Arsip Tag: Bioindikator

Cara Membuat Perumusan Masalah Bioindikator!

Hari ini saya mendapatkan pertanyaan dari mahasiswa, yang intinya menanyakan cara membuat perumusan masalah : berikut ini bunyinya : “Assalamualaikum bapak mohon maaf mengganggu waktunya & bertanya diluar jam kuliah pak, izin bertanya pak untuk tugas 4 bagian perumusan masalah itu gimana ya pak? Karena saya & beberapa teman masih bingung dengan perumusan masalah seperti yang bapak maksud itu pak, dan rata-rata stuk & tidak bisa menyelesaikan perumusan masalah pak”. ….. Tentunya ucapan pertama adalah Alhamdulillah, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk menyampaikan pertanyaan. Berikut ini adalah penjelasan mengenai cara membuat perumusan masalah.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam setiap pengerjaan berbagai karya ilmiah (seperti makalah, skripsi, proposal, atau laporan) kita pasti memulainya dengan latar belakang dan rumusan masalah. Rumusan masalah mempertanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan suatu topik yang akan diamati/diteliti. Dan nantinya jawaban yang diperoleh dari pertanyaan (rumusan masalah) inilah yang akan menjadi hasil penelitian itu. Jadi, bisa dipahami bahwa Rumusan masalah adalah bagian terpenting dalam inti penelitian yang harus dipikirkan secara matang.

Sebelum melangkah lebih lanjut, kita perlu mengenal jenis-jenis rumusan masalah yang bisa kamu pakai. Ingat ya, rumusan masalah ini yang kamu pilih akan menyesuaikan dengan jenis penelitian yang dipilih pula. :

  1. Rumusan Masalah Deskriptif. Adalah rumusan masalah yang mempertanyakan deskripsi atau penjelasan sebuah variabel atau beberapa variabel dan tidak membandingkan variabel satu dengan yang lainnya. Biasanya, rumusan masalah deskriptif dimulai dengan kata “Apa”, “Bagaimana”, dan “Mengapa” yang perlu dijawab secara rinci dan jelas pada hasil penelitian. Contoh rumusan masalah deskriptif misalnya : Apa pengertian bioindikator?, Bagaimana cara menghitung indeks keanekaragaman moluska sebagai bioindikator gangguan antropogenik?
  2. Rumusan Masalah Komparatif. Rumusan masalah komparatif bertujuan untuk membandingkan suatu variabel atau beberapa variabel yang ada di dalam sebuah penelitian maupun karya ilmiah lainnya. Misalnya : Adakah perbedaan antara bioindikator di sawah dengan bioindikator di tambak udang? , Perbedaan seperti apa yang terjadi pada struktur morfologi burung sebagai bioindikator pencemaran udara di wilayah permukiman?
  3. Rumusan Masalah Asosiatif adalah rumusan masalah yang mempertanyakan hubungan satu variabel dengan variabel lainnya. Contohnya : Bagaimana pengaruh kelimpahan bioindikator dengan aktivitas nyamuk Anopheles pada ekosistem mangrove?

Setelah diberikan tiga rumusan masalah yang mendasar, mungkin kamu masih memerlukan panduan cara membuat rumusan masalah. Begini tipsnya:

  1. Ketahui apa yang menjadi masalah dalam penelitianmu.
  2. Pikirkan mengenai hal-hal yang menjadi pertanyaan pada sebuah penelitian secara kritis.
  3. Jabarkan semua pertanyaan yang muncul di pikiran dengan menggunakan pertanyaan 5W+1H (when, why, where, who, what, and how). Kemudian, kerucutkan pertanyaan yang paling kritis dan penting.
  4. Pastikan bahwa rumusan masalah yang kamu pilih memiliki nilai penelitian (bermanfaat), jelas, padat, dan tidak bertele-tele.
  5. Rumusan masalah bisa dijadikan petunjuk sebagai pusat penelitian yang memungkinkan untuk dijawab dengan data dan fakta yang ada di lapangan.
  6. Hubungkan rumusan masalah yang didapat dengan teori-teori yang ada. Sebab bisa jadi penelitianmu melahirkan berbagai dalil yang dapat membentuk teori baru.
  7. Rumusan masalah harus bisa diterapkan ke judul penelitian

Berikut ini adalah contoh Rumusan Masalah Bioindikator

  1. Apa pengertian bioindikator lingkungan lahan basah?
  2. Apa syarat agar moluska bisa dijadikan sebagai bioindikator perairan yang tercemar?
  3. Bagaimana cara memelihara serangga sebagai bioindikator keanekaragaman hayati pada ekosistem mangrove?
  4. Apa manfaat penggunaan timpakul sebagai bioindikator pada lingkungan pesisir pantai?

Ditulis ulang dari : https://www.cekaja.com/info/contoh-rumusan-masalah-makalah-skripsi-dan-penelitian

Tumbuhan tingkat rendah sebagai bioindikator

Bioindikator adalah organisme atau respon biologis yang menunjukkan masuknya zat tertentu dalam lingkungan. Jenis tumbuhan yang berperan sebagai bioindikator akan menunjukan perubahan keadaan, ketahanan tubuh, dan akan memberikan reaksi sebagai dampak perubahan kondisi lingkungan yang akan memberikan informasi tentang perubahan dan tingkat pencemaran lingkungan. Tumbuhan tingkat rendah yang umum dijadikan sebagai bioindikator antara lain : lumut kerak (lichen) , bryophyta (lumut sejati) dan alga.

A. Lumut kerak (atau Lichen )

Pengertian. Lichen adalah suatu organisme majemuk yang merupakan suatu bentuk simbiosis mutualisme erat dari fungi (sebagai mycobiont) dengan mitra fotosintetik (photobiont), yang berupa alga hijau (biasanya Trebouxia) atau Sianobakteri (biasanya Nostoc). Lichen / lumut kerak hidupnya tidak bisa sendiri sehingga perlu bersimbiosis dengan biota lain. Kerja sama ini demikian eratnya sehingga morfologinya pun berbeda dari komponen simbiotiknya. Pada beberapa kasus bahkan masing-masing komponen akan mengalami kesulitan hidup apabila ditumbuhkan terpisah.

Morfologi lichen. Bila diamati menggunakan mikroskop, lichen terlihat jelas terdiri atas hifa jamur Dan sel ganggang. Lumut kerak biasanya ditemukan di tembok, genting, atau pada dahan berkayu. Interaksi antara kedua jenis organisme tersebut terjadi karena masing-masing organisme membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi sendiri. Ganggang mampu menyediakan makanan untuk jamur. Ganggang biru dapat memfiksasi nitrogen bebas, kemudian menyediakan nitrogen organik untuk jamur (Gambar 1.)

Lumut kerak (sumber : https://www.gurugeografi.id/2018/04/lumut-kerak-jenis-cara-reproduksi-dan.html)

Fungsi : Lumut kerak atau lichen membantu proses pembentukan tanah dengan cara melepaskan fragmen yang sangat halus. Lumut kerak sangat sensitif terhadap polutan yang berbahaya, misalnya fluorida, logam berat, zat radioaktif, bahan bahan kimia pertanian, dan pestisida sehingga lumut kerak dapat digunakan sebagai indikator pencemaran lingkungan. Usnea(salah satu macam lumut kerak) dapat menghasilkan asam usnin yang dapat digunakan sebagai obat TBC. Rocellia Tinctoria digunakan sebagai bahan pembuatan kertas lakmus.

B. Bryophyta

Bryophyta merupakan lumut sejati yang sudah memiliki rizoid, batang, daun dan dapat hidup sendiri. Bryophyta berasal dari kata bryo yang dapat diartikan lumut dan phyton atau tanaman.  Bryophyta biasa disebut tanaman lumut yang mampu bertahan hidup di darat dengan kondisi tempat tumbuh yang teduh dan lembab.

Ciri-Ciri Bryophyta. Bryophyta memiliki ciri-ciri : 1) tidak mempunyai ikatan pembuluh dan tidak berakar, 2) tidak mempunyai batang, 3) berkembang biak dengan spora, 4) fase sporofit lebih dominan, 5) mengalami pergiliran keuturunan , 6) memiliki daun steril dan fertil yang berguna untuk menghasilkan spora, 7) gametofit berumur lebih panjang dari sporofit, 8) mempunyai rhizoid sebagai pengganti jaringan akar yang menyerupai bulu-bulu akar, 9) mengalami pertumbuhan membesar, 10) letak gametogoniumn dibedakan menjadi homotalus (berumah satu) dan heterotalus (berumah dua) (Gambar 2).

Gambar 2. Morfologi Bryofita (https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/16367/Ciri-Bryophyta)

Klasifikasi Bryophyta. Dalam klasifikasi, bryophyta termasuk ke dalam kingdom Plantae (tumbuhan) . Divisio = bryophyta, dan terbagi menjadi 3 class yaitu Hepaticopsida (Hepaticae), Anthocerotopsida (Anthocerotae) dan Bryopsida (Musci).

Manfaat Bryophyta. Bryophyta memiliki manfaat bagi kehidupan manusia dan hewan, yaitu : 1) Dapat meningkatkan kelembaban tanah sehingga cocok untuk pertanian, 2) Melindungi vegetasi perintis, 2) Obat hepatitis (Marchantia polymorpha), 3). Pengganti kapas (Sphagnum sp), 4). Bantalan lumut di hutan karena mampu menyerap air dan salju, 5). Jenis lumut tanduk dapat ditanam pada akuarium, 6). Perlindungan benih ikan, 8). Oksidasi air pada ikan dan 9). Sumber bahan bakar (Sphagnum sp)

C. Alga

Alga (jamak Algae) adalah sekumpulan organisme autotrof (bisa menghasilkan makanan sendiri) yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan tumbuhan talus karena belum memiliki akar, batang dan daun sejati. Algae (ganggang) dapat dibedakan menjadi tujuh kelompok yaitu : cyanophyta, cholrophyta, euglenophyta, pyrrophyta, crysophyta, phaeophyta, rhodophyta.berdasarkan pigmen dominannya ketujuh kelompok tersebut meliputi: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta. (Gambar 3).

Gambar 3 .Contoh jenis alga yang digunakan sebagi bioindikator (https://evanputra.wordpress.com/2012/12/30/alga-sebagai-bioindikator-dan-biosorben-logam-berat-bagian-2-biosorben/)

Manfaat alga. Ganggang banyak dimanfaatkan dalam berbagai macam industri. Seperti Chlorella yang dimanfaatkan dalam industri kosmetik, Eucheuma spinosum, Gelidium, Gracilaria lichenoides, dan Agardhiella yang menghasilkan agar dan karagenan dan dimanfaatkan dalam industri tekstil sebagai perekat tekstil. Selain ganggang yang telah disebutkan tadi, masih ada pula ganggang lain yang dimanfaatkan dalam industri, yaitu ganggang keemasan (misal: diatom) yang sisa-sisa cangkangnya yang membentuk tanah diatom digunakan untuk bahan peledak, penyekat dinamit, campuran semen, bahan alat penyadap suara, bahan penggosok, bahan isolasi, bahan pembuat cat dan pernis, bahan dasar pembuatan kaca, dan dalam pembuatan saringan.


Pemanfaatan alga sebagai bioindikator. Salah satunya adalah pemanfaatan alga di Indonesia yang masih belum optimal, hanya terbatas sebagai pakan zooplankton dan ikan, sumber makanan dan sayuran, dan sumber bahan mentah industri terutama untuk agar-agar, karagenan, dan alginat. Padahal dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa alga mempunyai keunggulan sebagai bioindikator dan biosorben logam berat. Pemanfaatan alga sebagai bioindikator dan biosorben dalam dasawarsa ini sangat diperlukan, seiring dengan berkembangnya berbagai bidang industri yang menimbulkan efek samping seperti pembuangan logam berat sebagai sisa proses kimia dari industri ke lingkungan. Alga dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator logam berat karena dalam proses pertumbuhannya, alga membutuhkan berbagai jenis logam sebagai nutrien alami, sedangkan ketersediaan logam dilingkungan sangat bervariasi. Suatu lingkungan yang memiliki tingkat kandungan logam berat yang melebihi jumlah yang diperlukan, dapat mengakibatkan pertumbuhan alga terhambat, sehingga dalam keadaan ini eksistensi logam dalam lingkungan adalah polutan bagi alga.

Pustaka

http://www.artikelbiologi.com/2014/01/simbiosis-jamur.html

Henny Riandary. 2009. Theory and application of biology, Jilid 1(edisi Bilingual). Solo:PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Rasyidah, “Kelimpahan Lumut Kerak ( Lichens ) Sebagai Bioindikator Kualitas Udara Di Kawasan Perkotaan Kota Medan,” Klorofil, vol. 1, no. 2, pp. 88–92, 2018, [Online]. Available: http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/klorofil/article/download/1601/1288.

https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/16367/Ciri-Bryophyta

Chapman, V.J. (1950). Seaweeds and their Uses. London: Methuen & Co. Ltd. ISBN 978-0-412-15740-0.

https://www.dosenpendidikan.co.id/alga-adalah/

https://evanputra.wordpress.com/2013/01/01/alga-sebagai-bioindikator-dan-biosorben-logam-berat-bagian-1-bioindikator-2/

Tumbuhan Sebagai Biondikator Lingkungan

Tumbuhan sebagaimana kita kenal memiliki fenotipe (tampilan) yang merupakan gabungan dari sifat bawaan (pencerminan yang ada di dalam tumbuhan itu=hereditas), dan juga dipengaruhi lingkungan. Tumbuhan dapat hidup dengan baik di lingkungan yang menguntungkan. Kehadiran suatu tumbuhan pada lingkungan dapat berperan sebagai pengukur kondisi lingkungan tempat tumbuhnya atau penanda keunikan habitat atau disebut sebagai indikator biologi atau bioindikator atau fitoindikator.

Keanekaragaman dan kelimpahan merupakan indikator penting yang bisa digunakan untuk menilai seberapa penting kehadiran tumbuhan pada lingkungan tertentu dan ada kaitan yang sangat erat hubungan antara tumbuhan dengan habitatnya. Dalam prakteknya tumbuhan dapat digunakan untuk memperkirakan adanya kemungkinan penggunaan lahan untuk berbagai fungsi dan manfaat (sebagai sumber daya untuk hutan, padang rumput atau pertanian dan peternakan). Bahkan manfaat lainnya untuk indikator pencemaran lingkungan, kandungan beberapa jenis logam berat dapat diketahui melalui kehadiran tumbuhan tertentu di suatu areal yang dianggap tercemar.

Azas-azas tumbuhan indikator

Tumbuhan yang akan digunakan sebagai indikator mempunyai kekhususan struktur dan fungsinya, dengan demikian diperlukan adanya pedoman umum yang kemungkinan digunakan dalam penerapan identifikasi tumbuhan di lapangan. Pedoman umum itu antara lain :

1. Tumbuhan sebagai indikator kemungkinan bersifat steno atau eury.

2. Tumbuhan yang terdiri atas banyak spesies menjadi indikator lebih baik daripada terdiri dari sedikit spesies.

3. Sebelum mempercayai tumbuhan itu sebagai suatu indikator harus dibuktikan dulu di tempat-tempat lain.

4. Banyaknya hubungan antara spesies, populasi dan komunitas lebih sering memberikan petunjuk sebagai indikator yang dapat dipercaya daripada kehadiran spesies tunggal di suatu tempat.

Tipe-tipe indikator tumbuhan

Tipe yang berbeda dalam indikator tumbuhan mempunyai peranan yang berbeda dalam aspek tertentu antara lain :

1. Indikator tumbuhan untuk pertanian. Kebanyakan indikator tumbuhan menentukan apakah tanah cocok untuk pertanian atau tidak. Petumbuhan tanaman pertanian dapat berbeda di beberapa kondisi lingkungan yang berbeda dan jika tumbuh dengan baik di suatu tanah berarti tanah itu cocok untuk tanaman itu. Sebagai suatu contoh, rumput-rumput pendek menandakan bahwa tanah di situ keadaan airnya kurang. Adanya rumput yang tinggi dan rendah menandakan tanah tempat tumbuh rumput itu subur, dengan demikian juga cocok untuk pertanian. Dhawar dan Nanda (1949) di India mengemukakan beberapa indikator tumbuhan pada berbagai tipe tanah sebagai berikut :

Daftar 2. Hubungan antara indikator tumbuhan dan karakteristik tanah

Indikator tumbuhanKarakteristik tanah
Salvador aleoidesCa & Bo tinggi, baik untuk tanaman pertanian
Zizyphus nummulariaTanah baik untuk pertanian
Prosopis cinerariaTanah baik untuk pertanian dengan adanya pengairan
Peganum harmalaTanah kaya akan N dan garam-garam, baik untuk pertanian
Butea monospermaTanah alkalinitasnya tinggi
Capparia deciduaTanah alkalin

2. Indikator tumbuhan untuk overgrazing. ebanyakan tumbuhan yang menderita perlakuan karena adanya manusia/hewan yang kurang makan ini mengalami modifikasi sehingga vegetasinya berbentuk padang rumput. Sedangkan padang rumput sendiri kalau mengalami overgrazing akan mengalami kerusakan dan produksinya sebagai makanan ternak akan turun. Tumbuhan yang tahan tidak rusak tetapi seperti istirahat. Beberapa tumbuhan menunjukkan sifat yang karakteristik bahwa di situ terjadi overgrazing. Biasanya hal itu dicirikan dengan adanya beberapa gulma semusim atau gulma tahunan berumur pendek, antara lain seperti Polygonum, Chenopodium, Lepidium dan Verbena. Beberapa tumbuhan tidak menunjukkan atau sedikit menunjukkan adanya peristiwa itu, yaitu seperti : Opuntia, Grindelia, Vernonia.

3. Indikator tumbuhan untuk hutan. Beberapa tumbuhan menunjukkan tipe hutan yang karakteristik dan dapat tumbuh pada suatu areal yang tidak terganggu. Pada umumnya di sini tumbuhan yang ada menunjukkan bahwa sifat pertumbuhannya sesuai dengan kondisi hutan sehingga bila di situ dijadikan hutan kemungkinannya akan berhasil.

4. Indikator tumbuhan untuk humus. Beberapa tumbuhan dapat hidup pada humus yang tebal. Monotropa, Neottia dan jamur menunjukkan adanya humus di dalam tanah.

5. Indikator tumbuhan untuk kelembaban. Tumbuhan yang lebih suka hidup di daerah kering akan menunjukkan kandungan air tanah yang rendah di dalam tanah, antara lain seperti : Saccharum munja, Acacia, Calotropis, Agare, Opuntia dan Argemone. Sedangkan Citrullus dan Eucalypus tumbuh di tanah yang dalam. Tumbuhan hidrofit menunjukkan kandungan air tanah yang jenuh atau payau. Vegetasi Mangrove dan Polygonus menunjukkan tanah mengandung air yang beragam.

6. Indikator tumbuhan untuk tipe tanah. Beberapa tumbuhan seperti : Casuarina equisetifolia, Ipomoea, Citrullus, Cilliganum polygonoides, Lycium barbarum dan Panicum tumbuh di tanah pasir bergeluh. Imperata cylindrica tumbuh di tanah berlempung. Kapas suka tumbuh di tanah hitam.

7. Indikator tumbuhan untuk reaksi tanah. Rumex acetosa Rhododendron, Polytrichum dan Spagnum menunjukkan tanah kapur. Beberapa lumut menunjukkan tanah berkapur dan halofit menunjukkan tanah bergaram.

8. Indikator tumbuhan untuk mineral. Beberapa tumbuhan suka tumbuh di tanah-tanah dengan kandungan mineral yang khas, tumbuhan semacam ini disebut Metallocolus atau Metallophytes. Tumbuhan semacam itu seperti di bawah ini :

a. Vallozia candida menunjukkan adanya intan di Brasilia.

b. Equisetum speciosa, Thuja sp, tumbuh di tanah yang mengandung mineral emas.

c. Eriogonium ovalifolium tumbuh di tanah yang mengandung perak di USA.

d. Stelaria setacea tumbuh di tanah yang mengandung air raksa di Spanyol.

e. Astragalus sp., Neptunia amplexicalis, Stanleya pinnata, Onopsis condensator menunjukkan adanya Selanium.

f. Astragalus sp. tumbuh di tanah berkandungan uranium di USA.

g. Viscaria alpina di Norwegia, Gymnocolea acutiloba di Amerika, Gypsophila patrini di Rusia tumbuh di tanah yang kandungan Cu nya tinggi.

h. Viola calaminara, V. lutea di Eropa tumbuh di tanah yang mineral Zinc nya tinggi.

i. Salsola nitrata, Eurotia cerutoides tumbuh di tanah yang kandungan BO tinggi.

j. Silene cobalticola di Kongo dan Nyssa sylvatica di Amerika tumbuh di tanah dengan kandungan Cobalt tinggi.

k. Lychnis alpina di Swedia menunjukkan adanya Ni.

l. Allium, Arabis Oenothera, Atriplex tumbuh di tanah yang ber Sulfur.

m. Lycium, Juncus, Thalictrum tumbuh dengan adanya lithium (Li).

n. Damara orata, Dacrydium aledonicum di skotlandia tumbuh di tanah mengandung mineral Fe (Iron).

o. Flex aquifolium di Italia tumbuh dengan adanya Alumunium.

Kecuali hal-hal di atas kandungan mineral dalam jaringan tumbuhan dapat menggambarkan bagaimana daur biogeokimianya sehingga dapat juga menggambarkan status lingkungan tempat tumbuhnya. Lyon dan Brooks (1969) mendapatkan bahwa Olearia rani menjadi penilaian untuk molibdenium. Hal yang sama, perak didapati dengan jelas di bagian-bagian tertentu pada daun. Kandungan sulfat pada daun secara langsung berhubungan dengan konsentrasi SO2 udara. Farrar (1977) melihat bahwa kandungan sulfur pada pinus jarum berhubungan dengan konsentrasi SO2. Kandungan fluroride pada daun Sorghum vulgare menunjukkan bahwa udara yang tak terlalu jauh dari tanaman itu tercemar dengan fluoride, jaraknya kira-kira lebih dari 4 km.

9. Indikator tumbuhan untuk logam berat. Tanah yang mempunyai cadas berkandungan logam berat, khususnya Zn, Pb, Ni, Co, Cr, Cu, Mr, Mg, Cd, Se dan lain-lain. Diantaranya Mn, mg, Cd dan Se bersifat toksik untuk kebanyakan tumbuhan. Kontaminasi logam berat juga terjadi di daerah industri, baik yang berbentuk debu ataupun garam dalam perairan di daerah industri tersebut.

Kebanyakan tumbuhan sensitive terhadap logam berat. Membukanya stomata dipengaruhi, fotosintesis S turun, respirasi terganggu dan akhirnya pertumbuhan terhambat. Sebagian besar logam berat ini merupakan deposit di dinding sel-sel perakaran dan daun. Beberapa tumbuhan metalofit dapat digunakan sebagai indikator untuk suatu deposit dekat dengan permukaan tanah, sehingga cocok untuk ditanam di daerah pertambangan atau industri. Cardominopsis halleri, Silene vulagaris, Agrotis tenuis, Minuartia verna, Kichornia crassipes, Astragalus racemosus, Thlaspi alpestre merupakan tumbuhan metafolit logam berat.

10. Indikator tumbuhan untuk habitat saline. Beberapa tumbuhan tumbuh dan tahan dalam habitat dengan kandungan garam tinggi, yang kemudian disebut halofit. Tumbuhan itu biasa hidup di pantai yang mesofit atau hidrofit tak dapat hidup subur, karena dua yang disebut terakhir biarpun tahan genangan tetapi tidak tahan kadar garam yang tinggi di air ataupun tanah di situ. Kegaraman tanah antara lain oleh NaCl, CaSO4, NaCO3, KCl. Tumbuhan yang dapat tumbuh di habitat semacam itu antara lain : Chaenopodium album, Snaeda fructicosa, Haloxylon salicorneum, Salsola foestrida, Tamarix articulata, Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Acanthus ilicifllius. Ketahanan terhadap garam merupakan kemampuan tumbuhan untuk melawan adanya akibat yang disebabkan oleh garam sehingga kerusakannya tidak serius. Ketahanan itu tergantung pada spesies, tipe jaringan, vitalitas, nisban ion dan peningkatan konsentrasi ion. Tumbuhan yang dapat hidup dalam 4 – 8% NaCl, sedang yang tidak tahan akan mati bila NaCl 1 – 5%. Tumbuhan yang tahan antara lain : Betula papyrivera, Elaeagnus angustifolia, Fraxinus excelstra, Populus alba, P. canadensis, Rosa rugosa, Salix alba, Ulmus americana, Juniperus chinensis, Pinus nigra.

11. Indikator tumbuhan untuk pencemaran. Penggunaan vegetasi sebagai indikator biologi untuk pencemaran lingkungan sudah sejak lama, kira-kira sejak seratus tahun yang lalu di daerah pertambangan. Pengetahuan tentang ketahanan terhadap polutan terutama untuk vegetasi yang tumbuh di daerah industri atau di daerah padat penduduk. Pada umumnya tumbuhan lebih sensitive terhadap polutan daripada manusia. Tumbuhan yang sensitiv dapat merupakan indikator, sedangkan tumbuhan yang tahan dapat merupakan akumulator polutan di dalam tubuhnya, tanpa mengalami kerusakan. Jamur, fungi dan Lichenea sensitive terhadap SO2 dan halide.

Tumbuhan yang tumbuh di air akan terganggu oleh bahan kimia toksik dalam limbah (sianida, khlorine, hipoklorat, fenol, derivativ bensol dan campuran logam berat). Pengaruh polutan terhadap tumbuhan dapat berbeda tergantung pada macam polutan, konsentrasinya dan lamanya polutan itu berada. Pada konsentrasi tinggi tumbuhan akan menderita kerusakan akut dengan menampakkan gejala seperti khlorosis, perubahan warna, nekrosis dan kematian seluruh bagian tumbuhan. Di samping perubahan morfologi juga akan terjadi perubahan kimia, biokimia, fisiologi dan struktur.

Catatan. Selain sebagai bioindikator pencemaran lingkungan, tumbuhan juga dapat digunakan sebagai indikator alami. Indikator alami adalah jenis indikator yang berasal dari alam. Indikator alami yang dapat digunakan untuk menentukan sifat asam, basa, dan garam suatu zat antara lain kulit manggis, bunga sepatu, dan kubis ungu. Untuk menjadikan indikator alami, maka kulit manggis, bunga sepatu, dan kubis ungu terlebih dahulu dibuat ekstrak dengan cara menghaluskannya dan menambahkan air. Ekstrak kulit manggis pada keadaan netral berwarna ungu. Jika ekstrak kulit manggis, ditetesi larutan asam, maka warna ungu akan berubah menjadi cokelat kemerahan dan jika ditetesi larutan basa akan berubah menjadi biru kehitaman.

Pustaka

https://smk3ae.wordpress.com/2008/06/02/indikator-tumbuhan/

https://brainly.co.id/tugas/17810887#readmore

BPL – Pertemuan 1. Apakah bioindikator itu dan mengapa penting?


Assalamualaikumwarohmatullah wabarokaatuh. Apa kabar anda semua? Alhamdulillah sudah seharusnya kita mengucapkan syukur atas besarnya karuania yang dilimpahkan Allah Subhanahuwata`ala terhadap kita semua. Limpahan nikmat lahir (kekayaan dan kesehatan) dan serta nikmat bathin (ketenangan, khusyu, dan keamanan) yang tidak terhitung jumlahnya. Maka pantaslah bagi kita untuk selalu bersyukur bahkan selayaknya kita memohon ampunan (istigfar) atas segala perbuatan kita yang tidak akan bisa mengerjakan semua amalan yang diperintahkan-Nya. Sholawat serta salam kita mohonkan agar selalu dilimpahkan kepada Nabi terakhir dan terbaik Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Hadirin rahimakumullah, peserta kuliah Bioindikator Pencemaran Lingkungan. Apakah anda selalu merasakan kondisi lingkungan di sekitar kita ini selalu membaik atau semakin buruk? Lalu bagaimana caranya mengetahui perubahan kondisi ini dengan menggunakan berbagai penanda perubahan, baik penanda fisiologis atau perilaku biota juga perubahan distribusi, kelimpahan, dan juga genetika populasi organisme yang bisa memberi kita informasi lebih baik tentang penyebab perubahan lingkungan? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk dikaji, bukan hanya bagi ahli biologi, namun juga penting bagi seluruh makhluk hidup. karena perubahan kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati akan mengubah siklus hidup serta transfer materi dan energi secara keseluruhan.

Terkait hal tersebut, maka keberadaan indikator biologis dari perubahan lingkungan adalah sangat diperlukan karena bermanfaat untuk mengukur ‘kualitas hidup’ lingkungan dalam konteks yang lebih luas. Di bawah ini akan diuraikan bagaimana perubahan yang terjadi dalam karakteristik biologis yang dimiliki hewan dan tumbuhan yang dikenal sebagai ‘Bioindikator’ dapat memberi tahu kepada kita tentang sifat dan tingkat keparahan perubahan lingkungan.

Apa itu bioindikator? Bioindikator secara luas dapat didefinisikan sebagai biota yang dikembangkan sebagai indikator kualitas lingkungan. Bioindikator dapat berupa komponen biotic (hewan, tumbuhan, mikroba, alga, dan fungi), atau manusia yang dijumpai dalam suatu ekosistem (Burger 2006). Sebagai contoh bioindikator yang banyak digunakan adalah Burung Kenari. Burung jenis ini sering digunakan untuk mendeteksi keberadaan karbon monoksida (CO) dan metana di lokasi tambang karena sensitivitas tinggi yang dimiliki oleh burung terhadap keberadan gas-gas berbahaya tersebut. Dalam contoh ini, keberadaan burung kenari mampu memberikan peringatan dini tentang kondisi lingkungan yang membahayakan bahkan pada akhirnya bisa mematikan bagi manusia.

Namun hal ini bukan satu-satunya peran bioindikator, namun secara umum bioindikator seringkali digunakan untuk menilai perubahan kualitas lingkungan dari waktu ke waktu. Meskipun kemajuan teknologi baru-baru ini juga memungkinkan pengukuran kualitas lingkungan yang lebih akurat mengenai potensi penyebab tekanan pada lingkungan, namun pengukuran perubahan pada tingkat penyebab tekanan (stress) itu sendiri tidak memberi tahu kita apa-apa tentang dampaknya, sehingga keberadaan bioindikator menjadi hal yang tidak tergantikan keberadaannya.

Sebagai contoh, pengukuran suhu yang luas dan terkoordinasi akan memungkinkan kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang lintasan dan kecepatan pemanasan iklim, dan adanya pencitraan satelit akan memungkinkan kita untuk mengukur kehilangan dan fragmentasi habitat. Tapi pertanyaan selanjutnya apa konsekuensi dari semua perubahan ini untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem yang dihasilkan? Sebagaimana kita ketahui bahwa nikmat keanekaragaman hayati ini sangat penting bagi kehidupan manusia, selain menciptakan berbagai kenikmatan juga menuntut manusia untuk terus berkreasi sesuai tuntunan Rasul-Nya dalam lingkup ibadah hanya kepada Allah Subhanahuwata`ala.

Tentunya menggabungkan data tentang perubahan lingkungan yang dikumpulkan menggunakan teknologi yang semakin canggih disertai dengan memantau respons bioindikator yang peka terhadap perubahan lingkungan ini memberikan akan tantangan ilmiah yang menarik dan sangat diperlukan untuk saat ini dan mendatang.

Sumber bacaan.

Jones, G. (2012). What bioindicators are and why they are important. Pp. 18-19 in Flaquer, C. & Puig-Montserrat, X. eds. Proceedings of the International Symposium on the Importance of Bats as Bioindicators. Museum of Natural Sciences Edicions, Granollers.