat menggunakan aplikasi Edraw.

Kelompok 2, 4, 6, dan 8 membuat penjelasan dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Penjelasan dibuat sebaik mungkin dan secara sistematis menggunakan aplikasi word. dilengkapi dengan pustaka lainnya kemudian disitasi menggunakan aplikasi  Mendeley. dengan panjang tulisan antara 5 – 10 halaman, termasuk cover dan Pustaka (Referensi)

Materi Kuliah PLLB bisa didapatkan di sini!

Lima Inovasi untuk Bantu Mencegah Food Waste

Tahukah kamu bahwa kita membuang 1,3 miliar ton makanan setiap tahunnya? Jumlah tersebut cukup untuk memberi makan 3 miliar orang! Bayangkan, 3 miliar orang seharusnya dapat diberi makan dari makanan yang kita buang saja.

Sementara itu , diperkirakan ada sebanyak 925 juta orang yang hidup kelaparan. Mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan bahwa, secara teori, jika kita tidak membuang makanan sama sekali, mungkin kita sudah bisa menghapus kelaparan di dunia.

Tetapi tidak usah jauh-jauh berpikir soal menghapus kelaparan di dunia. Sebagai gantinya, mari mulai mengurangi limbah makanan dari gaya hidup dan rumah kita masing-masing (Baca juga soal perbedaan food loss dan food waste)

Contoh gambaran makanan sehari-hari yang tidak dihabiskan dan bisa berakibat pada masalah yang lebih besar soal limbah makanan. Bagi orang-orang yang memiliki akses terhadap makanan yang melimpah dan tidak perlu pusing memikirkan harus makan apa esok hari, persoalan limbah makanan mungkin terlihat remeh. Akan tetapi, ada yang salah dengan cara kita mengkonsumsi makanan, yang kemudian menghasilkan limbah maknanan. Apabila tidak diatasi, efeknya bisa sangat merugikan.

Karena masalah limbah makanan ini, orang-orang pun mulai menciptakan inovasi teknologi yang bisa membantu kita memerangi limbah makanan di kehidupan sehari-hari. Inovasi ini cukup beragam, mulai dari tempat penyimpanan makanan sampai pada label identifikasi yang bisa dimakan. Berikut beberapa contonhya

1. Penyimpanan Pintar Smarterware

Sistem penyimpanan makanan Ovie Smarterware pada dasarnya ialah satu set perangkat “label pintar” yang bisa dipasang pada tempat penyimpanan makanan Anda. Setelah Anda selesai melabeli semua makanan Anda yang berada di kulkas misalnya, masukkan data mengenai jenis-jenis makanan yang sudah Anda labeli di aplikasi Ovie.  Sistem Penyimpanan Makanan Ovie Smarterware dengan fitur “label pintar”

Nantinya aplikasi tersebut akan mendata makanan Anda dan memulai perhitungan mundur untuk setiap jenis makanan. Anda akan mulai menerima pemberitahuan melalui ponsel Anda serta smart speaker mengenai makanan mana yang sebaiknya Anda konsumsi terlebih dahulu sebelum basi atau kadaluarsa. Selain itu, lampu SmartTag yang berada di tempat penyimpanan makanan Anda juga akan berganti warna secara bertahap untuk memberi tahu Anda mengenai kondisi makanan di dalamnya.

Sebagai tambahan, lampu labelnya akan berubah dari hijau, lalu kuning, kemudian barulah menjadi merah. Ketika lampunya sudah berubah kuning, Anda akan menerima pemberitahuan untuk segera mengkonsumsi makanan tersebut, lengkap dengan rekomendasi cara atau tips mengolah makanan untuk dikonsumsi. Label Pintar Ovie bisa disematkan pada berbagai macam kontainer makanan

Anda juga bisa mengecek bahan-bahan makanan apa yang misalnya masih tersisa di kulkas Anda saat sedang belanja bulanan. Dengan begitu, orang-orang bisa menghabiskan makanan mereka tanpa harus membeli makanan terlalu banyak atau berlebihan.

2. BluApple

Buah dan sayuran memproduksi gas bernama etilen, yang bekerja layaknya hormon pada tubuh manusia dan hewan. Ga sini merupakan hasil dari prosess pematangan buah dan mengatur pertumbuhan serta perkembangan dari buah dan sayur-sayuran.

Dalam jumlah tertentu, gas etilen bisa menyebabkan perubahan fisiologis pada buah, seperti misalnya perubahan warna dan tekstur. Pengaruh gas etilen terhadap proses pematangan buah juga bisa dipengaruhi oleh gas lain seperti karbon dioksida dan oksigen. Produk BlueApple yang bisa memperpanjang “hidup” buah dan sayuran

Dengan mempertimbangkan pengaruh dari gas etilen ini, proses pematangan buah bisa dimodifikasi sedemikian rupa, entah untuk mempercepat atau bahkan menunda proses pematangannya. Industri makanan sudah lama menggunakan penghisap etilen untuk mencegah proses pematangan dan pembusukan buah yang prematur dalam proses pengiriman dan distribusi buah.

Konsep serupa ini yang kemudian diterapkan di dalam produk  BluApple, yang diklaim mampu menyerap gas etilen berlebih dengan cara mengoksidasinya dengan sodium permanganat. Seperti namanya, produk yang berbentuk seperti buah apel plastik berwarna biru ini bisa Anda letakkan di dalam kulkas, laci serta lemari penyimpanana makanan, serta keranjang buah untuk mencegah mereka menjadi matang terlalu cepat. Hasilnya, buah dan sayuran Anda bisa tiga kali lipat lebih awt.

3. Edipeel

Penemuan lain yang juga membantu memperpanjang usia hidup buah dan sayuran yaitu dari Apeel, yang notabene menciptakan “kulit kedua” yang bisa dikonsumsi bagi buah dan sayuran. Ya, kulit tambahannya aman untuk dimakan juga

Apeel bekerja dengan menambahkan lapisan tambahan yang tidak berbau, tidak berasa, serta terbuat dari tanaman pada permukaan sayur dan buah untuk menjaga kelembapan produk serta mencegah oksigen masuk. Hal ini diklaim dapat membantu buah dan sayuran lebih awet hingga dua kali lipat.

Untuk alpukat misalnya, Apeel tidak hanya bisa memperpanjang hidup alpukat selama hampir 1 minggu dan memperpanjang periode kematangan dari 2 menjadi 4 hari, tetapi juga diklaim bisa mengurangi kehilangan air sebanyak 30% dan tingkat pelunakan sebesar 60%.

4. Kamera Hiperspektral

Pencitraan hiperspektral merupakan sebuah teknologi yang mampu memecah spektrum elektromagnetik menjadi ratusan pita guna menghasilkan data yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Teknologi ini telah menjadi perbincangan yang populer di industri makanan selama beberapa tahun terakhir, hal ini dikarenakan kamera hiperspektral mampu menerawang buah dan sayuran yang mulai matang. Peraturan dasarnya ialah semakin matang buah tersebut, maka gambar yang dihasilkan akan semakin gelap. Gambaran mengenai bagaimana kamera hiperspektral bisa digunakan untuk mendeteksi apakah buah masih dalam kondisi yang baik

Selain berguna untuk inspeksi makanan, peneliti juga tengah mencoba mengemas teknologi ini agar bisa digunakan oleh konsumen. Meskipun masih dalam tahap pengerjaan, konsep yang diincar ialah untuk membuat alat praktis yang bisa disinkronisasikan dengan gawai yang kita gunakan di kehidupan sehar-hari. Mungkin di masa mendatang, kita bisa menggunakan kamera ponsel tidak hanya untuk mengambil selfie tapi juga untuk mencari tahu kapan waktu terbaik untuk memakan buah-buahan yang kita beli.

5. Label Identifikasi Graphene yang Bisa Dimakan

Peneliti dari Rice University tengah mencari cara untuk mengukir pola graphene pada makanan dan material lain dengan harapan bisa membuat label identifikasi dari dan pada produk itu sendiri.

James Tour, salah satu peneliti di laboratorium Rice University menyatakan bahwa graphene berbeda dengan tinta. Metode graphene bahkan bisa dikatakan sebagai mengubah material produk yang dituju menjadi graphene itu sendiri. Temuan baru mereka, yang notabene dimuat di jurnal American Chemical Society berjudul ACS Nano, mendemonstrasikan bahwa graphene yang ditulis dengan laser bisa diukir di atas kertas, kardus, serta jenis-jenis makanan tertentu, salah satunya yaitu roti panggang.

Material yang lazim digunakan untuk membuat label grapehen bernama lignin. Bahan-bahan seperti gabus, batok kelapa, serta kulit kentang memiliki kandungan lignin yang tinggi sehingga lebih mudah untuk dikonversi menjadi graphene.

Mengapa repot-repot mencetak graphene pada barang dan bahkan makanan? Jika eksperimen ini berjalan sesuari rencana, maka bukan tidak mungkin makanan akan memiliki label RFID mini yang menyediakan informasi mengenai asal muasal makanan itu berasal sebelum bisa mencapai piring kita.

Bahkan, label grapehen ini bisa berperan sebagai sensor yang mampu mendeteksi E.coli atau mikroorganisme lainnya yang bisa mencemari makanan kita. Dengan kata lain, label tersebut bisa memperingati kita apabila makanan yang akan kita konsumsi sudah terkontaminasi. Yang lebih unik lagi yaitu bahwa label itu bukan berbentuk kertas atau material tambahan, melainkan di produk itu sendiri.

Memerangi Limbah Makanan Dimulai dari Diri Sendiri

Dengan atau tanpa teknologi di atas, limbah makanan merupakan sesuatu yang harus kita hapus dari rutinitas dan gaya hidup kita.

Bahkan sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah untuk mencegah timbulnya limbah makanan, mulai dari melakukan food prep, menanam dan menumbuhkan kembali bahan makanan, serta mengompos. (Baca juga tentang Hierarki Pemulihan Makanan).

Mencegah dan menghindari dihasilkannya limbah makanan dimulai dari sekarang, dari gaya hidup kita, dan dari diri sendiri.

Sumber :  https://waste4change.com/blog/5-inovasi-keren-untuk-bantu-cegah-food-waste/

Mengenai Jenis Pemborosan Pangan, yuk kita pelajari!

Diketahui dari The Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Sedangkan food wastage memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia, misalnya menyebabkan kelaparan.

Global Hunger Index juga mengatakan, tingkat kelaparan di indonesia berada di tingkat serius. Artinya banyak orang yang sedang kelaparan diluar sana, sedangkan kita yang serba berkecukupan (banyak makanan) suka membuang dan tidak menghabiskan makanan.

Food wastage terdiri dari 2 bagian, yakni food loss dan food waste. Kedua jenis sampah makanan ini memiliki perbedaan tersendiri. Berikut penjelasannya:

Food Loss

Food loss adalah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran,buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja.

Food loss menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk memasak. Di Indonesia sendiri kasus food loss sudah banyak terjadi, salah satunya yang terjadi di Banyuwangi dimana para petani buah naga membuang buah naga yang masih segar ke sungai. Keadaan ini sangat disayangkan sekali.

Penyebab Food Loss:

  • Proses pra-panen tidak menghasilkan mutu yang diinginkan pasar.
  • Permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan sehingga produsen memutuskan untuk membuang bahan pangan tersebut.
  • Kurangnya permintaan konsumen di pasar.
  • Permainan harga pasar antara agen dan distributor yang menyebabkan harga melonjak tajam, dan ujung-ujungnya tidak terjual.
  • Terlalu lama di gudang dan lama kelamaan menjadi basi,berjamur, dan berbau busuk.
  • Tidak disimpan secara sempurna sehingga umurnya menjadi pendek.
  • Dan kalian yang kurang bijak membeli bahan makanan dan akhirnya bahan makanan tersebut membusuk di tempat penyimpanan (kulkas).

Maka dari itu, sebagai konsumen seharusnya kita harus membuat planning yang lebih baik sebelum membeli bahan makanan agar bahan makanan tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Food Waste

Food Waste adalah makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA. Food waste yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana dan karbondioksida. Sedangkan keduanya tidak sehat untuk bumi.

Gas-gas tersebut terbawa ke atmosfer dan berpotensi merusak lapisan ozon. Padahal, salah satu fungsi lapisan ozon adalah menjaga kestabilan suhu di bumi. Jika kestabilan suhu terganggu, maka terjadilah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut akibat dari mencairnya es di bumi.

Penyebab food waste:

  • Tidak menghabiskan makanan.
  • Makan tidak sesuai dengan porsi makananmu.
  • Membeli atau memasak makanan yang tidak kalian sukai.
  • Gaya hidup (gengsi) menghabiskan makanan di depan orang ramai.

Untuk mengurangi jumlah food loss dan food waste, salah satu cara yang paling mudah untuk dilakukan yaitu adalah mindful dalam konsumsi makanan dan dengan menghabiskan makanan yang kamu makan.

Yuk ikuti #zwidfoodwaste challenge di Instagram. Post before dan after piring kalian dan tag zerowaste.id_official.

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari laman. https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/perbedaan-food-loss-dan-food-waste/

Interaksi Manusia dan Lingkungan

Sebagai makhluk yang diberikan amanah oleh Allah Subhana wa ta’ala untuk beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, manusia diberikan kesempatan memanfaatkan fasilitas berupa bumi dan segala isinya. Kehadiran bermacam-macam jenis makhluk hidup di muka bumi ini akan menciptakan interaksi kompleks secara simultan (terus-menerus) dan dinamis di berbagai tingkat organisasi ekologi pada berbagai skala ruang dan waktu.

Kompleksitas interaksi antar komponen makhluk hidup tidak terlepas dari manajemen biodiversitas yang sangat rapi berupa struktur (komposisi dan susunan) dan peran (fungsi) masing-maisng komponen ekosistem. Keberagaman struktur dan fungsi ekosistem selanjutnya menciptakan kekayaan jasa dan layanan ekosistem yang dapat digunakan oleh manusia untuk selalu bersyukur dengan karunia-Nya dan bersabar atas ujian yang diberikan kepada-Nya.

Bersyukur dan bersabar adalah dua konsep hidup yang seharusnya dijadikan patokan hidup manusia dalam rangka pemanfaatan jasa dan layanan ekosistem agar manusia bisa menjalin interaksi yang positif dengan lingkungan sekitar. Konservasi biodiversitas dan restorasi ekosistem terdegradasi di daerah aliran sungai merupakan dua contoh interaksi positif manusia dengan lingkungan, terutama menjamin keberlangsungan jasa ekosistem seperti ; 1) jasa penyediaan air bersih, 2) jasa pengaturan pencegahan erosi, 3) jasa pendukung siklus nitrogen, dan 4) jasa budaya pendidikan dan kearifan lokal pengelolaan potensi biodiversitas daerah aliran sungai.

Sedangkan pembalakan hutan, pembuangan limbah ke badan air, dan kejahatan atas lingkungan lainnya merupakan contoh interaksi negatif antara manusia dengan lingkungan. Interaksi ini secara nyata akan menghilangkan keseluruhan jasa dan layanan ekosistem dan menimbulkan gangguan pada rangkaian struktur dan fungsi ekosistem. Bencana alam seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, keracunan, limbah organik dan anorganik merupakan berbagai dampak perubahan struktur dan fungsi ekosistem dan dirasakan langsung oleh manusia karena berubahnya jasa dan layanan ekosistem secara keseluruhan.

Semoga tulisan ini bisa menyadarkan manusia agar kembali kepada jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah yang Maha Kuasa.

Pengelolaan Contaminants of Emerging Concern di DAS

Jakarta, 6 Oktober 2021. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Media Briefing Kontaminasi Paracetamol di Teluk Jakarta berkaitan dengan hasil kajian yang dilakukan oleh Peneliti LIPI. Penelitian yang berjudul High Concentration Of Paracetamol In Effluents Dominated Waters Of Jakarta Bay, Indonesia adalah disertasi Wulan Koagouw untuk Ph.D di Brigton UK (School of Pharmacy Brighton UK) bersama peneliti Pusat Penelitian Oseanografi BRIN, peneliti Zainal Arifin, Wulan Koagouw, dan Corina Ciocan, dan dimuat di Jurnal internasional Elsevier. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2017 dan 2018 di 4 lokasi di Jakarta yaitu Teluk Jakarta, Ancol, Tj Priok & Cilincing, serta di Teluk Eretan Jawa Tengah.
 
Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Etty Riani mengungkapkan perlu penelitian lebih lanjut. Prof. Etty juga menyampaikan kadar paracetamol yang ditemukan di Teluk Jakarta ini masih terhitung kecil. “Kalau dilihat dari jumlah 610 ng/L, itu sifatnya non akut. Sehingga tidak akan menjadi mematikan dalam jumlah tersebut,” kata Prof. Etty, saat menyampaikan paparan “Paracetamol: Penyebab Laut Terkontaminasi, Dampak, Pengelolaannya” pada Media Briefing secara virtual di Jakarta, Selasa (5/10/21).
 
Contaminants of Emerging Concern (CEC) muncul seiring dengan peningkatan kemampuan peralatan dan teknik uji sampel yang mampu mengukur konsentrasi bahan kimia sampai pada jangkuan μg/L dan ngram/L. Sebagai gambaran konsentrasi 1 μgram/L  menyatakan 1 gram bahan kimia di dalam 1.000.000 L pelarut, sedangkan 1 ng/L menyatakan 1 gram bahan kimia di dalam 1.000.000.000 L pelarut. Konsentrasi Paracetamol di Teluk Jakarta hasil Penelitian Pusat Oseanografi LIPI sebesar 420-610 ng/L artinya terdapat kandungan 420-610 gram paracetamol dalam 1.000.000.000 L air laut atau 1 juta liter air laut.
 
Salah seorang peneliti pada penelitian “Tingginya konsentrasi paracetamol pada buangan air limbah mendominasi air di Teluk Jakarta, Indonesia”, yaitu Prof. Zainal Arifin menjelaskan riset paracetamol dan bahan pencemar ini dilakukan sejak 2017 sampai 2020. Dari lima lokasi penelitian yaitu Angke, Ancol, Tanjung Priuk, Cilincing dan Pantai Eretan, paracetamol terdeteksi di dua lokasi yaitu Ancol dan Angke.
 
“Dari 4 parameter yaitu parameter fisik hasilnya aman bagi biota, dan parameter logam berat terlarut umumnya aman. Sedangkan nutriens seperti ammonia, nitrate, dan fosfat melebihi baku mutu. Sementara, parameter lainnya seperti pcb dan pestisida juga aman bagi biota laut,” terangnya.
 
KLHK menghargai penelitian tersebut karena hal ini menunjukkan Indonesia sudah memiliki perhatian terhadap isu Contaminants of Emerging Concern dan memiliki kemampuan penelitian dengan menggunakan peralatan Advanced Analytical Techniques untuk mendeteksi bahan kimia dengan konsentrasi yang sangat kecil, seperti yang dimiliki oleh Laboratorium Pusat Penelitian Oseanografi.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan paracetamol yang menjadi bahan penelitian tersebut merupakan bagian dari berbagai upaya di dunia untuk melakukan penelitian terhadap Contaminants of Emerging Concern (CEC). CEC adalah bahan kimia sintetis atau alami yang biasanya tidak dipantau di lingkungan, tetapi memiliki potensi untuk memasuki lingkungan dan menyebabkan efek yang sudah diketahui atau diduga memiliki efek terhadap ekologis dan (atau) kesehatan manusia. Kontaminan  baru ini muncul karena belum cukup pengetahuan untuk memastikan efek samping dari bahan kimia, sehingga dapat dipahami risiko yang terkait dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
 
“Saat ini belum ada baku mutu air terkait dengan paracetamol dan hal ini termasuk emerging pollutan. Dari paparan para ahli juga jumlahnya relatif kecil, dan kecil kemungkinan untuk mengganggu kesehatan. Meskipun demikian, kita bersyukur dengan adanya penelitian LIPI ini maka kita tidak tertinggal dengan negara lain yang saat ini juga mengalami dan mencari solusinya”, ujarnya.
 
Berbicara mengenai tantangan penanganan pencemaran di Teluk Jakarta, Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Sigit Reliantoro mengatakan Teluk Jakarta merupakan muara dari 13 sungai. Kalau dilihat dari segi daya dukung dan daya tampung memang sebagian besar dari Jakarta, yang juga dipengaruhi oleh daerah di sekitarnya. Secara umum sumber pencemaran kegiatan rumah tangga (domestik) yang berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, USK, kegiatan industri.
 
“Upaya paling efisien untuk penanganannya yaitu dilakukan sejak dari sumbernya. Jadi masing-masing daerah melakukan identifikasi sumber pencemarnya. Jadi kunci utamanya yaitu kolaborasi untuk perbaikan kualitas air laut di Jakarta khususnya,” kata Sigit.
 
Menindaklanjuti hasil penelitian ini, KLHK bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat-obatan baik terutama obat yang tersedia bebas di pasaranan. KLHK dan BPOM melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penanganan obat-obatan kadaluarsa, sehingga dikelola dengan baik dan tidak terbuang langsung ke lingkungan tanpa pengelolaan. Saat ini BPOM bersama KLHK sedang menyusun modul pelatihan pengelolaan limbah obat kadaluarsa.
 
KLHK dan BRIN akan membentuk Working Group Pengelolaan Contaminants of Emerging Concern, bekerjasama dengan kementerian teknis terkait dan Perguruan Tinggi. KLHK juga bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat-obatan baik terutama obat yang tersedia bebas di pasaran.
 
Ke depan KLHK akan bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap: pengelolaan limbah farmasi khususnya yang mengandung paracetamol, serta peningkatan kinerja pengolahan air limbah yang mengandung paracetamol baik untuk industri, fasyankes, maupun air limbah domestik.

KONTAMINASI PARACETAMOL DI TELUK JAKARTA PERLU PENELITIAN LEBIH LANJUT https://www.ppkl.menlhk.go.id./website/index.php?q=1036&s=3d41b7fd29fc9b4ab18b63e1727b59b9eb5df1e2