Arsip Tag: ekosistem

Strategi Pengelolaan Potensi Tumbuhan Api-api (Avicennia Sp.) dalam Restorasi Ekosistem Mangrove

Tidak disangsikan lagi bahwa pengelolaan sumber daya hayati memerlukan koordinasi dan strategi yang terpadu agar program restorasi ekosistem mangrove dapat dilakukan secara berkelanjutan (Rudianto, 2018). Terkait konflik kepentingan, maka partisipasi penduduk lokal yang baik adalah faktor terpenting untuk mengatasinya (Januarsa dan Luthfi, 2017). Penduduk lokal selain pengguna secara langsung, juga berkewajiban mengelola sumber daya dan fungsi ekologisnya pada wilayah restorasi dan konservasi (Rusdianti dan Sunito, 2012). Hal ini disebabkan mereka kaya pengalaman termasuk memiliki nilai kearifan lokal (Nugroho dkk., 2019) yang telah teruji bisa menjaga keberlanjutan kawasan tersebut (Eddy dkk., 2019).

Meskipun demikian strategi pengelolaan sumber daya hayati di suatu wilayah, tidaklah bijaksana jika hanya membahas aspek positif (kelebihan dan potensi) saja tanpa membahas potensi negatifnya (ancaman dan tantangan).
Seperti halnya yang terjadi pada ekosistem hutan mangrove di Desa Pagatan Besar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang menimbulkan dua pandangan yang sangat kontradiktif. Satu sisi menurut hasil penelitian Sarmila (2012) ekosistem hutan mangrove di Desa Pangatan Besar tadi sejak tahun 2000 mengalami penambahan luas daratan (akresi) kemudian membentuk kawasan baru dan dianggap memiliki potensi sumber daya hayati tinggi dengan hadirnya tumbuhan api-api (Avicennia sp.). Namun di sisi lain, kehadiran hutan mangrove tersebut dianggap menimbulkan rasa tidak aman oleh sebagian penduduk karena menjadi tempat persembunyian pelaku kejahatan. Ketidaksepahaman pendapat juga terjadi antara penduduk dengan pembakal (lurah) mengenai pandangan ke laut yang terhalang oleh hutan mangrove, serta ketidakjelasan status lahan oloran (Soendjoto dan Arifin, 1999).

Lalu bagaimana cara menggali informasi mengenai kearifan lokal dan merancang strategi pengelolaan potensi tumbuhan Api-api (Avicennia Sp.) dalam restorasi ekosistem mangrove? Selengkapnya silakan baca pada tautan berikut ini!

Analisis Desain Restorasi (Ekosistem mangrove) : Terpadu dan Partisipatif

Salah satu langkah penting untuk menjamin keberhasilan program rehabilitasi pada eksosistem (mangrove) adalah diawali dengan merancang kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai secara terpadu dan partisipatif  (Onrizal, 2014). Kegiatan tersebut meliputi enam langkah yang disesuaikan dengan kepentingan serta keberadaan ekosistem mangrove itu sendiri, antara lain :

  1. Mengidentifikasi permasalahan dan garis besar tujuan rehabilitasi
  2. Mensintesis kondisi ekosistem masa lalu dan sekarang, terutama struktur ekologi dan fungsinya  dan ketergantungan masyarakat  sekitar terhadap sumberdaya mangrove
  3. Menyusun garis rencana besar rehabilitasi  yang sistematis  ekologi ; (rekayasa
    ecological engineering).
  4. Mengembangkan keterlibatan masyarakat dan rencana subsidi pendapatan (rekayasa
    ekonomi-sosial; economic-social engineering)
  5. Mengembangkan rencana detil implementasi (tata letak bagaimana menerapkan berbagai aktivitas di bawah rencana yang berbeda)
  6. Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengawasan yang ketat untuk manajemen adaptif yang logis.

Namun sebelum membuat desain rancangan restorasi ekosistem mangrove sebaiknya kita menyimak penjelasan dari Choesin, D. N. (2020) bahwa Kunci keberhasilan restorasi eksosistem secara keseluruhan (bukan hanya Mangrove) adalah Rekayasa Ekologi (gambar 1) . Apa itu rekayasa ekologi? Rekayasa ekologi adalah teknik yang digunakan untuk merancang dan mengelola ekosistem dengan teknik tertentu berdasarkan pendekatan ekologi. Seperti pada ekosistem mangrove itu sendiri tentunya memiliki karakteristik unik dan berbeda dibandingkan ekosistem lain, seperti lahan bekas tambang.

Gambar 1. Restorasi ekosistem mangrove (Choesin, 2020)

Sehingga ada 5 faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaksana dan perencana restorasi dalam upaya menerapkan prinsip rekayasa ekologi. Berikut ini adalah penjelasan desain restorasi pada ekosistem mangrove yakni :

1.Perlu memperhatikan karakteristik khas mangrove sebagai ekosistem lahan basah.

2.Perlu pemahaman tentang kondisi area yang direstorasi (ekologi, hidrologi).

3.Perlu mengembalikan proses fisik hidrologi (aliran air, alirah sedimen, elevasi lahan) untuk memfasilitasi transport alami propagul mangrove.

4.Penanaman perlu menggunakan spesies yang tepat pada lokasi yang tepat, pada bagian sistem dan elevasi yang sesuai.

5.Perlu pemantauan dan pengelolaan jangka panjang

Pustaka

Choesin, D. N. (2020). Ecological Approach in Mangrove Restoration. Kuliah Tamu Prodi Biologi FMIPA ULM Kamis, 26 November 2020.

Onrizal, O. (2014). Merancang Program Rehabilitasi Mangrove yang Terpadu dan Partisipatif. August 2014. https://www.researchgate.net/publication/268148016

Cara Restorasi Ekosistem di Kawasan Konservasi

Restorasi ekosistem hutan di kawasan konservasi diperlukan terutama untuk akibat gangguan antropogenik seperti pembuatan tambak , perumahan dan alih fungsi lahan lainnya. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai pola dan pelaksanaan restorasi ekosistem mangrove yang terdegradasi akibat tambak (Miyakawa, 2014).

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 27% dari luas mangrove di dunia dan 75% dari luas mangrove di Asia Tenggara. Namun demikian sebagian besar ekosistem mangrove telah mengalami degradasi antara lain akibat pembangunan tambak dan penebangan liar. Luas penyebaran mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan, berdasarkan data Ditjen BPDASPS, dari 9.3 juta ha pada tahun 1999 menjadi 3.7 juta ha pada tahun 2010. Dari data tersebut, degradasi ekosistem mangrove rata-rata sebesar 0.5 juta ha per tahun. Ekosistem mangrove yang rusak tersebut perlu segera dipulihkan agar dapat berfungsi kembali sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu perlu adanya suatu pedoman agar kegiatan pemulihan fungsi kawasan tersebut dapat berjalan secara efisien dan efektif (Miyakawa, 2014).

Secara umum, tahapan restorasi ekosistem mangrove terdegradasi di dalam kawasan konservasi, yang terdiri dari 5 tahapan, yaitu :Mencari dan menentukan sasaran areal restorasi ekosistem

  1. Penentuan areal restorasi

2. Persiapan

3. Survei awal area

4. Perencanaan

5. Pelaksanaan

6. Pemeliharaan dan Monitoring

7. Evaluasi kegiatan

Daftar Pustaka

Miyakawa, H. (2014). Pedoman Tata Cara Restorasi di Kawasan Konservasi. Direktorat Jenderal PHKA, Kementerian Kehutanan dan Japan International Cooperation Agency (JICA). https://www.jica.go.jp/project/english/indonesia/008/materials/c8h0vm000001gj3g-att/pamphlet_03.pdf

PRAKTIKUM 2 PERSIAPAN SAMPLING, IDENTIFIKASI DAN KOLEKSI BIOTA MANGROVE

Nama Praktikum : KONSERVASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA HAYATI (JCPB 372)

Waktu                                    :          

Selasa, 22 Oktober 2019

Tempat                       :          

Lab Biologi Umum – FMIPA ULM

Capaian Pembelajaran         :          

  1. Peserta praktikum mampu mengidentifikasikan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  2. Peserta praktikum mampu mendeskripsikan langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  3. Peserta praktikum mampu menentukan titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps)
  4. Peserta praktikum memahami cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  5. Peserta praktikum memahami cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut

Integrasi penelitian   :

Penelitian PDUPT berjudul : Aplikasi konservasi timpakul dan moluska pada ekosistem mangrove terhadap pencemaran logam berat

Tujuan Praktikum

  1. Mengidentifikasikan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  2. Mendeskripsikan langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  3. Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps)
  4. Memahami cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  5. Memahami cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut

Metode Praktikum :

  1. Mahasiswa menuliskan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut. Sesuaikan dengan tugas kelompok masing-masing!
  2. Mahasiswa mendeskripsikan langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.
    • Tuliskan langkah kerja yang akan dilakukan untuk mengambil sampel dalam praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.
    • Perhatikan : sesuaikan langkah kerjanya dengan tugas kelompok masing-masing!
  3. Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps) yakni Ekowisata mangrove Pagatan Besar dan Hutan muara Pagatan Besar, masing-masing sejumlah tiga titik sampling.
  4. Memahami cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut. Mencari dan menyediakan buku identifikasi sampel sesuai dengan tugas kelompok masing-masing!
  5. Memahami cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut.
    • Cara membuat herbarium
    • Cara membuat awetan sampel basah
    • Cara membuat awetan kering basah
Kelompok Identifikasi Sampel
Kelompok 1 Jenis-jenis vegetasi pada ekosistem mangrove
Kelompok 2 Jenis-jenis native species pada ekosistem mangrove
Kelompok 3 Jenis-jenis keystone species pada ekosistem mangrove
Kelompok 4 Tumbuhan mayor dan minor pada ekosistem mangrove
Kelompok 5 Tumbuhan mayor dan minor pada ekosistem mangrove
Kelompok 6 Jenis-jenis serangga dan kepiting pada ekosistem mangrove
Kelompok 7 Jenis-jenis koneksi, edge, dan patch pada ekosistem mangrove
Kelompok 8 Konservasi insitu dan eksitu pada ekosistem mangrove
Kelompok 9 Resiko pencemaran dan gangguan pada ekosistem mangrove

Hasil Praktikum :

  1. Data mengenai alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  2. Data mengenai deskripsi langkah kerja pengambilan sampel praktikum KPSDH pada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  3. Data mengenai titik-titik pengambilan sampel pada ekosistem mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut menggunakan peta digital (google maps)
  4. Data mengenai cara identifikasi sampel yang akan diambil dari ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut
  5. Data mengenai cara koleksi dan pengawetan sampel yang diambil dari ada ekosistem mangrove di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut

HAK CIPTA ADA PADA PENULIS :

DILARANG MENGCOPY PASTE TANPA MENCANTUMKAN TAUTAN PENULIS!

PRAKTIKUM 1. REL – KONSEP RESTORASI EKOSISTEM MANGROVE

Waktu                                  :               Senin, 21 Oktober 2019

Tempat                       :          

Lab Biologi Umum – FMIPA ULM

Capaian Pembelajaran         :          

  1. Mahasiswa mampu mendefinisikan kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi
  2. Mahasiswa mampu mendefiniskan komponen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove

Integrasi penelitian   :

PDUPT – Aplikasi perencanaan konservasi timpakul (Periopthalmodon Sp.) dan moluska pada ekosistem mangrove terhadap pencemaran logam berat

Konsep

  1. Mahasiswa mampu mendefinisikan kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi
  2. Mahasiswa mampu mendefiniskan komponen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove

Tujuan Praktikum

  1. Membuat definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen.
  2. Mahasiswa mampu menganalisis komponen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen.
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen..

Metode Praktikum :

  1. Setiap mahasiswa membuat definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi. Pendapat dari masing-masing kemudian dikumpulkan menjadi sebuah makalah yang dikerjakan secara berkelompok.
    1. kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan parameter biodiversitas,
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan kondisi struktur vegetasi,
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan standar baku kandungan logam berat,
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan standar baku kualitas air
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan kualitas sedimen.
  2. Setiap mahasiswa merancang lembar kerja komponen yang rusak dan perlu diperbaik dalam restorasi ekosistem mangrove. Pendapat dari masing-masing individu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah lembar kerja restorasi ekosistem mangrove yang dikerjakan secara berkelompok.
    1. Analisis komponen biodiversitas yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis komponen struktur vegetasi yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis kandungan logam berat yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis komponen kualitas air yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis komponen kualitas sedimen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove.
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen..

Hasil Praktikum :

  1. Makalah yang menjelaskan kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi
    1. Pembahasan 1. Urgensi biodiversitas dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 2. Urgensi struktur vegetasi dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 3. Urgensi pengelolaan kandungan logam berat dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 4. Urgensi pengelolaan kualitas air dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 5. Urgensi pengelolaan kualitas air dalam restorasi ekosistem mangrove
  2. Lembar kerja yang berisi analisis komponen (biodiversitas, struktur vegetasi,  logam berat,  kualitas air  dan kualitas sedimen) yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove dalam bentuk lembar kerja (excel)
    1. Lembar kerja 1. analisis komponen biodiversitas yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 2. analisis struktur vegetasi yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 3. analisis kandungan logam berat yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 4. analisis parameter kualitas air yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 5. analisis parameter kualitas sedimen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen dalam bentuk presentasi.
    1. Presentasi pengelolaan biodiversitas dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi pengelolaan vegetasi dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi rencana aksi reduce limbah dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi rencana aksi reuse limbah dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi rencana aksi recycle limbah dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove

Maxent is now open source!

Use this site to download Maxent software for modeling species niches and distributions by applying a machine-learning technique called maximum entropy modeling. From a set of environmental (e.g., climatic) grids and georeferenced occurrence localities, the model expresses a probability distribution where each grid cell has a predicted suitability of conditions for the species. Under particular assumptions about the input data and biological sampling efforts that led to occurrence records, the output can be interpreted as predicted probability of presence (cloglog transform), or as predicted local abundance (raw exponential output).

Here you can download the open-source release of Maxent (under an MIT license; suggested citation below). See below for key changes in the current version.

The idea for Maxent was first conceived of here at the Center for Biodiversity and Conservation at the American Museum of Natural History (AMNH) through a public-private partnership between the AMNH and AT&T-Research. Steven Phillips and the other developers of Maxent are still engaged in its development and maintenance, and the Google group will remain the main mechanism for user questions. Much additional information can be found in the Google group, software tutorials, and other resources listed below.

Main changes in Version 3.4.1

  • Minor bug fixes to the 3.4.0 release

Main changes in Version 3.4.0

  • Released under a MIT license**
  • Threshold features are now turned off by default
  • A cloglog transform has been added and now constitutes the default transformation for model output (formerly the logistic transform)

See you in here to download Maxent Application!

Memahami Konsep Suksesi

Pada prinsipnya semua bentuk ekosistem akan mengalami perubahan baik struktur maupun fungs inya dalam perjalanan waktu. Beberapa perubahan mungkin hanya merupakan fluktuasi lokal yang kecil sifatnya, sehingga tidak memberikan arti yang penting. Perubahan lainnya mungkin sangat besar / kuat sehingga mempengaruhi sistem secara keseluruhan.

Perubahan ekosistem ini pada dasarnya dapat disebabkan oleh berbagai penyebab utama yaitu :
a. Akibat perubahan iklim. Perubahan atau fluktuasi iklim dalam skala dunia yang meliputi ribuan tahun telah memberikan reaksi penyesuaian dari ekosistem di dunia ini. Bentuk perubahan ini meliputi erubahan dalam perioda waktu yang lama dari penyebaran tumbuhan dan juga hewan, yang khirnya sampai pada bentuk-bentuk ekosistem sekarang.
b. Pengaruh dari faktor luar. Faktor luar seperti api, penginjakan, atau polusi dapat menginduksi perubahan ekosistem baik untuk sementara maupun untuk waktu yang relatif lama.
c. Karakteristika dalam sistem sendiri.Ini merupakan suksesi ekologi, yang dapat diartikan sebagai perubahan dalam ekosistem
ang berkembang ke arah pemasakan atau pematangan atau ”steady state”. Seperti yang dipahami bahwa ekosistem merupakan sistem yang terbuka, mempunyai kapasitas untuk pengaturan diri oleh sistem umpan balik negatif. Artinya ekosistem mengarah pada keseimbangannya, berupa ekosistem yang stabil.

Suksesi vegetasi, adalah peristiwa pergantian komunitas vegetasi dari suatu aras (stage) ke aras berikutnya yang lebih kompleks. Sebagai contoh, ketika pada tahun 1883 G. Krakatau meletus maka daratan pulau Krakatau bersih sama sekali dari tumbuhan. Dua tahun setelah letusan maka tumbuhan pertama adalah ganggang biiru dan hijau di dekat pantai pulau. Lima tahun kemudian, komunitas tumbuhan paku-pakuan mendominasi. Sepuluh tahun kemudian, komunitas rumput tumbuh dan membentuk padang rumput. Dua puluh lima tahun setelah meletus, padang rumput mulai bercampur dengan semak belukar. Pohon Ficus macaranga tumbuh berpencaran di padang rumput belukar tersebut. Lantas, 40-50 tahun kemudian asosiasi
pohon mulai membantuk hutan. Akhirnya, seratus tahun kemudian, pulau Krakatau telah didominasi oleh hutan hujan tropis. Nah, pergantian dari satu status komunitas ke komunitas lainnya disebut sebagai suksesi. Ketika 100 tahun kemudian, ketika hutan telah mendominasi P. Krakatau maka kondisi ini disebut sebagai klimaks vegetasi.

Suatu komunitas tumbuhan akibat adanya longsor, banjir, letusan gunung berapi dan atau pengaruh kegiatan manusia akan mengalami gangguan atau kerusakan yang parah. Hancurnya komunitas tumbuhan ini akan menimbulkan situasi terbukanya permukaan tanah, yang terjadi rimbun tertutup lapisan vegetasi/komunitas tumbuhan. Keadaan ini merupakan habitat baru yang
biasa digunakan sebagai tempat hidup tumbuhan liar, baik cepat maupun lambat. Vegetasi yang pertama kali masuk biasanya berupa tumbuhan pelopor atau pionir, yaitu tumbuhan yang berkemampuan tinggi untuk hidup pada keadaan lingkungan yang serba terbatas atau mempunyai berbagai faktor pembatas, seperti kesuburan tanah yang rendah sekali , kekurangan atau ketiadaan air dalam tanah; intensitas cahaya yang terlalu berlebihan/ tinggi dan sebagainya.

Kehadiran kelompok pionir ini akan menciptakan kondisi lingkungan tertentu yang memberikan kemungkinan untuk hidup tumbuhan lainnya. Koloni tumbuhan pionir ini akan menghasilkan proses pembentukan lapisan tanah, memecah batuan dengan akarnya dan membebaskan materi organik ketika terjadi pelapukan dari bagian tumbuhan yang mati. Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa vegetasi merupakan sistem yang dinamik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan.

Pengamatan yang lama pada pergantian vegetasi di alam menghasilkan konsep suksesi. Suksesi vegetasi menurut Odum adalah: urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut
Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks. Odum (1971) mengatakan bahwa adanya pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai keseimbangan biotik dan abiotik tercapai.

Tansley (1920) mendefinisikan suksesi sebagai perubahan tahap demi tahap yang terjadi dalam vegetasi pada suatu kecendrungan daerah pada permukaan bumi dari suatu populasi berganti dengan yang lain. Clements (1916) membedakan enam sub-komponen : (a) nudation; (b) migrasi; (c) excesis; (d) kompetisi; (e) reaksi; (f) final stabilisasi, klimaks.

Mueller-Dombois dan Ellenberg ( 1974), mengatakan bahwa suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses suksesi terjadi. Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal, terbentuk habitat baru. Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu baik secara alami atau buatan dan gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama masih ada.

Laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian menurun pada perkembangan berikutnya. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis tertentu. (Marsono dan Sastrosumarto, 1981). Soerianegara dan Indrawan (1988) menyebutkan dalam pembentukan klimaks terjadi 2 perbedaan pendapat yakni; paham monoklimaks dan paham polylimaks.

Paham monoklimaks beranggapan bahwa pada suatu daerah iklim hanya ada satu macam klimaks, yaitu formasi atau vegetasi klimaks iklim saja. Ini berarti klimaks merupakan pencerminan keadaan iklim, karena iklim merupakan faktor yang paling stabil dan berpengaruh. Paham polyklimaks mempunyai anggapan bahwa tidak hanya faktor iklim saja, seperti sinar matahari, suhu udara, kelembaban udara dan presipitasi, yang dapat menimbulkan suatu klimaks. Penganut paham ini sebaliknya berpendapat bahwa ada faktor lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya klimaks, yaitu edafis dan biotis. Faktor edafis timbul karena pengaruh tanah seperti komposisi tanah, kelembaban tanah, suhu tanah dan keadaan air tanah. Sedangkan biotis adalah
faktor yang disebabkan oleh manusia atau hewan, misalnya padang rumput dan savana tropika.

DAFTAR PUSTAKA
1. Neil A. Campbell, Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell, 2004. Biologi. Diterjemahkan oleh : Prof. Dr. Ir. Wasmen Manalu. Penerbit Erlangga.
2. Chapin, F.S., III, Matson, P.A., and Mooney, H.A. (2002). Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. New York, USA: Springer Science+Business Media, LLC.
3. Leksono, A.S. (2007). Ekologi Pendekatan Deskriptif dan Kuantitatif. Malang: Bayumedia.
4. Wirakusumah, S. (2003). Dasar-Dasar Ekologi bagi Populasi dan Komunitas. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
5. ht tp: / / i lmupedia.com/akademik/7/33-suksesi .html
6. ht tp: / /www. freewebs.com/ irwantomangrove/suksesi_mangrove.html

Tugas Presentasi Ekologi Terestrial-3 Isni Nuraziza M
19 November 2009 21309011

interaksi trofik antara organisme

Untuk mempelajari interaksi trofik antara organisme-organisme ini, para ekologis mengelompokkan individu-individu pada suatu populasi spesies dan pada kelompok pemakan (feeding groups) (Newton, 2007). Suatu feeding group (guild) terdiri dari populasi yang memakan substrat yang serupa. Contohnya: detrivora (kelompok yang memakan substrat detritus); herbivora (pemakan materi tumbuhan), bakteriovora (pemakan bakteri), fungivora (pemakan fungi), dan predator (pemakan hewan yang masih hidup) (Newton, 2007).

Sistem trofik ini sering digambarkan dalam bentuk plant-based (materi tumbuhan hidup) atau yang dikenal dengan istilah Plant-Based Trophic Systems dan detritus-based (seperti, pada tumbuhan dan hewan yang telah mati) atau dikenal dengan istilah Detritus Based Trophic Systems (Chapin et al., 2002 dan Newton, 2007). Penggambaran ini tergantung pada ditinjau dari sumber utama energi setelah matahari. Untuk lebih jelasnya, kedua sistem trofik ini digambarkan pada skema pada gambar 1.

Gambar 1. Skema Sistem Trofik Berbasis Tumbuhan dan Detritus (Chapin et al., 2002)

Gambar 1. Skema Sistem Trofik Berbasis Tumbuhan dan Detritus (Chapin et al., 2002)

Sebagian besar energi yang melalui ekosistem dipengaruhi oleh sistem trofik berbasis tumbuhan. Produksi yang dilakukan oleh tumbuhan turut membatasi aliran energi yang melewati jaring-jaring makanan yang berbasis tumbuhan ini. Contohnya pada perbedaan transfer energi antara tumbuhan dan herbivora yang terjadi pada bioma yang berbeda. Perbedaan herbivora pada bioma yang berbeda ditentukan oleh

  • Perbedaan Produksi Primer Bersih (Net Primary Production – NPP)

  • Perbedaan alokasi pada struktur tumbuhan, sebagai produsen atau base-flow

  • Keadaan nutrisi (resource) lingkungan. Proses pertahanan tumbuhan terhadap herbivori melalui mekanisme kimiawi dan fisik mengurangi transfer energi terhadap herbivora pada lingkungan dengan low-resource. Tiga faktor yang mempengaruhi/mengatur mekanisme alokasi pertahanan pada tumbuhan: (1) Potensi genetis; (2) Lingkungan tempat tumbuh; (3) Program alokasi yang dilakukan tumbuhan (Chapin et al., 2002).

Pustaka :

Chapin, F.S., P. A. Matson., H. A. Mooney. 2002. Principles of Terrestrial Ecosystem Ecology. Springer. United States of America.

Newton, P. D. 2007. Agroecosystems in a Changing Climate. http://books.google.co.id/books.

Kontributor :

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-1 SITH ITB

Isni Nuraziza M

27 Oktober 2009

21309011