Arsip Tag: restorasi

Partisipasi dan Pemberdayaan Penduduk Lokal dalam Restorasi Ekosistem dan Lanskap

Masyarakat lebih sering menjadi korban pembangunan ketimbang penikmat pembangunan. Sehingga, aspek ini perlu diberdayakan lebih intensif. Hal ini agar
masyarakat tidak saja dijadikan objek yang tekena dampak namun diposisikan sejajar
dengan kelompok terlibat lainnya dalam memformulasikan kebijakan lingkungan. Melalui pendekatan kondisi partisipasi masyarakat dalam perencanaan reklamasi lahan bekas tambang diharapkan dapat meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Fungsi partisipasi masyarakat adalah sebuah instrumen komunikasi dua arah antara pemrakarsa dengan masyarakat dalam menentukan formulasi kebijakan pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut. Adanya pengetahuan tentang gambaran riil partisipasi masyarakat lokal dalam reklamasi beserta faktor yang mempengaruhinya, maka dapat dijadikan bahan kajian dan analisis lebih lanjut dalam kebijakan pengelolaan sumber daya alam dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (Iswahyudi et al., 2013).

Partisipasi penduduk lokal diperlukan sebagai bentuk kesadaran dan perbaikan aktivitas masyarakat yang selama ini cenderung merusak ekosistem melalui illegal logging, hunting, poaching dan pertanian ladang berpindah. Partisipasi penduduk juga diperlukan agar program yang direncanakan sejalan dengan tujuan restorasi ekosistem selain kuatnya kelembagaan pada masyarakat (ormas) maupun kelembagaan pada pemerintah. Pembentukan forum atau lembaga yang terdiri dari unsur masyarakat, pemerintah, dan swasta diperlukan agar terjadi sinkronisasi diantara kedua lembaga dengan karakter dan peran yang berbeda (Kadarsah, 2021).

Silakan klik tautan ini untuk mendapatkan E-book REL Bab 5 Partisipasi Penduduk Lokal dalam Restorasi Ekosistemdan Lanskap

Pustaka

Iswahyudi, M., Wahyu, Shiddiq, M., & Erhaka, M. E. (2013). Masyarakat Lokal Dan Program Reklamasi Lahan Bekas Tambang Di Desa Banjar Sari Kecamatan Angsana. Enviro Scienteae, 9, 177–185.

Kadarsah, A. (2021). Restorasi Ekosistem & Lanskap (A. Hadi (ed.); ke-1). Lambung Mangkurat University Press.




Kajian Ekologi Lanskap Berkelanjutan

Aktivitas manusia yang terus menerus mengubah proses sistem bumi melalui modifikasi kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati. Perubahan ekologi yang berlangsung pada berbagai skala ruang (lanskap atau bentang alam) dan waktu terus berdampak terhadap hilangnya struktur, fungsi, jasa dan layanan ekosistem yang penting seperti : penyediaan pangan, bahan bakar, sumber air, sumber mata pencaharian, tradisi budaya, dan kesehatan serta rekreasi.  

Lanskap merupakan ruang yang heterogen dan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam bentuk hubungan timbal balik antara komponen abiotik (air, udara, tanah, dan sebagainya) dan hayati (tumbuhan, hewan, manusia, dan sebagainya), yang terjadi dalam jangka panjang.  Keberadaan lanskap juga dipengaruhi oleh proses dan kegiatan historis, ekonomi, dan budaya yang terjadi di wilayah tersebut

Dalam upaya memulihkan (restorasi) sebuah lanskap yang rusak maka seharusnya mempertimbangkan identitas yang selama ini sudah terbentuk selama ratusan tahun. Sebuah identitas terbentuk dari proses kebudayaan, mulai dari kepercayaan, teknologi, ilmu pengetahuan, hingga ekonomi, yang terbangun karena adanya hubungan manusia dengan bentang alam. Karakteristik wilayah terutama kondisi alam dan budaya masyarakatnya yang berbeda akan berdampak pada munculnya beragam masalah. Dan terkait hal ini maka diperlukan upaya mitigasi (pencegahan) dan adaptasi (penyesuaian) model kebijakan untuk menentukan kebijakan dan jenis penanganan perbaikan lanskap yang akan dilakukan. Pilihan pendekatan lanskap berkelanjutan seharusnya menjadi pilihan pemangku kebijakan karena mengintegrasikan kelestarian ekologi dalam mengoptimalkan manfaat secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pendekatan lanskap dalam restorasi ekosistem dan lanskap tiga elemen utama, yaitu : 1) Air dan tanah. Penyediaan kembali air merupakan elemen vital untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup dan kegiatan ekonomi di sekitarnya. Sedangkan pemulihan tanah yang sehat merupakan syarat dasar bagi keberlangsungan produksi jasa dan layanan ekosistem. 2) Masyarakat. Pemulihan lanskap berkelanjutan tidak hanya menciptakan ruang-ruang hijau untuk kelestarian, tetapi juga menerapkan desain atau praktek yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan ekosistem secara bersamaan. Kualitas kehidupan masyarakat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan sikap dalam mengelola sumber daya alam di sekitarnya, dan sebaliknya. dan 3) Akses pasar. Permintaan pasar akan mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi, termasuk dalam menentukan komoditas yang ditanam dan praktek budidaya yang dilakukan.

Kajian utama restorasi ekosistem dan lanskap terletak pada proses yang membentuk identitas dan kelimpahan spesies dalam komunitas ekologis pasca gangguan, seperti lanskap pasca tambang. Kajian restorasi ekosistem dan lanskap dimulai dari berbagai kelompok taksonomi (mulai dari mikroba hingga pohon) pada berbagai tipe ekosistem termasuk lahan basah, hutan, area pertanian, dan pegunungan. Tema penelitian ekologi lanskap meliputi : biogeografi, urbanisasi, restorasi ekosistem, bioindikasi, dan dampak antropogenik terhadap biodiversitas dan fungsi ekosistem.

Pekerjaan dalam ekologi lanskap bersifat kuantitatif (penghitungan jumlah) dengan cara menggabungkan pendekatan teoretis, eksperimental, dan lapangan. Tujuan umum kajian ekologi lanskap adalah meningkatkan pemahaman tentang proses biotik dan abiotik pada lanskap yang terdampak aktivitas antropogenik dan konsekuensinya terhadap struktur dan fungsi ekosistem. Penelitian kajian ekologi lanskap diharapkan berkontribusi untuk mengembangkan solusi efektif dalam upaya mengurangi efek aktivitas manusia pada biosfer secara keseluruhan. Berikut ini adalah topik rencana penelitian dalam kajian ekologi pemulihan lanskap atau restorasi ekosistem dan lanskap.

  1. Pola dan proses pembentukan komunitas pada lanskap yang terdampak aktivitas antropogenik. Menilai kendala pengaruh faktor abiotik dan biotik pada spesies yang ada pada lanskap secara lokal dan regional. Memahami cara pembentukan atau perakitan berbagai komunitas pada berbagai skala spasial yang kompleks.
  2. biodivesitas dan proses ekologi pada lanskap permukiman. Menilai mekanisme yang mendasari dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas menggunakan ciri-ciri spesies. Pengembangan pemahaman tentang pembentukan komunitas makhluk hidup pada lanskap permukiman dengan pendekatan multi-skala. Pengembangan strategi untuk mengelola dampak aktivitas antropogenik terhadap ekosistem permukiman.
  3. Bioindikasi berdasarkan struktur dan komposisi komunitas ekologis : Mengidentifikasi spesies indikator pola dan proses ekologi utama pada skala lanskap. Menguji potensi penggunaan indikator untuk mendukung jasa dan layanan ekosistem pada skala lanskap. Mengembangkan pendekatan baru untuk mensurvei dan mengelola keberlanjutan ekosistem pada skala lanskap.
  4. Restorasi ekosistem. Menilai dampak restorasi (pemulihan) struktur dan fungsi ekosistem secara lokal terhadap biodiversitas dan jasa ekosistem. Memahami proses ekologi yang berlangsung skala lanskap dan terkait dengan restorasi ekosistem secara lokal.

Pustaka

https://www.sustainable-landscape.org/profil.php?id=2

https://www.uni-potsdam.de/en/umwelt/research/ag-landscape-ecology/research-topic

Strategi Pengelolaan Potensi Tumbuhan Api-api (Avicennia Sp.) dalam Restorasi Ekosistem Mangrove

Tidak disangsikan lagi bahwa pengelolaan sumber daya hayati memerlukan koordinasi dan strategi yang terpadu agar program restorasi ekosistem mangrove dapat dilakukan secara berkelanjutan (Rudianto, 2018). Terkait konflik kepentingan, maka partisipasi penduduk lokal yang baik adalah faktor terpenting untuk mengatasinya (Januarsa dan Luthfi, 2017). Penduduk lokal selain pengguna secara langsung, juga berkewajiban mengelola sumber daya dan fungsi ekologisnya pada wilayah restorasi dan konservasi (Rusdianti dan Sunito, 2012). Hal ini disebabkan mereka kaya pengalaman termasuk memiliki nilai kearifan lokal (Nugroho dkk., 2019) yang telah teruji bisa menjaga keberlanjutan kawasan tersebut (Eddy dkk., 2019).

Meskipun demikian strategi pengelolaan sumber daya hayati di suatu wilayah, tidaklah bijaksana jika hanya membahas aspek positif (kelebihan dan potensi) saja tanpa membahas potensi negatifnya (ancaman dan tantangan).
Seperti halnya yang terjadi pada ekosistem hutan mangrove di Desa Pagatan Besar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang menimbulkan dua pandangan yang sangat kontradiktif. Satu sisi menurut hasil penelitian Sarmila (2012) ekosistem hutan mangrove di Desa Pangatan Besar tadi sejak tahun 2000 mengalami penambahan luas daratan (akresi) kemudian membentuk kawasan baru dan dianggap memiliki potensi sumber daya hayati tinggi dengan hadirnya tumbuhan api-api (Avicennia sp.). Namun di sisi lain, kehadiran hutan mangrove tersebut dianggap menimbulkan rasa tidak aman oleh sebagian penduduk karena menjadi tempat persembunyian pelaku kejahatan. Ketidaksepahaman pendapat juga terjadi antara penduduk dengan pembakal (lurah) mengenai pandangan ke laut yang terhalang oleh hutan mangrove, serta ketidakjelasan status lahan oloran (Soendjoto dan Arifin, 1999).

Lalu bagaimana cara menggali informasi mengenai kearifan lokal dan merancang strategi pengelolaan potensi tumbuhan Api-api (Avicennia Sp.) dalam restorasi ekosistem mangrove? Selengkapnya silakan baca pada tautan berikut ini!

Analisis Desain Restorasi (Ekosistem mangrove) : Terpadu dan Partisipatif

Salah satu langkah penting untuk menjamin keberhasilan program rehabilitasi pada eksosistem (mangrove) adalah diawali dengan merancang kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai secara terpadu dan partisipatif  (Onrizal, 2014). Kegiatan tersebut meliputi enam langkah yang disesuaikan dengan kepentingan serta keberadaan ekosistem mangrove itu sendiri, antara lain :

  1. Mengidentifikasi permasalahan dan garis besar tujuan rehabilitasi
  2. Mensintesis kondisi ekosistem masa lalu dan sekarang, terutama struktur ekologi dan fungsinya  dan ketergantungan masyarakat  sekitar terhadap sumberdaya mangrove
  3. Menyusun garis rencana besar rehabilitasi  yang sistematis  ekologi ; (rekayasa
    ecological engineering).
  4. Mengembangkan keterlibatan masyarakat dan rencana subsidi pendapatan (rekayasa
    ekonomi-sosial; economic-social engineering)
  5. Mengembangkan rencana detil implementasi (tata letak bagaimana menerapkan berbagai aktivitas di bawah rencana yang berbeda)
  6. Mengembangkan dan menerapkan mekanisme pengawasan yang ketat untuk manajemen adaptif yang logis.

Namun sebelum membuat desain rancangan restorasi ekosistem mangrove sebaiknya kita menyimak penjelasan dari Choesin, D. N. (2020) bahwa Kunci keberhasilan restorasi eksosistem secara keseluruhan (bukan hanya Mangrove) adalah Rekayasa Ekologi (gambar 1) . Apa itu rekayasa ekologi? Rekayasa ekologi adalah teknik yang digunakan untuk merancang dan mengelola ekosistem dengan teknik tertentu berdasarkan pendekatan ekologi. Seperti pada ekosistem mangrove itu sendiri tentunya memiliki karakteristik unik dan berbeda dibandingkan ekosistem lain, seperti lahan bekas tambang.

Gambar 1. Restorasi ekosistem mangrove (Choesin, 2020)

Sehingga ada 5 faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaksana dan perencana restorasi dalam upaya menerapkan prinsip rekayasa ekologi. Berikut ini adalah penjelasan desain restorasi pada ekosistem mangrove yakni :

1.Perlu memperhatikan karakteristik khas mangrove sebagai ekosistem lahan basah.

2.Perlu pemahaman tentang kondisi area yang direstorasi (ekologi, hidrologi).

3.Perlu mengembalikan proses fisik hidrologi (aliran air, alirah sedimen, elevasi lahan) untuk memfasilitasi transport alami propagul mangrove.

4.Penanaman perlu menggunakan spesies yang tepat pada lokasi yang tepat, pada bagian sistem dan elevasi yang sesuai.

5.Perlu pemantauan dan pengelolaan jangka panjang

Pustaka

Choesin, D. N. (2020). Ecological Approach in Mangrove Restoration. Kuliah Tamu Prodi Biologi FMIPA ULM Kamis, 26 November 2020.

Onrizal, O. (2014). Merancang Program Rehabilitasi Mangrove yang Terpadu dan Partisipatif. August 2014. https://www.researchgate.net/publication/268148016

Cara Restorasi Ekosistem di Kawasan Konservasi

Restorasi ekosistem hutan di kawasan konservasi diperlukan terutama untuk akibat gangguan antropogenik seperti pembuatan tambak , perumahan dan alih fungsi lahan lainnya. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai pola dan pelaksanaan restorasi ekosistem mangrove yang terdegradasi akibat tambak (Miyakawa, 2014).

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 27% dari luas mangrove di dunia dan 75% dari luas mangrove di Asia Tenggara. Namun demikian sebagian besar ekosistem mangrove telah mengalami degradasi antara lain akibat pembangunan tambak dan penebangan liar. Luas penyebaran mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan, berdasarkan data Ditjen BPDASPS, dari 9.3 juta ha pada tahun 1999 menjadi 3.7 juta ha pada tahun 2010. Dari data tersebut, degradasi ekosistem mangrove rata-rata sebesar 0.5 juta ha per tahun. Ekosistem mangrove yang rusak tersebut perlu segera dipulihkan agar dapat berfungsi kembali sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu perlu adanya suatu pedoman agar kegiatan pemulihan fungsi kawasan tersebut dapat berjalan secara efisien dan efektif (Miyakawa, 2014).

Secara umum, tahapan restorasi ekosistem mangrove terdegradasi di dalam kawasan konservasi, yang terdiri dari 5 tahapan, yaitu :Mencari dan menentukan sasaran areal restorasi ekosistem

  1. Penentuan areal restorasi

2. Persiapan

3. Survei awal area

4. Perencanaan

5. Pelaksanaan

6. Pemeliharaan dan Monitoring

7. Evaluasi kegiatan

Daftar Pustaka

Miyakawa, H. (2014). Pedoman Tata Cara Restorasi di Kawasan Konservasi. Direktorat Jenderal PHKA, Kementerian Kehutanan dan Japan International Cooperation Agency (JICA). https://www.jica.go.jp/project/english/indonesia/008/materials/c8h0vm000001gj3g-att/pamphlet_03.pdf

PRAKTIKUM 1. REL – KONSEP RESTORASI EKOSISTEM MANGROVE

Waktu                                  :               Senin, 21 Oktober 2019

Tempat                       :          

Lab Biologi Umum – FMIPA ULM

Capaian Pembelajaran         :          

  1. Mahasiswa mampu mendefinisikan kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi
  2. Mahasiswa mampu mendefiniskan komponen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove

Integrasi penelitian   :

PDUPT – Aplikasi perencanaan konservasi timpakul (Periopthalmodon Sp.) dan moluska pada ekosistem mangrove terhadap pencemaran logam berat

Konsep

  1. Mahasiswa mampu mendefinisikan kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi
  2. Mahasiswa mampu mendefiniskan komponen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove

Tujuan Praktikum

  1. Membuat definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen.
  2. Mahasiswa mampu menganalisis komponen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen.
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen..

Metode Praktikum :

  1. Setiap mahasiswa membuat definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi. Pendapat dari masing-masing kemudian dikumpulkan menjadi sebuah makalah yang dikerjakan secara berkelompok.
    1. kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan parameter biodiversitas,
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan kondisi struktur vegetasi,
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan standar baku kandungan logam berat,
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan standar baku kualitas air
    1. Definisi kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi berdasarkan kualitas sedimen.
  2. Setiap mahasiswa merancang lembar kerja komponen yang rusak dan perlu diperbaik dalam restorasi ekosistem mangrove. Pendapat dari masing-masing individu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah lembar kerja restorasi ekosistem mangrove yang dikerjakan secara berkelompok.
    1. Analisis komponen biodiversitas yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis komponen struktur vegetasi yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis kandungan logam berat yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis komponen kualitas air yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Analisis komponen kualitas sedimen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove.
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen..

Hasil Praktikum :

  1. Makalah yang menjelaskan kondisi ekosistem mangrove yang rusak dan perlu direstorasi
    1. Pembahasan 1. Urgensi biodiversitas dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 2. Urgensi struktur vegetasi dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 3. Urgensi pengelolaan kandungan logam berat dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 4. Urgensi pengelolaan kualitas air dalam restorasi ekosistem mangrove
    1. Pembahasan 5. Urgensi pengelolaan kualitas air dalam restorasi ekosistem mangrove
  2. Lembar kerja yang berisi analisis komponen (biodiversitas, struktur vegetasi,  logam berat,  kualitas air  dan kualitas sedimen) yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove dalam bentuk lembar kerja (excel)
    1. Lembar kerja 1. analisis komponen biodiversitas yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 2. analisis struktur vegetasi yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 3. analisis kandungan logam berat yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 4. analisis parameter kualitas air yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
    1. Lembar kerja 5. analisis parameter kualitas sedimen yang perlu diperbaiki pada restorasi ekosistem mangrove
  3. Mahasiswa mampu menyusun rencana aksi kegiatan pada restorasi ekosistem mangrove berdasarkan parameter biodiversitas, struktur vegetasi, kandungan logam berat, kondisi air dan sedimen dalam bentuk presentasi.
    1. Presentasi pengelolaan biodiversitas dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi pengelolaan vegetasi dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi rencana aksi reduce limbah dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi rencana aksi reuse limbah dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove
    1. Presentasi rencana aksi recycle limbah dalam upaya restorasi ekosistem dan lansekap mangrove