Arsip Tag: makanan

Ubi Jalar, bukan sekedar makanan pokok

Ubi jalar adalah sumber makanan umum bagi banyak penduduk asli di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, Karibia dan Hawaii. Ia adalah sumber senyawa alami yang sangat baik, termasuk beta-karoten dan anthocyanin. Konsentrasi tinggi senyawa ini pada tanaman umbi-umbian, dipasangkan dengan warna stabilnya, membuat ubi jalar menjadi alternatif yang sehat untuk pewarna sintetis dalam makanan.

Ubi jalar lebih dari sekadar makanan pokok populer yang disajikan sebagai hidangan pembuka manis, lauk pauk, atau camilan pengisi sendiri. Sayuran akar bertepung ini memiliki banyak manfaat untuk mencapai kesehatan yang optimal.

Dilanjutkan bacanya : https://kanuragan.com/lima-alasan-untuk-makan-lebih-banyak-ubi-jalar/

Mengenai Jenis Pemborosan Pangan, yuk kita pelajari!

Diketahui dari The Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Sedangkan food wastage memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia, misalnya menyebabkan kelaparan.

Global Hunger Index juga mengatakan, tingkat kelaparan di indonesia berada di tingkat serius. Artinya banyak orang yang sedang kelaparan diluar sana, sedangkan kita yang serba berkecukupan (banyak makanan) suka membuang dan tidak menghabiskan makanan.

Food wastage terdiri dari 2 bagian, yakni food loss dan food waste. Kedua jenis sampah makanan ini memiliki perbedaan tersendiri. Berikut penjelasannya:

Food Loss

Food loss adalah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran,buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja.

Food loss menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk memasak. Di Indonesia sendiri kasus food loss sudah banyak terjadi, salah satunya yang terjadi di Banyuwangi dimana para petani buah naga membuang buah naga yang masih segar ke sungai. Keadaan ini sangat disayangkan sekali.

Penyebab Food Loss:

  • Proses pra-panen tidak menghasilkan mutu yang diinginkan pasar.
  • Permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan sehingga produsen memutuskan untuk membuang bahan pangan tersebut.
  • Kurangnya permintaan konsumen di pasar.
  • Permainan harga pasar antara agen dan distributor yang menyebabkan harga melonjak tajam, dan ujung-ujungnya tidak terjual.
  • Terlalu lama di gudang dan lama kelamaan menjadi basi,berjamur, dan berbau busuk.
  • Tidak disimpan secara sempurna sehingga umurnya menjadi pendek.
  • Dan kalian yang kurang bijak membeli bahan makanan dan akhirnya bahan makanan tersebut membusuk di tempat penyimpanan (kulkas).

Maka dari itu, sebagai konsumen seharusnya kita harus membuat planning yang lebih baik sebelum membeli bahan makanan agar bahan makanan tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Food Waste

Food Waste adalah makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA. Food waste yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana dan karbondioksida. Sedangkan keduanya tidak sehat untuk bumi.

Gas-gas tersebut terbawa ke atmosfer dan berpotensi merusak lapisan ozon. Padahal, salah satu fungsi lapisan ozon adalah menjaga kestabilan suhu di bumi. Jika kestabilan suhu terganggu, maka terjadilah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut akibat dari mencairnya es di bumi.

Penyebab food waste:

  • Tidak menghabiskan makanan.
  • Makan tidak sesuai dengan porsi makananmu.
  • Membeli atau memasak makanan yang tidak kalian sukai.
  • Gaya hidup (gengsi) menghabiskan makanan di depan orang ramai.

Untuk mengurangi jumlah food loss dan food waste, salah satu cara yang paling mudah untuk dilakukan yaitu adalah mindful dalam konsumsi makanan dan dengan menghabiskan makanan yang kamu makan.

Yuk ikuti #zwidfoodwaste challenge di Instagram. Post before dan after piring kalian dan tag zerowaste.id_official.

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari laman. https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/perbedaan-food-loss-dan-food-waste/

Jejaring Makanan dalam Sistem Trofik

Jaring-jaring makanan merupakan kumpulan dari organisme yang dihubungkan satu sama lain dengan adanya transfer energi dan nutrisi yang berasal dari sumber yang sama (Chapin et al., 2002). Tingkatan trofik pada jaring-jaring makanan ini melibatkan produsen (umumnya berupa tumbuhan dan organisme autotrof lainnya) pada tingkatan trofik pertama, konsumen I (yang umumnya berupa herbivora) pada tingkatan trofik kedua, konsumen II (berupa karnivora atau predator) pada tingkatan ketiga, dan seterusnya.

Menurut Newton (2007), struktur trofik pada sebuah jaring-jaring makanan tergantung pada kelimpahan (abundance), penyebaran (distribution), dan sumber makanan pada setiap organisme. Selain itu, sistem trofik ini biasanya melibatkan detrivora (kelompok yang memakan substrat detritus); herbivora (pemakan materi tumbuhan), bakteriovora (pemakan bakteri), fungivora (pemakan fungi), dan predator (pemakan hewan yang masih hidup). Sistem trofik ini sering digambarkan dalam bentuk plant-based (materi tumbuhan hidup) atau yang dikenal dengan istilah Plant-Based Trophic Systems dan detritus-based (seperti, pada tumbuhan dan hewan yang telah mati) atau dikenal dengan istilah Detritus Based Trophic Systems (Chapin et al., 2002 dan Newton, 2007).

Dua faktor yang mengontrol jaring-jaring makanan dalam sistem trofik, baik dalam plant-based trophic systems maupun dalam detritus based systems ini adalah:

  1. Bottom-Up Control, yaitu ketika ketersediaan makanan pada base dari rantai makanan (baik tumbuhan maupun detritus) membatasi produksi tingkatan di atasnya

  2. Up-Down Control, yaitu pengaruh dari keberadaan predator terhadap kelimpahan mangsanya (Chapin et al., 2002). Pada sejumlah spesies, interaksi yang kuat antara predator dan mangsanya ini dapat menghasilkan fenomena yang dikenal dengan “Trophic cascade” (Paine, 1980 dalam Chapin et al., 2002).

Sumber tulisan :

Program Pascasarjana SITH ITB

Tugas Presentasi ekologi Terestrial-2

Isni Nuraziza M

05 November 2009

21309011