Arsip Tag: pandemi

Mengatasi Pandemi Covid-19 Dengan Doa dan Usaha

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyampaikan bahwa virus Covid-19 tidak bisa hilang dalam waktu singkat dan menjadi masalah di seluruh dunia. Oleh karena itu tatanan hidup normal yang baru perlu diterapkan oleh masyarakat adalah berkomitmen kuat untuk berdampingan dengan situasi seperti ini (pandemi Covid-19).

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mulai mengubah budaya dasar (kebiasaan buruk) yang sering kita lakukan menuju budaya dasar (kebiasaan baik) yang baru atau disebut menuju ke kehidupan normal yang baru. Kehidupan normal yang baru adalah kebiasaan-kebiasaan untuk hidup bersih dan sehat. Kebiasaan tersebut meliputi : 1) selalu cuci tangan pakai sabun dan air mengalir minimal 20 detik, 2) memakai masker jika harus ke luar rumah, 3) menghindari kerumunan, dan 4) menjaga jarak kontak secara fisik. Ini semua merupakan bagian dari kehidupan normal yang baru, dimana ini adalah satu-satunya cara mengendalikan Covid-19 ini dengan baik.

Namun kita perlu mengingat bahwa basis adanya perubahan kehidupan normal yang lebih baik ada pada diri kita sendiri, termasuk keluarga yang menjadi tempat berinteraksi paling nyaman saat ini. Oleh karena itu pemimpin keluarga (ayah) harus bisa memberikan teladan agar bisa menerapkan kehidupan normal yang baru. Demikian pula dengan istri sebagai wakil kepala keluarga harus bisa memberikan arahan yang tepat kepada anak-anaknya untuk menerapkan perilaku sehat dalam mewujudkan kehidupan normal baru beradaptasi dengan pandemi covid-19.

Tatanan kehidupan normal yang baru tidak berarti membatasi produktivitas setiap orang, akan tetapi lebih diharapkan untuk memperbaiki kualitas hidup yakni menerapkan akhlak yang baik dan mencegah kemunkaran. Membersihkan tangan, menghindari menyentuh mata dengan tangan kotor, menerapkan etika batuk yang benar, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan termasuk contoh akhlak baik yang dianjurkan pemerintah kita dalam rangka menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus corona diantara sesama muslim. Sedangkan meningkatkan ketekunan ibadah, bertauhid dan meninggalkan kesyirikan, menegakkan sholat lima waktu, melaksanakan puasa dan zakat serta berusaha untuk haji ke baitullah merupakan akhlak yang dituntut Islam dalam rangka memohon pertolongan kepada Allah Subhanahuwa`ala agar segera mengangkat wabah pandemi covid-19 dan menyelamatkan kaum muslimin dan manusia secara keseluruhan.

Tatanan hidup baru, bukan sarana untuk bermalas-malasan, justru dengan segala keterbatasan aktivitas, masyarakat tetap produktif menjalankan ibadah dan beramal sholeh tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan. Beberapa usaha mengendalikan Covid-19 di era normal yang baru ini tentunya harus dimulai dengan usaha dan kesadaran dari diri kita sendiri dahulu (dengan selalu memohon pertolongan dari Allah Subhanahuwata`ala semata), kemudian kita membuka diri untuk bekerjasama terutama dengan keluarga terdekat dan tetangga. Usaha-usaha yang bisa dilakukan antara lain : 1) membersihkan tangan, 2) menhindari menyentuh mata, 3) menerapkan etika batuk yang benar, 4) memakai masker, 5) menjaga jarak dan 6) menghindari kerumunan seperti terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Bentuk usaha yang bisa dilakukan oleh sendiri dan keluarga untuk mencegah Covid-19

Sumber tulisan :

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/03/182900365/5-hal-sederhana-yang-dapat-dilakukan-untuk-cegah-penyebaran-virus-corona?page=all

https://republika.co.id/berita/q8gg9n414/lakukan-karantina-mandiri-jika-alami-gejala-ringan-covid-19

Perubahan Iklim dan Pandemi Covid-19

Perubahan iklim adalah perubahan sigifikan pada iklim, suhu udara dan curah hujan. Hal ini disebabkan oleh naiknya temeratur bumi akibat dari peningkatan konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Perubahan iklim adalah salah satu hal yang tidak bisa terelakkan mana kala perusakan lingkungan terus bertambah, begitu pula dengan bencana yang sifatnya tidak bisa terelakkan keberadaanya. Kerugian akibat perubahan iklim secara langsung berdampak pertama terhadap kebutuhan dasar pangan (terutama padi) dan kebutuhan energi (PLTA dan pendingin ruangan). Sedangkan bagi kesehatahan yang akan terjadi, diantaranya peningkatan 4 jenis penyakit (DBD, Malaria, Diare dan Pneumonia). Perubahan iklim kembali menjadi sorotan setelah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama bagi negara-negara kepulauan di Pasifik, termasuk Indonesia tentunya yang berhadapan dengan siklon tropis, badai dan kemungkinan akan menjadi lebih basah saat planet memanas.

Terkait pandemi Covid-19 yang telah mendorong penurunan emisi CO2 tahunan terbesar sejak Perang Dunia Kedua, serta menjadi ancaman menakutkan yang telah membunuh lebih dari 999 ribu jiwa di seluruh dunia, namun ini bukan satu-satunya ancaman. Beberapa negara kepualauan seperti Tuvalu yang tingginya hanya beberapa meter di atas permukaan laut, lebih terancam dengan naiknya permukaan laut sehingga kondisi pertanian lokal menjadi lebih sulit daripada efek pandemi yang memperlambat pergerakan barang sehingga terjadi kerawanan pangan. Intinya Covid-19 adalah krisis langsung namun perubahan iklim tetap menjadi ancaman terbesar bagi mata pencaharian, keamanan dan kesejahteraan negara kepulauan di seluruh dunia.

Apakah ada hubungan antara Perubahan Iklim dan Covid-19?

Perubahan iklim tidak menyebabkan wabah virus corona, tetapi dapat membantu menyebarkan pandemi dan penyakit di masa depan Iklim yang menghangat dan meningkatnya variabilitas dalam pola cuaca di seluruh dunia membuatnya lebih mudah untuk menularkan penyakit dari negara mana pun. Sebelum adanya pandemi Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia telah melacak dan menganalisis bagaimana perubahan iklim berdampak kepada kesehatan masyarakat. Sebagai contoh pada kasus polusi udara, polusi udara meningkatkan risiko penyakit lain, seperti penyakit jantung dan masalah pernapasan, sesuatu yang berdampak langsung pada mereka yang menderita Covid-19.

Bukti menunjukan bahwa Covid-19 adalah peristiwa zoonosis yang menular dari hewan ke manusia, tak hanya Covid-19 sebelumnya  ada pula penyakit SARS dan MERS. Ketika manusia merusak lingkungan, artinya kita telah mengeksploitasi secara berlebihan serta membiarkan diri kita terpapar terhadap resiko penyakit. Resiko terpapar penyakit dari hewan juga menjadi tinggi ketika kita tidak memantau adanya infeksi atau penyakit pada satwa liar atau hewan peliharaan kita.

Kesimpulan : Untuk mengurangi kemungkinan pandemi berikutnya dan dampak perubahan kita harus benar-benar sadar dan bijak untuk mengelola sumber daya alam. Tentunya besarnya dampak dan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana dan pengaruh perubahan iklim menuntut peran semua pihak untuk mengurangi risiko keduanya melalui Adaptasi Perubahan Iklim (API) dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) secara terpadu.

Pustaka

http://km.reddplusid.org/d/197f76fe309657064dbec74d9eea4be4

Apakah ada hubungan antara Perubahan Iklim dan Covid-19?

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-55270307

https://republika.co.id/berita/qhd5gr396/perubahan-iklim-ancaman-kematian-setelah-pandemi

Pendidikan New Normal Pasca Pandemi Covid-19

Belakangan ini, disebabkan pandemi Covid-19, istilah new normal kembali muncul dalam konteks yang lebih luas, seperti; ekonomi, politik, kehidupan sosial, pendidikan dan kebiasaan sehari-hari di masyarakat awam. Mulai dari hal yang paling sederhana, seperti pemakaian masker, membersihkan tangan setiap kali setelah menyentuh pegangan pintu atau tombol ATM, menempatkan petugas pengukur suhu tubuh di pintu-pintu masuk pusat perbelanjaan dan kantor-kantor, hingga hal-hal yang kompleks seperti bekerja dari rumah dan seminar online.

Dalam konteks pendidikan, disadari atau tidak, “new normal” telah mulai terjadi secara global sejak pandemi Covid-19. Kegiatan belajar mengajar yang bisanya dilaksanakan secara tatap muka secara langsung, dimana pendidik dan peserta didik hadir secara fisik di ruang-ruang kelas dan tempat-tempat belajar, kini digantikan dengan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik (e-learning) baik secara singkron ataupun secara nir-sinkron. E-learning nir-sinkron dapat dilakukan secara dalam jaringan (daring) maupun secara luar jaringan (luring).

Pada pembelajaran daring, pendidik dan peserta didik pada waktu yang sama berada dalam aplikasi atau platform internet yang sama dan dapat berinteraksi satu sama lain layaknya pembelajaran konvensional yang dilakukan selama ini. Sedangkan pada pembelajaran luring, pendidik melakukan pengunggahan materi melalui web, mengirim lewat surat elektronik (e-mail) ataupun mengunggahnya melalui media sosial untuk kemudian dapat diunduh oleh peserta didik.

Dalam cara luring, peserta didik melakukan pembelajaran secara mandiri tanpa terikat waktu dan tempat. Di sisi lain, e-learning secara singron hanya dapat terjadi secara daring. Meskipun pada kenyataannya, kegiatan belajar mengajar secara e-learning telah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi dari sejak lama, namun cara pembelajaran seperti ini adalah kesadaran (awareness) terhadap era Industrial Revolution 4.0, era yang membawa perubahan pada cara manusia dalam bekerja, berinteraksi dan bertransaksi.

Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 di Tengah Covid-19

Dalam perspektif pendidikan, istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan sebagai implikasi dari Industrial Revolution 4.0 adalah Education 4.0, untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi di era Industrial Revolution 4.0 baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Education 4.0 merupakan inovasi dunia pendidikan di era Industrial Revolution 4.0, dianya merupakan sebuah jawaban dari pertanyaan “bisakah kita melakukan?”.

Education 4.0 dapat dilihat sebagai sebuah respons kreatif di mana manusia memanfaatkan teknologi digital, open sources contents dan global classroom dalam penerapan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), flexible education system, dan personalized learning, untuk memainkan peran yang lebih baik di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, new normal pembelajaran secara e-learning bukanlah jawaban dari sebuah pertanyaan, tetapi adaptasi dari sebuah kondisi yang semua orang “terpaksa” melakukannya.

Sejak dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 oleh Mendikbud dan diberlakukan beberapa hari kemudian, seluruh kegiatan belajar mengajar baik di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus dilaksanakan secara daring sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran pandemi Covid-19. Tidak ada yang bisa menjangka kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Namun demikian, pascapandemi Covid-19 nantinya, new normal pendidikan yang telah dimulai seharusnya diteruskan dan disempurnakan hingga memenuhi konsep blended learning, yakni sebuah konsep pendidikan yang mengkobinasikan metode kuliah tatap muka di ruang kelas dengan e-learning, dan pada gilirannya, dunia pendidikan akan benar-benar berada dalam era education 4.0. Terkait e-learning di perguruan tinggi, jika yang menjadi ukuran adalah “dapat dilakukan”, maka tidak bisa dipungkiri bahwa semua kampus dapat melakukannya.

Namun, apakah kualitas e-learning tersebut dapat terpenuhi sesuai dengan yang diingini? Tentu saja akan sulit dijawab karena dalam hal ini melibatkan banyak faktor, memerlukan keterlibatan berbagai pihak, dan harus dipersiapkan sebaik mungkin. Pada titik ini, penulis berpendapat, paling tidak ada enam hal penting yang patut menjadi perhatian sebuah perguruan tinggi dalam mempersiapkan e-learning.

6 Hal Penting dalam Menerapkan E-leraning 

1. Dosen dan mahasiswa harus meningkatkan keterampilan internet dan literasi komputer

Paling tidak, dosen harus mampu memanfatkan kanal-kanal yang tersedia, seperti Learning Management System, media komunikasi berbasis audio-video, media sosial serta media penyimpan data yang dapat digunakan membantu terjadinya kegiatan belajar mengajar yang berkualitas.

Secara umum, keterampilan internet dan literasi komputer mahasiswa lebih baik daripada dosen, sehingga yang menjadi pertimbangan dari sisi mahasiswa adalah koneksi internet, terutama di daerah-daerah terpencil, terdepan dan tertinggal, dan beberapa mahasiswa mungkin akan terbebani jika menggunakan paket data.

2. Menentukan kembali capaian pembelajaran

dosen harus melakukan penjajaran konstruktif (constructive aligment) ulang terhadap keselarasan tiga komponen Outcome Based Education (OBE), yakni (1) capaian pembelajaran, (2) aktivitas pembelajaran, dan (3) metode asesmen yang telah disusun dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

RPS tidak perlu dirubah secara total, namun cukup dengan menentukan kembali capaian pembelajaran mana yang dapat disampaikan secara e-learning dan mana yang tidak, karna tidak semua capaian pembelajaran dapat terpenuhi dengan pelaksanaan e-learning, seperti keterampilan yang bersifat hands on, terutama pada program-program studi vokasi.

Selanjutnya lakukan pemetaan ulang capaian pembelajaran terhadap aktifitas pembelajaran, termasuk penentuan metode asesmen yang sesuai bagi setiap capaian pembelajaran.

3. Dosen harus menjamin kesiapan (readiness) materi kuliah dengan perspektif

Belajar mandir” dalam format digital sedemikian rupa sehingga mahasiswa mudah memahami materi kuliah, terutama jika diberikan secara luring.

Untuk matakuliah umum, dasar keahlian dan pengetahuan terapan, penyampaian materi kuliah dalam bentuk ringkasan kuliah sebaiknya dihindari, akan lebih tepat jikalau dosen memberikan catatan kuliah, penggunaan software simulasi yang open source, ataupun rekaman audio-video. Materi kuliah praktik yang menggunakan toolbox, dosen diharapkan menyiapkan rekaman tutorial, untuk dipelajari mahasisa secara mandiri.

4. Tentukan durasi setiap unit pembelajaran

Durasi pembelajaran erat kaitannya dengan beban belajar mahasiswa (Sudent Learning Time/SLT) yang ditentukan dengan jumlah satuan kredit yang diambil mahasiswa. Untuk pembelajaran daring, perhatikan waktu yang koheren sesuai dengan tingkat pengaturan diri dan kemampuan metakognitif mahasiswa. Penentuan durasi setiap unit pembelajaran sangatlah penting, terutama dalam memberikan tugas kepada mahasiswa.

Tugas yang menyita waktu dapat membuat beban belajar mahasiswa menjadi jauh lebih tinggi dari beban kredit yang dambilnya.

5. Asesmen dalam bentuk kuis dan tugas mandiri harus siap

Asesmen dalam bentuk kuis dan tugas mandiri lainnya harus direncanakan sedemikian rupa, sehingga kualitas soal tetap memenuhi taxonomy level yang sesuai dengan jenjang program studi.
Ujian formatif dan sumatif sebaiknya tetap dilakukan secara langsung dan terjadwal sebagaimana cara konvensional yang dipraktekan selama ini.

6. Kampus harus mempersiapkan infrastruktur dan bandwidth yang cukup

kampus harus mempersiapkan infrastruktur dan bandwidth yang cukup jika menggunakan jaringan kampus. Lonjakan pengguna secara tiba -tiba dan pemakaian yang simultan akan menyebabkan server mengalami bottleneck, hang, hingga down.

Selain itu, kampus harus menetapkan aplikasi atau platform yang dipakai guna menghindari mahasiswa mengunduh dan mencoba terlalu banyak aplikasi atau platform. Tentu saja perguruan tinggi tidak semata-mata menumpukan perhatian kepada enam hal yang diuraikan di atas.

Namun, setidaknya bisa menjadi langkah awal bagi perguruan tinggi saat menyusun e-learning dalam menerapkan Blended Learning guna mewujudkan Education 4.0 yang akan menjadi New Normal di era Industrial Revolution 4.0 pasca pandemi Covid-19 nantinya dengan aplikasi Edlink.id

Sumber: https://padek.jawapos.com/opini/08/05/2020/new-normal-pembelajaran-pasca-pandemi-covid-19/

Seluruh tulisan ini disalin dari tautan ini.