Kesehatan Lingkungan – Subtema : Kesehatan Manusia

Bila diperhatikan, definisi sehat adalah adalah komponen kunci dari kesehatan tubuh manusia secara keseluruhan, meskipun bukan gambaran keseluruhan namun kriteria ini menggambarkan sehat merupakan kondisi yang menunjukkan kondisi yang lebih dari sekadar penampilan, berat badan ideal, atau aktivitas rutin olahraga.

Bagaimana definisi kesehatan itu? Kesehatan adalah hal-hal yang bisa dirasakan ketika : 1) bangun di pagi hari, 2) ketika tidur, 3) menangani stres, 4) mengatasi waktu sibuk, 5) menangani hubungan dalam hidup. Setidaknya ada ada enam komponen kunci terkait kesehatan manusia yakni : 1) Fisik, 2) Intelektual, 3) Spiritual, 4) Emosional, 5) Lingkungan dan 6) Sosial.

1) Kesehatan Fisik
Kesehatan fisik meliputi daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, kardiovaskular, kesehatan pencernaan, dan banyak lagi. Semua ini adalah komponen kunci kesehatan dan menjadi bagian dari rutinitas perawatan diri , dan jika berhenti maka manusia akan banyak kehilangan komponen kesehatan yang dimilikinya. Dasar-dasar kesehatan fisik adalah menggerakkan tubuh Anda selama 30 menit sehari, minum air dengan dosis setengah dari berat badan Anda, tidur delapan jam setiap malam, makan makanan yang seimbang.

2) Kesehatan Intelektual
Pikiran manusia dirancang untuk terus belajar, untuk terus berkembang, sehingga pembelajaran diperlukan untuk menjaga kesehatan intelektual dan dilakukan dalam berbagai bentuk, penggunaan buku, podcast, kelas, pelatihan, gabung komunitas, percakapan, dan banyak lagi. Jaga kesehatan intelektual dengan cara membakar pikiran Anda dengan hal-hal positif, kemudian Jadwalkan waktu untuk belajar dan mengembangkan pikiran Anda dengan tepat.

3) Kesehatan rohani/spiritual
Kesehatan spiritual merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan fisik secara keseluruhan dengan cara meluangkan waktu setiap hari untuk berhenti sejenak dan menjernihkan pikiran. Beberapa cara paling umum untuk menjernihkan pikiran adalah melalui doa. Kesehatan spiritual juga dapat diperluas dengan cara berbagi pengalaman kepada orang lain agar dapat digunakan kembali.

4) Kesehatan Emosional
Kesehatan emosional sangat penting dan kompleks karena berhubungan dengan kesehatan pikiran, perasaan, dan pola pikir positif saat stres datang. Kesehatan emosional dapat dibina dengan cara merencanakan pekerjaan mingguan, dan membuat daftar pekerjaan harian. Keberadaan daftar ini akan membantu anda tetap dalam keadaan emosional yang positif. Selain itu, latihan fisik, diet yang tepat dan suplemen, serta interaksi sosial semuanya dapat memainkan peran dalam kesehatan emosional. Tips lainnya : jika anda mengalami emosi memuncak maka pelampiasannya melalui menulis sebuha jurnal, atau mengeluarkan pikiran (pengetahuan tacit) menjadi tulisan di atas kertas (pengetahuan eksplisit).

5) Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Lingkungan adalah mencakup hal-hal yang mempengaruhi situasi hidup Anda, situasi kerja , keluarga, pasangan dan lingkaran teman. Lingkungan tempat tinggal adalah komponen kunci bagi kesehatan manusia secara hakiki. Jadi jangan tinggal di lingkungan yang kotor dan beracun, karena akan berpengaruh negatif terhadap semua area kesehatan. Jika sudah terlanjur kotor, mulailah dengan pekerjaan yang bisa diubah, sehingga dapat mengubah lingkungan sekitar menjadi bersih dan teratur.

6) Kesehatan Sosial
Kesehatan sosial mencakup semua hubungan dengan keluarga, teman, dan komunitas Anda. Manusia dirancang untuk menjadi makhluk sosial, sehingga setiap individu diupayakan memiliki hubungan yang sehat dengan orang-orang penting dalam hidupnya baik di tempat kerja, keluarga dan tempat ibahdauntuk minggu yang menyenangkan dan ini adalah area yang banyak orang perjuangkan. Untuk menyederhanakan konsep, bahkan orang dewasa pun membutuhkan kencan bermain. Pergi mendaki bersama teman, makan malam bersama keluarga, menonton film. Keluarlah dan bersosialisasilah, apa pun itu bagi Anda. Pastikan itu ada dalam jadwal sehingga itu terjadi.

Secara sosial, mudah untuk merasa bahwa Anda perlu mengatakan ya untuk semua yang datang kepada Anda. Saya menemukan dengan klien saya ini adalah area yang kita butuhkan untuk bekerja pada apa yang kita katakan ya dan tidak. Tidak apa-apa untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang mengangkat Anda, yang tidak membantu Anda bergerak ke arah kesehatan dan kebugaran yang Anda coba tuju.

Ketergantungan Kesehatan masyarakat dengan Lingkungan

Menjaga dan melindungi lingkungan adalah tindakan baik yang akan menjaga dan melindungi kesehatan secara utama, kemudian akan menghasilkan manfaat tambahan seperti kesehatan dan pendidikan anak. Dalam hal ini, ada banyak pelaku yang terlibat dalam upaya menjaga kesehatan dan lingkungan , melalui usaha yang terpadu baik melalui konservasi (penjagaan), restorasi (pemulihan), maupun proteksi (perlindungan). Dengan demikian, maka visi baru kesehatan lingkungan, seharusnya mengembangkan pengembangan dan penelitian lintas sektoral. Selanjutnya dimulai pembentukan hubungan baru diantara berbagai kelompok, diantaranya antara komunitas medis dan kesehatan masyarakat, klaangan industri, pemerintah, pendidik, petani, pembuat kebijakan, dan kelompok internasional.

Berbagai bukti menunjukkan bahwa interaksi dengan lingkungan akan menawarkan berbagai manfaat kesehatan, dengan demikian, maka diperlukan artikulasi visi kesehatan lingkungan dalam skala yang lebih luas. Kajian ini membentang dari perencanaan kota hingga arsitektur lansekap, dari desain interior hingga kehutanan, dari botani hingga kedokteran hewan. Dan visi semacam itu akan memiliki implikasi setidaknya dalam empat bidang, yakni : 1) penelitian, 2) kolaborasi, 3) perawatan klinis, dan 4) promosi kesehatan masyarakat.

Diduga ada hubungan antara paparan lingkungan dengan efek kesehatan, dan hal ini memerlukan agenda penelitian strategis yang mengarahkan tidak hanya pada kajian paparan pada lingkungan yang diduga tidak sehat, tetapi juga pada lingkungan yang diduga sehat. Sehingga hasil yang diperoleh tidak hanya mencerminkan gangguan kesehatan tetapi juga dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan.

Pandangan ini akan menghasilkan pertanyaan penelitian baru dan tentunya tantangan untuk mendefinisikan dan mengoperasionalkan variabel baru. Arsitek lansekap, ahli hortikultura, dan psikolog lingkungan biasa bekerja dengan variabel paparan, tetapi dalam kajian kesehatan lingkungan tidak. Demikian pula, pada variabel hasil yang mencerminkan nilai kesehatan bukan penyakit ternyara kurang dianggap familiar dan ini merupakan tantangan yang harus dikembangkan dan divalidasi. Keberadaan tantangan-tantangan ini akan menawarkan peluang yang lebih luas untuk pengembangan metode dan pengujian hipotesis.

Kalangan spesialis kesehatan lingkungan, mulai dari peneliti hingga dokter, telah lama menyadari perlunya berkolaborasi dengan ahli profesional lain, misalnya, dengan insinyur mesin untuk membangun desain ruang paparan, ahli kimia untuk mengukur paparan, dan insinyur perangkat lunak untuk menerapkan sistem informasi data kesehatan. Kalangan yang berkutat dengan kesehatan lingkungan juga membutuhkan arsitek lanskap untuk membantu mengidentifikasi fitur menonjol dari paparan di luar ruangan, juga dengan desainer interior untuk melakukan hal yang sama di lingkungan mikro, juga dengan dokter hewan untuk membantu memahami lebih banyak tentang hubungan manusia dengan hewan, dan dengan perencana kota dan regional untuk membantu menghubungkan prinsip kesehatan lingkungan dengan desain lingkungan dalam skala besar.

Kesehatan lingkungan memiliki sejarah yang panjang dalam upaya menyediakan data, dan mengadvokasi berbagai tindakan untuk mencapai upaya pengendalian bahaya lingkungan, polusi udara dan air, pestisida, dan tempat kerja serta bahaya lainnya. Dan dengan cara yang sama, diperlukan berbagai tindakan/kebijakan yang dimunculkan berdasarkan bukti tentang manfaat kesehatan lingkungan.

Kesehatan lingkungan dapat menjadi faktor penting dalam upaya keputusan kebijakan dan ini menjadi faktor utama yang mempengaruhi kontak manusia dengan alam, desain perkotaan, penggunaan lahan, dan keputusan perencanaan wilayah, bahkan kebijakan pengelolaan hutan. Kesehatan lingkungan bisa memainkan peran penting membangun inisiatif kebijakan untuk melindungi ruang hijau, melestarikan pohon, membangun jalur sepeda, lingkungan zona atau wilayah, atau sekolah desain. Kesehatan lingkungan bisa dimunculkan dalam berbagai kurikulum sekolah, arsitektur dan teknik sipil. Saat ini diperlukan pembelajaran yang lebih banyak tentang manfaat kesehatan terkait interaksi dengan alam, dan menerapkan pengetahuan ini secara langsung untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Solusi untuk memecahkan berbagai masalah kesehatan lingkungan letaknya jelas ada di luar sistem perawatan kesehatan. Manusia beristirahat pada lingkungan tempat tinggalnya, kemudian bekerja, pergi ke sekolah, dan bermain. Oleh karena itu, mau tidak mau manusia membutuhkan inovasi dan ketekunan untuk memecahkan masalah kesehatan lingkungan ini. Sehingga upaya desainer, insinyur, arsitek, perencana kota, pengembang, dan komunitas sangat dinanti agar dapat mengubah status kesehatan suatu komunitas berdasarkan pertimbangan kebutuhan manusia terkait desain dan konstruksi.

Namun tantangannya adalah bagaimana cara mmembuat sektor kesehatan bisa mengenali beberapa masalah lingkungan ini kemudian berkolaborasi secara aktif dalam membangun komunitas secara fisik. Modal lingkungan dan sosial sangat penting dalam upaya mengatasi masalah lebih dari sekadar memperhatikan gejala kesehatan yang memburuk, namun penting untuk menemukan akar penyebab buruknya kesehatan masyarakat dan lingkungan dalam arti luas.

Sumber Bacaan

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK99582/

Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika

Semester genap 2021-2022 ini Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah di Program Studi Matematika – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam – FMIPA – Universitas Lambung Mangkurat. Setelah berdiskusi dengan Koti Matematika, ternyata Silabus PLLB dibuat oleh Pengampu Mata Kuliah PLLB itu sendiri, tetapi arahnya disesuaikan dengan aplikasi model-model Matematika dalam pengelolaan lingkungan lahan basah.

Berikut ini adalah Rencana Silabus Kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah – Matematika di Program Studi Matematika Semester genap 2021-2022.

  • Pertemuan 1. Silabus dan Kurikulum, Cara kuliah, Tugas dan Ujiannya – Tanggal 7 Februari 2022 : Pemaparan Umum – Presentasi – tanya jawab
  • Pertemuan 2. Pengenalan Sistem Dinamik dalam PLLB – Tanggal 14 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 1 – tanya jawab – Latihan instal Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat Model Dinamik menggunakan Vensim PLE
  • Pertemuan 3. Aplikasi Sistem Dinamik dalam PLLB -Tanggal 21 Februari 2022 – Presentasi Kelompok 2 – Tanya jawab – Latihan membuat sistem dinamik menggunakan Vensim PLE​
  • Pertemuan 4. Valuasi Ketahanan Lanskap dalam PLLB – Tanggal 28 Februari 2022 : Presentasi Kelompok 3 – Tanya jawab – Latihan membuat Diagram dalam rangka Applying the Resilience Indicators menggunakan Edrawsoft
  • Pertemuan 5. Perencanaan Adaptasi PLLB berbasis Ekosistem – Tanggal 7 Maret 2022 : Presentasi Kelompok 4 – Tanya jawab – Latihan membuat Perencanaan Aplikasi Berbasis Ekosistem.

Catatan :

Berikut ini adalah pustaka yang perlu dibaca dan dipelajari!

Kelompok 1 dan 2 membahas tentang Metodologi System Dynamics (Dinamika Sistem) untuk Pemodelan Kebijakan : Suatu Pengantar. In Pelatihan Analisis Kebijakan Menggunakan Model System Dynamic. Tasrif, M., Juniarti, I., Rohani, F., Ahmad, F., Nurwendah, E. I., & Waspada, N. L. (2015). https://www.lppm.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/55/2017/07/BAHAN_PELATIHAN.pdf >> fokus pada bahan ke- 4 Systems Thinking & System Dynamics.

Kelompok 3 dan 4 membahas tentang Simulation modeling for wetland utilization and protection based on system dynamic model in a coastal city, China. Ma, C., Zhang, G. Y., Zhang, X. C., Zhou, B., & Mao, T. Y. (2012). Procedia Environmental Sciences, 13 (January), 202–213. https://doi.org/10.1016/j.proenv.2012.01.019

Kelompok 5 dan 6 membahas tentang Assessing Landscape Resilience – Best Practices And Lessons Learned From The Comdeks Programme. Mock, G., & Salvemini, D. (2018). United Nations Development Programme Bureau for Policy and Programme Support. https://comdeksproject.files.wordpress.com/2018/06/resilience-indicators-publication-web.pdf

Kelompok 7 dan 8 membahas tentang Adaptation , Livelihoods and Ecosystems Planning Tool : User Manual. Terton, A., & Dazé, A. (2018). (No. 01; 1.0). https://www.iisd.org/publications/alive-adaptation-livelihoods-and-ecosystem-planning-tool-user-manual

Kelompok 1,3, 5, 7 membuat ppt (power point) dari dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Minimal 10 halaman – maksimal 15 halaman. Penjelasan dibuat sebagus mungkin, kalau memungkinkan dilengkapi dengan diagram alir, flow chart, fish bone dll yang dibuat menggunakan aplikasi Edraw.

Kelompok 2, 4, 6, dan 8 membuat penjelasan dari masing-masing artikel yang telah ditentukan. Penjelasan dibuat sebaik mungkin dan secara sistematis menggunakan aplikasi word. dilengkapi dengan pustaka lainnya kemudian disitasi menggunakan aplikasi  Mendeley. dengan panjang tulisan antara 5 – 10 halaman, termasuk cover dan Pustaka (Referensi)

Materi Kuliah PLLB bisa didapatkan di sini!

Tumbuhan Sebagai Biondikator Lingkungan

Tumbuhan sebagaimana kita kenal memiliki fenotipe (tampilan) yang merupakan gabungan dari sifat bawaan (pencerminan yang ada di dalam tumbuhan itu=hereditas), dan juga dipengaruhi lingkungan. Tumbuhan dapat hidup dengan baik di lingkungan yang menguntungkan. Kehadiran suatu tumbuhan pada lingkungan dapat berperan sebagai pengukur kondisi lingkungan tempat tumbuhnya atau penanda keunikan habitat atau disebut sebagai indikator biologi atau bioindikator atau fitoindikator.

Keanekaragaman dan kelimpahan merupakan indikator penting yang bisa digunakan untuk menilai seberapa penting kehadiran tumbuhan pada lingkungan tertentu dan ada kaitan yang sangat erat hubungan antara tumbuhan dengan habitatnya. Dalam prakteknya tumbuhan dapat digunakan untuk memperkirakan adanya kemungkinan penggunaan lahan untuk berbagai fungsi dan manfaat (sebagai sumber daya untuk hutan, padang rumput atau pertanian dan peternakan). Bahkan manfaat lainnya untuk indikator pencemaran lingkungan, kandungan beberapa jenis logam berat dapat diketahui melalui kehadiran tumbuhan tertentu di suatu areal yang dianggap tercemar.

Azas-azas tumbuhan indikator

Tumbuhan yang akan digunakan sebagai indikator mempunyai kekhususan struktur dan fungsinya, dengan demikian diperlukan adanya pedoman umum yang kemungkinan digunakan dalam penerapan identifikasi tumbuhan di lapangan. Pedoman umum itu antara lain :

1. Tumbuhan sebagai indikator kemungkinan bersifat steno atau eury.

2. Tumbuhan yang terdiri atas banyak spesies menjadi indikator lebih baik daripada terdiri dari sedikit spesies.

3. Sebelum mempercayai tumbuhan itu sebagai suatu indikator harus dibuktikan dulu di tempat-tempat lain.

4. Banyaknya hubungan antara spesies, populasi dan komunitas lebih sering memberikan petunjuk sebagai indikator yang dapat dipercaya daripada kehadiran spesies tunggal di suatu tempat.

Tipe-tipe indikator tumbuhan

Tipe yang berbeda dalam indikator tumbuhan mempunyai peranan yang berbeda dalam aspek tertentu antara lain :

1. Indikator tumbuhan untuk pertanian. Kebanyakan indikator tumbuhan menentukan apakah tanah cocok untuk pertanian atau tidak. Petumbuhan tanaman pertanian dapat berbeda di beberapa kondisi lingkungan yang berbeda dan jika tumbuh dengan baik di suatu tanah berarti tanah itu cocok untuk tanaman itu. Sebagai suatu contoh, rumput-rumput pendek menandakan bahwa tanah di situ keadaan airnya kurang. Adanya rumput yang tinggi dan rendah menandakan tanah tempat tumbuh rumput itu subur, dengan demikian juga cocok untuk pertanian. Dhawar dan Nanda (1949) di India mengemukakan beberapa indikator tumbuhan pada berbagai tipe tanah sebagai berikut :

Daftar 2. Hubungan antara indikator tumbuhan dan karakteristik tanah

Indikator tumbuhanKarakteristik tanah
Salvador aleoidesCa & Bo tinggi, baik untuk tanaman pertanian
Zizyphus nummulariaTanah baik untuk pertanian
Prosopis cinerariaTanah baik untuk pertanian dengan adanya pengairan
Peganum harmalaTanah kaya akan N dan garam-garam, baik untuk pertanian
Butea monospermaTanah alkalinitasnya tinggi
Capparia deciduaTanah alkalin

2. Indikator tumbuhan untuk overgrazing. ebanyakan tumbuhan yang menderita perlakuan karena adanya manusia/hewan yang kurang makan ini mengalami modifikasi sehingga vegetasinya berbentuk padang rumput. Sedangkan padang rumput sendiri kalau mengalami overgrazing akan mengalami kerusakan dan produksinya sebagai makanan ternak akan turun. Tumbuhan yang tahan tidak rusak tetapi seperti istirahat. Beberapa tumbuhan menunjukkan sifat yang karakteristik bahwa di situ terjadi overgrazing. Biasanya hal itu dicirikan dengan adanya beberapa gulma semusim atau gulma tahunan berumur pendek, antara lain seperti Polygonum, Chenopodium, Lepidium dan Verbena. Beberapa tumbuhan tidak menunjukkan atau sedikit menunjukkan adanya peristiwa itu, yaitu seperti : Opuntia, Grindelia, Vernonia.

3. Indikator tumbuhan untuk hutan. Beberapa tumbuhan menunjukkan tipe hutan yang karakteristik dan dapat tumbuh pada suatu areal yang tidak terganggu. Pada umumnya di sini tumbuhan yang ada menunjukkan bahwa sifat pertumbuhannya sesuai dengan kondisi hutan sehingga bila di situ dijadikan hutan kemungkinannya akan berhasil.

4. Indikator tumbuhan untuk humus. Beberapa tumbuhan dapat hidup pada humus yang tebal. Monotropa, Neottia dan jamur menunjukkan adanya humus di dalam tanah.

5. Indikator tumbuhan untuk kelembaban. Tumbuhan yang lebih suka hidup di daerah kering akan menunjukkan kandungan air tanah yang rendah di dalam tanah, antara lain seperti : Saccharum munja, Acacia, Calotropis, Agare, Opuntia dan Argemone. Sedangkan Citrullus dan Eucalypus tumbuh di tanah yang dalam. Tumbuhan hidrofit menunjukkan kandungan air tanah yang jenuh atau payau. Vegetasi Mangrove dan Polygonus menunjukkan tanah mengandung air yang beragam.

6. Indikator tumbuhan untuk tipe tanah. Beberapa tumbuhan seperti : Casuarina equisetifolia, Ipomoea, Citrullus, Cilliganum polygonoides, Lycium barbarum dan Panicum tumbuh di tanah pasir bergeluh. Imperata cylindrica tumbuh di tanah berlempung. Kapas suka tumbuh di tanah hitam.

7. Indikator tumbuhan untuk reaksi tanah. Rumex acetosa Rhododendron, Polytrichum dan Spagnum menunjukkan tanah kapur. Beberapa lumut menunjukkan tanah berkapur dan halofit menunjukkan tanah bergaram.

8. Indikator tumbuhan untuk mineral. Beberapa tumbuhan suka tumbuh di tanah-tanah dengan kandungan mineral yang khas, tumbuhan semacam ini disebut Metallocolus atau Metallophytes. Tumbuhan semacam itu seperti di bawah ini :

a. Vallozia candida menunjukkan adanya intan di Brasilia.

b. Equisetum speciosa, Thuja sp, tumbuh di tanah yang mengandung mineral emas.

c. Eriogonium ovalifolium tumbuh di tanah yang mengandung perak di USA.

d. Stelaria setacea tumbuh di tanah yang mengandung air raksa di Spanyol.

e. Astragalus sp., Neptunia amplexicalis, Stanleya pinnata, Onopsis condensator menunjukkan adanya Selanium.

f. Astragalus sp. tumbuh di tanah berkandungan uranium di USA.

g. Viscaria alpina di Norwegia, Gymnocolea acutiloba di Amerika, Gypsophila patrini di Rusia tumbuh di tanah yang kandungan Cu nya tinggi.

h. Viola calaminara, V. lutea di Eropa tumbuh di tanah yang mineral Zinc nya tinggi.

i. Salsola nitrata, Eurotia cerutoides tumbuh di tanah yang kandungan BO tinggi.

j. Silene cobalticola di Kongo dan Nyssa sylvatica di Amerika tumbuh di tanah dengan kandungan Cobalt tinggi.

k. Lychnis alpina di Swedia menunjukkan adanya Ni.

l. Allium, Arabis Oenothera, Atriplex tumbuh di tanah yang ber Sulfur.

m. Lycium, Juncus, Thalictrum tumbuh dengan adanya lithium (Li).

n. Damara orata, Dacrydium aledonicum di skotlandia tumbuh di tanah mengandung mineral Fe (Iron).

o. Flex aquifolium di Italia tumbuh dengan adanya Alumunium.

Kecuali hal-hal di atas kandungan mineral dalam jaringan tumbuhan dapat menggambarkan bagaimana daur biogeokimianya sehingga dapat juga menggambarkan status lingkungan tempat tumbuhnya. Lyon dan Brooks (1969) mendapatkan bahwa Olearia rani menjadi penilaian untuk molibdenium. Hal yang sama, perak didapati dengan jelas di bagian-bagian tertentu pada daun. Kandungan sulfat pada daun secara langsung berhubungan dengan konsentrasi SO2 udara. Farrar (1977) melihat bahwa kandungan sulfur pada pinus jarum berhubungan dengan konsentrasi SO2. Kandungan fluroride pada daun Sorghum vulgare menunjukkan bahwa udara yang tak terlalu jauh dari tanaman itu tercemar dengan fluoride, jaraknya kira-kira lebih dari 4 km.

9. Indikator tumbuhan untuk logam berat. Tanah yang mempunyai cadas berkandungan logam berat, khususnya Zn, Pb, Ni, Co, Cr, Cu, Mr, Mg, Cd, Se dan lain-lain. Diantaranya Mn, mg, Cd dan Se bersifat toksik untuk kebanyakan tumbuhan. Kontaminasi logam berat juga terjadi di daerah industri, baik yang berbentuk debu ataupun garam dalam perairan di daerah industri tersebut.

Kebanyakan tumbuhan sensitive terhadap logam berat. Membukanya stomata dipengaruhi, fotosintesis S turun, respirasi terganggu dan akhirnya pertumbuhan terhambat. Sebagian besar logam berat ini merupakan deposit di dinding sel-sel perakaran dan daun. Beberapa tumbuhan metalofit dapat digunakan sebagai indikator untuk suatu deposit dekat dengan permukaan tanah, sehingga cocok untuk ditanam di daerah pertambangan atau industri. Cardominopsis halleri, Silene vulagaris, Agrotis tenuis, Minuartia verna, Kichornia crassipes, Astragalus racemosus, Thlaspi alpestre merupakan tumbuhan metafolit logam berat.

10. Indikator tumbuhan untuk habitat saline. Beberapa tumbuhan tumbuh dan tahan dalam habitat dengan kandungan garam tinggi, yang kemudian disebut halofit. Tumbuhan itu biasa hidup di pantai yang mesofit atau hidrofit tak dapat hidup subur, karena dua yang disebut terakhir biarpun tahan genangan tetapi tidak tahan kadar garam yang tinggi di air ataupun tanah di situ. Kegaraman tanah antara lain oleh NaCl, CaSO4, NaCO3, KCl. Tumbuhan yang dapat tumbuh di habitat semacam itu antara lain : Chaenopodium album, Snaeda fructicosa, Haloxylon salicorneum, Salsola foestrida, Tamarix articulata, Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Acanthus ilicifllius. Ketahanan terhadap garam merupakan kemampuan tumbuhan untuk melawan adanya akibat yang disebabkan oleh garam sehingga kerusakannya tidak serius. Ketahanan itu tergantung pada spesies, tipe jaringan, vitalitas, nisban ion dan peningkatan konsentrasi ion. Tumbuhan yang dapat hidup dalam 4 – 8% NaCl, sedang yang tidak tahan akan mati bila NaCl 1 – 5%. Tumbuhan yang tahan antara lain : Betula papyrivera, Elaeagnus angustifolia, Fraxinus excelstra, Populus alba, P. canadensis, Rosa rugosa, Salix alba, Ulmus americana, Juniperus chinensis, Pinus nigra.

11. Indikator tumbuhan untuk pencemaran. Penggunaan vegetasi sebagai indikator biologi untuk pencemaran lingkungan sudah sejak lama, kira-kira sejak seratus tahun yang lalu di daerah pertambangan. Pengetahuan tentang ketahanan terhadap polutan terutama untuk vegetasi yang tumbuh di daerah industri atau di daerah padat penduduk. Pada umumnya tumbuhan lebih sensitive terhadap polutan daripada manusia. Tumbuhan yang sensitiv dapat merupakan indikator, sedangkan tumbuhan yang tahan dapat merupakan akumulator polutan di dalam tubuhnya, tanpa mengalami kerusakan. Jamur, fungi dan Lichenea sensitive terhadap SO2 dan halide.

Tumbuhan yang tumbuh di air akan terganggu oleh bahan kimia toksik dalam limbah (sianida, khlorine, hipoklorat, fenol, derivativ bensol dan campuran logam berat). Pengaruh polutan terhadap tumbuhan dapat berbeda tergantung pada macam polutan, konsentrasinya dan lamanya polutan itu berada. Pada konsentrasi tinggi tumbuhan akan menderita kerusakan akut dengan menampakkan gejala seperti khlorosis, perubahan warna, nekrosis dan kematian seluruh bagian tumbuhan. Di samping perubahan morfologi juga akan terjadi perubahan kimia, biokimia, fisiologi dan struktur.

Catatan. Selain sebagai bioindikator pencemaran lingkungan, tumbuhan juga dapat digunakan sebagai indikator alami. Indikator alami adalah jenis indikator yang berasal dari alam. Indikator alami yang dapat digunakan untuk menentukan sifat asam, basa, dan garam suatu zat antara lain kulit manggis, bunga sepatu, dan kubis ungu. Untuk menjadikan indikator alami, maka kulit manggis, bunga sepatu, dan kubis ungu terlebih dahulu dibuat ekstrak dengan cara menghaluskannya dan menambahkan air. Ekstrak kulit manggis pada keadaan netral berwarna ungu. Jika ekstrak kulit manggis, ditetesi larutan asam, maka warna ungu akan berubah menjadi cokelat kemerahan dan jika ditetesi larutan basa akan berubah menjadi biru kehitaman.

Pustaka

https://smk3ae.wordpress.com/2008/06/02/indikator-tumbuhan/

https://brainly.co.id/tugas/17810887#readmore

BPL – Pertemuan 1. Apakah bioindikator itu dan mengapa penting?


Assalamualaikumwarohmatullah wabarokaatuh. Apa kabar anda semua? Alhamdulillah sudah seharusnya kita mengucapkan syukur atas besarnya karuania yang dilimpahkan Allah Subhanahuwata`ala terhadap kita semua. Limpahan nikmat lahir (kekayaan dan kesehatan) dan serta nikmat bathin (ketenangan, khusyu, dan keamanan) yang tidak terhitung jumlahnya. Maka pantaslah bagi kita untuk selalu bersyukur bahkan selayaknya kita memohon ampunan (istigfar) atas segala perbuatan kita yang tidak akan bisa mengerjakan semua amalan yang diperintahkan-Nya. Sholawat serta salam kita mohonkan agar selalu dilimpahkan kepada Nabi terakhir dan terbaik Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Hadirin rahimakumullah, peserta kuliah Bioindikator Pencemaran Lingkungan. Apakah anda selalu merasakan kondisi lingkungan di sekitar kita ini selalu membaik atau semakin buruk? Lalu bagaimana caranya mengetahui perubahan kondisi ini dengan menggunakan berbagai penanda perubahan, baik penanda fisiologis atau perilaku biota juga perubahan distribusi, kelimpahan, dan juga genetika populasi organisme yang bisa memberi kita informasi lebih baik tentang penyebab perubahan lingkungan? Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting untuk dikaji, bukan hanya bagi ahli biologi, namun juga penting bagi seluruh makhluk hidup. karena perubahan kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati akan mengubah siklus hidup serta transfer materi dan energi secara keseluruhan.

Terkait hal tersebut, maka keberadaan indikator biologis dari perubahan lingkungan adalah sangat diperlukan karena bermanfaat untuk mengukur ‘kualitas hidup’ lingkungan dalam konteks yang lebih luas. Di bawah ini akan diuraikan bagaimana perubahan yang terjadi dalam karakteristik biologis yang dimiliki hewan dan tumbuhan yang dikenal sebagai ‘Bioindikator’ dapat memberi tahu kepada kita tentang sifat dan tingkat keparahan perubahan lingkungan.

Apa itu bioindikator? Bioindikator secara luas dapat didefinisikan sebagai biota yang dikembangkan sebagai indikator kualitas lingkungan. Bioindikator dapat berupa komponen biotic (hewan, tumbuhan, mikroba, alga, dan fungi), atau manusia yang dijumpai dalam suatu ekosistem (Burger 2006). Sebagai contoh bioindikator yang banyak digunakan adalah Burung Kenari. Burung jenis ini sering digunakan untuk mendeteksi keberadaan karbon monoksida (CO) dan metana di lokasi tambang karena sensitivitas tinggi yang dimiliki oleh burung terhadap keberadan gas-gas berbahaya tersebut. Dalam contoh ini, keberadaan burung kenari mampu memberikan peringatan dini tentang kondisi lingkungan yang membahayakan bahkan pada akhirnya bisa mematikan bagi manusia.

Namun hal ini bukan satu-satunya peran bioindikator, namun secara umum bioindikator seringkali digunakan untuk menilai perubahan kualitas lingkungan dari waktu ke waktu. Meskipun kemajuan teknologi baru-baru ini juga memungkinkan pengukuran kualitas lingkungan yang lebih akurat mengenai potensi penyebab tekanan pada lingkungan, namun pengukuran perubahan pada tingkat penyebab tekanan (stress) itu sendiri tidak memberi tahu kita apa-apa tentang dampaknya, sehingga keberadaan bioindikator menjadi hal yang tidak tergantikan keberadaannya.

Sebagai contoh, pengukuran suhu yang luas dan terkoordinasi akan memungkinkan kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang lintasan dan kecepatan pemanasan iklim, dan adanya pencitraan satelit akan memungkinkan kita untuk mengukur kehilangan dan fragmentasi habitat. Tapi pertanyaan selanjutnya apa konsekuensi dari semua perubahan ini untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem yang dihasilkan? Sebagaimana kita ketahui bahwa nikmat keanekaragaman hayati ini sangat penting bagi kehidupan manusia, selain menciptakan berbagai kenikmatan juga menuntut manusia untuk terus berkreasi sesuai tuntunan Rasul-Nya dalam lingkup ibadah hanya kepada Allah Subhanahuwata`ala.

Tentunya menggabungkan data tentang perubahan lingkungan yang dikumpulkan menggunakan teknologi yang semakin canggih disertai dengan memantau respons bioindikator yang peka terhadap perubahan lingkungan ini memberikan akan tantangan ilmiah yang menarik dan sangat diperlukan untuk saat ini dan mendatang.

Sumber bacaan.

Jones, G. (2012). What bioindicators are and why they are important. Pp. 18-19 in Flaquer, C. & Puig-Montserrat, X. eds. Proceedings of the International Symposium on the Importance of Bats as Bioindicators. Museum of Natural Sciences Edicions, Granollers.

Wawasan Biologi Lingkungan

Konsep Biologi Lingkungan
Berbicara tentang biologi lingkungan maka kita akan dihadapkan kepada pemahaman tentang bagaimana lingkungan kita bekerja dan bereaksi. Pengetahuan seperti ini tentunya membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang organisme apa saja yang hidup di dalamnya, bagaimana organisme berinteraksi dan sistem seperti apa yang digunakan untuk menunjang kehidupan di mana mereka berpartisipasi. Kita perlu menyadari bahwa bumi yang kita tinggali ini memiliki kapasitas, waktu, dan ruang yang terbatas. Pemahaman mengenai arti penting biologi lingkungan sangat berguna untuk pengembangan pengetahuan lain seperti : sejarah lingkungan, geografi, penggunaan dan pengembangan lahan, penilaian dampak lingkungan, pertanian dan kehutanan, perubahan iklim, pencemaran dan juga konservasi sumber daya.
Konsep Wawasan Lingkungan

Secara umum wawasan lingkungan yang digunakan manusia berabad lalu sampai sekarang cenderung menggunakan pendekatan antroposentrisme. Antroposentrisme memandang bahwa segala sesuatu di muka bumi meliputi segala sumber daya alam yang terbentang luas di segala sudut digunakan sepenuhnya untuk kepentingan manusia dan kebutuhan di dunia semata. Sehingga organisme lain yang berada di sekitarnya kurang diperhitungkan manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di muka bumi. Organisme lain tersebut termasuk di dalamnya tumbuhan, hewan, berbagai protista, jamur, eubakteri dan arkeabakteri seolah tidak punya hak yang sama dengan manusia. Padahal organisme lain ini berhak hidup dan melangsungkan kehidupannya. Memang organisme lain ada yang sangat mengganggu dan menyebabkan penyakit pada manusia. Manusia berupaya terus membasmi berbagai organisme pengganggu ini. Sementara terdapat berbagai makroorganisme yang terpaksa mengalah dan terdesak oleh berbagai kepentingan manusia akhirnya mati danmusnah. Makroorganisme ini sekarang ini hanya tersisa beberapa spesies dan bahkan populasinya hanya dalam jumlah sedikit dan dalam kondisi terancam. Akibat manusia menjadi terlalu dominan di alam bumi ini (Sueb, 2014).

Konsep Islam dalam memandang lingkungan memang jauh berbeda dibandingkan dengan konsep di atas (pendekatan antroposentrisme). Islam memandang bahwa pengelolaan lingkungan dan sumber daya harus dilandasi oleh keyakinan bahwa dia adalah seorang hamba yang diberi tugas sebagai khilafah (pelaksana) di muka bumi ini dalam rangkaian beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, juga mengikuti tuntunan dari utusan-Nya yakni Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Pengetahuan terhadap hal tersebut akan menuntun manusia untuk bijaksana dan arif memanfaatkan keterbatasan bumi ini dan beramal dengan sebaik-baiknya, kemudian memperoleh balasan atas perbuatan baik tersebut di akhirat nanti. Islam adalah agama yang sempurna mengatur sendi-sendi kehidupan bukan hanya kehidupan manusia tapi semua makhluk (nyata maupun ghaib). Konsep Islam yang diadopsi di negara kita terdapat pada Undang-Undang Lingkungan No. 4 Tahun 1982 yang menyatakan bahwa lingkungan hidup, yaitu sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Meskipun demikian, manusia adalah makhluk yang memiliki beban paling berat, karena manusia sudah menyanggupi dirinya menjadi pengelola (khalifah) di muka bumi ini dan tentunya yang paling bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup bumi ini. Kita mengenal bahwa lingkungan diketahui terdiri atas unsur biotik seperti : manusia, hewan, dan tumbuhan dan juga unsur abiotik seperti : udara, air, tanah, iklim dan lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (Al Qur’an Surat Al Hijr : 19 – 20).

Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang disediakan oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah media utama kehidupan yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah Allah Subhanahu wata’ala berfirman :“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Qur’an Surat Al Mulk : 15). Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.

Konsep Penguasaan Biologi Lingkungan

Untuk tujuan penguasaan pengetahuan Biologi, menurut KOBI (2015) diperlukan setidaknya tiga aspek penguasaan penting yang masing-masing mengandung pemahaman tersendiri yakni : (1) Penguasaan pengetahuan tentang prinsip- prinsip biologi (misal: konsep spesies, populasi, gen) ; (2) Penguasaan pengetahuan tentang konsep aplikasi bidang biologi (misal: konsep mengaplikasikan metode analisis vegetasi untuk konservasi sumber daya hayati), dan (3) Penguasaan pengetahuan tentang prinsip dasar aplikasi perangkat untuk keperluan analisis dan sintesis di bidang Biologi (misal: prinsip dasar aplikasi mikroskop ). Dalam hal ini, lulusan biologi dituntut memiliki aspek lain yakni Kemampuan Kerja (Khusus) yang dijabarkan menjadi tiga kemampuan, yaitu : (1) kemampuan lulusan dalam memecahkan masalah sederhana di bidang Biologi berkaitan dengan kontribusinya dalam suatu tim/organisasi untuk pengambilan keputusan yang tepat, (2) kemampuan memanfaatkan keilmuan Biologi dalam kehidupan sehari-hari baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakatnya, dan (3) kemampuan untuk melaksanakan ide kreatif dalam mengelola sumber daya hayati di lingkungan tertentu (lingkup spesifik).
Kajian Biologi
Dalam bidang kajian biologi, cabang ilmu pengetahuan alam ini mempelajari tentang sistem organisasi makhluk hidup yang mencakup kajian struktur, proses, keanekaragaman dan kelangsungan sistem tersebut. Karena itu kajian biologi selanjutnya didalami pada :
(1) Biologi Sel dan Molekuler yang mempelajari organisasi benda hidup tingkat sel dan sub-seluler,
(2) Fisiologi mempelajari proses-proses yang terjadi dalam sistem benda hidup,
(3) Genetika yang mempelajari substansi gen dan proses-proses pewarisannya untuk menjamin kelangsungan sistem benda hidup,
(4) Struktur dan Perkembangan yang mempelajari organisasi tingkat individu dan perubahan ontogenik organisasi tersebut,
(5) Biosistematika dan Evolusi yang mempelajari keanekaragaman mahluk hidup dan sejarah filogeninya, serta
(6) Ekologi yang mempelajari organisasi interaksi individu dari tingkat populasi, komunitas, ekosistem sampai dengan biosfer.
Enam bidang kajian tersebut kemudian disebut sebagai Bonggol Ilmu Biologi.
Ekologi sebagai Dasar Ilmu Lingkungan
Dalam kajian biologi lingkungan, ekologi menjadi dasar pengembangan keilmuan dan pemanfaatan konsep serta aplikasinya. Dengan demikian, bahan kajian minimum
yang harus dikuasi mahasiswa peminat biologi lingkungan adalah meliputi hal-hal berikut ini :
1. Ekologi: konsep populasi dan komunitas, habitat dan relung ekologis, Interaksi organisme dengan lingkungannya, food web dan food chain, ekosistem.
2. Ekologi Populasi: Dinamika populasi dan faktor pembatas.
3. Ekologi Komunitas: suksesi dan dinamika komunitas.
4. Biodiversitas: Ruang lingkup, Biodiversity value,dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
5. Biokonservasi: prinsip dasar, ecosystem services, rancangan dan manajemen konservasi.
6. Ilmu Lingkungan: Ruang lingkup dan elemen-elemen lingkungan, kualitas lingkungan hidup, masalah lingkungan,sumber daya air, tanah dan batuan.
Pustaka

Mitchell, B., dkk. (2000). Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Sueb. (2014). Mengembangkan Wawasan Lingkungan dengan Menggunakan Paradigma Ekologis Baru Sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Lingkungan. Available from: https://www.researchgate.net/publication/282660967_Mengembangkan_Wawasan_Lingkungan_dengan_Menggunakan_Paradigma_Ekologis_Baru_Sebagai_Upaya_Mengurangi_Pencemaran_Lingkungan [accessed Sep 06 2018].

Note :

Untuk peserta matrikulasi Biologi FMIPA ULM Semester ganjil 2018/2019 mengenai Wawasan Biologi Lingkungan silakan klik tautan berikut ini untuk mengisi biodata dan diskusi mengenai materi Wawasan Biologi Lingkungan